
Setelah berhasil menghabisi nyawa Tiga Bandit Tua, si Telapak Tangan Kematian segera membersihkan pakaiannya dari debu. Kemudian orang tua itu berjalan dan mengajak Zhang Fei untuk segera pergi.
"Jangan membuang waktu lagi, anak Fei," katanya tanpa menghentikan langkah.
"Baik, guru. Aku mengerti," Zhang Fei segera berjalan dan mengikuti di belakangnya.
Setelah kepergian keduanya, kini di ruang tahanan itu tidak ada orang hidup lagi. Hanya ada tiga mayat yang tewas mengenaskan.
Kondisi Tiga Bandit Tua benar-benar miris. Memang, di antara mereka tidak ada yang mengeluarkan darah di tubuhnya. Sedikit pun, tidak ada darah yang keluar.
Hanya saja pada masing-masing dada mereka terdapat bekas telapak tangan yang cukup dalam. Bukan cuma itu saja, bahkan sekitar area yang terkena telapak itu tampak menghitam.
Sementara itu, perjalanan keluar Pek Ma dan Zhang Fei awalnya lancar dan tanpa kendala. Apalagi keduanya telah berjalan ke lorong-lorong yang sepi. Hal itu bertujuan agar mereka tidak bertemu dengan para penjaga.
Namun siapa sangka, lorong itu tidak menghubungkan mereka langsung keluar kediaman Hartawan Wang. Lorong-lorong tersebut hanya sampai di halaman depan.
Jadi, mau tidak mau mereka harus berjalan ke halaman depan yang menjadi jalan masuk.
Naas, langkah keduanya harus terhenti. Sebab sekarang, di halaman itu sudah berkumpul banyak orang. Para penjaga yang hadir ada sekitar dua puluh orang, belum lagi dua orang bercadar hitam beserta Hartawan Wang pula.
Semua orang-orang itu sedang menunggu dan sudah berada dalam keadaan siap siaga.
"Guru, bagiamana ini?" tanya Zhang Fei mulai panik.
"Tenang saja. Kita tetap bisa keluar dengan selamat," jawab Pek Ma dengan penuh percaya diri.
Zhang Fei mengangguk. Dia yakin terhadap ucapan gurunya. Apalagi, anak muda itu sudah tahu sampai di mana kemampuannya.
Mereka kembali berjalan ke depan. Walaupun di sana sudah ada puluhan orang yang sudah menunggu, tapi keduanya tidak menghiraukan hal tersebut.
Baik Pek Ma maupun Zhang Fei, keduanya sama-sama bersikap bahwa di halaman itu tidak ada orang lain lagi kecuali hanya mereka saja.
"Berhenti!"
Hartawan Wang mendadak berteriak dengan suara khas miliknya. Orang bertubuh gemuk itu langsung naik pitam karena sikap kedua orang asing tersebut.
Dalam hidupnya, dia paling tidak suka kalau ada orang yang mengabaikannya. Maka dari itu, tidak heran apabila sekarang dia marah besar terhadap keduanya.
"Kau memanggil kami?" tanya Pek Ma sambil memandangnya.
"Siapa lagi kalau bukan kalian?"
"Oh, maaf," ucapnya sambil tersenyum. "Ada perlu apa Tuan memanggilku?"
"Jangan banyak bicara. Cepat berlutut di hadapanku. Menyerahlah sebelum orang-orangku membunuh kalian," tegas Hartawan Wang tanpa banyak membuang waktu.
"Daripada menyerah, aku lebih memilih untuk dibunuh oleh orang-orangmu, gendut,"
Zhang Fei yang sejak tadi diam tiba-tiba bersuara. Nadanya biasa, hanya ucapannya saja yang terdengar sangat pedas.
Saking pedasnya, sampai-sampai wajah Hartawan Wang pun memerah.
"Anak busuk. Sudah untung aku tidak membunuhmu. Berani sekali kau bicara seperti itu kepadaku," kata Hartawan Wang sangat marah.
"Salah siapa tidak langsung membunuh? Cih, orang gendut lebih baik jangan banyak bicara,"
"Anak setan. Bunuh dia!"
Karena semakin lama, ucapan Zhang Fei semakin menyakitkan, maka pada akhirnya Hartawan Wang tidak bisa menahan diri lagi.
