
Tiara pulang dengan wajah muram. Rasanya sakit banget ya ibaratnya diangkat tinggi-tinggi lalu dijatuhkan. Baru juga beberapa menit terlewati dengan manis eh pahitnya sudah keburu datang.
" Maunya kak Ilham apa sih ? doyan banget mainin perasaan aku ". keluhnya pilu sambil melemparkan tas sekolahnya ke sembarang arah.
Handphonenya tiba-tiba berdering.
Panggilan dari kak Ilham.
Tiara hanya memandangi handphone yang bergetar itu sampai akhirnya berhenti sendiri.
" Andai saja kak Ilham tuh seperti kak Zian yang selalu muncul di saat aku butuh bantuan ". Ingatannya memutar kembali beberapa kali pertemuan mereka.
" Eh, kenapa jadi mikirin kak Zian ya ?" Tiara mengetuk dahinya sendiri.
" Aduh !" Hehehe konyol banget sih.
Dibalik sakit hatinya Tiara malah kepikiran Zian. Tak heran juga sih soalnya Zian berulang kali muncul di saat-saat urgen. Sepertinya tuh orang tahu aja kalau Tiara lagi bermasalah.
Ah sudahlah, lihat aja nanti mau berlabuh ke mana hati ini. gumam Tiara dan bergegas pergi mandi karena sedari tadi bajunya sudah terlanjur basah karena kehujanan.
\*\*\*\*\*
Keesokan harinya di sekolah.
Tiara baru saja hendak mendaratkan bokongnya di bangku . . .
Ada yang menarik tangannya. Iapun segera menoleh ke belakang. Ternyata kak Ilham yang sedang menatapnya dengan penuh tanda tanya.
" Ra, kamu kenapa ditelpon nggak angkat ?"
" Oh, kemarin itu. Maaf pas kakak nelpon, Ara lagi di dalam kamar mandi ".
" Kan bisa nelpon balik setelah itu?"
" Ara lupa kak, sampe ketiduran karena capek".
Nampak wajah Ilham yang tak puas dengan jawaban dari Tiara. Ditambah lagi dengan wajah Tiara yang datar saja tak seperti biasanya.
" Kamu kenapa Ra ? ada masalah ya ? atau . . aku ada salah gitu sama Ara ?"
Tiara hanya menggeleng malas.
Karena teman sekelasnya Tiara mulai berdatangan, Ilham memutuskan untuk pamit menuju ke kelasnya. Tiara hanya mengangguk mengiyakan.
Sungguh, ia jadi serba salah dibuatnya. Di sisi lain, ingin sekali ia menuntut lebih waktu dan perhatian dari kak Ilham namun sebaliknya ia juga sadar diri dengan posisinya saat ini. Ilham sudah punya tunangan. Dan hal itulah yang membuat ia bagaikan memakan buah simalakama.
" Hai Ra !" sapa Hesti dan Dhilla yang baru saja tiba.
" Hai bestie ! " kata itu masih saja digunakan di sela-sela obrolan mereka padahal sewaktu ketiga gadis itu mencari tahu artinya di google tak lain adalah binatang buas. Hehehe dasar konyol.
" Ra, tadi kak Ilham dari sini ya?" tanya Dhilla.
" Iya La " jawab Tiara pelan.
" Kalian tadi bertengkar ?soalnya aku lihat wajahnya tuh kaya' sedih gitu".
" Emang ada masalah apa sih Ra ?" Hesti ikut nimbrung.
" Bukan apa-apa sih cuma Ara kesal aja ama kak Ilham. Soalnya kemarin pas pulang sekolah, Ara nyariin dia tapi nggak ada. Mana nggak ada info apa-apa lagi. Eh ternyata dia asik berduaan dengan tunangannya di parkiran".
" Trus kamu samperin ?" cecar Hesti mulai ikutan emosi.
" Nggak sih, aku hanya bisa liatin dari jauh aja. Aku pikir dia bakalan peka dengan keberadaan aku di dekat situ. Ternyata dia nggak sadar juga trus lanjut deh boncengan sama Nayla".
" Kenapa tadi nggak jelasin aja ke kak Ilham alasannya sampe kamu kesal kaya' gini?"
" Rasanya nggak perlu sih. Harusnya dia yang nyadar udah buat kesalahan apa".
" Ya ampun Ra' kamu pikir ini drama korea yang setiap hari kamu pantengin? mana ada cowok yang peka seperti yang ada di drama-drama korea itu?". seloroh Hesti terkekeh.
" Ya kali' Lee min ho atau Cha eun Woo. Yang lagi kamu hadapi nih Ilham Wiraguna neng". sahut Dhilla.
" Ya udah tungguin aja sampe dianya sadar. Btw, ke kantin yuk lapar nih ". ajak Hesti.
" Yuk !"
Ketiga gadis itu segera menuju ke kantin sekolah. Sesampainya di kantin ketiganya mencari tempat yang strategis untuk makan sambil ngobrol. Yup! di pojokan.
Tiara dan Dhilla hanya duduk menunggu Hesti yang sedang memesan makanan mereka.
Kantin pun mulai ramai.
" Hai girls ". sapa Hendra yang mendadak sudah berada di dekat mereka.
" Halo kak ". jawab Dhilla.
" Waaaah kak Hendra makin kinclong aja nih". goda Hesti yang datang membawa pesanan mereka.
" Masak sih?" jawab Hendra jadi semangat dengan pujian adik-adik kelasnya itu.
" Hehehe nggak nyadar ya ". celetuk Tiara.
" Baguslah kalo gitu. Berarti bakal nambah nih fans kakak !" serunya sambil tertawa.
Tanpa mereka sadari, di seberang sana Ilham sedang memandangi mereka dengan wajah dongkol.
\*\*\*\*\*