Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 267_Keluarga Besar


Keluarga Yuna datang pada pukul 15.00. Ayah, Nenek dan Ibu sambung Yuna.


"Nenek," Yuna memeluk neneknya dengan perasaan yang teramat rindu. Begitu juga dengan nenek, beliau mencium kening Yuna dengan penuh kasih. Kemudian, Yuna mencium tangan Ayahnya.


"Hemm, putri Ayah tercinta, sebentar lagi akan menjadi seorang Ibu," ucap Ayah. Beliau memeluk Yuna dan mencium lembut kening Yuna.


"Na kangen Ayah," Yuna mengeratkan genggaman tangannya pada pinggang ayahnya. Tangan Ayah terangkat dan mengusap rambut Yuna penuh kasih. Ada rasa haru dalam mata dan hati beliau. Sekelebat terlintas bayangan Ibunda Yuna yang telah ada di surga. Bayangan dua puluh empat tahun yang lalu, dimana sang Ibunda harus pergi untuk selamanya tepat disaat gadis kecil nya menyapa dunia. Ibundanya harus pergi tepat saat Yuna berteriak pada dunia dengan tangisnya.


Mata Ayah berkaca-kaca, tangannya berpindah untuk mengusap perut Yuna dengan lembut. Beliau berdoa dalam hati, memejamkan kedua matanya, memanjatkan do'a kepada Tuhan, agar apa yang dialami oleh ibunda tercinta tidak terjadi pada Yuna. Bayangan dua puluh empat tahun silam begitu menusuk dihatinya. Air mata Ayah menetes, satu tetes membasahi tangannya yang mulai berkerut. Beliau menggeleng pelan lalu merengkuh Yuna dalam pelukannya. Mendekapnya dengan hangat. Yuna tidak tahu, kenapa Ayahnya menangis, hanya saja, melihat ayahnya menangis membuatnya tidak tahan untuk ikut meneteskan air mata. Dia rindu ayahnya.


"Kamu selalu kontrol ke dokter bukan?" Tanya Ayah dalam isaknya. Yuna mengangguk pasti.


"Selalu," jawabnya.


"Sehat selalu sayang," ucap beliau sambil meninggalkan kecupan lembut di rambut Yuna. Kemudian, beliau melepaskan pelukannya dan mengusap air matanya. Kemudian, Yuna memberi salam pada ibu sambungnya. Mereka berpelukan sebentar, hubungan Yuna dan Ibu sambungnya sudah sangat membaik setelah dia menikah.


Leo mendekat ke arah Yuna, menyentuh pipinya dan menyeka sisa air mata Yuna. Ia tersenyum dan mencium rambutnya.


"Kau bahagia?" Tanyanya.


"Iya," Yuna mengangguk, "Sangat bahagia," lanjutnya. Dia merindukan keluarganya, merindukan canda dan tawa bersama. "Terima kasih, sudah menghadirkan mereka disini," Yuna mendongak menatap Leo.


Leo menunduk membalas tatapannya, ia tersenyum, "Teruslah bahagia," ucapnya.


Mereka semua bercengkrama di ruang tengah. Nenek dengan telaten membalur kaki Yuna dengan minyak kelapa asli. Beliau mengajari Leo bagaimana cara mengoles dan memijat kaki Yuna dengan baik.


"Kau paham?" Tanya Nenek pada Leo.


"Iya, paham," jawabnya. "Apa minyak kelapa kelapa ini hanya untuk kakinya saja Nek?" Leo bertanya dengan penasaran. Ia menyandarkan dagunya di pundak Yuna.


"Tidak, minyak kelapa ini bisa untuk seluruh tubuhnya. Ini bahkan bisa mengencangkan payudar4," jawab Nenek, menjelaskan khasiat minyak kelapa. Leo mengangguk mengerti dengan penjelasan Nenek. Sementara Yuna memiliki firasat buruk setelah mendengar jawaban itu.


"Sayang, aku akan langsung membalur mu setelah ini," bisik Leo sangat pelan di telinga Yuna. Siku Yuna dengan cepat menyodok perutnya. Tuan suami sungguh akan menjadi semakin nakal padanya.


"Ough," Leo memekik pelan dan memegangi perutnya.


Setelah selesai berbincang di ruang tengah, Nenek, Ayah dan Ibu istirahat di kamar yang telah di siapkan.


Sementara Yuna dan Leo masih ada di ruang tengah.


"Momy," Leo memanggil dengan sangat manja. Yuna menatapnya dengan waspada. "Sini, Daddy balur seluruh tubuhnya biar rileks," ucap Leo.


"Kau ...." belum sempat Yuna menyelesaikan kalimatnya, sebuah mobil berhenti di depan gerbang rumahnya. Mobil milik Karel.


_Di dalam mobil Karel.


"Terima kasih Kak Er," ucap Adel. Ia melepas sabuk pengamannya.


