Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Melibatkan Diri Dalam Peperangan I


Pertempuran yang telah berjalan sengit, tiba-tiba berubah setelah kehadiran para tokoh dunia persilatan itu.


Benturan antara berbagai macam senjata pusaka yang terbuat dari logam, segera meramaikan suasana. Teriakan nyaring dari para pendekar ikut menggema ke empat penjuru mata angin.


Pendekar aliansi yang tadi kewalahan, sekarang menjadi sedikit terbantu setelah hadirnya Zhang Fei dan yang lain. Mereka juga sangat bersyukur karena para tokoh utama itu sudah turun tangan.


Di sisi lain, para pendekar tersebut juga bertambah kembali semangatnya.


Para Jenderal yang memimpin prajurit Kekaisaran, tampak tersenyum ke arah Zhang Fei setelah melihat dia ikut andil dalam pertempuran besar tersebut.


"Ayo, semangat!" kata Jenderal itu berteriak sangat nyaring. "Percayalah, kemenangan akan berpihak kepada kita!"


Jenderal tersebut mengangkat pedang antiknya ke atas. Kilatan cahaya putih keperakan terlihat menyilaukan mata untuk beberapa saat.


Setelah mendengar teriakan itu, para prajurit Kekaisaran segera bergerak dengan brutal. Mereka menyerang pasukan musuh yang setara dengan pendekar kelas satu.


Zhang Fei dan yang lainnya sempat membantu para pendekar yang terdesak. Setelah posisi mereka membaik, maka orang-orang tersebut segera mencari lawan berikutnya.


Dilihat dari keadaan saat ini, rasanya orang-orang yang terlibat dalam pertempuran tersebut tak kurang dari empat puluhan orang. Itu hanya terhitung orang yang masih hidup.


Sedangkan kalau dihitung dengan yang mati, mungkin jumlahnya tak kurang dari tujuh puluhan.


Pertempuran terus berlangsung dengan seru. Suara teriakan, benturan senjata, bentakan nyaring, semua itu ikut meramaikan suasana.


Di tengah terik matahari, mereka terus mengobarkan semangatnya demi membela tanah air.


Pertempuran yang terjadi tidak hanya di perbatasan saja. Bahkan di daerah-daerah tertentu pun tidak terkecuali. Tempat yang menjadi jalannya pertarungan bukan hanya di tengah-tengah halaman kosong saja, bahkan di atap rumah dan di gang-gang tertentu pun sama halnya.


Kehidupan di Kota Jiang Nan berubah dalam waktu sekejap. Di sana sini tercium bau amisnya darah manusia yang berceceran atau menggenggam di atas tanah.


Masuk ke pelosok-pelosok, ada lagi beberapa rumah sederhana milik warga yang terbakar hangus. Jeritan tangis memilukan terdengar. Anak-anak menangis dan lari terbirit-birit karena tidak kuasa melihat kekejaman yang berlangsung di depan matanya.


Semua itu terjadi di hari yang sama. Hanya saja, pertarungan di tempat atau daerah lain masih bisa dikendalikan dan didominasi oleh orang-orang Kekaisaran Song.


Berbeda dengan di daerah perbatasan yang sebaliknya, maka dari itu, kita akan kembali membahas pertarungan di sana.


Pada saat ini, Zhang Fei beserta Lima Orang Datuk Dunia Persilatan sudah menemukan lawan yang seimbang.


Entah siapa saja mereka itu. Yang jelas kemampuannya tidak berada jauh di bawah mereka sendiri.


Dewi Rambut Putih saat ini sedang berhadapan dengan seorang nenek berusia enam puluhan tahun. Nenek tua itu menatapnya dengan tatapan setajam pedang.


"Nenek tua, kau ini benar-benar tidak ingat umur. Harusnya, saat ini kau sedang berada di rumah dan tidur nyenyak. Bukan malah ikut bertarung bersama para manusia iblis ini," kata Dewi Rambut Putih dengan nada dingin.


"Bangsat yang tidak tahu diri. Memangnya, kau pikir dirimu masih muda?" Nenek itu terlihat marah. Sepasang matanya melotot seperti ingin keluar.


Ia kemudian mengangkat kedua selendang yang berada di pinggang. Setelah melakukan kuda-kudaa, ia berkata lagi.


"Sudahlah. Jangan banyak bicara lagi. Terima saja seranganku ini! Hiatt!!!"


