Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 354_Film Horror


"Kita keluar saja, aku tidak ingin melanjutkan nonton ini," ucap Neva. Dia menarik tangannya dari mata Vano. Namun ... Vano langsung menangkap tangannya, menggenggam jemari Neva dengan usapan lembut. Neva menoleh ke arahnya. Mata Vano yang menatap lekat wajahnya. Seketika Neva merasa horror dengan tatapan Vano dan usapan lembut ditangannya. Tatapan mata intens ini ... seperti saat mereka berciuman di dalam kamar Vano dulu. Neva mengalihkan pandangannya.


"Sayang," panggil Vano dengan pelan dan menarik tangan Neva untuk lebih dekat dengannya.


"Umm, kita keluar dari sini," ucap Neva mencoba menarik tangannya dari genggaman Vano. Namun Vano menahannya. Dia melirik ke layar lebar disana. Setan seksi yang menggoda para lelaki dengan kemolekan tubuhnya. Neva merasa salah memilih film saat ini. Film horror yang tidak membuat takut tapi malah membuat horny. Astaga. Menyebalkan.


"Jika kau tidak ingin menonton, jangan lihat," ucap Vano rendah. Tangan sebelahnya terangkat dan mengusap dagu Neva lembut.


Neva gugup setengah mati mendengar suara Vano yang tidak biasa. Apalagi saat ini, tangan Vano mengusap lembut dagunya kemudian dengan perlahan jari itu pindah untuk mengusap bibirnya.


"Aku ... pengen ke toilet," ucap Neva dengan jantung yang rasanya ingin melompat keluar. Dia menarik tangannya dari genggaman Vano dan langsung kabur. Neva segera keluar dari dalam bioskop dan masuk kedalam toilet.


Vano tertawa kecil melihat Neva yang kabur dan menertawakan dirinya sendiri yang menginginkan gadis itu. Jangan biarkan otakmu gila Vano, belum waktunya, Vano menasehati dirinya sendiri. Jaga kehormatan seorang gadis, jangan merusakkannya. Vano kembali memperhatikan adegan film di layar itu lagi sebentar sebelum dia juga keluar dari bioskop.


"Film horror yang memang horror," ucapnya dengan senyum lebar. Kemudian, dia keluar.


Di dalam toilet wanita.


Neva masih bersungut-sungut dengan film horror itu. Dia berdiri di depan kaca wastafel. "Film horror macam apa itu ...." geramnya. Dia mengomel terus tanpa henti. Kemudian setelah puas mengomel, dia keluar toilet.


"Dimana?" dia mengirim pesan pada Vano.


"Di lorong axit," balas Vano. Neva mengambil nafasnya panjang dan meniupkannya perlahan. Dia melangkah ketempat dimana Vano menunggunya.


Dia melihat Vano yang berdiri menunggunya dengan degup jantung yang tidak menentu. Dia ingat tatapan intens Vano, usapan lembut pada tangannya dan suara sayang itu ... Aaaa, Neva berteriak dalam hati. Dia mencoba menenangkan dikiranya, mungkin hanya pikirannya saja.


Vano tersenyum melihat Neva melangkah ke arahnya. Sesuatu yang sempat bergejolak tadi membuat dirinya hampir gila.


"Sudah?" tanya Vano saat Neva telah sampai di depannya. Neva mengangguk dengan malu. Dia menyembunyikan wajahnya. Dia masih belum berani menatap mata Vano.


Vano masih menatap Neva dengan lekat. Kemudian, dia melangkah satu, dan Neva mundur satu. Vano melangkah satu lagi, dan Neva mundur satu lagi, hingga dia bersandar di dinding. Ups, dia tidak akan bisa mundur lagi. Jantungnya berdetak tak karuan.


Vano mendekatkan dirinya lagi, tangan kanannya mengulur dan memeluk pinggang Neva. Mata mereka saling menatap dalam jarak yang dekat.


Kemudian Vano menurunkan kepalanya, dan ... cup. Tangan Neva menutup bibir Vano. Menghalangi dua bibir untuk bertemu.



Dengan sedikit kecewa Vano menarik mundur wajahnya dan kemudian menarik Neva dalam pelukannya.


"Sayang ayo segera menikah," ucapnya frustasi. Neva tertawa kecil dan menepuk-nepuk punggung Vano.


"Sabar," jawabnya.


"Rasanya tak sabar lagi," ucap Vano.


"Harus sabar. Awas saja jika kau tak sabar dan memilih wanita lain," jawab Neva.


"Setelah Leo sembuh, kita langsung menikah," ucap Vano.


"Kita harus menyiapkan semuanya dulu. Aku ingin mewujudkan mimpi ku jadi pengantin paling bahagia."


"Kita persiapkan dari sekarang," ucap Vano.


