
Tiga hari sudah berlalu kembali. Jasad Ketua Beng Liong sudah selesai diurus oleh Tabib Dewa Dong Ying dan lainnya. Jasad tersebut saat ini tersimpan di dalam sebuah peti mati mewah yang masih baru.
Kabar kematian Ketua Dunia Persilatan sudah terdengar oleh kalangan luas. Banyak orang yang merasa sedih dan kehilangan karena kematiannya tersebut.
Setiap harinya, selalu saja ada banyak orang yang datang berbondong-bondong ke Gedung Ketua Dunia Persilatan untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Ketua Beng Liong.
Rencana Empat Datuk Dunia Persilatan, kalau situasi di Gedung Ketua Dunia Persilatan sudah sepi, mereka akan segera membawanya ke Istana Kekaisaran sesuai dengan perintah dari Kaisar sendiri.
Bagaimanapun juga, Ketua Beng Liong telah memberikan banyak kontribusi untuk Kekaisaran Song. Dia sangat layak untuk disebut sebagai pahlawan Kekaisaran.
Maka dari itu, Kaisar Song Kwi Bun telah mengirimkan perintah supaya peti mati itu dibawa dan nantinya akan dikebumikan di makam para pahlawan yang berada di lingkup Kekaisaran.
Kurang lebih selama tujuh hari penuh dunia persilatan Kekaisaran Song dilanda kesedihan yang mendalam. Semua orang mendoakan hal-hal baik untuk kepergian Ketua Beng Liong.
###
Pada hari ke delapan, para tokoh yang terlibat memutuskan untuk segera mengantarkan peti mati ke Istana Kekaisaran dengan dibantu oleh cabang Partai Pengemis.
Peti mati yang berisi jasad Ketua Beng Liong dibawa oleh kereta kuda mewah dan dijaga ketat oleh para pendekar kelas satu.
Perjalanan itu memakan waktu setidaknya sepuluh hari. Untunglah di tengah perjalanan mereka tidak menemukan gangguan sedikit pun sehingga bisa sampai di Istana Kekaisaran tepat pada waktunya.
Ketika rombongan pengantar peti mati tiba di halaman depan, suasana di Istana Kekaisaran langsung hening. Para pelayan tidak ada yang bekerja menjalankan tugas. Begitu juga dengan para pejabatnya.
Semua orang berdiri di pinggir sambil menundukkan kepalanya masing-masing. Kecuali suara roda kereta yang terus berputar secara perlahan, rasanya tidak ada suara apapun lagi yang bisa di dengar pada saat itu.
"Kekaisaran Song sedang berkabung karena meninggalnya Ketua Dunia Persilatan yang sangat berjasa. Untuk menghormatinya, mari kita berdoa untuk arwahnya," seorang pria tua berbicara lantang di atas mimbar.
Detik itu juga, semua orang langsung berdoa.
Proses pemakaman pun akhirnya dimulai pada saat siang hari. Kegiatan itu memakan waktu setidaknya setengah hari. Tepat sebelum matahari tenggelam, rangkaian kegiatan sebagai tanda penghormatan terakhir kepada Ketua Beng Liong pun akhirnya selesai.
Keesokan harinya, Empat Datuk Dunia Persilatan segera mengadakan pertemuan dengan Kaisar Song Kwi Bun.
Mereka memberitahukan semua peristiwa yang telah menimpa Ketua Dunia Persilatan. Semuanya diceritakan tanpa terkecuali.
Walaupun Kaisar sudah menduga hal ini sebelumnya, tapi tak urung dia kaget juga setelah mendengarkan secara langsung. Untuk beberapa saat dirinya tidak bisa bicara.
Kaisar hanya bisa minum arak untuk menenangkan pikirannya yang sedang kacau.
"Jujur saja, meskipun aku sudah menduga sejak awal, tapi aku tetap terkejut setelah menerima laporan dari kalian," katanya sambil menghela nafas berat.
Kaisar menyambungkan ucapannya, "Akan tetapi kalian jangan khawatir. Aku sudah mempersiapkan langkah berikutnya. Hanya saja, terpaksa aku harus tetap melibatkan kalian demi menyelamatkan tanah air kita,"
"Kaisar tidak perlu seperti itu. Asalkan demi tanah air kita, walau harus mengorbankan nyawa pun kami siap," tegas Dewa Arak Tanpa Bayangan
"Terimakasih. Aku tahu kalian adalah orang-orang yang sangat peduli kepada tanah kelahiran sendiri," ucap Kaisar Song Kwi Bun sambil tersenyum hangat.
