
Pria yang saat itu sedang duduk dan baru saja selesai minum arak tersebut, seketika mengangkat wajah dan memandang ke arah Zhang Fei.
Sesaat kemudian dia langsung tersenyum hangat sambil memberikan jawaban.
"Ah, silahkan. Silahkan duduk di sini. Kebetulan, aku hanya minum seorang diri," kata pria itu sambil mempersilahkan.
Zhang Fei membalas senyuman hangat itu. Kemudian dia pun langsung duduk di depannya. Tidak lama kemudian, seorang pelayan berjalan ke arah mejanya. Pelayan itu membawa nampan berisi arak dan hidangan pelengkap yang telah dipesan oleh Zhang Fei.
"Silahkan, Tuan Muda," kata pelayan wanita muda seraya menaruh semua pesanan di atas meja.
"Terimakasih, Nona,"
Pelayan tersebut mengangguk. Dia kemudian segera meninggalkan meja tersebut. Sementara Zhang Fei, setelah kepergiannya, ia langsung membuka segel arak dan meminum dua cawan sekaligus.
"Arak ini sangat lezat," katanya memuji arak yang baru saja masuk ke dalam tenggorokan.
"Ini adalah arak khas Kota Hubei. Orang-orang menyebutnya Arak Hubei," ujar pria itu tiba-tiba bicara.
"Oh, jadi, inikah arak yang sangat terkenal itu?" Zhang Fei mengangkat kedua alisnya. Tidak dapat dipungkiri, dia pun setuju kalau ada orang yang mengatakan bahwa Arak Hubei itu sangat enak.
Malah rasanya, dia baru merasakan arak seperti ini.
Sekilas, rasa Arak Hubei hampir mirip dengan arak yang dulu pernah diberikan oleh Orang Tua Aneh Tionggoan kepadanya. Cuma, walaupun Arak Hubei ini enak, tapi jelas khasiatnya tidak bisa disamakan dengan arak milik Datuk Dunia Persilatan itu.
"Ya, begitulah," jawab si pria sambil tertawa. "Di sini, Arak Hubei bisa ditemukan dengan sangat mudah. Di semua tempat yang menyajikan makanan, pasti terdapat Arak Hubei yang lezat dengan harga murah,"
"Arak Hubei ini memang tidak mengecewakan. Saat masuk ke tenggorokan rasanya manis dan dingin. Tapi begitu tiba di perut, rasa dingin itu langsung berubah menjadi panas dan segera menyebar ke seluruh tubuh,"
"Hahaha ... benar, benar sekali. Rasa pusing yang dihasilkan apabila terlalu banyak minum arak ini juga nikmat sekali,"
Kedua orang itu sama-sama tertawa lantang. Meskipun mereka baru bertemu dan bahkan belum saling mengetahui nama masing-masing, namun hubungan keduanya terlihat sangat akrab.
Seolah-olah mereka itu adalah kedua sahabat karib yang sudah lama tidak bertemu.
Tanpa sadar, hubungan mereka menjadi lebih dekat hanya karena arak!
Setelah bersulang arak beberapa kali dan menikmati hidangan yang ada, tiba-tiba terdengar Zhang Fei bicara lagi.
"Aih, aku lupa. Maaf, sejak tadi aku belum memperkenalkan diri," katanya sedikit kaget. "Perkenalkan, Tuan, margaku Zhang dan namaku Fei. Aku berasal dari Kota Kanglam. Datang kemari karena ingin mencari pengalaman,"
Pria tua itu menganggukkan kepalanya beberapa kali. Dia pun segera memperkenalkan dirinya. "Perkenalkan, namaku sendiri adalah Ou Yang Shen. Aku berasal dari daerah yang berdekatan dengan Kota Hubei ini,"
"Oh, kalau begitu salam kenal, Tuan Shen,"
"Ah, tidak perlu menyebut Tuan segala macam. Aku tidak suka tatakrama seperti itu," kata Yang Shen menyela dengan cepat.
Zhang Fei mengangguk. Dari ucapannya itu, ia sudah bisa menebak bahwa Ou Yang Shen pasti bukan orang biasa. Setidaknya, dia adalah orang-orang persilatan yang sama seperti dirinya sendiri.
"Dilihat dari penampilanmu, sepertinya kau adalah orang-orang rimba hijau, bukankah begitu?" tanya Yang Shen lebih lanjut lagi.
