Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Part 99. Hukuman untuk Nayla


" Dasar sial ! bisa-bisanya anak ingusan itu mengancam aku seenaknya !" geram Hadi Brata emosi sepeninggalnya Zian dari ruangannya.


" Kalau saja dia bukan pewaris tunggal si number one , pasti sudah ku buat menyesal dengan ancamannya !" Hadi Brata mendengus kesal mengingat semua ucapan Zian tadi.


" Semua gara-gara Nayla sialan, apalagi yang sudah dia perbuat ?" Hadi Brata memijit dahinya yang terasa sakit. Mungkin darah tingginya kambuh.


Tak bertahan lama iapun keluar dari ruangannya. Sopir pribadinya yang sedari tadi menunggu, dengan cepat mengikuti dari belakang.


Mobil mewah hitam berkilau itu melaju membawa si empunya menuju ke rumah.


" Eh papa udah pulang?" tanya istrinya yang terkejut melihat kedatangannya. Namun pertanyaan itu hanya dijawab dengan pertanyaan lain.


" Mana Nayla, ma ?"


" Ada di kamarnya mungkin capek setelah kembali dari kegiatan camping kemarin". jawab istrinya dengan kening berkerut.


" Ada apa sih pa ?" ia mengikuti langkah suaminya yang terburu - buru menuju ke kamar Nayla.


tok tok tok


" Nayla, buka pintunya !" bentak Hadi Brata yang kini berdiri di depan pintu kamar anaknya.


Nayla yang lagi asik rebahan terkejut mendengar bentakan ayahnya.


" Nayla ! buka cepat !"


Dengan tergopoh-gopoh Nayla membuka pintu.


" Ada apa sih pa, teriak-teriak ?"


Hadi Brata bergerak masuk diikuti tatapan tak mengerti istri dan anaknya.


" Apa yang sudah kamu lakuin kemarin malam hah ? jawab papa !" bentak Hadi Brata dengan tatapan marah. Matanya melotot ke arah Nayla.


" Nggak ada apa-apa pa . . . Nayla hanya camping doang kok ". jawab Nayla pelan.


" Oh, trus siapa yang menyuruh orang untuk mencelakai gadis itu? hah ?"


Mendengar pertanyaan selanjutnya membuat tubuh Nayla bergetar ketakutan.


Keringat dingin mulai bercucuran. Ia *******-***** jemarinya. Lidahnya seakan membeku, tak mampu berkata lagi.


" Jawab Nayla !" bentak Hadi Brata kembali.


Wajahnya berubah merah padam.


" Pa, bisa nggak pelan-pelan aja nanyanya ?" istrinya mulai kesal.


" Ingat penyakit papa, bisa kambuh lagi kalau marah-marah terus ".


" Nggak bisa ma, ini akibatnya kalau kita terlalu memanjakan dia !"


" Nayla, jangan buat mama bingung dong. Ada apa sebenarnya ini ? apa maksud papa tadi ?" istrinya mulai membujuk putrinya agar mau menjelaskan semuanya.


Nayla mulai terisak, menyembunyikan wajah ke dalam pelukan mamanya.


" Baiklah kalau kamu nggak mau jujur sama papa. Tapi kamu harus menerima hukuman dari papa. Besok juga kamu berangkat ke luar negeri !" ujar Hadi Brata yang mulai sedikit tenang.


" Nggak mau pa, Nayla sebentar lagi ujian ". wajah Nayla memelas.


" Nggak ada tapi-tapi. Semua ini akibat dari perbuatan kamu sendiri. Papa akan persiapkan semua kepindahan kamu ".


Setelah itu Hadi Brata keluar dari kamar putrinya. Meninggalkan istri dan anaknya yang kembali terisak di pelukan istrinya.


Keputusan Hadi Brata sudah bulat sesuai dengan perjanjian yang dibuat Zian.


Untuk saat ini dia tidak mungkin berani mengambil resiko. Baginya perusahaan lebih penting dari segalanya.


Hadi Brata kembali ke kantor. Sepertinya, hari ini adalah hari yang sibuk untuknya.


Sementara itu di rumahnya . . .


Mamanya berhasil membujuk Nayla untuk menceritakan semuanya.


Dengan terbata Nayla mulai bercerita. Mamanya seolah tak percaya, putrinya sudah berani berpikir sejauh itu.


Tapi karena kasih sayang yang berlebihan, hingga sedikit pun ia tak menyalahkan anaknya.


\*\*\*\*\*