Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Kuil Seribu Dewa I


Orang itu menoleh ke arah di mana Zhang Fei sekarang. Dia cukup terkejut dengan kecepatan orang bertopeng yang mampu bergerak secara kilat tersebut.


Wushh!!! Wutt!!!


Dia melompat dan mengirimkan serangan beruntun lagi. Sayangnya semua usaha itu menemui kegagalan untuk yang kedua kalinya.


Tidak ada satu pun serangan yang berhasil mengenai tubuh lawan.


'Sialan! Hebat juga orang asing ini," batinnya berkata.


Karena sudah dua kali mengalami kegagalan, akhirnya dia bertekad untuk mengeluarkan semua kemampuan. Golok itu bergerak lebih cepat. Begitu juga dengan pemiliknya.


Di posisi lain, sekarang Zhang Fei bertekad untuk tidak diam saja. Begitu golok hampir menyentuh tubuhnya, dengan segara dia mengangkat dua jari tangan.


Crapp!!!


Golok itu telah terjepit di antara jari telunjuk dan jari tengah. Zhang Fei tersenyum dingin saat melihat raut wajah terkejut yang diberikan oleh orang itu.


Clangg!!!


Golok itu langsung patah seketika. Tepat setelah Zhang Fei menggerakkan sedikit dua jarinya. Tidak berhenti sampai di situ saja, Zhang Fei kemudian memukulkan telapak tangannya ke dada lawan.


Dia terdorong mundur ke belakang. Dua orang temannya langsung menahan luncuran tubuh tersebut.


Hoekk!!!


Orang tadi muntah darah kehitaman. Wajahnya langsung pucat pasi. Sebelum pada akhirnya tewas mengenaskan.


"Keparat! Mari kita serang dia!"


Pemimpinnya berteriak kepada yang lain. Mereka mengangguk bersamaan, lima orang pendekar sesat saat ini telah menerjang ke arah depan sana.


Karena Zhang Fei tidak mau membuang waktu, maka ketika melihat langkah yang dilakukan oleh pihak lawan, ia langsung menyambut serangan mereka.


Zhang Fei melompat tinggi. Di tengah udara dia langsung mengeluarkan serangan jarak jauh dengan telapak tangannya.


Gulungan angin datang dan membentur ke arah mereka. Orang-orang itu terdorong mundur.


Baru saja akan mengambil tindakan lebih lanjut, tiba-tiba dari arah lain ada sebatang pedang yang melesat begitu cepat.


Pedang itu dengan tepat mengenai leher dua orang. Luka tebasan segera terlihat. Dua dari kelima orang itu roboh bersimbah darah.


Zhang Fei sempat terkejut, namun dengan gerakan yang tidak kalah cepat, dia pun kemudian menangkap pedang itu. Lalu menyerang tiga orang sisanya.


Srett!!!


Dia melakukan beberapa gerakan sederhana. Tiga orang pendekar kelas dua yang pada saat itu berada dalam keterkejutan, tentu saja tidak menyangka dengan langkah yang diambil oleh Zhang Fei barusan.


Akibatnya dada mereka mengalami robekan besar. Tiga orang tersebut langsung tewas menyusul yang lainnya.


Pertarungan itu akhirnya selesai dalam waktu singkat.


Wutt!!!


Zhang Fei melemparkan pedang itu ke satu arah. Dari depan sana, seseorang langsung menyambutnya. Tidak lama kemudian, muncullah satu orang dari balik batang-batang pohon.


"Benar-benar pedang pusaka yang sangat tajam," kata Zhang Fei memuji.


"Tidak berani. Pedang Ketua Fei jauh lebih tajam daripada pedang ini," jawab seseorang yang bukan lain adalah Pendekar Pedang Perpisahan itu.


Zhang Fei hanya tertawa mendengarnya. Dia tidak ingin membahas hal itu lebih jauh lagi.


"Tuan Wu, mari kita lanjutkan perjalanan kita," ajaknya.


"Bagaimana dengan mayat-mayat ini?"


"Biarkan saja. Aku ingin mengingatkan kepada komplotannya bahwa siapa pun yang berani mencari perkara di dunia persilatan Kekaisaran Song, dan aku sampai mengetahuinya, maka aku pastikan orang itu akan mengalami nasib serupa," kata Zhang Fei dengan tegas dan penuh wibawa.


