Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Kereta Kuda Mewah


Zhang Fei dan Yao Mei masih berada di markas Partai Pengemis. Kalau dihitung dari awal sampai sekarang, mungkin keduanya sudah ada di sana selama delapan hari.


Itu artinya, hari ini adalah merupakan hari terakhir dari taruhan antara tiga pendekar muda tersebut.


Selama satu minggu belakangan, rasanya masih belum ada tanda-tanda bahwa Tabib Dewa Dong Ying akan datang ke markas Partai Pengemis.


Tetapi walaupun begitu, Zhang Fei tetap bersikap tenang dan santai. Dia tidak terlihat risau sama sekali. Walaupun Yao Mei dan Yin Yin kadang-kadang mengejeknya, ia tetap bersikap sama seperti biasa.


Saat ini hari sudah masuk pagi. Tiga pendekar muda tersebut sedang duduk di ruang belakang sambil menikmati secangkir teh hangat dan beberapa buah bakpao isi daging.


Mereka sudah membicarakan banyak hal. Termasuk juga membicarakan tentang taruhannya.


"Aku sudah tidak sabar menunggu besok," kata Yao Mei sambil melirik Zhang Fei.


"Benar, aku pun sama. Aku ingin makan di restoran mewah dan menyantap menu termahal di sana," Yin Yin langsung menyahut. Dia pun melirik ke arah Ketua Dunia Persilatan.


Kedua gadis cantik itu terus mengejeknya. Karena tidak ada tanda-tanda, mereka jadi semakin yakin bahwa Tabib Dewa Dong Ying pasti tidak akan datang ke markas Partai Pengemis.


Zhang Fei masih tetap tenang. Dia bahkan tersenyum hangat kepada mereka. Ketua Dunia Persilatan itu menuangkan teh ke dalam cawan. Ia meminumnya sampai habis.


Setelah itu, Zhang Fei menyantap lagi satu buah bakpao.


Lewat beberapa waktu kemudian, dia baru berkata. "Yang tidak sabar itu bukan hanya kalian saja. Aku pun juga sama," Zhang Fei tersenyum kepada keduanya. "Aku ingin tahu bagaimana rasanya dicium oleh dua orang gadis cantik sekaligus,"


"Percuma saja. Hal itu tidak bisa terwujud," ejek Yao Mei.


"Mengapa tidak bisa?"


"Karena Tabib Dewa Dong Ying tidak akan pernah datang kemari," kata Yin Yin menjawab pertanyaannya.


"Sepertinya kalian benar-benar percaya bahwa dia tidak akan datang,"


"Tentu saja. Apalagi sampai saat ini masih belum ada tanda-tanda,"


"Sudahlah, menyerah saja. Lebih baik sekarang juga kita pergi ke restoran termahal di kota ini," sambung Yao Mei sambil tertawa.


"Tunggu dulu. Kalau sampai sore hari masih tidak ada, baru aku akan mentraktir kalian berdua," ucap Zhang Fei dengan tenang.


"Aih ... rupanya kau tidak mudah putus asa,"


Ketiga pendekar muda itu terus saling mengejek. Satu sama lain tidak ada yang mau mengalah. Apalagi, masing-masing dari mereka juga mempunyai kepercayaannya tersendiri.


Lewat beberapa waktu kemudian, tiba-tiba seorang anggota Partai Pengemis datang secara terburu-buru.


Dia langsung memberi hormat setelah tiba di hadapan mereka.


"Ada apa?" tanya Yin Yin dengan cepat.


"Ketua ... di ujung jalan, di sana terlihat ada sebuah kereta kuda yang dikawal ketat oleh puluhan prajurit dan dua orang Pendekar Elit Kekaisaran," ucap anggota tersebut memberikan laporannya.


Raut wajah Zhang Fei langsung berubah cerah setelah mendengarnya. Tidak perlu bertanya lebih lanjut pun dia sudah tahu siapa orang yang ada di dalam kereta kuda tersebut.


Sementara Yao Mei dan Yin Yin, wajah mereka seketika berubah tegang. Keduanya saling pandang satu sama lain. Yin Yin kembali menatap anggota itu dan bertanya lagi.


"Apakah laporanmu ini serius?"


"Tentu saja, Ketua Yin. Mana berani aku memberikan laporan palsu?"


