Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 174_Teman Baru


***Dongeng Bunga


Tangan kecil itu menyentuh bunga dengan sangat hati-hati, wajahnya muram dan nampak sedih. Ini adalah bunga pertama yang dia tanam.


"Aku tidak memetik mu bunga karena aku berharap kau akan selalu indah, tapi... kenapa kau layu?" dia menggumam dengan sedih. "Aku juga rajin merawat mu...," gadis kecil itu semakin bersedih.


Kemudian, bola matanya beralih pada bunga disebelahnya. Dia mendapati bunga yang baru saja mekar, begitu segar dan indah. Dia menatapnya dengan bingung.


"Itulah letak keindahan bunga, sayang," sang ibu menghampirinya dan jongkok disebelahnya. Si gadis kecil menatap ibunya.


"Bunga menjadi sangat istimewa karena dia hanya bertahan sebentar. Jika dia selalu indah dan tak pernah layu maka kau akan selalu melihatnya begitu lama. Lama-kelamaan kau akan bosan"


Si gadis kecil mengangguk mengerti dan tersenyum menatap bunganya yang layu.


Bunga pernah begitu indah dalam pandangan matanya, bunga pernah begitu indah dalam ingatannya, selamanya akan begitu, meskipun esok bunga pertamanya layu, mengering dan kemudian menghilang*"


"Selesai...," Leo menyelesaikan dongeng paginya untuk Nyonya.


"Hmmm, suara Tuan suami sangat indah ketika membaca dongeng," Yuna yang bersandar didadanya tersenyum memberinya pujian. Mereka duduk di gazebo depan di rumah Mama.


"Sungguh?"


"Hu'um," Yuna mengangguk.


"Beri aku ciuman," Leo menyodorkan pipinya. Yuna langsung tertawa mendengarnya.


"Kau selalu saja meminta imbalan," ucapnya dan langsung mematuk pipi Leo.


Neva melangkah menuju mereka berdua. Gazebo depan lebih luas dari pada gazebo samping.


"Hai... apa aku mengganggu?" tanyanya canggung.


"Hai," Yuna membalas sapaannya. "Sini...," Yuna melambai meminta Neva untuk mendekat. Neva ingin mencobanya, mencoba untuk berdamai dengan kisah tentang mereka bertiga. Biar bagaimanapun, Yuna adalah manusia biasa. Entah bagaimana kisahnya dengan Vano.


__Sore hari, setelah pulang dari rumah Mama. Leo mengajak Yuna mengunjungi rumah bunga milik Alea. Leo menceritakan secara singkat siapa Alea.


Alea menyambut mereka dengan ramah dan sangat bahagia. Leo tidak ingin Yuna kesepian dan merasa jenuh di rumah, jadi dia mengenalkannya pada Alea. Dia akan sibuk minggu-minggu ini jadi dia tidak bisa menemani Yuna makan siang.


"Silahkan di minum Nyonya muda," ucap Alea ramah dan lembut.


"Panggil aku Yuna."


"Oh, baik... Yuna," panggilannya dengan sedikit melirik Leo. Dia takut Leo tidak menyetujuinya dengan panggilan itu. Leo tidak memperhatikan lirikan itu, itu karena memang matanya tidak memperhatikannya. Dia membaca berita bisnis diponselnya, sementara tangan sebelahnya mengenggam tangan Yuna di bawah meja.


"Tapi sepertinya itu kurang sopan, Nyonya muda," dia segera menyambung ucapnya.


"Kita teman, tidak perlu sungkan Alea," Yuna tersenyum bersahabat untuk meyakinkannya. Namun Alea ragu, dia masih melirik ke arah Leo. Yuna mengikuti arah pandangannya dan dia jadi mengerti tentang apa yang dikhawatirkan Alea.


"Tidak apa-apa, jika dia tidak memprotes, itu artinya dia tidak keberatan," Yuna segera menjelaskan.


Alea mengangguk. "Baik, Yuna... aku akan menunggu mu setiap hari disini."


Yuna tersenyum menatapnya... dia bahagia memiliki teman baru.