Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 336_Kita Bicara


Neva jalan beriringan dengan Lula sedangkan Joe berjalan dibelakang mereka. Dia dengan patuh membuntuti dua gadis itu.


Pertama yang mereka tuju adalah ice cream. Mereka duduk dibawah payung besar menunggu pesanan ice cream datang. Namun, sebelum pesanan pesanan itu datang, Lula lebih dulu mendapatkan panggilan masuk dari adiknya dan dia harus segera kembali.


"Joe, bisa minta tolong antar Lula kembali?" ucap Neva pada Joe. Namun Lula segera menyahutnya.


"Ah, tidak perlu. Aku bisa pulang dengan taksi. Joe temani Nonaku saja," ucap Lula. Kemudian, segera pamit.


"Padahal, kau yang mengajakku kesini tapi malah kau meninggalkanku," Neva cemberut saat Lula sungguh pamit meninggalkan dirinya.


"Hmm, lain kali aku akan menemanimu. Adik ku sedang berulah," jawab Lula. Dia kembali dengan menggunakan taksi dan meninggalkan Neva dan Joe berdua.


Neva membuka tasnya dan mengambil ponselnya. Hhhm dari pagi hingga saat ini, dia baru sempat memegang ponselnya tapi dia harus kecewa, karena ternyata ponselnya ngedrop. Dengan kecewa dia kembali memasukkan ponselnya lagi.


Tak lama pesanan mereka datang.


"Sebelum ini kamu tinggal dimana Joe?" tanya Neva sambil menyendok ice cream.


"Saya di Ibu Kota, Nona," jawab Joe dengan juga mulai menyendok ice creamnya.


"Oh ya? Kenapa aku baru melihatmu sekali ini? Kau ... bukan orang baru Papa kan?"


"Ya, saya sudah lama bekerja dengan beliau," jawab Joe.


"Asisten Papa semuanya aku tahu. Bahkan yang di luar negeri pun aku tahu. Tapi kenapa aku baru melihatmu sekarang?"


Joe tersenyum mendengar pertanyaan Neva. "Saya ada di belakang beliau," jawabnya.


Neva menghentikan suapan kemulutnya. Dia menatap Joe. "Di belakang?" tanyanya dengan menggerakkan kedua jari kanannya sebagai tanda kutip. Joe mengangguk dengan senyum.


"Seperti itu," jawabnya mengiyakan, belakang dalam tanda kutip. Joe adalah asisten tak terlihat Tuan besar Nugraha. "Tidak ada yang tahu jika keluarga Nugraha ke luar negeri untuk berobat Tuan muda Leo. Karena, jika ada sedikit saja celah tentang kelemahan kita, maka pihak lawan akan langsung menyerang," jelas Joe.


"Hmmm," Neva mengangguk-angguk. "Memang ada beberapa orang yang bahagia jika melihat kita menderita."


"Hahaa, itulah dunia Nona."


"Hmm, jangan panggil aku Nona. Kita sudah diluar perusahaan. Panggilan namaku saja," ujar Neva dengan bersahabat.


"Tapi tu tidak sopan Nona," tolak Joe.


"Aku sendiri yang memintamu," Neva meyakinkan. Dengan sedikit ragu akhirnya Joe menyetujui.


"Baik, Neva."


"Bagus, itu lebih enak didengar," ujar Neva. Joe tersenyum simpul dan kembali menyuap ice cream miliknya. Setelah percakapan itu, mereka berdua diam hingga ice cream habis.


"Kau boleh pulang Joe. Supir bisa menjemput ku nanti," ucap Neva tiba-tiba.


"Keselamatan Nona adalah tanggung jawabku," jawab Joe. Dia menatap Neva.


"Kenapa masih memanggilku Nona?"


"Hmm? Ah, saya tidak terbiasa memanggil dengan sebutan nama saja," jawab Joe.


"Hhh terserah kau saja Joe."


"Memang lebih baik jika saya tetap memanggil Nona," ucap Joe. Neva mengangguk menyetujui Joe tetap memanggilnya Nona.


"Mmm, kau boleh kembali Joe. Jam kerjamu selesai. Tidak perlu khawatir. Aku akan baik-baik saja," ucap Neva.


"Jam kerja ku, dua puluh empat jam Nona. Tidak ada selesai," jawab Joe. "Nona tahu maksud saya, jadi mohon biasakan diri dari sekarang dengan selalu ada saya yang pasti mengawasi Nona muda hingga pengobatan Tuan muda Leo selesai," jelas Joe. Neva menghela nafasnya panjang dan mengangguk dengan berat.


Selalu diawasi? OMG, ini menakutkan. Batin Neva tapi dia tidak bisa menolak karena ini adalah permintaan papanya.


"Nona ingin makan apa lagi?" tanya Joe.


"Tidak ada. Kita pulang saja," jawab Neva. Kemudian, mereka beranjak dan melangkah meninggalkan area festival kuliner. Mereka berdua berjalan beriringan.


Disana. Vano tengah mengendarai mobilnya menuju rumah Tuan besar Nugraha. Namun, pada satu jalan dijalan yang ramai oleh pejalan kaki, dia melihat Neva tengah berjalan beriringan dengan seseorang. Seseorang yang masih berpakaian formal. Mereka terlihat berbincang dengan akrab. Siapa laki-laki itu? Batin Vano. Dengan pelan Vano menepikan mobilnya. Kemudian, dia keluar dan berjalan menuju Neva.


