Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Wali Kota Lu Hong


Dalam jarak sekitar sepuluh langkah dari tempatnya berdiri sekarang, di sana ada sebuah ruang penjara yang sangat besar. Saking besarnya penjara itu, sampai-sampai bisa menampung sekitar lima puluhan banyaknya.


Di dalam ruangan penjara, ada sangat banyak para warga yang sedang merintih menahan tangisnya.


Zhang Fei dan Ou Yang Shen berjalan mendekat. Hati mereka semakin sakit, amarahnya mulai berkobar ketika mendapati bahwa di ruangan penjara itu bukan hanya ada para orang tua saja, melainkan ada banyak pula anak-anak kecil berusia sepuluh tahunan.


"Keparat! Pantas saja tempat ini dijadikan daerah terlarang. Rupanya di sini memang ada sesuatu yang tersembunyi," kata Zhang Fei berusaha menahan amarahnya.


"Zhang Fei, sekarang, lebih baik kita bebaskan saja para warga ini," ujar Yang Shen.


Dia pun merasa prihatin dengan nasib para warga yang berada dalam ruangan penjara itu. Apalagi ketika menyaksikan bahwa orang-orang tersebut mempunyai tubuh yang kurus kering.


Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, tiba-tiba saja Zhang Fei berjalan mendekat ke arah pintu besi. Setelah itu, ia segera mengeluarkan Pedang Raja Dewa dan langsung menebas gemboknya.


Clangg!!!


Gembok itu langsung hancur. Pintu besi yang tadinya tertutup rapat, sekarang sudah terbuka lebar.


"Ayo segera keluar dari sini," ujar Zhang Fei kepada para warga yang ada di dalam sana.


Mendengar seruan tersebut, para warga itu secara berbondong-bondong langsung keluar dari ruang penjara.


"Hati-hati, jangan sampai berdesak-desakan," seru Ou Yang Shen menenangkan para warga tersebut.


Para warga mengangguk. Setelah mendengar seruan barusan, mereka terlihat sedikit lebih tenang. Bahkan caranya keluar dari ruang penjara juga menjadi teratur.


Beberapa saat kemudian, semua warga yang tadi berada di dalam penjara, sekarang sudah berhasil keluar. Zhang Fei dan Ou Yang Shen segera membawa mereka keluar dari ruang bawah tanah tersebut.


Kedua orang itu kemudian mengajak para warga keluar dari rumah megah dan berkumpul di halaman depan. Belum lama mereka berada di sana, tiba-tiba terdengar suara derap langkah kaki kuda yang cukup banyak.


Sesaat kemudian, dari arah barat muncul belasan ekor kuda yang berlari kencang ke arah rumah megah tersebut.


"Siapa kalian? Berani sekali membuat keributan di tempat terlarang ini," salah seorang dari penunggang kuda itu berkata dengan nada tinggi.


Dia sepertinya sangat marah melihat apa yang telah dilakukan oleh Zhang Fei dan Ou Yang Shen.


"Siapa pun kami, itu tidaklah penting. Yang jelas, kami hanya melakukan apa yang sudah seharusnya dilakukan," jawab Zhang Fei tidak mau kalah.


"Persetan dengan ucapanmu! Apakah kau tidak tahu hukuman apa yang akan dijatuhkan kepada orang yang berani mencari gara-gara di Kota Hubei?"


"Aku memang tidak tahu soal itu," jawabnya sambil memberikan senyuman ejekan.


"Ketahuilah!" penunggang kuda itu meninggikan nada bicaranya. "Hukuman untuk mereka yang berani membantah peraturan di kota ini, adalah hukuman mati!" ujarnya dengan tegas.


"Oh, benarkah? Siapa yang sudah membuat hukuman seperti itu?" tanya Ou Yang Shen tiba-tiba ikut berbicara.


"Aku!"


Sebuah suara lain tiba-tiba terdengar mengalun di tengah udara. Walaupun pemiliknya belum terlihat, tapi suaranya bahkan sudah bisa didengar oleh semua orang yang ada di halaman depan tersebut.


Sekitar beberapa saat berikutnya, tiba-tiba dari arah yang sama juga terlihat ada seseorang yang menunggangi seekor kuda jempolan. Orang itu melarikan kudanya dengan sangat kencang.


Ketika dia tiba dan menghentikan laju kudanya, debu tebal langsung mengepul tinggi ke angkasa.


