Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Rawa Iblis III


Seketika mereka menelan ludahnya. Orang-orang itu tahu, anak muda di depannya bukan sedang memberikan ancaman kosong. Apalagi, sebelumnya dia sudah membuktikan bagaimana kemampuannya.


"Ba-baik, Tuan Muda. Baik. Aku ... aku akan coba melihat ke dalam," kata salah satu prajurit sambil menahan rasa takutnya.


"Baik. Aku akan menunggu di sini. Kau sendiri masuk ke sana, biarkan rekan-rekanmu di sini," jawab Zhang Fei dengan nada dingin.


Ia buru-buru mengangguk. Setelah itu dengan cepat masuk ke dalam untuk melihat. Sedangkan empat prajurit yang disuruh menunggu, mereka merasa serba salah.


Ingin menolak tidak berani, diam di sana pun tidak nyaman. Yang ada malah mereka merasakan ketakutan teramat sangat.


Keringat dingin tanpa sadar sudah membasahi seluruh tubuh. Peluh sebesar biji kacang menetes perlahan dari pelipisnya. Mereka tetap diam seribu bahasa. Jangankan begitu, malah melakukan gerakan sedikit pun mereka tidak berani.


Dalam pada itu, Zhang Fei juga setiap saat selalu menatap mereka secara bergantian. Tatapan matanya tajam dan dingin. Seolah-olah dari tatapan tersebut keluar ribuan batang jarum yang mampu membunuh manusia dalam waktu singkat.


Jadi, bisa dibayangkan bagaimana ketakutan yang mereka alami pada saat itu.


Sementara di satu sisi, kini prajurit yang tadi masuk ke dalam sudah berada di sebuah ruangan besar. Itu adalah ruangan utama dari bangunan tersebut. Di sana banyak barang-barang mewah dengan kualitas tinggi.


Tidak hanya itu saja, bahkan di dinding pun terlihat ada beberapa buah lukisan dengan harga mahal.


Di ruangan tersebut, ada sepuluh orang pria yang mempunyai tubuh tinggi kekar sedang berdiri tegak di depan sebuah pintu. Mereka tetap diam seperti patung.


Ketika tiba di sana, prajurit tadi buru-buru memberikan hormatnya.


"Ada apa? Siapa yang menyuruhmu kemari?" tanya salah satu dari mereka kepada prajurit tersebut.


"Maaf, Tuan. Tapi ... tapi aku ingin memberikan laporan kepada Jenderal Gu," jawab si prajurit.


"Jendral Gu sedang menerima tamu. Dia tidak bisa diganggu,"


"Tapi ... ini ada persoalan penting yang harus hamba sampaikan kepadanya,"


"Kau bisa mengatakannya kepada kami,"


"Maaf, Tuan. Tapi ... aku tidak bisa. Sungguh, aku ... aku tidak berbohong. Persoalan ini benar-benar penting," si prajurit berkata dengan ekspresi wajah serius. Ketakutan yang tadi tergambar bahkan masih terlihat dengan jelas di wajahnya.


Sepuluh orang tersebut saling pandang sekejap. Seolah-olah mereka sedang merundingkan apakah si prajurit itu boleh masuk ke dalam atau tidak.


"Baiklah. Kau boleh masuk," kata orang tinggi kekar tadi setelah beberapa saat kemudian.


"Terimakasih, Tuan. Terimakasih,"


Prajurit itu berjalan melewati mereka dengan penuh hormat. Begitu tiba di depan pintu, dia langsung mengetuknya.


"Masuk," sebuah suara terdengar dari dalam sana.


Prajurit itu segera membuka pintu dan masuk ke dalamnya.


Ternyata di sana juga ada sebuah ruangan lainnya. Meskipun tidak sebesar ruangan utama, tapi rasanya masih cukup untuk menampung sekitar dua belas orang.


Di tengah-tengah ruangan terdapat meja bundar dan lima kursi. Lima orang pria tua terlihat sedang duduk sambil pesta minum arak.


Meskipun usianya sudah lanjut, tapi siapa pun yang melihatnya pasti akan langsung mengetahui bahwa orang-orang itu bukanlah manusia biasa.


Ketika si prajurit masuk, mereka cukup terkejut. Orang yang bertampang garang dengan seragam prajurit langsung menoleh dan menegurnya.


"Apa yang ingin kau sampaikan sehingga berani masuk kemari?" tanyanya sambil menatap tajam.