"Neva," ucap Vano menatap Neva dengan lembut.


"Kak Vano," jawab Neva dengan senyum.


"Selamat malam, Tuan muda Vano. Saya Joe, asisten pribadi Nona Neva," Joe membungkuk menyapa Vano dan memperkenalkan dirinya.


"Asisten pribadi?" sahut Vano dengan menatap Joe.


"Iya," Neva yang menjawabnya. Vano memperhatikan Joe dari ujung rambut hingga ujung kaki. Kenapa Neva memilih asisten yang tampan? Batinnya tidak percaya diri. Mereka tengah break dan saat ini dan Neva dekat dengan asisten tampan. Muncul kekhawatiran dalam hati Vano begitu saja.


Vano kembali menatap Neva, kemudian dia berbicara dengan Joe tanpa melihat laki-laki itu.


"Ok. Bisa tolong tinggalkan kami?" ucap Vano dengan perintah. Joe membungkukkan badannya dengan sopan.


"Baik Tuan muda," jawab Joe. Lalu dia membawa pandangannya pada Neva, "Nona, mohon hubungi saya jika urusan Nona sudah selesai. Saya akan menjemput anda," ucapnya pada Neva.


"Tidak perlu. Aku yang akan mengantarnya pulang," sahut Vano dengan segera dan masih tanpa melihat ke arah Joe.


Begitu juga dengan Joe, dia masih menatap Neva tanpa memperhatikan suara Tuan muda Vano yang terdengar kesal.


"Kenapa masih berdiri disini? Pergilah," perintah Vano dengan suara tegasnya. Itu, menarik pandangan Joe terhadap Neva.


"Baik, Tuan muda. Saya pamit, selamat malam," ucap Joe. Kemudian, Joe membalik badannya dan melangkah meninggalkan dua sejoli itu.


"Kenapa tidak membalas pesanku?" tanya Vano setelah Joe pergi.


"Aku tidak membuka ponselku dari pagi. Maaf, aku tidak tahu jika ada chat kakak," jawab Neva dengan menunduk. Dadanya berdenyut ngilu. Kenapa harus bertemu lagi jika kau ingin menjauh dariku.


"Kau mau pulang atau mau kemana?" tanya Vano setelah mereka diam beberapa saat. Neva masih terus menunduk menyembunyikan wajahnya.


"Ya, aku mau pulang. Selamat malam Kak," jawab Neva membungkukkan badannya sebagai tanda pamit. Vano langsung meraih tangannya dan menggenggam jemarinya.


"Aku antar," kata Vano.


"Terima kasih kak. Tapi tidak perlu, ada asisten yang akan mengantarku," jawab Neva. Dia menarik tangannya. Namun, Vano menahannya.


"Aku bilang jika aku yang akan mengantarmu," ucap Vano dengan penekanan. "Tidak boleh pulang dengan dia," lanjutnya.


"Kenapa?" tanya Neva. Dia mengangkat wajahnya dan membalas tatapan mata Vano padanya.


"Ada aku yang akan mengantarmu. Tidak boleh dengan dia," jawab Vano.


"Bukankah kau marah padaku?"


"Ya aku marah padamu," jawab Vano. "Kita bicara," lanjutnya. Dia menoleh memperhatikan area sekitar mencari tempat yang cocok untuk berbicara empat mata tetapi dia tidak menemukannya.


Pada akhirnya, mereka berjalan menyusuri jalan setapak. Berjalan diantara banyaknya orang. Tangan Vano masih menggenggam jemari Neva. Sesuatu merayap pada hati keduanya.


"Kau hebat," kata Vano memulai percakapan setelah mereka saling diam.


"Hebat kenapa?" tanya Neva tak mengerti.


"Ada seorang teman yang mengambil vidiomu saat rapat lalu mengirimkannya padaku," jawab Vano. "Kau berbakat," lanjut Vano dengan pujiannya. Neva menoleh ke samping dengan wajah memerah. Dia malu.


"Siapa seseorang itu? Aku akan mencoret daftar namanya," ucap Neva dengan sangat malu. Dia tidak PeDe jika Vano yang melihatnya.


"Jangan kejam Boss," ujar Vano. Obrolan mulai mencair. Hingga mereka berjalan pada jalan yang senggang dan sepi. Jalanan yang berjajar lampu-lampu kuning jalanan. Angin sepoi menerpa wajah keduanya.


"Neva ...." panggil Vano rendah tetapi dengan serius.


____________


Catatan penulis πŸ₯°πŸ™


Jangan lupa like komen ya kawan tersayang. Yang punya poin lebih boleh dong dibagi ama othor πŸ₯°πŸ˜˜πŸ˜˜ Vote yess. ilupyu 😘 Terima kasih semuanya πŸ™ Vote Vote. Luv πŸ₯° Padamu.


Kenapa Up nya lama? Kenapa kemaren tidak Up? Karena mimin MT nggak lolosin bab ini kemaren 😀😀 padahal nggak ada kata yang fulgar atau umpatan ge, min ... min. πŸ™„πŸ™„πŸ™„ Ngeselin.