"Sudahlah. Sekarang juga, perintahkan semua anggota Partai Pengemis untuk berjajar di halaman depan. Orang yang ada di dalam kereta itu adalah Tabib Dewa Dong Ying, jadi kalian harus menyambutnya," kata Zhang Fei sambil tersenyum hangat.


"Tapi, Ketua Fei ..."


"Lakukan saja perintahku. Ketua kalian tidak akan berani berbuat macam-macam,"


"Ba-baiklah. Aku mengerti,"


Anggota itu segera memberi hormat. Setelahnya dia langsung pergi dari sana dan berniat untuk melaksanakan tugas dari Zhang Fei.


"Hei ... kenapa wajah kalian menjadi tegang?" tanyanya kepada dua gadis itu. Bersamaan dengan pertanyaan tersebut, dia pun terlihat memberikan senyum mengejek.


"Diam kau!" jawab Yao Mei dengan nada kesal.


Zhang Fei tidak bicara lagi. Dia hanya tertawa dan segera melangkah ke halaman depan.


###


Kereta kuda itu terlihat mewah. Di sisi dan belakangnya ada sekitar dua puluh orang prajurit Kekaisaran dengan senjata lengkap.


Di bagian depan, ada lagi dua ekor kuda jempolan berwarna putih. Penunggangnya juga gagah, mereka mengenakan topeng penutup wajah.


Orang-orang yang ada di kota langsung berdiri di pinggir jalan. Walaupun mereka tidak tahu siapa yang ada di dalam kereta kuda, tapi begitu melihat pasukan tersebut, mereka sudah mengerti bahwa orang itu pasti berasal dari Istana Kekaisaran.


Para warga segera membungkukkan badan dan memberi hormat. Begitu jaraknya sudah semakin dekat, beberapa petinggi Partai Pengemis juga langsung menyambut kedatangannya.


Saat memasuki halaman depan, di sana pun sudah ada Zhang Fei, Yao Mei dan Yin Yin yang menunggunya.


Dua orang Pendekar Elit Istana Kekaisaran tiba-tiba turun dari kuda ketika mereka melihat Zhang Fei.


"Salam hormat, Ketua Fei," kata salah satu dari mereka sambil membungkukkan badan.


"Terimakasih," Zhang Fei menjawab sambil melakukan hal yang sama. Dua gadis di sisinya juga segera ikut membungkuk.


Tidak lama setelah itu, orang di dalam kereta langsung melangkah keluar. Ia kemudian berjalan ke depan dan berhenti tepat di tengah-tengah dua orang Pendekar Elit Istana Kekaisaran.


"Salam, Ketua Fei. Akhirnya kita bisa bertemu lagi," ucap seorang kakek tua yang bukan lain adalah Tabib Dewa Dong Ying.


"Salam, Tabib Dewa. Aku pun tidak menyangka kita bisa berjumpa kembali," jawab Zhang Fei sambil tersenyum hangat.


Setelah selesai menyapa satu sama lain, Yin Yin segera membawa orang tua itu masuk ke dalam. Sedangkan prajurit dan Pendekar Elit Istana Kekaisaran tadi dibawa ke ruangan yang biasa digunakan untuk beristirahat.


Sesaat berikutnya, mereka sudah ada di ruang penerima tamu. Di atas meja yang panjang dan besar itu ada banyak hidangan mewah.


Yin Yin segera mengajak Tabib Dewa melangsungkan makan siang bersama. Perjamuan itu diadakan cukup meriah, para petinggi Partai Pengemis yang lain juga ada di sana.


Lima belas menit kemudian, gadis cantik itu membawa Tabib Dewa Dong Ying ke sebuah ruangan lain. Di sana, mereka akan melangsungkan pembicaraan lebih lanjut.


"Tabib Dewa, maaf kalau aku telah merepotkanmu," kata Zhang Fei setelah mereka mendapatkan tempat duduk.


"Merepotkan apa, Ketua Fei? Tentu saja tidak. Aku bahkan merasa senang karena kau masih mengingat aku yang sudah tua ini," jawabnya seraya tertawa.


"Aih, tentu aku mengingatmu. Mana mungkin aku melupakan orang yang luar biasa sepertimu,"


Kedua orang itu berbincang-bincang cukup lama. Yao Mei dan Yin Yin hanya mendengarkan. Mereka belum berkata sepatah kata pun.