Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Tabib Dewa Dong Ying


"Si Tabib Dewa sudah tiba di sini?" tanya Dewa Arak Tanpa Bayangan menegaskan lagi.


"Benar, Tuan," orang itu menjawab penuh hormat.


"Di mana dia sekarang?"


"Beliau ada di markas cabang Partai Pengemis kami,"


"Baik. Sekarang juga kami ke sana,"


"Mari, Tuan,"


Anggota Partai Pengemis tersebut mengangguk. Buru-buru dia membalikkan tubuh dan memimpin perjalanan.


Karena jarak ke markas cabang Partai Pengemis tidak terlalu jauh, maka dalam beberapa saat saja, keenam orang tersebut sudah tiba di sana.


Kedatangan mereka disambut hangat oleh semua anggota. Mereka membungkukkan badan memberikan hormat.


Semua anggota Partai Pengemis merasa kagum kepada anak muda yang berjalan bersama Empat Datuk Dunia Persilatan.


"Siapa pendekar muda itu? Hebat sekali dia, masih muda tapi sudah bisa berjalan bersama empat pilar Tionggoan," kata salah seorang anggota berbisik kepada rekannya.


"Kalau aku tidak salah, namanya adalah Zhang Fei. Anak muda itu konon mempunyai ilmu pedang yang sangat hebat. Bahkan beberapa waktu ini, namanya sedang naik daun,"


"Aku percaya,"


"Ya, aku juga. Karena hanya orang-orang tertentu saja yang bisa mempunyai hubungan akrab dengan Empat Datuk Dunia Persilatan,"


"Benar. Aku pun percaya akan hal tersebut,"


"Aishh! Beruntung sekali pendekar muda itu. Kenapa bukan aku saja yang mendapatkan keberuntungan tersebut?"


"Kalau bermimpi jangan terlalu tinggi. Nanti pas jatuh akan terasa sakit,"


Mereka kemudian tertawa bersama-sama sambil terus memperhatikan tamu istimewa yang baru datang tersebut.


Zhang Fei sendiri sebenarnya tahu bahwa dia sedang dijadikan pusat perhatian oleh banyak orang. Akan tetapi, Zhang Fei bersikap acuh tak acuh. Seolah-olah dia tidak mengetahui hal tersebut.


Seakan-akan juga ia tidak mendengar apa yang mereka bicarakan.


Padahal sebenarnya, Zhang Fei bisa tahu dan mendengar semuanya.


Sementara itu, tanpa terasa mereka sudah tiba di pintu utama. Seorang anggota lain segera membawa mereka ke sebuah ruangan yang biasa dijadikan tempat penerima tamu.


Bedanya, saat ini ruangan tersebut sudah ditata rapi sedemikian rupa. Berbagai macam hidangan lezat dan tentunya berguci-guci arak sudah tersedia di atas meja bundar.


Setelah berjalan beberapa kejap, mereka pun tiba di ruangan yang dituju. Pintu itu langsung terbuka, Ketua Cabang Partai Pengemis segera membungkukkan badan dan menyapa mereka semua.


"Silahkan duduk, Tuan-tuan dan Nyonya," kata sambil memberikan isyarat.


"Terimakasih," Dewa Arak Tanpa Bayangan mewakili yang lain. Ia bersama empat orang lainnya langsung duduk di kursi yang tersedia.


Di hadapan mereka, saat ini terlihat ada seorang tua yang sedang duduk. Usia orang itu mungkin sudah mencapai tujuh puluh tahun lebih.


Orang tua tersebut tampak mengenakan pakaian warna kuning tua yang longgar. Dia memelihara janggut panjang sampai ke dada. Warna janggutnya sama dengan warna rambut, yaitu putih.


"Apa kabar, tabib tua?" tanya Dewa Arak Tanpa Bayangan dengan sapaan akrab.


"Aku juga baik. Tapi kadar minumku, semakin hari semakin tidak baik," kata Dewa Arak Tanpa Bayangan sambil tertawa.


"Hahaha ... itu memang sudah kebiasaanmu. Kalau bisa, kurangi kadar minummu itu. Aku takut kau mati karena terlalu banyak minum arak,"


"Sialan. Mana mungkin akan seperti itu?" Dewa Arak Tanpa Bayangan berkata seolah-olah ia kesal. "Arak adalah sumber tenaga. Bagaimana bisa aku mati karenanya?"


