Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 170_Akhir?


___Malam hari. Pukul 19.45 Neva dan teman-temannya nonton bioskop film yang diperankan oleh Raizel. Mereka sangat antusias dengan film ini, mereka telah merencanakan ini dari hari-hari yang lalu.


"Nona, aku mau ke-toilet dulu." Lula pamit padanya. Dan entah kenapa satu persatu teman-temannya mendadak ingin ke-toilet. Lalu... dia merasa bahwa bioskop ini menjadi sangat sepi. Dia menoleh ke samping dan tidak ada siapapun, dia menoleh kebelakang dan tidak ada siapapun. Dia menjadi merinding, bulu kuduknya berdiri. Dia tidak salah masuk gedung kan? Apa iya ini jadi kisah horor? Diantara rasa takutnya, lampu bioskop tiba-tiba menyala dan sepasang bola matanya langsung menemukan sosok yang berdiri didepan layar itu, berdiri menatapnya. Dia tertegun beberapa saat, menatap sesosok itu.


"Kak Vano," gumamnya pelan. Vano melangkah menaiki tangga satu persatu dan menujunya. Neva memperhatikan tangan Vano yang memegang sesuatu. Dan dia langsung menyadari bahwa itu adalah kertas yang dia buang di tong sampah dirumah bunga. Itu sudah beberapa bulan yang lalu.


Vano mengangkat tangannya, ia dengan sengaja memperlihatkan kertas yang dia bawa. Neva segera berpaling dan menunduk menyembunyikan wajahnya.


Perlahan, Vano lebih dekat dengannya, dan duduk di sampingnya.


Diam dan hening antara mereka. Hanya suara yang menggelegar dari layar besar yang berada di depan mereka. Hingga lampu mulai padam lagi. Ini lebih baik karena dengan ini mereka tidak bisa dengan begitu jelas memperhatikan wajah masing-masing.


"Dari mana Kakak mendapatkan itu?" Neva yang lebih dulu membuat suara. Dia tidak lagi menunduk, matanya memperhatikan layar di depannya namun tidak mengikuti alurnya.


"Jadi, seseorang yang pernah kamu ceritakan itu adalah aku, benar?" jawab Vano dengan balik bertanya. Dia juga memperhatikan layar didepannya.


Neva menghela nafasnya dan diam sejenak sebelum memberi jawaban.


"Benar," jawabnya jelas dan jujur. Kenapa... disaat dia menyerah dan melepas dengan rela perasaan yang dia miliki tapi justru itu malah semakin mendekat.


"Sejak dua Nyonya itu bertemu?" tanya Vano.


"Jauh sebelum itu." jawab Neva.


"Sejak kamu menabrak mobil ku?"


"Jauh sebelum itu."


Vano menoleh kearahnya. "Sebelum itu semua?" tanyanya merasa tak percaya. Neva mengangguk pelan, ia masih menatap layar didepannya. "Jadi sejak kapan?"


"Pertama kali aku hadir di pesta kapal pesiar dua tahun yang lalu."


"Dua tahun yang lalu?" Vano merasa semakin tak percaya.


"Pertama kali aku melihat mu. Kamu yang berdiri dengan begitu gagah menyampaikan beberapa kata untuk tamu undangan. Aku mengangumi mu, lalu menjadi suka dan entah sejak kapan rasa itu berubah menjadi cinta. Cinta? Hahaaa... aku tidak begitu paham apa itu cinta, yang ku tahu... aku memiliki debaran ini ketika melihat mu, aku memiliki kesakitan ini ketika merasa merindukan mu, aku memiliki keindahan disetiap pandangan mataku ketika menatapmu, aku memiliki perasaan lembut yang tak teraba di hatiku. Apakah itu Sebenarnya Cinta? Aku tidak tahu," Neva mengambil nafasnya dan membawa pandangannya untuk membalas tatapan mata Vano. "Tapi kakak tenang saja. Aku telah menyerah, Kakak tidak perlu khawatir karena aku sudah berhenti menyukai mu."


"Kenapa kau menyerah?"


"Tidak ada yang mustahil di dunia ini."


Neva langsung memutar pandangannya lagi, ia menatap Vano.


"Maksudnya?"


"Bagaimana jika aku juga memiliki debaran yang sama pada mu," ucap Vano. Mata mereka menyapa. Jantung Neva berdegup dengan begitu cepat, tangannya terasa sangat dingin. Sungguhkah? Perasaannya terbalas. Dia segera berpaling dan menundukkan wajahnya. Mengambil nafasnya dengan dalam dan menyampaikan sesuatu yang sesungguhnya ada dalam hati dan pikirannya. Dia hanya menerka namun dia yakin akan kebenarannya.


"Sejujurnya, aku menyerah karena Kakak ku. Karena aku tidak mungkin menyakitinya, aku tidak mungkin egois dengan perasaan ku dan malah menyakitinya sepanjang waktu. Dan bukan hanya tentang Kakakku, tapi tentang kalian bertiga."


"Kau tahu apa yang terjadi?"


"Tidak, aku hanya menebaknya. Aku sempat bercerita tentang perasaan yang ku miliki padanya dan dia begitu marah padaku, hingga membuat dia tidak ingin menganggap ku adik lagi. Aku hanya menerka alasannya. Aku tahu Kakak ku... dia hanya akan begitu jika menyangkut wanita yang dia cintai."


Vano berpaling, ia tidak menatap Neva lagi. Dia menatap layar didepannya namun tidak memperhatikannya. Sebegitu bencinya Leo padanya. Namun dia tidak menyalahkan Leo, dia sadar dia pernah mendeklarasikan perang pada Leo untuk merebut Yuna darinya.


Rumit.


"Aku yang akan bicara pada Leo," ucap Vano tanpa menoleh.


Neva menyunggingkan bibirnya.


"Aku bahagia, karena pada akhirnya seseorang yang kusukai secara diam-diam menyambut perasaan ku. Sangat bahagia... iya, tentu saja. Selama bertahun-tahun, aku menyimpan rasa ini, bertahun-tahun menyimpan kekaguman ini tapi aku sungguh telah berhenti dengan perasaan ku. Aku tidak tahu, hubungan Kak Vano dan Kak Yuna bagaimana dan seperti apa, tapi memang akan sangat rumit jika aku masih menyukai mu. Kita jalani saja, bagaimana takdir akan membawa jalan kita."


Ada beberapa hal yang tidak bisa kita lihat dengan mata, yang tidak bisa kita sentuh dengan tangan, yang tidak bisa kita raba dengan pikiran. Hanya hati yang mampu merasakannya. Bibirnya boleh saja mengatakan menyerah namun hatinya terasa sakit dengan itu. Tapi dia tidak ingin bayangkan antara mereka bertiga mengikuti perasaan indah yang dia miliki. Masa lalu tidak akan pernah bisa diubah bukan?


Sebenarnya Cinta. by: F.A queen🙏


___


Catatan penulis.


Terima kasih yang tak terhingga untuk semua sahabat disini. Maafkan Author jika dalam penyelesaian masalah tidak sesuai keinginan pembaca. Maafkan Author yang terkadang membuat alur begitu membosankan. Maaf untuk ketidaksempurnaan ini.


Terima kasih untuk semua dukungannya, terima kasih untuk semua, segala dan seluruhnya atas cinta kalian. 🥰🙏