Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Meminta Bagian


"Serang mereka!"


Salah seorang pendekar berteriak nyaring kepada pendekar yang lain. Karena sudah mengetahui bagaimana situasi dan kondisi saat ini, maka puluhan pendekar itu pun langsung kompak.


Mereka maju bersamaan dan menyerang dua puluh dua orang anggota Kelompok Bintang Langit yang baru saja memunculkan dirinya.


Pertempuran di bawah mimbar berlangsung lebih dulu. Para pendekar bersatu-padu melawan orang-orang yang diduga merupakan pendekar kelas dua.


Sementara di atas mimbar, saat ini masih bisa dilihat bahwa tujuh orang petinggi tadi sempat merasa ragu.


Melihat sikap Zhang Fei yang begitu tenang dan santai, orang-orang itu menjadi curiga. Karena pada dasarnya, hanya pendekar yang sudah berilmu sangat tinggi saja, yang mampu bersikap seperti itu.


Jadi, benarkah dia mempunyai ilmu yang begitu tinggi? Sampai di mana kemampuan sebenarnya?


"Mengapa kalian malah melamun? Ayo serang keparat busuk ini," kata si Ketua berteriak keras.


"Baik, Ketua,"


Wutt!!! Wushh!!!


Enam orang petinggi Kelompok Bintang Langit menerjang ke arah Zhang Fei. Tidak basa-basi lagi, mereka langsung mengeluarkan jurus-jurus dari senjata andalannya.


Tiga batang golok dan tiga tombak datang dari berbagai penjuru. Walaupun satu kelompok dan satu jabatan, tetapi rupanya kemampuan mereka tidak begitu saja. Jurus-jurusnya juga berbeda.


Hal itu mungkin terjadi karena mereka sebenarnya bukan berasal dari perguruan yang sama.


Jadi wajar kalau perbedaan di antaranya sangat kentara.


Pada saat yang bersamaan, Zhang Fei sudah siap untuk menurunkan tindakan keras. Dia berniat menghabisi mereka dengan cepat.


Namun sebelum itu, tiba-tiba dari arah lain terlihat ada sekelebat bayangan hitam yang datang secara mendadak.


Trangg!!!


Benturan keras terjadi. Keenam orang petinggi tadi seketika terdorong mundur satu langkah ke belakang.


"Pendekar Pedang Perpisahan!" kata Zhang Fei berseru kaget.


"Apakah aku datang terlambat, Ketua Fei?" tanyanya sambil melirik dengan ekor mata.


Walaupun nada bicara Datuk Dunia Persilatan aliran sesat itu masih kaku, tapi dibalik semua hal tersebut, Zhang Fei bisa merasakan adanya rasa hangat.


Seperti hangatnya perasaan seorang sahabat karib yang sudah lama tidak bertemu.


"Ah, tidak. Tuan Wu datang tepat pada waktunya," jawab Zhang Fei sambil tersenyum. Dia sengaja menutupi kekagetannya. "Acara yang paling seru, justru baru akan dimulai sekarang," katanya melanjutkan.


"Ah, baiklah. Kalau begitu, aku juga ingin mendapat bagian,"


"Dengan senang hati, aku akan membagimu," Zhang Fei tertawa.


Pendekar Pedang Perpisahan juga sempat terlihat tersenyum. Meskipun memang senyumannya masih tampak kaku.


Dua orang itu seolah-olah menganggap bahwa di sana tidak ada yang lain lagi, kecuali hanya mereka saja.


Zhang Fei baru mengambil tindakan setelah terdengar teriakan Ketua Kelompok Bintang Langit yang menyerang ke arahnya.


"Berikan kepalamu, manusia jahanam!"


Teriakannya seperti guntur yang menggelegar. Pada saat itu, dia telah tiba di hadapan Zhang Fei. Sepasang pedang kembar sudah melancarkan tebasan menggunting.


Serangan yang dia berikan sangat cepat. Sedikit salah melangkah, nyawa yang akan menjadi taruhan.


Trangg!!!


Zhang Fei mengangkat Pedang Raja Dewa dengan tenang. Sepasang pedang lawan tahu-tahu sudah menempel di batang pedangnya.


"Kalau kau menginginkan kepalaku, ambil saja," ucapnya sambil tersenyum.


Wushh!!!


Dia melompat mundur dua langkah ke belakang. Kemudian segera melayani tiga petinggi yang baru saja datang.


Sementara di satu sisi, Pendekar Pedang Perpisahan juga telah melangsungkan pertarungan dengan tiga orang petinggi.


