Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 134_Adik Baru


Ponsel Neva berdering ketika dia baru saja keluar dari kelasnya. Panggilan dari nomor yang tidak dia kenal. Dengan ragu dia menjawab panggilan itu, dan setelah mendengar beberapa kalimat dari sebrang sana, dia segera melangkah untuk menemui penelpon yang sudah menunggunya di depan kampus.


Mobil mewah berwarna gold tentu langsung di kenali dan menjadi pusat perhatian. Neva segera menghampirinya. Sang supir dengan sopan membukakan pintu untuknya. Semua langsung bubar setelah tahu bahwa mobil itu menjemput Neva, tidak ada yang kaget jika itu adalah Neva.


"Selamat siang Tante...," Neva memberi salam dengan sopan. Nyonya Mahaeswara mengangguk menanggapi.


"Kau tidak ada acara kan sayang?" tanyanya dengan bersahabat. Neva menjawabnya dengan gelengan. "Bagus, ikut Tante sebentar ya."


Tidak mungkin menolak, Neva dengan ragu menganggukkan kepalanya.


Tiga puluh menit kemudian. Mobil mentereng Nyonya Mahaeswara berhenti di depan pintu utama dan asisten dengan sopan membukakan pintu untuknya.


"Sayang, bawa ini," dia memberikan cake tiramisu pada Neva. Neva menerimanya tanpa banyak tanya. "Ini cake kesukaan Vano," Nyonya Mahaeswara menjelaskan.


Neva memejamkan matanya sebentar. Dia sudah bisa menebak bahwa dia akan diajak bertemu dengan Vano. Ia membuntuti Nyonya Mahaeswara dengan diam dan menunduk. Sebenarnya dia sangat malu dengan ini.


Dua resepsionis menyapa Nyonya besar mereka dengan sopan, namun, mereka memasang wajah kesal ketika melihat gadis kecil yang membawa cake di tangannya.


"Setelah artis itu, apakah ini yang akan di jodohkan dengan Direktur kita?"


"Mungkin."


"Nyonya besar sangat bersemangat menjodohkan Direktur kita. Kasihan Direktur kita...,"


Neva sedikit membenarkan rambutnya ketika perlahan tangan Nyonya Mahaeswara membuka pintu ruangan Vano.


Vano yang sibuk di meja kerjanya langsung mengangkat wajah setelah mengetahui pintunya terbuka tanpa ada ketukan terlebih dahulu.


"Kejutan...," sang Mama tersenyum lebar melihat putranya yang terbengong melihat kehadirannya, terlebih setelah melihat Neva yang berdiri di belakangnya. "Sayang, sini...," Nyonya Mahaeswara menggandeng lengan Neva dan membawanya masuk.


Vano segera berdiri dan menyambut Mamanya.


"Kenapa tidak mengabari Vano dulu Ma."


"Namanya juga kejutan," jawab Mamanya sambil menepuk pundak putranya dengan pelan. Kemudian, ponselnya berdering dan sang Nyonya segera mengangkatnya.


"Ah... sayang, tiba-tiba Mama ada urusan mendadak. Oh iya... sayang, nanti tolong antar Neva pulang, ya, okey," tanpa memberi kesempatan pada Vano untuk menjawab, sang Mama langsung berbalik dan membuka pintu. "Vano, kau harus mengantarnya, janji," ujar sang Mama sebelum benar-benar melangkah keluar.


"Iya Mama."


"Bagus."


Neva menjadi sangat tertekan dengan ide Nyonya Mahaeswara satu ini. Ini... seperti dia di sodorkan langsung pada Vano. 'Ya ampun... bagaimana dia melihat ku sekarang? Apakah aku terlihat seperti gadis yang mengejarnya lewat orang tuanya? Itu memalukan.'


Neva menyembunyikan wajahnya.


Vano duduk di seberangnya.