Dia langsung memerintahkan agar orang-orangnya membunuh mereka berdua. Bukan cuma anak buah, bahkan dua pengawal pribadi yang bercadar hitam juga segera diturunkan.
Setelah perintah diturunkan, puluhan orang itu pun langsung menyerang membabi-buta. Mereka lebih dulu mengepung sebelum akhirnya melancarkan bacokan dan tebasan.
Untunglah keduanya bukan domba biasa. Mereka adalah domba yang bisa berubah menjadi naga!
Wushh!!!
Tanpa menunggu perintah dari gurunya, Zhang Fei langsung bergerak. Dia menyambut semua serangan lawannya.
Karena tenaganya sudah pulih, maka tentu saja kemampuannya pun ikut kembali seperti semula. Dia bergerak bagaikan angin yang tidak bisa dihalau.
Saat itu, Pedang Raja Dewa sudah dicabut keluar. Dengan senjata pusaka tersebut, ia bisa dengan mudah mematahkan serangan maupun senjata puluhan orang itu.
Suara dentingan nyaring mulai meramaikan suasana malam hari. Hanya sesaat saja teriakan menahan sakit menggema di tengah udara.
Orang-orang Hartawan Wang bukanlah pendekar kelas atas. Mereka merupakan penjaga yang hanya bisa dasar ilmu silat. Maka dari itu, bukan suatu hal yang sulit untuk melumpuhkannya.
Dalam waktu kurang dari lima belas menit, setengah dari mereka telah terkapar di atas rumput.
Zhang Fei sengaja tidak membunuhnya. Sebab dia juga tahu bahwa mereka tidak bersalah. Orang-orang itu hanya bertindak menuruti perintah majikannya saja.
Sedangkan di satu sisi lain, bersamaan dengan apa yang dilakukan oleh anak muda itu, Pek Ma sudah bertarung cukup sengit melawan dua orang bercadar hitam.
Walaupun tidak pernah bertanya, namun dia tahu bahwa keduanya tak lain adalah anggota dari Partai Panji Hitam.
Dari sini, dia semakin mengerti bahwa hubungan antara Hartawan Wang dan Partai Panji Hitam memang cukup erat.
"Kalian dari cabang mana?" tanya Pek Ma di tengah-tengah jalannya pertarungan.
"Kau tidak perlu tahu kami dari cabang mana,"
"Hemm, bagus. Ternyata keras kepala juga,"
"Jangan banyak bicara tua bangka, rasakan ini,"
Orang itu membentak nyaring. Dia langsung melancarkan satu jurus yang hebat. Cepat dan ganas.
Namun bersamaan dengan itu, Pek Ma malah sudah bergerak lebih dulu.
Karena waktunya tidak banyak, maka orang tua itu memutuskan untuk mengeluarkan jurus yang sama seperti sebelumnya.
Jurus Telapak Lingkaran Setan!
Setelah mengeluarkan jurus tersebut, posisi dua orang bercadar hitam itu langsung berada di bawah angin. Mereka tidak bisa memberikan perlawanan berarti.
Sekitar sepuluh jurus kemudian, satu persatu dari mereka terlempar mundur ke belakang sejauh tujuh langkah.
Sama seperti Tiga Bandit Tua, begitu tubuhnya menyentuh tanah, nyawanya sudah melayang dari raga.
Ternyata bersamaan dengan selesainya pertarungan di Telapak Tangan Kematian, di sisinya Zhang Fei juga mengalami hal yang serupa.
Hampir semua anak buah Hartawan Wang sudah terkapar di atas tanah dengan luka yang cukup parah.
Meskipun masih ada yang mampu berdiri, tapi mereka tidak mampu berbuat apa-apa. Lebih dari itu, orang-orang tersebut sudah kena mental karena melihat puluhan rekannya yang menjadi korban keganasan Zhang Fei.
Anak muda itu kemudian berjalan mendekat ke arah Hartawan Wang. Setelah jaraknya sekitar lima langkah, ia langsung melemparkan senyuman dingin.
"Gendut, apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanyanya.
"Aku ... aku ..."
Hartawan Wang tidak bisa berkata. Ia teramat takut kepada dua orang di depannya. Apalagi setelah menyaksikan apa yang telah mereka lakukan.