Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Keluar Dari Latihan Tertutup


Yang lainnya tidak menjawab. Mereka langsung membungkam mulutnya masing-masing.


"Saat ini bukan waktu yang tepat untuk bingung, apalagi bersedih. Selayang adalah saatnya minum arak,"


Beberapa saat selanjutnya, Dewa Arak Tanpa Bayangan mendadak bicara sehingga memecahkan keheningan di ruangan itu. Pada saat yang bersamaan, dia pun sudah mengangkat cawan arak dan mengajak yang lain untuk minum.


Empat Datuk Dunia Persilatan mulai pesta arak. Mereka tertawa lepas hingga lupa akan masalahnya.


Tujuh hari berikutnya, ketika waktu masih pagi hari, tiba-tiba seorang pegawai dari Gedung Ketua Dunia Persilatan datang menghampiri ke ruangan pertemuan.


Orang tersebut datang sedikit terburu-buru. Seolah-olah memang ada sesuatu yang ingin segera dia sampaikan.


"Siapa di sana?" tanya Orang Tua Aneh Tionggoan ketika mendengar pintu diketuk.


"Ini hamba, Tuan. A Li," kata petugas yang berada diluar pintu.


"Oh, silahkan masuk, A Li,"


A Li langsung membuka pintu dan segera masuk. Dia memberikan hormat kepada Empat Datuk Dunia Persilatan sebelum berbicara lebih jauh.


"Ada apa, A Li?" tanya Dewa Arak Tanpa Bayangan.


"Maaf kalau hamba sudah mengganggu waktu kalian. Tapi kedatangan hamba kemari karena ingin memberi laporan," kata A Li menjawab tegas.


Meskipun wajahnya terlihat sedang ketakutan, tapi cara bicaranya lancar. Tidak seperti pada umumnya, di mana apabila sedang ketakutan, maka cara bicara orang akan gugup.


Memang, pada dasarnya orang-orang baru yang berada di dalam Gedung Ketua Dunia Persilatan saat ini sudah diuji mentalnya.


Mereka dilatih untuk tetap tenang meski sedang menghadapi masalah besar sekali pun.


"Laporan apa yang ingin kau sampaikan?" tanya Pendekar Tombak Angin.


"Kita kedatangan tamu dari aliran sesat, Tuan,"


"Siapa dia?"


"Dia adalah Pendekar Pedang Perpisahan Wen Wu," jawab A Li sepatah demi sepatah.


"Apa? Datuk sesat itu datang kemari?"


"Benar," katanya seraya mengangguk.


"Di mana dia sekarang?" tanya Dewi Rambut Putih.


"Dia berada di depan halaman,"


"Baik, sekarang juga mari kita ke sana,"


Kelima orang itu langsung beranjak pergi dari ruang pertemuan. Saat tiba di halaman depan, ternyata benar. Di sana ada seseorang yang sedang berdiri tegak seperti sebatang tombak.


Orang tersebut mengenakan pakaian serba hitam. Bola matanya kelabu. Tatapan matanya sendiri kosong dan tidak berperasaan.


Saat A Li dan Empat Datuk Dunia Persilatan tiba di sana, Pendekar Pedang Perpisahan langsung menatap mereka dengan tajam.


"Kau sengaja datang kemari?" kata Dewa Arak Tanpa Bayangan dengan singkat.


"Ya, aku sengaja datang," jawab datuk sesat itu tidak kalau singkat.


"Angin apa yang telah membawamu kemari?"


"Aku ingin mencari Ketua Fei,"


"Ada urusan apa kau mencarinya?"


"Ada janji sekaligus hutang pribadi yang harus aku tagih kepadanya,"


"Sayangnya, Ketua Fei sedang tidak ada di sini," ucap Dewa Arak Tanpa Bayangan sambil menggelengkan kepala.


"Oh? Ke mana dia?"


"Dia sedang melakukan latihan tertutup,"


"Kapan dia akan kembali?"


"Sekitar tujuh hari lagi,"


Pendekar Pedang Perpisahan tidak banyak bicara. Setelah berkata seperti itu, dia langsung membalikkan tubuhnya dan segera berlalu pergi dari sana.


Empat Datuk Dunia Persilatan tidak memberi respon. Mereka tetap diam di tempatnya sambil memandangi kepergian orang tersebut.


"Setan arak, mengapa kau menjawab setiap pertanyaannya dengan jujur?"


"Karena aku tidak suka berbohong," jawabnya tanpa merasa bersalah.