Karel mengangguk dengan senyum. "Sampaikan salam ku pada Yuna. Maaf tidak bisa mampir," jawab Karel. Dia ada syuting beberapa menit lagi.


"Siap, nanti ku sampaikan," kata Adel. Kemudian, ia turun dari mobil. Ia melambaikan tangan saat mobil Karel meninggalkan area.


Gerbang tinggi itu terbuka dengan patuh saat seseorang memencet tombol. Albar yang membukanya. Dia sudah diberikan pemerintah untuk ini.


"Selamat sore Nona," sapanya dengan ramah.


"Sore," jawab Adel. Kemudian, Albar mengantar Adel menuju ruang tengah. Dia segera pamit dengan sopan setelah mengantar Adel.


Yuna dan Adel saling menatap dengan penuh kerinduan.


"Hai ...." Adel langsung duduk di samping Yuna dan memeluknya. Dia sangat rindu, sangat gemas, dia ingin mencium pipi Yuna berkali-kali tetapi dia tidak berani karena ada Leo di samping Yuna. "Baby, oh," tangannya mengusap perut Yuna dengan lembut.


"Kangen, kangen, kangen," ucap Yuna memeluknya.


"Aaa ... Nyonya muda," Adel membalas pelukan Yuna. Kemudian tak lama ia melepaskannya, ia menatap wajah Yuna. Wajah Yuna yang sekarang menjadi chubby, dia tidak tahan lagi. Tangannya terangkat dan mencubit pipi Yuna dengan gemas.


"Singkirkan tanganmu," suara Leo mencekam menegur Adel. Dia tidak rela pipi bakpao lezat yang ia gilai dicubit seseorang. Hanya dia yang boleh melakukan apapun pada Yuna. Suara tegurannya begitu menakutkan di telinga Adel. Ia menciut dan sedikit merenggangkan pelukannya.


"M-m maaf," Adel tergagap mengucapkan kata maaf. Ia menunduk dengan takut. Dia pernah melihat sisi Leo yang sangat manis, ia juga pernah melihat sisi Leo yang ramah tapi ia belum pernah melihat sisi Leo yang dingin dan menakutkan.


"Tidak apa-apa," ucap Yuna. Ia menepuk lengan Adel pelan. Kemudian, ia menoleh ke arah Leo. "Tuan tampan, mohon jangan takuti saudara ku dengan sikap posesif mu itu," ucap Yuna pada Leo.


"Pipimu selalu ku cium, mana boleh di sentuh oleh orang lain. Dia bahkan mencubit mu, aku sungguh tidak rela," jawab Leo. Ia menatap Yuna dengan kesal. Adel dengan pelan mengamati telapak tangannya. Tanganku sangat bersih, Tuan muda, batinnya.


"Hei, itu ...." ucapan Yuna terhenti karena Adel segera menyahutnya.


"Maafkan saya Tuan muda Leo," ucapnya dengan menunduk. "Saya janji tidak akan mengulanginya lagi," lanjut Adel dengan mengacungkan dua jarinya dengan takut. Leo menatap Yuna kemudian mengangguk memaafkan Adel. Tangannya mengulur dan mengusap pipi Yuna yang di cubit Adel.


"Sayang, apa ini sakit?" tanya Leo.


Adel ingin kejang dan muntah pelangi mendengar itu. Dia hanya mencubit pipi Yuna pelan karena gemas, kenapa Tuan muda ini begitu lebay. Sakit? Lebih sakit hatiku yang melihat keromantisan kalian berdua, Adel menangis dalam hati.


Dia bersumpah, suatu saat nanti dia akan pamer bojo di depan mereka berdua.


Yuna menggeleng pelan, "Tidak, tidak sakit sama sekali. Gigitan mu lebih sakit seribu kali dari ini," jawab Yuna. Jarinya mengusap bibir Leo dengan pelan.


"Astaga, aku mau pura-pura mati saja," Adel menggumam dengan teraniaya.


___


Disana, di sebuah toko perhiasan. Vano mengambil pesanan yang ia pesan beberapa hari yang lalu. Setelah dari sana, ia langsung kembali kerumah.


Dia menghubungi sebuah nomor.


"Kak," katanya setelah tersambung.


"Aku sudah bilang, jangan panggil aku Kakak," sahut suara di seberang sana dengan dingin. Vano terkekeh dan mengangguk. Kemudian mereka berbicara lima menit, hanya lima menit saja, lalu panggilan berakhir.


"Sedang apa?" Tanya Vano setelah tersambung. Ia merebahkan dirinya di kasur. Matanya melihat ke langit-langit kamar.


"Aku baru mau keluar dari salon," jawab Neva.


"Mau ku jemput," Vano menawarinya.


"Hmm, tidak perlu," jawab Neva. Dia berjalan keluar dari salon dan langsung masuk ke dalam mobilnya.