"Ah, terserah kau saja. Asalkan jika mati nanti, arwahmu jangan sampai penasaran dan mengajak aku minum arak bersama,"


Suara tawa lantang segera menggema di ruangan tersebut. Semua orang yang ada di sana tampak tertawa.


Hubungan Dewa Arak Tanpa Bayangan dan Tabib Dewa Dong Ying memang bukan menjadi rahasia lagi. Semua orang, khususnya para pendekar dunia persilatan, sudah mengetahui bagaimana dekatnya hubungan mereka berdua.


Perlu diketahui, kedua orang tua itu bukan kenal baru-baru ini. Bahkan sejak masih remaja, mereka sudah sering bermain atau berlatih bersama.


Maka dari itu, rasanya tidak aneh kalau hubungan mereka bahkan sudah seperti saudara sendiri.


Setelah puas tertawa, Dewa Arak Tanpa Bayangan kemudian mengenalkan Zhang Fei kepadanya. Tabib Dewa Dong Ying belum kenal kepada anak muda tersebut, jadinya ia memperkenalkannya lebih dulu.


"Baik, baik sekali," Tabib Dewa Dong Ying menganggukkan kepala beberapa kali sambil memandang ke arah Zhang Fei. "Anak ini sangat berbakat. Tulang-tulangnya kuat dan dia mempunyai keistimewaan yang lain daripada anak seusianya,"


Tabib Dewa Dong Ying berkata dengan lantang. Walaupun hanya menatap, tapi jangan salah, dari hal itu saja dia sudah bisa mengetahui bagaimana diri Zhang Fei.


"Kelak, dia pasti akan menjadi seorang pendekar terkenal yang bahkan mampu mengungguli kalian semua," lanjutnya sambil menatap Empat Datuk Dunia Persilatan secara bergantian.


Keempat tokoh itu saling mengangguk. Mereka tidak marah kepada Tabib Dewa Dong Ying karena baru saja berbicara seperti itu. Juga tidak menyangkal ucapannya barusan.


Sebab pada dasarnya, Empat Datuk Dunia Persilatan juga sudah mengetahui lebih dulu akan hal tersebut.


Sedangkan Zhang Fei, dia benar-benar merasa tidak enak karena dipuji oleh Tabib Dewa Dong Ying. Apalagi pujian tersebut diucapkan di depan banyak orang.


"Tabib Dewa terlalu berlebihan memujiku. Aku yang bodoh ini bisa apa? Justru kenapa aku bisa menjadi seperti sekarang ini, itu semua berkat Empat Datuk Dunia Persilatan," katanya sambil menahan rasa malu.


"Hahaha ..." Tabib Dewa Dong Ying kembali tertawa cukup lantang. "Bagus, anak muda. Tetaplah rendah hati seperti ini, jangan pernah merasa sombong. Jangan lupa, di atas langit masih ada langit,"


"Baik, Tabib. Aku mengerti," kata Zhang Fei sambil menganggukkan kepala.


Dia tahu, bicara dengan orang tua itu percuma saja. Ia tidak akan bisa menang, apalagi menyembunyikan semuanya. Maka dari itu, Zhang Fei lebih memilih untuk diam dan menutup mulutnya serapat mungkin.


Suara arak yang dituang ke dalam cawan kembali terdengar. Para tokoh rimba hijau bersulang arak beberapa kali.


Setelah semua perjamuan itu selesai, mereka yang hadir di sana segera mengubah ekspresi wajahnya. Sekarang semuanya tampak sangat serius.


"Tabib tua, kau tahu mengapa alasan aku mengundangmu kemari?" tanya Dewa Arak Tanpa Bayangan.


Dia tidak mau banyak basa-basi lagi. Waktu yang tersedia sudah sangat sedikit, kondisi Ketua Beng Liong juga semakin mengkhawatirkan.


"Ya, aku tahu," jawab Tabib Dewa Dong Ying sambil mengangguk. "Kau pasti ingin menanyakan, sebenarnya mengapa Ketua Beng Liong bisa berada dalam kondisi seperti sekarang ini, bukan?"


"Benar. Aku merasa semuanya tidak sesederhana yang terlihat,"


"Sebenarnya aku sendiri sudah menduga sejak awal. Tapi karena aku bukan orang persilatan, maka diriku memilih diam,"


Semua orang yang hadir terkejut mendengar jawaban tersebut. Tapi di sisi lain, mereka juga merasa senang. Karena secara tidak langsung, harapan untuk memecahkan masalah ini setidaknya bertambah menjadi tujuh puluh persen.