"Kaisar, jujur saja, kami berempat masih gelisah," ucap Orang Tua Aneh Tionggoan mewakili.
"Sekarang posisi Ketua Dunia Persilatan sudah kosong. Kalau tidak diisi dengan segera, kami yakin hal ini pasti akan menimbulkan kekacauan lainnya,"
Semua pendekar pasti ingin menjabat sebagai Ketua Dunia Persilatan. Selain karena disegani oleh semua orang dan bisa mempelajari semua ilmu dari setiap perguruan, kedudukan tersebut juga sangat terhormat.
Bahkan kedudukan Ketua Dunia Persilatan disamakan dengan Kaisar kedua di negeri tersebut.
Dengan semua hal itu, siapa yang tidak ingin mendudukinya?
Bukankah wajar pula, apabila ada banyak orang yang rela mempertaruhkan nyawanya demi bisa menjadi Ketua Dunia Persilatan?
Kaisar Song Kwi Bun menganggukkan kepala. Dia pun cukup mengerti dan sudah memikirkan hal ini.
"Mengapa tidak Tuan Kiang saja yang menggantikan posisi Ketua Beng Liong? Aku yakin, kau bisa membawa perubahan besar bagi negeri kita,"
"Tidak, tidak," Dewa Arak Tanpa Bayangan menggelengkan kepala beberapa kali sebagai tanda tidak setuju. "Seorang setan arak sepertiku, mana bisa membawa perubahan besar? Lagi pula, usiaku sudah lanjut. Sebenarnya aku sudah ingin hidup bebas tanpa terikat apapun lagi,"
Kaisar Song Kwi Bun kemudian melirik ke arah Tiga Datuk Dunia Persilatan yang lain. Namun mereka juga memberika reaksi yang sama.
"Kami sudah terlalu tua untuk menduduki jabatan tersebut. Lagi pula, sebenarnya kami sudah tidak ingin lagi terlibat dalam segala macam persoalan. Kami ingin hidup tenang dan damai di akhir perjalanan ini. Sayangnya langit belum memberikan izin," ujar Orang Tua Aneh Tionggoan mewakili yang lain dan segera dijawab dengan anggukan kepala.
Melihat reaksi mereka, Kaisar tidak mampu berkata apa-apa lagi. Dia pun mengerti keempatnya.
"Lalu menurut kalian, apa yang harus kita lakukan? Apakah kita perlu mengadakan sebuah turnamen untuk menentukan siapa yang akan menduduki posisi Ketua Dunia Persilatan?"
"Sebenarnya kami ingin mengajukan hal tersebut. Tapi setelah dipikir berulang kali, rasanya itu bukan jalan terbaik. Lagi pula kalau mengadakan turnamen, situasinya saat ini sedang tidak mendukung. Perlu banyak tenaga, pikiran sekaligus biaya yang harus dikeluarkan," jelas Dewa Arak Tanpa Bayangan.
Mengadakan turnamen tentu saja memerlukan modal yang sangat besar. Apalagi turnamen yang digelar itu harus mewah. Dengan kondisi Kekaisaran Song yang sedang tidak stabil, rasanya hal itu bukan merupakan jalan keluar.
"Lalu, bagaiamana bagusnya?" tanya Kaisar lebih jauh.
Dalam hal ini, dia tidak mau mengambil keputusan sepihak. Selain karena Kaisar bukan orang dunia persilatan, alasan lainnya adalah karena memang sifat dia seperti itu.
Sebelum mengambil keputusan apapun, dia selalu meminta pertimbangan kepada orang lain. Kalau di dalam Istana Kekaisaran, tentu saja kepada penasihatnya. Sedangkan dalam dunia persilatan, sudah pasti kepada keempat orang tua di hadapannya.
"Bagaimana kalau kita tunjuk seseorang saja?" Dewa Arak Tanpa Bayangan memberikan usul kepada Kaisar.
"Tunjuk seseorang?"
"Ya, kita akan menunjuk seorang yang nantinya akan menggantikan posisi Ketua Beng Liong. Kalau setuju, Kaisar hanya tinggal mengadakan pelantikan dan mengumumkan kepada semua pendekar di Kekaisaran Song. Aku rasa hal ini jauh lebih baik dan tentunya tidak memerlukan banyak biaya,"
Kaisar berpikir beberapa saat. Dia sedang mempertimbangkan ucapan Dewa Arak Tanpa Bayangan.
"Boleh juga," katanya setelah merasa setuju. "Tapi, siapa yang akan kalian tunjuk?"
"Zhang Fei!" jawab Empat Datuk Dunia Persilatan secara serempak.