"Ya, ya, ya. Aku tahu. Tapi, aku rasa tidak seharusnya kau jujur seperti itu,"


"Justru itu sudah seharusnya. Kalau aku berbohong kepada dia, maka harga diri kita semua akan jatuh di matanya,"


Dewa Arak Tanpa Bayangan tidak bicara lagi. Sebab pada saat itu dia sudah berjalan masuk ke dalam Gedung Ketua Dunia Persilatan.


Tiga orang lainnya hanya saling pandang. Mereka pun segera masuk ke dalam.


###


Tujuh hari sudah berlalu kembali. Saat ini cuaca benar-benar cerah. Mentari pagi bersinar dengan terik. Sinar keemasan memancar ke empat penjuru mata angin.


Keadaan di Gedung Ketua Dunia Persilatan sudah ramai. Para petugasnya telah melakukan persiapan untuk menyambut kedatangan Ketua mereka.


Meja perjamuan sudah selesai disiapkan. Puluhan guci arak mewah sudah tersedia di dalam ruangan tersebut.


Saat ini, Empat Datuk Dunia Persilatan sedang berjalan ke belakang. Mereka akan menjemput Zhang Fei yang kemungkinan besar telah menyelesaikan latihannya.


Ketika mereka baru saja tiba di sana, ternyata Zhang Fei malah sudah keluar lebih dulu. Saat ini dia sedang berjalan dengan langkah ringan.


Walaupun selama dua tahun dia tinggal di dalam goa yang tertutup, tetapi penampilannya tetap terjaga dengan sangat baik. Apalagi, semuanya sudah terjamin.


Rasanya tidak ada perubahan besar dalam diri Zhang Fei. Kecuali bahwa dia lebih tampan, tinggi, dan juga ototnya lebih menonjol dari sebelumnya.


Selain daripada itu, Empat Datuk Dunia Persilatan juga bisa merasakan bahwa setiap inci tubuh Zhang Fei mampu memancarkan kewibawaan yang begitu kentara.


"Anak Fei, akhirnya kau keluar juga," seru Dewa Arak Tanpa Bayangan kepadanya.


Empat orang tua itu mempercepat langkah. Mereka baru berhenti ketika berada di hadapan Zhang Fei.


"Aih, mengapa kalian harus repot-repot datang kemari? Padahal, aku kan masih tahu ke mana arah jalan pulang," ucapnya setelah memberikan hormat.


"Hahaha ... Ketua Dunia Persilatan kita baru saja keluar dari latihan tertutup, mana boleh kami yang tua ini tidak menyambut kedatangannya?"


Mereka kembali berjalan secara serempak. Sampai sejauh ini, keadaan masih baik-baik saja.


Namun pada saat jarak yang tersisa tiga lima langkah, tiba-tiba perubahan terjadi!


Empat Datuk Dunia Persilatan langsung melesat ke depan secara bersamaan. Berbagai macam serangan berhamburan keluar seperti hujan yang datang secara tiba-tiba.


Setiap serangan mereka tentu saja cepat dan berbahaya. Kalau orang lain yang diserang, mungkin dia akan tewas detik itu juga!


Sayangnya Zhang Fei bukan orang lain! Walaupun diserang secara mendadak dan dalam jarak yang begitu dekat, tapi ia sudah siap dengan semuanya.


Wushh!!!


Dia melayang mundur ke belakang. Gerakannya sedikit lebih cepat dari serangan yang datang.


Semua serangan Empat Datuk Dunia Persilatan saling berbenturan satu sama lain sehingga menciptakan ledakan yang cukup besar.


Debu mengepul tinggi. Keadaan di sana menjadi kabur karena kepulan debu tersebut.


Sebelum keadaan kembali seperti sedia kala, tiba-tiba dari balik kepulan debu, ada seseorang yang melesat dengan cepat.


Wutt!!! Trangg!!!


Orang yang dimaksud itu adalah Pendekar Tombak Angin. Barusan dia sengaja mengirimkan serangannya. Siapa sangka, ternyata di sisi lain, Zhang Feibjuga sudah siap dengan pedangnya.


Pedang dan tombak saling menempel satu sama lain.


Wutt!!!


Belum lagi dua senjata itu terpisah, serangan yang lain sudah datang menyusul. Orang Tua Aneh Tionggoan tampak menerjang sambil melepaskan jurus telapak tangan miliknya.


Zhang Fei tersenyum, dia lebih dulu melepaskan Pedang Raja Dewa, lalu bergerak lagi untuk menahan serangan tersebut.