Setelah suasana kembali normal, terlihat orang yang datang tersebut mengenakan pakaian mewah. Di pinggang kanan dan kirinya ada pedang sepanjang setengah depa. Orang tersebut sangat gagah, dia memandang ke arah Zhang Fei dan Ou Yang Shen dengan tatapan benci.


"Hemm ... apakah aku sedang berhadapan dengan Wali Kota?" tanya Ou Yang Shen seraya membalas tatapan tersebut.


"Oh, kalau begitu, salam kenal, Tuan Wali Kota," Yang Shen tiba-tiba membungkukkan badan dan memberikan hormatnya kepada sang Wali Kota. Zhang Fei tidak mau diam saja, dia pun turut melakukan hal yang sama.


Wali Kota Lu Hong tersenyum dingin. Tiba-tiba dia melompat turun dari atas punggung kuda. Kemudian baru berkata. "Tidak perlu basa-basi lagi. Aku hanya ingin bertanya, kenapa kalian berdua masuk ke tempat ini?" tanyanya tidak mengindahkan penghormatan yang diberikan oleh dua orang tersebut.


"Karena kami ingin," jawab Zhang Fei dengan cepat. Anak muda itu bicara dengan enteng. Seolah-olah dirinya tidak mempunyai kesalahan sama sekali.


"Hemm ... apakah kalian tahu bahwa ini adalah daerah terlarang?"


"Ya, kami sudah tahu. Papan tulisan di depan sana sudah memberitahukan semuanya,"


"Lalu, mengapa kau masih memaksa masuk kemari?"


"Karena kami merasa curiga. Maka pada akhirnya, kami berdua memutuskan untuk masuk kemari,"


Wali Kota Lu Hong menatap Zhang Fei semakin tajam. Dari balik pancaran matanya seolah-olah ada satu kekuatan tak kasat mata yang terpancar dengan jelas.


"Kalian telah terlalu lancang! Demi menjunjung tinggi keadilan, terpaksa aku harus menjatuhkan hukuman," ujarnya setelah beberapa waktu kemudian.


"Apakah Tuan Wali Kota ingin membawa kami ke Gedung Pemerintahan?"


"Ya," jawabnya singkat.


"Boleh saja. Tapi dengan satu syarat,"


"Apa itu?"


"Bebaskan dulu semua warga ini. Baru kami akan ikut ke Gedung Pemerintahan dengan sukarela," ucap Zhang Fei penuh keyakinan.


Dalam waktu yang bersamaan, Ou Yang Shen segera melirik ke arahnya. Dia langsung berisik di telinga Zhang Fei.


"Apa maksudmu? Apakah kau benar-benar sudah bosan hidup?"


"Tenang saja, Paman. Aku sudah punya rencana untuk membongkar rahasia ini,"


"Aku tidak mengerti," katanya jujur.


"Nanti kau akan tahu sendiri,"


Sementara itu di satu sisi lain, saat ini Wali Kota Lu Hong terlihat sedang melamun. Sepertinya dia sedang menimbang-nimbang terkait syarat yang diajukan oleh Zhang Fei barusan.


"Baiklah. Aku setuju. Tapi kau dan temanmu harus di ikat,"


"Baik. Silahkam kita kedua tangan dan kaki kami," Zhang Fei segera menyodorkan kedua lengannya. Ia juga memberi aba-aba kepada Yang Shen supaya melakukan hal serupa.


"Baik, baik. Aku ikut rencanamu saja,"


Walaupun dia merasa kurang setuju, tapi karena sudah terlanjur, terpaksa mau tak mau dirinya harus mengikuti rencana Zhang Fei.


"Ikat dua orang itu!" Wali Kota Lu Hong memberikan perintah. Dua orang penunggang kuda kemudian langsung turun dan mengikat tangan serta kakinya.


"Bebaskan semua warga yang ada di sini," kata sang Wali Kota melanjutkan ucapannya.


Semua anak buahnya mengangguk mengerti. Para warga yang terdapat di halaman segera disuruh untuk pergi. Setelah keadaan menjadi sepi, Wali Kota Lu Hong kemudian naik ke punggung kuda dan segera kembali lagi ke Gedung Pemerintahannya.


Sedangkan nasib Zhang Fei dan Ou Yang Shen, terpaksa keduanya harus diseret oleh kuda yang gagah dan perkasa tersebut.