
Setelah itu, Zhang Fei baru menjawab. "Aku terpaksa menghentikan pertarungan kalian karena suatu persoalan,"
"Persoalan apa?" tanya Pendekar Pedang Hijau dengan nada tidak senang.
"Apa persoalan yang kau maksud? Apakah kau tidak sabar ingin melawan salah satu dari kami? Tenanglah dulu, Zhang Fei, nanti juga akan ada saatnya," ucap Pendekar Empat Pedang ikut menjawab.
Tidak lupa juga dia memberikan senyuman dingin kepadanya.
"Bukan, jawaban kalian semuanya salah besar," ucap Zhang Fei sembari menggelengkan kepalanya beberapa kali.
Sementara itu, bersamaan dengan kejadian tadi, semua orang yang hadir di sana terlihat bengong sekaligus tidak menyangka.
Di samping itu, mereka pun telah dibuat terpukau oleh aksi yang disuguhkan Zhang Fei.
Meskipun yang hadir dalam acara Pertarungan Empat Kekaisaran tidak semuanya tokoh kelas atas, namun delapan puluh persen dari mereka merupakan para pendekar dunia persilatan di negerinya masing-masing.
Sedikit banyaknya mereka jelas mengerti tentang ilmu silat.
Dan hampir semua orang pula setuju bahwa aksi yang dilakukan oleh Zhang Fei tadi, bisa dibilang mustahil dapat dilakukan oleh seorang pendekar.
Apalagi kalau pendekar itu masih.
Tetapi, mau tidak mau, mereka harus tetap mempercayai kejadian yang telah terjadi di depan matanya tersebut.
Dari sini, para pendekar itu sudah bisa mengukur setinggi apa kemampuan Zhang Fei.
Sementara di tengah lapangan, setelah berhenti beberapa saat, akhirnya Zhang Fei kembali melanjutkan ucapannya.
Ia berkata lagi, "Alasan kenapa aku menghentikan pertarungan ini, adalah karena kalian tidak berlaku serius. Masing-masing hanya tampil seolah-olah menyerang dengan jurus kelas atas. Padahal yang sebenarnya, kalian tidak saling serang,"
"Omong kosong!" kata Pendekar Pedang Hijau membentaknya. "Tahu apa kau, Zhang Fei? Kau pikir dirimu siapa sehingga bisa bicara seperti itu?"
"Hemm ... kalau kau mempunyai dendam pribadi kepada kami, kita selesaikan nanti saja. Jangan mengganggu jalannya pertarungan," sambung Pendekar Empat Pedang. "Apa yang kau bicarakan itu hanya akal-akalan supaya pertarungan ini tidak diselesaikan, bukan? Kalau memang apa yang kau katakan itu benar, mengapa orang-orang tidak ada yang bersikap sama sepertimu?"
Zhang Fei kembali tersenyum. Walaupun dua pendekar di hadapannya sudah terpancing emosi, namun dia masih tampil dengan tenang dan santai.
Setelah menarik nafas tiga kali, Zhang Fei baru menjawab. "Orang lain pasti tidak akan ada yang melihatnya. Kalaupun ada, itu hanyalah tokoh-tokoh kelas atas saja. Hal itu karena gerakan kalian yang terlampau cepat. Jadi siapa pun menganggap bahwa kalian benar-benar serius, padahal yang terjadi adalah sebaliknya,"
Ketua Dunia Persilatan Kekaisaran Song itu memandangi dua orang di depannya. Kemudian bicara lagi, "Para tokoh tidak ada yang berani mengambil tindakan karena merasa tidak sanggup untuk menghentikan pertarungan kalian berdua. Selain sangat sulit, hal itu pun akan mendatangkan bahaya bagi diri sendiri,"
"Kalau begitu, mengapa kau nekad melakukannya?" tanya Pendekar Empat Pedang sambil menatap penuh selidik.
"Karena aku merupakan pengecualian. Orang lain mungkin tidak sanggup, tapi aku sangat sanggup!" Zhang Fei menjawab pertanyaan itu dengan suara dalam.
Amarah Pendekar Pedang Hijau dan Pendekar Empat Pedang langsung meluap. Keduanya sudah tidak bisa lagi menahan diri.
Mereka sempat saling pandang untuk beberapa saat. Setelah itu, tiba-tiba saja Pendekar Pedang Hijau langsung melancarkan serangan kepada Zhang Fei.
Wutt!!!