Sifat datuk sesat itu kejam dan tidak suka bermain-main. Maka dari itu, begitu pertarungannya dimulai, dia langsung mengeluarkan jurus-jurus yang keji.


Tiga orang petinggi Kelompok Bintang Langit langsung dibuat terdesak. Semua jurus yang merkas keluarkan musnah begitu saja setelah bertemu dengan pedangnya.


Meskipun lawannya saat itu setara dengan pendekar kelas satu, tapi baginya, hal itu bukan apa-apa. Dengan kemampuannya yang sekarang, mana mungkin mereka mampu melawannya?


Trangg!!! Trangg!!!


Pendekar Pedang Perpisahan bergerak cepat bagaikan kilat. Setiap gerakannya itu membawa ancaman yang serius. Sepuluh jurus pertarungan berlangsung, satu orang musuh terlihat telah meregang nyawa.


Orang tua itu tidak berhenti begitu saja. Dia terus menekan lawan selama beberapa waktu ke depan. Sepuluh jurus berikutnya, tiga pendekar kela satu tersebut sudah terkapar di atas lantai.


Berbarengan dengan kejadian barusan, Zhang Fei juga sedang bertempur sengit melawan empat orang. Yang paling merepotkan dirinya pada saat itu adalah Ketua Kelompok Bintang Langit.


Kalau diukur, mungkin kemampuannya sudah setara dengan pendekar pilih tanding.


Permainan pedang kembarnya memang hebat. Dia bahkan bisa melancarka dua jurus yang berbeda sekaligus.


Hal ini sedikit menyulitkan Zhang Fei. Tapi bukan berarti dia akan kalah begitu saja.


Dengan Pedang Raja Dewa yang tergenggam erat di tangan, memangnya apa yang perlu dia takutkan?


Wutt!!! Srett!!!


Zhang Fei melakukan gerakan berputar. Ujung pedangnya berhasil merobek dada dua orang petinggi. Mereka seketika tewas!


Dua orang sisanya tidak dibiarkan lepas. Setelah membunuh mereka, Zhang Fei kembali bergerak. Jurus Murka Pedang Dewa sudah dikeluarkan.


Enam jurus berikutnya, satu orang petinggi yang tersisa juga telah meregang nyawa menyusul rekannya.


Sekarang lawan yang tersisa hanya di Ketua saja. Pertarungan tampak berhenti sebentar. Ketua Kelompok Bintang Langit melompat mundur ke belakang untuk menarik nafas.


"Jangan pernah berpikir kau bisa lari dari genggamanku!" kata Zhang Fei dengan nada dalam.


"Hahaha ... siapa yang ingin melarikan diri? Pantang bagiku untuk melakukan hal rendahan itu," jawab si Ketua sambil tertawa nyaring.


"Bagus. Aku tahu kau adalah orang yang tidak takut mati," tukas Zhang Fei sambil mengejek.


"Tentu saja,"


Dia mengangkat alis. Pedang di tangan kanannya tiba-tiba bergerak cepat seolah-olah ingin menusuk ke arah Zhang Fei. Namun pada detik berikutnya, pedang yang di tangan kiri justru dilemparkan tanpa pernah diduga.


Zhang Fei tercekat. Apalagi karena pada saat itu dia sedang melayani pedang lawan yang satu lagi.


Untunglah pada waktu yang bersamaan, tiba-tiba sepasang pedang juga melesat dari sisi lain. Pedang itu langsung berbenturan dengan pedang si ketua.


Dentingan nyaring terdengar. Dua batang pedang pusaka menancap di tiang kayu.


Zhang Fei melirik ke arah lesatan pedang tadi. Dia bisa melihat bahwa saat itu Pendekar Pedang Perpisahan sedang mengangguk ke arahnya.


Ketua Dunia Persilatan tersebut membalas anggukan itu. Setelahnya dia langsung melanjutkan usaha terakhir.


"Habislah riwayatmu, manusia laknat!" kata Zhang Fei setengah berteriak.


Wutt!!!


Pedangnya berubah menjadi bayangan putih keperakan. Cahaya terang itu mengurung Ketua Kelompok Bintang Langit untuk beberapa saat.


Selama kurang lebih dua puluh jurus dia terus ditekan, pada akhirnya orang itu merasa tidak sanggup.


Slebb!!!


Pedang Raja Dewa menusuk telak tenggorokannya. Senjata pusaka itu bahkan sampai tembus lebih dari separuhnya.