Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Guru ...


Meskipun diserang oleh lima orang, walaupun serangan itu datangnya dari setiap penjuru mata angin, namun nyatanya kakek tua serba putih tidak terlihat kerepotan.


Ia seolah-olah angin yang tidak bisa disentuh. Seperti juga asap yang tidak dapat ditembus.


Pertarungan sudah berlangsung beberapa jurus. Namun serangan lima orang tadi belum ada satu pun yang berhasil mengenai sasaran.


Ditengah-tengah gencarnya serangan yang datang, mendadak kakek tua itu menggerakkan kembali kedua lengannya. Dorongan tenaga sakti yang ia lepaskan mampu membuat lima orang itu terdorong mundur ke belakang.


"Telapak Rembulan Kesepian!"


Wushh!!!


Kakek tua serba putih berteriak kencang. Dia langsung mengeluarkan jurus telapak tangan yang dahsyat. Hawa dingin bagaikan es terasa merasuk ke tulang sumsum.


Keadaan di arena pertarungan berubah hebat. Lima orang itu tercekat, mereka merasa sedang berada di sebuah kutub es. Dinginnya bukan main.


Tidak cuma itu saja, bahkan kelima orang tersebut saat ini tidak bisa melakukan apa-apa. Hal itu terjadi karena serangan lawan datang tanpa kenal kata berhenti.


Bayangan telapak tangan semakin bertebaran di udara. Sepuluh jurus kemudian, satu persatu dari mereka mulai terlempar ke belakang.


Lima orang itu tidak bisa melanjutkan pertarungan lagi. Karena masing-masing darinya sudah mengalami luka dalam yang parah.


Lebih daripada itu, mereka pun tidak bisa bangkit kembali. Sebab seluruh otot dan syarafnya tidak bisa digerakkan. Seolah-olah semua organ dalamnya sudah membeku akibat hawa dingin barusan.


Si kakek tua serba putih tersenyum dingin. Ia kemudian segera pergi dari sana dan langsung menuju ke suatu tempat.


Sekitar sepuluh menit kemudian, setelah mencari-cari tempat, akhirnya ia berhasil juga menemukan tujuan utamanya.


Sekarang, dia sedang berada di dalam area ruang tahanan! Tempat di mana Zhang Fei berada.


Kebetulan, di sana juga terdapat banyak penjaga yang berkemampuan tinggi. Melihat ada penyusup yang datang, mereka pun langsung menyerang dengan ganas.


Sayangnya peristiwa seperti tadi langsung segera terjadi. Orang-orang itu tidak sanggup menghadapi si kakek tua. Dalam waktu singkat, tidak kurang dari delapan orang sudah terkapar di atas lantai.


Mereka mengalami kondisi yang sama seperti lima orang sebelumnya. Tidak bisa bangkit karena seluruh organ dalamnya sudah beku.


Si kakek tua terus berjalan memasuki ruang tahanan. Walaupun dia datang seorang diri, tapi nyatanya tidak terlihat ada rasa takut di wajahnya.


Setiap ada orang yang menghadang, dia siap menurunkan tangan kejam. Berapa pun jumlah penghadang itu, ia tidak pernah takut. Apalagi merasa gentar.


Dalam waktu sekitar dua puluh menit, puluhan orang penjaga ruang tahanan sudah terkapar. Mulai dari yang berkemampuan rendah, bahkan sampai yang kemampuannya setara dengan pendekar kelas satu sekali pun.


Para penjaga yang masih ada segera dirasuki oleh rasa takut. Mereka tidak berani bertindak gegabah terhadap kakek tua serba putih itu.


Apalagi setelah ada bukti bahwa puluhan rekannya sudah dibuat tidak berdaya.


"Berhenti!"


Sebuah suara tiba-tiba terdengar dari dalam sana.


Namun kakek tua itu tidak mengindahkannya. Ia terus berjalan ke dalam sampai tiba di dekat ruangan di mana Zhang Fei ditahan.


"Apakah kau tuli?"


Kakek tua itu tetap tidak mendengar. Ia terus melangkahkan kakinya.


Wushh!!!


Segulung angin tiba-tiba muncul dari arah depan. Kakek tua tadi kemudian mengibaskan tangan kanannya.


Blarr!!!


Ledakan yang cukup keras terdengar. Debu mengepul tinggi.