"Sayang," Vano memanggilnya pelan.


"Ya," jawab Neva.


"I love you," ucapnya. Ia hanya meyakinkan Neva bahwa ia sangat mencintainya. Dia berharap, tidak ada penolakan dari gadis ini.


Sudut bibir Neva terangkat dan tersenyum dengan merona.


"Kakak harus ekstra tampan nanti malam," jawab Neva. Vano sedikit kecewa dengan jawab Neva. Gadis itu tidak menjawab ungkapan cintanya tapi malah berbicara hal lain.


"Tentu," jawab Vano.


"Akan ku perkenalkan pada semuanya. Bahwa cowok tampan ini adalah pacar ku," ucap Neva dengan bangga.


"Salah Nona," tukas Vano. Neva mengerutkan keningnya.


"Salah?" tanyanya.


"Ya," jawab Vano. "Kenalkan aku sebagai calon suami mu," ucapnya melanjutkan.


Neva mengerutkan bibirnya menahan senyum. Suami?


"Ummm, lihat saja nanti," Jawabanya.


***@***


Pukul 19.00 mobil Leo dengan perlahan meninggalkan area rumahnya dengan mobil yang di stir Albar membuntutinya dari belakang.


Saat ini, Adel berada di dalam satu mobil bersama dengan Yuna. Awalnya dia menolak karena sudah bisa dipastikan jika dia akan menjadi jomblo teraniaya jika bersama dua manusia ini. Namun Yuna yang memaksanya untuk ikut dengannya.


Begitu juga dengan Leo. Sejujurnya, dia tidak setuju Adel ada dalam satu mobil bersamanya tapi dia tidak bisa menolak saat Nyonya merayu. Yuna bahkan duduk di bangku penumpang dengan Adel. Ok, Leo mengalah dan memahami jika mereka berdua saling rindu.


Adel meminta Yuna untuk menyambungkan bluetooth miliknya.


"Ada lagu yang enak banget buat asolole," ucap Adel. "Kau tidak boleh ketinggalan, Nyonya," lanjutnya.


Yuna antusias, "Oh ya? Mana-mana," kata Yuna. Kemudian, Adel memutar lagu itu.


Sebuah lagu campursari dari musisi legendaris yang baru saja menghembuskan nafas terakhirnya beberapa hari yang lalu.


"Pamer bojo," ucap Adel dan dia langsung menyahut lagu yang dia putar. Yuna mengangguk-anguk mendengarkannya. Sesekali ia juga menggerakkan tangannya untuk ikut goyang bareng Adel.


"Cidro janji tegane kowe ngapusi


(Mengingkari janji, teganya kamu berbohong)


Nganti seprene suwene aku ngenteni


(Sampai sekarang lamanya aku menunggu)


Nangis batinku nggrantes uripku


(Menangis batinku, merana hidupku)


Teles kebes netes eluh neng dadaku


(Basah kuyup menetes air mata di dadaku)


"Cendol dawet, cendol dawet seger.


Cendol-cendol dawet-dawet"


Cendol dawet seger. Piro? lima ratusan, Terus? nggak pake ketan. Ji ro lu pat limo enem pitu wolu ...."


Pada bagian ini, Adel dan Yuna ikut meneriakkan cendol dawet. Layaknya penonton live konser. Leo menatap mereka berdua dengan kesal. Pasalnya, dia tidak tahu arti lagu yang mereka nyanyikan. Dan menurut dia lagu ini terlalu berisik. Lalu apa arti kata-kata yang mereka teriakan itu.


Dia kesal karena sangat berisik, tetapi perlahan rasa kesalnya hilang karena melihat Yuna yang terus tertawa dan bernyanyi bersama Adel.


Bahkan tanpa sadar bibirnya menggumam.


"Cendol-cendol dawet-dawet, ups," ia segera merapatkan bibirnya agar tidak ikut terkontaminasi oleh lagu itu.


Tak lama, mobilnya parkir di salah satu restoran yang sudah ia booking.


"Sayang, sudah sampai," ucap Leo. Ia segera keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Yuna. Ia memberikan tangannya untuk membantu Yuna keluar dari mobil. "Pelan-pelan," katanya dengan perhatian. Tepat setelah Yuna keluar, mobil milik Dimas datang dan juga mobil milik Papa.


_____


Catatan penulis.


Terima kasih untuk semuanya yang masih setia menunggu kisah ini πŸ₯° Padamu kesayangan πŸ₯°


Covernya baru lho... Bagus nggak? Do'akan semoga semakin banyak yang baca kisah ini ya, kawan πŸ₯°πŸ˜˜πŸ™


Jan lupa like komen kesayangannya Nanas πŸ₯° 😘 Luv luv πŸ₯°πŸ˜˜πŸ™ Terima kasih Sahabat Sebenarnya Cinta 🌹 Padamu πŸ₯°