Wushh!!!


Ia menerjang ke depan. Sepasang selendang dikebutkan dari jarak beberapa langkah. Selendang itu mengandung tenaga dalam tinggi dan mengarah ke titik-titik berbahaya.


Dewi Rambut Putih tidak berani memandang rendah serangan lawan. Ia segera mencabut pedang pusaka di punggungnya dan menggelar jurus andalan.


"Pedang Inti Es!"


Wutt!!!


Pertarungan sengit langsung terjadi. Dewi Rambut Putih tidak mau membuang waktu, detik itu juga dia langsung mengerahkan seluruh tenaganya.


Tidak jauh dari pertarungan itu, ada pula Pendekar Tombak Angin Cao Ping yang sudah bertarung melawan pria berusia lima puluhan tahun.


Dilihat dari wajah, sepertinya pendekar sesat itu masih termasuk orang-orang Kekaisaran Song. Namun kalau dilihat dari pakaian, agaknya ia merupakan petinggi dari Partai Iblis Sesat.


Suara beradunya tombak dan golok terdengar nyaring. Bunga api memercik mewarnai pertarungan mereka berdua. Suara bentakan yang diiringi dengan serangan maut juga segera dikeluarkan oleh kedua tokoh yang terlibat tersebut.


Para pendekar kelas rendah yang ada di sekitar, segera menjauhkan diri. Mereka tidak mau menjadi korban salah sasaran.


Karenanya, orang-orang tersebut segera mencari tempat yang lebih aman.


Sementara di sebelah sana, ada lagi Orang Tua Aneh Tionggoan yang sedang melawan salah satu tokoh besar dari Kekaisaran Zhou. Sepertinya mereka sudah saling kenal sebelumnya. Sebab ketika pertarungan berhenti, kedua tokoh tersebut terdengar melakukan percakapan.


"Tang Yu, ternyata kau tetap tidak berubah sejak dahulu. Kau tetap dipenuhi oleh ambisi dan amarah yang tidak pernah padam," kata Orang Tua Aneh Tionggoan kepada pria tua tersebut.


"Hahaha ... sejak dulu, aku memang tidak pernah berubah, Luo. Walaupun usiaku sudah tua, tapi semangat dan ambisiku tidak pernah surut. Dan kali ini, aku pasti berhasil mencabut nyawamu," sahut Tang Yu sambil tertawa lantang.


"Hahaha ... terkait ucapanmu yang terakhir, aku masih sedikit ragu,"


"Mengapa kau ragu?"


"Asal kau tahu saja, kemampuanku yang sekarang, jangan disamakan dengan yang dulu,"


"Kenapa begitu?"


"Karena kemampuanku yang saat ini sudah berbeda jauh. Aku rasa, justru kau yang akan mampus di tanganku,"


"Halah, omong kosong. Kalau benar begitu, coba tahan jurusku ini!"


Wutt!!!


Tang Yu meluncur ke depan. Dia memberikan beberapa pukulan jarak jauhnya. Sebelum pukulan asli tiba, tenaga sakti dan hembusan angin telah menerjang lebih dulu.


Orang Tua Aneh Tionggoan tersenyum dingin. Dengan gerakan sederhana saja, dia telah berhasil menghindari jurus tersebut.


Sesaat kemudian, ketika Tang Yu tiba di depannya, Orang Tua Aneh Tionggoan segera memberikan serangan balasan.


Jurus-jurus tangan kosong yang selama ini ditakuti orang, segera digelar dengan sempurna. Telapak tangannya seakan-akan telah bertambah banyak. Tang Yu sendiri dibuat sedikit kebingungan karenanya.


Tidak mau berhenti sampai di situ saja, Orang Tua Aneh Tionggoan kembali melancarkan serangan lain.


Ia mendesak lebih dekat. Kemudian kaki kanannya memberikan tendangan dari samping.


Tendangan tersebut mengenai tulang rusuk Tang Yu. Tokoh sesat itu terdorong ke pinggir. Dia merasakan sakit di bagian kirinya.


Blamm!!!


Belum sempat dia mendapatkan posisi, tahu-tahu telapak tangan Orang Tua Aneh Tionggoan telah datang menghantam dadanya dengan telak. Yang Yu seketika terlempar sampai lima langkah ke belakang.


Ketika luncuran tubuhnya berhenti, ia muntah darah kehitaman cukup banyak.