"Kurang lebih seperti itu," jawab Zhang Fei seraya tertawa.
Di hadapan orang seperti Yang Shen, ia tahu dirinyq tidak bisa berbohong. Apalagi penampilannya saat itu memang menggambarkan jelas bahwa Zhang Fei adalah pendekar dunia persilatan.
Jadi, mau tidak mau dia harus memberitahukan yang sebenarnya.
"Tunggu dulu, bukankah tadi, namamu adalah Zhang Fei?" tanyanya memastikan lagi.
"Ya, benar, Paman," katanya mengganti sebutan kepada Yang Shen.
"Zhang Fei ..."
Ia menyebut nama anak muda itu beberapa kali. Sepertinya Yang Shen sedang mengingat-ingat sesuatu tentang diri Zhang Fei.
"Ah, benar. Kau ... bukankah kau adalah Zhang Fei si pendekar muda yang namanya sedang naik daun?" Beberapa waktu lalu, kabarnya juga kau ikut berperang bersama Empat Datuk Dunia Persilatan, bukan?" Yang Shen terkejut. Tanpa sadar dirinya bicara dengan nada yang cukup lantang.
Akibat dari hal itu, beberapa pengunjung kedai arak tiba-tiba ada yang langsung melirik ke arah meja tersebut.
Lebih tepatnya lagi, mereka melirik Zhang Fei. Berbagai macam tatapan bisa segera dia rasakan. Hanya saja, Zhang Fei bersikap seolah-olah tidak tahu.
"Apa yang katakan katakan itu terlalu berlebihan, Paman," ujarnya dengan nada perlahan. "Benar, Paman. Jadi, kau juga mendengar tentang kabar peperangan tersebut?"
"Aih, tidak-tidak," Yang Shen menggelengkan kepalanya beberapa kali. "Aku justru mengatakan yang sebenarnya. Namamu memang sudah dikenal oleh banyak orang,"
Yang Shen sudah cukup lama mendengar nama pendekar muda itu. Tidak disangka, hari ini dia bisa bertemu langsung dengan dirinya. Bahkan bisa minum arak bersama pula.
"Terkait peperangan yang terjadi di perbatasan Timur, aku rasa tidak sedikit orang-orang persilatan yang mendengar kabarnya. Cuma, mereka tidak berani ikut campur karena sebelumnya Jenderal Guan sudah menyebarkan surat supaya tidak banyak pendekar yang ikut terlibat,"
"Oh, Paman tahu kenapa alasannya?" tanya Zhang Fei sambil mengerutkan kening.
"Aku tidak bisa memastikannya. Tapi dari berita yang pernah aku dengar, katanya peperangan di perbatasan Timur itu bukan yang sesungguhnya. Itu hanyalah peperangan kecil saja. Jadi menurutku, mungkin kekuatan para pendekar baru akan digunakan apabila perang yang sesungguhnya terjadi," jawab Yang Shen dengan ekspresi wajah serius.
"Masuk akal juga," kata Zhang Fei merasa setuju.
Keduanya terdiam untuk beberapa saat. Mereka melanjutkan lagi pesta minum araknya.
Setelah semua arak yang ada di atas meja sudah habis, Yang Shen bicara kembali.
"Zhang Fei, apakah kau punya waktu luang?" tanyanya.
"Tentu saja, memangnya, kenapa, Paman?"
"Ada hal yang ingin aku bicarakan kepadamu,"
"Hal apa?" Zhang Fei memandang Yang Shen dengan kebingungan. Dia tidak tahu apa maksudnya. Tapi dalam hati, dia yakin bahwa Yang Shen sedang bicara serius.
"Nanti kau akan tahu sendiri. Asalkan kau bisa meluangkan waktu untuk berbicara, maka aku akan mengatakan semuanya,"
Semakin jauh berbicara, semakin serius pula mimik wajahnya. Zhang Fei yang melihat itu menjadi bertambah penasaran.
"Baiklah. Kapan kita akan bicara?" tanyanya merasa setuju.
"Sekarang,"
Yang Shen langsung bangkit berdiri. Dia berjalan ke kasir lalu segera membayar biaya makan dirinya sendiri dan Zhang Fei.
Kedua orang tersebut kemudian segera berjalan keluar. Beberapa pasang mata terlihat terus mengikuti ke mana Zhang Fei pergi. Tatapan mata itu sangat tajam. Seolah-olah mengandung perasaan dendam yang mendalam.