Langkah kakek tua serba putih mendadak terhenti setelah dia melihat bahwa di depannya, dalam jarak sekitar tujuh langkah, ada tiga orang tua yang sudah menghadangnya.


Tiga Bandit Tua!


Yang menghadang di kakek tua serba putih memang mereka.


"Manusia mana lagi yang berani masuk kemari?" tanya si nenek tua dengan nada sinis.


"Manusia mana pun pasti berani," jawabnya acuh tak acuh.


"Yang berani memang banyak. Tapi yang berhasil keluar hidup-hidup sangat sedikit," jawab kakek tua yang menggunakan pedang.


Tiga Bandit Tua tidak segera menjawab. Mereka langsung melihat jauh ke depan sana. Setelah menyaksikan ada puluhan penjaga yang terkapar di lantai, akhirnya ketiga orang tua itu pun mengerti bahwa pihak lawan tidak sedang berbohong.


Suasana di dalam ruangan masih hening. Kedua belah pihak belum ada yang bicara. Hingga akhirnya, keheningan itu dipecahkan oleh ucapan si kakek tua serba putih yang cukup mengejutkan.


"Tidak kusangka, ternyata Tiga Bandit Tua sudah menjadi kentut busuk,"


"Apa maksudmu, tua bangka?" tanya orang tua yang menggunakan tombak.


Dia sangat marah mendengar ucapan barusan. Sebab selama ini, rasanya baru sekarang saja ada orang yang berani menghinanya.


"Jangan pura-pura bodoh," katanya tertawa sinis. "Bebaskan anak muda itu kalau kalian ingin selamat," ia berkata sambil menunjuk ke arah Zhang Fei.


Tiga Bandit Tua kemudian menoleh secara bersamaan.


"Maksudmu, dia?" tanya si nenek tua memastikan.


"Selain dia, apakah masih ada tahanan lain lagi di sini?"


"Hemm, memangnya siapa dirimu?"


"Aku gurunya ..."


Begitu perkataan itu keluar dari mulutnya, Zhang Fei yang pada saat itu sedang bersemedi, mendadak membuka mata dan bangkit dari posisinya.


"Guru ..." teriak anak muda itu kegirangan.


Kakek tua itu memandang dan tersenyum kepadanya.


"Siapa kau sebenarnya?" tanya Anggota Tiga Bandit Tua kemudian.


"Bukankah aku sudah mengatakannya?"


"Bukan itu. Yang aku maksud, siapa nama dan dirimu sebenarnya?"


"Pek Ma ..." jawabnya tegas.


Tiga Bandit Tua langsung saling pandang satu sama lain. Sepertinya mereka sedang mengingat.


Beberapa saat kemudian, ketiganya melotot lalu memandang ke arah kakek tua yang mengaku bernama Pek Ma itu.


"Pek Ma? Si Telapak Tangan Kematian?"


"Dalam dunia persilatan sekarang, memangnya sudah ada nama Peka Ma yang lain lagi?"


"Ti-tidak mungkin ..."


Tiga Bandit Tua tanpa sadar langsung melangkah mundur. Kekagetan jelas terlihat di wajah mereka masing-masing.


Sebagai tokoh angkatan tua, sudah tentu mereka mengenal siapa Pek Ma yang berjuluk si Telapal Tangan Kematian itu.


"Apanya yang tidak mungkin?" tanyanya dengan tenang.


"Kau ... bagiamana bisa muncul di sini?"


"Aku bisa muncul di mana saja,"


"Dusta. Kau sudah berdusta. Kau pasti bukan si Telapak Tangan Kematian," kata kakek tua bersenjata pedang.


"Kau perlu bukti?"


"Ayo buktikan. Kita bertarung beberapa jurus," tantang orang tua tersebut.


"Baik. Silahkan mulai,"


Pek Ma tidak menolak. Dia langsung menerima tantangan lawan.


Sementara pihak musuh, saat ini dia sudah mulai melancarkan serangan pertamanya. Jurus tangan kosong yang dia gunakan sangat berbahaya. Apalagi dalam jurus itu juga terkandung hawa sesat yang menekan.


Namun orang tua bernama Pek Ma itu tidak takut. Ia segera menyambut serangan lawan dengan kedua tangannya pula.


Pertarungan terjadi untuk beberapa waktu. Selama itu, Pek Ma langsung mengeluarkan jurus-jurus yang menjadi ciri khas dirinya saat dulu masih berada di aliran sesat.