Pendekar Pedang Perpisahan yang mendengar ucapan itu, tanpa terasa merasa bergidik juga. Entah kenapa, tapi dia merasa bahwa semakin berjalannya waktu, anak muda di depannya itu semakin berwibawa.


Sementara itu, setelah beberapa saat kemudian, kedua orang itu pada akhirnya melanjutkan kembali perjalanannya menuju ke Kuil Seribu Dewa.


###


Keesokan harinya, tepat pada pagi hari, Zhang Fei dan Pendekar Pedang Perpisahan akhirnya telah tiba di kota yang berdekatan dengan Kuil Seribu Dewa.


Rupanya, kuil itu sendiri terletak di ujung kota dan berada di tempat yang lebih tinggi. Persis di kaki Gunung Thai San.


"Kau lihat bangunan itu, Ketua Fei?" tanya datuk sesat tersebut sambil menunjuk ke sebuah bangunan tinggi dan besar.


"Ya, aku melihat sebuah kuil yang begitu megah,"


"Nah, itulah yang disebut dengan Kuil Seribu Dewa,"


"Oh, jadi itu bangunan yang akan kita tuju?"


"Benar. Apakah Ketua Fei belum tahu?" tanyanya sambil menoleh.


"Kalau tentang Kuil Seribu Dewa, sudah sejak lama aku tahu dan mendengarnya. Tapi terkait di mana letak pasti dan bagaimana bangunannya, baru sekarang saja aku melihat secara langsung," jawab Zhang Fei dengan jujur. Dalam ucapan itu, dia pun menambahkan pula senyuman getir.


Walaupun pengalamannya sudah cukup banyak, tapi Zhang Fei belum pernah mengunjungi semua markas partai yang terdapat di Kekaisaran Song.


Apalagi selama ini, dia sering terlibat dalam persoalan-persoalan yang ada. Jadinya dia tidak bisa bergerak dengan bebas dan leluasa.


"Baiklah. Kalau begitu kita ke sana sekarang juga,"


Zhang Fei mengangguk setuju. Mereka melesat lagi dan langsung menuju ke Kuil Seribu Dewa.


Sekitar belasan menit kemudian, keduanya telah tiba di dekat pintu gerbang. Di sana, terlihat ada dua orang biksu muda yang bertugas menjadi penjaga.


Zhang Fei dan Pendekar Pedang Perpisahan berjalan menghampiri mereka berdua.


Belum lagi mereka bicara, salah satu dari dua penjaga itu langsung berubah sikap saat melihat ada tokoh sesat yang datang ke tempatnya.


"Mau apa kalian kemari?" tanyanya sambil membentak.


"Aku ingin bertemu dengan Ketua Kuil ini," jawab Pendekar Pedang Perpisahan sambil menatapnya.


"Cih! Ketua kami tidak boleh bertemu dengan manusia laknat seperti kalian," jawab menjaga tersebut. Dia kemudian melirik kepada rekannya, kemudian berkata. "Cepat beritahukan yang lain. Kita telah kedatangan datuk sesat,"


"Baik,"


Penjaga yang satu lagi langsung berlari masuk ke dalam dan berniat untuk melaporkan kejadian ini.


Zhang Fei melihat ada kesalahpahaman. Dengan segera dia menjelaskannya.


"Kedatangan kami bukan untuk mencari perkara. Kami kemari punya maksud baik yang lain,"


"Kau pikir aku akan percaya?" penjaga tersebut menarik muka sambil tersenyum dingin.


"Tentu saja. Karena aku tidak sedang berbohong," ujar Zhang Fei sambil tetap sabar.


"Aku tetap tidak peduli,"


Ie kemudian memasang kuda-kuda. Tongkat kayu yang dia genggam langsung disimpan di depan dadanya.


Wushh!!!


Tiba-tiba biksu muda penjaga itu menyerang ke arah Zhang Fei. Tongkat tersebut datang dari atas dan siap dipukulkan ke arah kepala.


Zhang Fei menggerakkan sedikit kepalanya ke pinggir. Tongkat kayu itu lewat satu jari di sisinya.


Biksu penjaga tidak berhenti. Dia kembali menyerang, kali ini jauh lebih ganas.


Tapi selama itu, Zhang Fei juga tidak membalas serangannya. Dia tetap membiarkan biksu penjaga tersebut melakukan apa yang ingin dia lakukan.