Neva melepaskan pelukannya, "Lepaskan, ada yang lewat," ucap Neva sambil mencoba mendorong tubuh Vano. Vano segera melepaskannya.


"Pulang ke rumahku saja, aku tidak akan mengantar mu kembali," ucap Vano. Dia menggandeng tangan Neva untuk keluar dari area bioskop.


"Kenapa begitu? Tidak boleh," jawab Neva.


"Boleh, aku akan membawamu pulang."


"Antar aku pulang, Kak Dimas pasti akan menungguku."


_________________


Di negara A.


Burung-burung mulai bernyanyi dan bercengkrama dengan alam. Berkicau dengan merdu dan bahagia saling berkejaran. Terbang dari dahan satu ke dahan yang lain. Mentari menyapa dengan perlahan, sinar hangatnya menyambut hari dengan lembut.


Leo duduk di teras samping sambil membaca koran, dia sengaja membuat dirinya dibelai hangat sinar surya.


Yuna menatapnya dari dalam dengan senyum. Sorot kuning keemasan surya pagi hari membuat wajah Leo berkilauan. Yuna kemudian melangkah mendekatinya. Tanpa kata ... dia langsung mencium pipi Leo.


"Tuan tampan," bisiknya halus di telinga Leo. Jika kondisi Leo baik-baik saja, Yuna pasti akan langsung menempatkan dirinya dipangkuan Leo. Bergelayut manja dileher kokohnya.


Sudut-sudut bibir Leo terangkat membentuk senyuman. Dia lebih mendekatkan wajahnya dan mengigit telinga Yuna dengan gemas. Kemudian, dia meletakkan koran ditangannya dia atas meja dan memeluk pinggang Yuna.


"Kau belum minum obat kan?" kata Yuna. Tepat setelah Yuna selesai bicara, perawat datang dengan membawa obat Leo. Dia meminta izin untuk mengecek kondisi Leo terlebih dahulu.


"Kondisi Tuan muda baik," ucap perawat setelah selesai.


"Terima kasih," ujar Yuna. Kemudian, sang perawat pamit. Ada dua obat sebelum makan yang harus Leo konsumsi. Yuna dengan perhatian, memberi obat untuk Leo.


Setelah beberapa menit, mereka masuk untuk sarapan.


Baby Arai berada di dalam box ayunan elektrik. Ayunan bayi yang bergerak dengan pelan dan teratur.


"Selamat pagi sayang, yuuk jalan-jalan," ajak Yuna. Baby Arai langsung antusias melihat Yuna. Kaki dan tangannya bergerak dengan bersamaan. Celotehnya nyaring dan menggemaskan.


"Uuu semangatnya," Yuna mengambil anaknya dari ayunan dan mencium pipi gembulnya.


"Si imut yang paling pintar," Leo ikut mencium pipi anaknya.


"Wah, wah ... Oma ketinggalan," ucap Mama yang bergabung.


"Pipi aku masih punya stok banyak Oma," Leo yang menjawabnya. Kemudian, Mama meminta Baby Arai dari gendongan Yuna.


"Mana, mana ... sini pipinya yang emeshin," Mama mencium Baby Arai dengan gemas. Kemudian, beliau meletakkan Baby Arai ke stroller.


"Yuuk," Mama mendorong stroller keluar rumah. Leo dan Yuna mengangguk berbarengan. Mereka jalan santai pagi ini. Leo menggenggam tangan Yuna dan sesekali menggodanya.


"Nanti Baby Arai akan bertemu dengan fansnya," ucap Yuna dengan tawa kecil.


"Dia memiliki fans?"


"Hu'um. Yang pernah ku ceritakan padamu. Sekarang, setiap pagi, dia pasti akan menunggu disana. Di jalan dekat taman," jelas Yuna.


"Hahaa masih kecil sudah ada fans, dia," ucap Leo.


"Apa dulu kau juga begitu?" tanya Yuna. Dia menoleh ke arah Leo.


"Iya," Mama yang menjawabnya. "Dia jadi rebutan jika Mama mengajaknya ke acara pesta," lanjut Mama. Kemudian, beliau bercerita saat Leo kecil.


"Aku tidak salah, Baby Arai mewarisi kharisma Daddy-nya," komentar Yuna setelah mendengarkan cerita Mama.


Kemudian, seseorang dari kejauhan melambai. Dia bahagia melihat Yuna dan Mama yang membawa Baby Arai. Gadis berpenampilan cassual dengan sepasang bola mata berwarna coklat tersenyum melihat mereka datang. Kemudian, matanya tertuju pada sosok yang berdiri di samping Yuna.


_______________


Catatan penulis πŸ₯°


Jangan lupa sun majaaaahh. Like koment ya kawan tersayang πŸ₯° Terima kasih, padamu πŸ₯°πŸ™ Luv Luv πŸ™


Maaf jika ada typo-typo ya.