Sinar hijau berkelebat dengan sangat cepat. Rangkaian jurus kelas atas yang mampu mencabut nyawa dalam waktu singkat sudah digelar secara sempurna.
Hampir bersamaan dengan itu, Pendekar Empat Pedang juga tidak mau kalah. Dia pun turut mengeluarkan jurusnya dan langsung menyerang Zhang Fei dari sisi lain.
Sebatang pedang di tangannya itu langsung terlihat menjadi empat batang ketika ia menggerakkannya dalam kecepatan tinggi.
Dua pendekar pedang kelas atas saat ini telah menyerang secara bersamaan. Tidak tanggung-tanggung, mereka langsung berniat untuk mencabut nyawa Zhang Fei dalam waktu secepat mungkin.
Pertarungan sengit pun langsung terjadi, masing-masing dari keduanya terus menyerang dengan jurus pamungkas yang dimiliki.
Zhang Fei menghadapi dua macam jurus pedang yang dahsyat itu dengan tenang. Walaupun ia dikeroyok oleh dua orang pendekar kelas atas, tetapi sikapnya masih tidak menampilkan kegugupan.
Seolah-olah apa yang terjadi saat ini sudah ia duga sebelumnya.
Selama beberapa waktu, semua orang yang hadir masih belum ada yang ikut terjun ke arena pertarungan. Sepertinya mereka ingin melihat dulu apa yang akan terjadi ke depannya.
Namun tepat pada jurus kedua puluh, tiba-tiba ada satu sosok yang terlempar sejauh lima langkah. Sosok itu tak lain adalah Pendekar Pedang Hijau.
Wajahnya langsung terlihat pucat pasi. Pedang mustika yang mampu mengeluarkan sinar warna hijau itu hampir terlepas dari genggaman tangannya.
Orang-orang yang ada semakin terkejut ketika melihat luka sayatan pedang yang terlukis di bagian punggungnya.
Luka sayatan itu cukup lebar dan dalam, sehingga membuat darah segar mengucur deras dari tubuhnya.
Kini, dalam hati setiap orang itu mempunyai pertanyaan yang hampir sama.
Mengapa Pendekar Pedang Hijau bisa terluka? Siapa yang telah melukainya? Apakah Zhang Fe?
Tapi, bagaiamana cara dia melakukannya? Bukankah Zhang Fei tidak memegang senjata apapun juga?
Semua orang kebingungan. Mereka benar-benar ingin tahu apa yang sebenarnya telah terjadi di tengah arena.
Ketika pertanyaan-pertanyaan semacam itu mengelilingi kepala mereka, tiba-tiba ada satu bayangan manusia lagi yang terlempar sejauh lima langkah.
Kali ini, orang yang terlempar tersebut langsung jatuh dalam keadaan berlutut. Keringat dingin telah membasahi seluruh tubuhnya.
Beberapa luka sayatan pedang juga telah terlukis di bagian tubuhnya.
Orang yang terlempar itu bukan lain adalah Pendekar Empat Pedang!
Ekspresi wajahnya terlihat kaget setengah mati. Seolah-olah dia baru saja mengalami suatu kejadian yang belum pernah dialami dalam sejarah hidupnya.
Dua pendekar pedang itu sama-sama kaget. Mereka saling pandang kebingungan untuk waktu yang cukup lama.
Sedangkan Zhang Fei, ia masih terlihat berdiri di tempat semula. Wajahnya tetap tenang. Kecuali robekan kain di beberapa bagian tubuh, rasanya tidak ada luka apapun lagi yang ia derita.
Tidak lama kemudian, setelah pertarungan ketiganya selesai, mendadak orang-orang dari Kekaisaran Zhou dan Kekaisaran Jin melompat ke tengah arena.
"Zhang Fei, apa yang telah kau lakukan?" tanya Kaisar Zhou dengan nada tidak senang.
"Keparat! Kau benar-benar pendekar muda yang sombong. Ilmu sihir apa yang telah kau gunakan?" tanya Tang San, Ketua Dunia Persilatan dari Kekaisaran Zhou.
Orang-orang yang baru saja tiba di sana langsung mengajukan pertanyaan kepada Zhang Fei. Tetapi orang yang ditanya masih tetap diam. Ia belum berbicara sepatah kata pun.
Tidak lama setelah itu, Dewa Arak Tanpa Bayangan dan Pendekar Pedang Perpisahan terlihat sudah berada di sisi Zhang Fei.
Kedua tokoh tersebut sudah berada dalam posisi waspada!