"Ini, cake yang di beli oleh Tante. Beliau memberikan pada ku ketika perjalanan kesini," Neva menjelaskan. "Jadi, mohon paman jangan Ge-Er karena aku membawakan cake tiramisu kesukaan mu."


"Aku bahkan belum mengucapkan apa-apa."


"Aku yang takut paman salah faham pada ku. Jadi, aku berinisiatif menjelaskan terlebih dulu."


"Hei, berhenti memanggilku paman." Vano memprotesnya.


"Lalu?" Neva menatap wajah Vano yang berada tak jauh dari pandangannya. Benar-benar tampan... pipinya jadi memerah.


"Bukankah aku pernah bilang jika aku seumuran dengan Kakak mu," jawab Vano.


Neva mengangguk dan mengerti. Dia tersenyum dan membuka mulutnya untuk memanggil Vano.


"Kakak Vano...," suaranya imut dan menggemaskan, membuat ujung bibir Vano terangkat membentuk sebuah senyuman merona. Dia tidak punya adik, panggilan Neva terdengar manis di telinganya.


"Cukup bagus," ucapnya menerima dan menyetujui panggilan Neva padanya.


Kemudian, sekertaris Mayla datang membawa dua minuman, dia melirik Neva dengan datar. Pikirannya sama seperti dua resepsionis di depan.


Setelah sekertaris Mayla pergi, Neva dengan sopan mengambil minuman hangat di depannya. Dia sangat tegang berada satu mobil dengan Nyonya Mahaeswara, meskipun Nyonya sangat baik padanya.


"Kakak...," Neva memanggil Vano dan menatap wajahnya. "Aku bisa pulang sendiri, atau aku bisa menelepon supir ku untuk menjemput ke sini. Jadi, Kakak tidak perlu memikirkan permintaan Tante."


"Aku akan mengantar mu," Jawab Vano lembut membalas tatapan Neva. "Kau tidak buru-buru bukan?" Vano membuka cake tiramisu. "Aku adalah anak tunggal, tapi saat ini, aku mempunyai seorang adik, sepertinya itu akan menyenangkan. Adik kecil ku," ucap Vano tersenyum pada Neva. Itu... membuat Neva tersipu dan langsung menyembunyikan wajahnya. "Ayo kita rayakan dengan tiramisu ini...," Vano menyendok. Sungguh dia bahagia dengan menjadikan Neva sebagai adik, ini bukan perasaan bahagia tentang perasaan suka, ini hanya sekedar rasa bahagia karena mempunyai seorang adik. Vano, dengan perhatian memberikan tiramisu ditangannya untuk adik barunya.


"Untuk ku?" Neva menunjuk dirinya sendiri, merasa tidak percaya. Vano mengangguk.


Dengan malu, Neva membuka mulutnya dan menerima suapan dari tangan Vano, ia mengunyahnya perlahan.


"Waaw... sangat lezat, dan menurut ku ini terlalu manis," Neva berkomentar setelah menghabiskan satu suapan dari Vano.


"Benarkah?" Vano menyendok lagi dan mencicipinya. "Hmm menurut ku ini pass," komentarnya setelah mencicipi.


"Oh ya? Kenapa aku merasa kalau cake ini terlalu manis?" Neva kemudian menyendok dan memberikannya pada Vano. Vano menaikkan alisnya, namun, dia tidak menolak, ia menerima suapan dari Neva.


"Waaww..., sungguh luar biasa," Vano tersenyum. Neva segera bertepuk tangan dan merasa puas. "Ini sangat pahit," Vano melanjutkan ucapannya. Neva langsung lemas mendengarnya, dia menatap Vano dengan wajah kesal.


"Kau sama saja menyebalkannya seperti Kak Lee. Ya Tuhan... kapan aku mempunyai Kakak yang manis pada ku, aku sungguh teraniaya," Neva menggerutu dengan wajah cemberut. Vano tertawa kecil melihatnya.