"Apa yang ingin kau sampaikan? Cepat katakan!" katanya sedikit membentak.


"Ba-baik,"


Prajurit tersebut kemudian menceritakan tentang kemunculan Zhang Fei yang secara tiba-tiba. Tidak lupa juga dia memberitahukan bahwa beberapa orangnya telah roboh dalam waktu singkat.


Lebih daripada itu, dia pun menjelaskan maksud dari kedatangan Zhang Fei ke Rawa Iblis. Yaitu untuk mencari seorang gadis yang diduganya sedang disekap.


Setelah mendengar cerita tersebut, orang yang dipanggil Jenderal Gu itu menganggukkan kepalanya beberapa kali.


"Tuan, apakah pemuda itu yang dimaksud olehmu?" tanyanya kepada seorang pria tua yang duduk di dekatnya.


Pria tua itu bertubuh tinggi. Rambutnya yang panjang dan dibiarkan terurai sudah memutih. Ia mengenakan pakaian serba hitam. Di punggungnya juga ada sebatang pedang dengan warna yang sama.


Setiap saat, dia selalu tampil dingin seperti es. Wajahnya pucat pasi.


Yang paling menyeramkan dari orang tua itu adalah bola matanya. Bagaimana tidak? Bola mata yang ia miliki mempunyai perbedaan warna dengan kebanyakan orang.


Kalau orang-orang diluar sana warna bola matanya hitam, bola mata orang tua itu justru berwarna kelabu dan seperti diselimuti oleh satu kekuatan ghaib tak kasat mata.


"Bisa jadi," katanya menjawab dingin pertanyaan Jenderal Gu.


"Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang? Apakah kita harus mengepungnya?"


"Tidak boleh. Walaupun berasal dari aliran sesat, tapi pantang bagiku untuk mengeroyok lawan," katanya seraya tersenyum sinis. "Masalah ini aku serahkan kepada kalian saja. Aku akan tampil belakangan nanti,"


Begitu ucapannya selesai, dia langsung bangkit berdiri dari duduknya. Orang tua tersebut berjalan ke pojok ruangan. Rupanya di sana, tersedia ruangan kecil lagi. Di situ ada seorang gadis cantik yang sedang ringkus. Kedua tangannya diikat oleh tambang dan dibentangkan ke kanan kiri. Tidak hanya itu saja, bahkan kedua kakinya juga diikat.


Kondisinya mengkhawatirkan. Di beberapa bagian tubuhnya terdapat luka yang belum kering. Wajahnya tampak pucat pasi. Ia pun terlihat lemas. Entah itu karena kehabisan tenaga, atau juga karena kebanyakan luka yang diderita.


Orang tua tadi berjalan mendekat ke arahnya. Begitu tiba di hadapan, dia segera berkata. "Gadis cantik, sebentar lagi kau tidak akan sendiri. Temanmu sudah datang sambil mengantarkan nyawanya,"


Gadis yang sebelumnya terkulai lemas itu tiba-tiba mengangkat wajah. Ia memandang si orang tua tanpa bicara. Tapi jelas dari balik tatapan matanya terdapat banyak sekali pertanyaan yang tidak diungkapkan.


Sementara itu, orang tua barusan tiba-tiba melangkah kembali dan menghilang begitu saja.


Bersamaan dengan hal tersebut, sepertinya di meja bundar tadi, Jenderal Gu juga sedang merencanakan sesuatu bersama rekan-rekannya yang berasal dari dunia persilatan.


Tiga orang lainnya menganggukkan kepala setelah merasa setuju dengan rencana yang akan ia jalankan.


"Suruh dia masuk kemari," katanya kepada prajurit setelah ia selesai berunding.


"Baik, Jenderal Gu. Hamba mengerti," dia langsung bangkit berdiri dan segera keluar dari dalam ruangan tersebut.


Beberapa saat kemudian, prajurit tersebut sudah tiba kembali di halaman depan yang terdapat Zhang Fei bersama rekannya.


"Kenapa kau lama sekali?" tanyanya begitu ia tiba.


"Maaf, Tuan muda. Sebab aku harus memeriksa dulu semua ruangan dan memastikannya,"


Zhang Fei menganggukkan kepalanya beberapa kali. Dia kemudian bertanya lagi. "Lalu bagaimana, apakah di dalam sana, benar ada gadis yang disekap?"


"Benar, Tuan Muda. Di sana memang terdapat seorang gadis,"