
Setelah selesai makan malam, Leo masuk ke dalam ruang belajar dan kembali lagi setelah mengecek sesuatu. Dia duduk di samping Yuna di ruang tengah.
"Sayang," panggilnya. Tangannya mengulur dan membenarkan rambut Yuna dengan pelan.
"Ya?" Jawab Yuna dengan langsung menoleh ke arah Leo.
"Alea dari sini? Apa dia mengganggu mu?" Leo bertanya dengan tidak tenang. Kenapa Yuna tidak bercerita padanya hingga dia sendiri yang tahu dari rekaman cctv.
Yuna mengangguk. "Iya," jawabnya.
"Untuk apa dia kesini? Apa dia berbicara sesuatu yang menyakitimu?"
"Tidak," jawab Yuna. Dia menatap Leo dengan lekat, "Dia pamit," lanjut Yuna. Ia meletakkan cemilannya di atas meja.
"Pamit?"
"Hu'um," Yuna mengangguk. "Dia bilang, dia akan meninggalkan Ibu Kota untuk selamanya," lanjut Yuna. Ia mengambil nafasnya panjang. "Dia pergi karena kamu."
"Karena aku?"
"Hu'um," Yuna mengangguk lagi, "Karena perasaannya pada mu. Dia ingin menjauh dari kita."
"Itu keputusan yang bagus," jawab Leo. Dia setuju dengan keputusan Alea yang memilih untuk pergi meninggalkan Ibu Kota untuk selamanya.
"Tapi bukankah itu terlalu berlebihan?" Yuna memberikan pendapatnya. Ia kembali merasa iba pada Alea. Ia memikirkan bagaimana kehidupan Alea nanti disana.
"Apanya yang berlebihan? Itu keputusan yang sangat tepat, dengan begitu kau tidak perlu cemas lagi," jawab Leo.
"Itu artinya aku yang egois," Yuna menjawabnya lagi.
"Jadi apa kau lebih suka jika dia disini? Yang kapan saja bisa bertemu dengan mu, bertemu dengan ku."
Yuna diam.
"Dia disini, kau cemas. Dia pergi, kau khawatir," Leo mengomentarinya. "Pikirkan saja jika dia dekat dan aku akan tertarik padanya," Leo dengan sengaja mengucapkan itu. Mata Yuna langsung melotot ke arahnya.
"Kau berani tertarik pada wanita lain? Hmm?" Suara Yuna langsung kesal padanya. Tangan Yuna memukul lengan Leo dengan kencang. Leo terkekeh dan menangkap tangan Yuna.
"Itu hanya andai. Kau tidak suka bukan? Jadi ... jangan merasa khawatir dengan kepergiannya. Dia memutuskan untuk pergi, itu sangat bagus," ujar Leo. Yuna mengangguk. Kemudian, Leo menggeser duduknya, ia meletakkan kepalanya di paha Yuna. Mencium perut Yuna dengan kasih.
"Baby, ini hanya tinggal menghitung hari. Empat belas hari lagi. Hmmm, Daddy sudah berlatih untuk bisa menggendong mu nanti, memandikan mu, mengganti popok mu," ujarnya penuh kelembutan dalam suaranya. Rasanya dia ingin mempercepat hari.
Tangan Yuna mengusap rambut Leo dengan pelan, ia tersenyum lebar mendengar itu.
"Momm," Leo mendongak menatap Yuna. Yuna menunduk dan membalas tatapan matanya.
"Hmm."
"Jadi nama mana yang akhirnya akan kau pilih?" Tanya Leo.
"Yang awalnya A," jawab Yuna. Belum sempat Leo memberikan tanggapannya. Gerbang luar terbuka setelah seseorang memasukkan sandinya dengan benar.
"Mereka kesini," ucap Yuna. Leo memperhatikan mobil yang perlahan parkir di halaman rumahnya. Kemudian, dia mengangkat kepalanya dari paha Yuna dan duduk dengan benar.
"Biar aku yang membuka pintu," ucap Leo.
Di sana. Di dalam mobil yang terparkir di halaman rumah Leo.
"Bagaimana jika mereka sudah makan malam?" Tanya Vano. Dia mengambil banyak sekali makanan dan cemilan dari jok belakang.
"Kita habiskan berdua saja," jawab Neva. "Biarkan aku gendut," lanjutnya dengan tawa kecil.
"Hahaaa, ok, ok," jawab Vano.
"Sini biar ku bantu," Neva mengambil dua bungkus pizza dari tangan Vano. Kemudian, mereka berdua turun dari Mobil dan melangkah melangkah ke teras. Neva dengan pelan mengetuk pintu.
"Masalahnya adalah bukan mereka sudah makan atau belum tapi mereka sedang ***-*** apa nggak. Kita akan habis jika kita datang di waktu yang tidak tepat," ucap Neva. Dia menoleh ke arah Vano.
"Ini masih sore, baru pukul tujuh," jawab Vano.
"Mereka berdua tidak tahu waktu," jelas Neva. Vano terkekeh mendengarnya.
Pintu terbuka dengan perlahan, ada Leo berdiri disana.
"Malam Kak Lee," sapa Neva dengan riang. Dia melangkah masuk dan berdiri di depan Kakaknya. Kakinya menjinjit dan membuat ciuman ringan di pipi Leo. "Dimana Kak Yuna?" Tanyanya.
"Ada di dalam," jawab Leo.
"Selamat malam, Kak Lee," sapa Vano dengan senyum, ia sedikit membungkukkan badannya. Sementara Leo melebarkan matanya dengan terkejut. Kak Lee? Vano memanggilnya Kak Lee? Dia merasa geli mendengar sapaan itu.
Neva menahan senyumnya. Ia melihat wajah Leo yang terkejut tetapi sedikit merah.
"Silahkan masuk," Leo mempersilahkan mereka berdua. Kemudian, Neva berjalan menjejeri Vano.
"Kak Lee, kita ke dalam," kata Neva. Tanpa menunggu persetujuan dari Leo, ia menarik tangan Vano dan mengajaknya untuk masuk ke ruang tengah. Leo menggelengkan kepalanya lalu kembali menutup pintu.
"Kak Yuna," Neva meletakkan pizza di atas meja lalu mencium pipi Yuna.
"Hallo sayang," jawab Yuna.
Kemudian, Vano meletakkan tentengannya di atas meja setelah menyapa Yuna.
"Waahh, banyaknya," ucap Yuna. Neva mengangguk. Ia duduk di lantai.
"Kalian berdua dari mana?" Tanya Leo dengan membawa tiga minuman kaleng. Dia meletakkannya di atas meja kemudian ia duduk di samping Yuna.
"Habis nonton film terbaru," jawab Neva.
Vano duduk di lantai disamping Neva. Ia membantu Neva mengeluarkan satu persatu makanan yang mereka bawa. Sesekali tangan mereka bertemu lalu saling bertukar pandangan dengan senyum tertahan.
Neva membuka kardus Pizza dan memberikannya pada Leo. Leo mengambilnya satu lalu ia memberikannya untuk Yuna. Yuna membuka mulutnya dan menerima suapan dari Leo.
Kemudian, Neva membuka kardus Pizza yang satunya lagi dan memberikannya untuk Vano. Vano mengambil satu potong pizza dan memberikannya pada Neva. Neva mengerutkan kening tapi dia tidak menolak suapan itu.
"Kau tau kenapa Pizza dipotong dan dibagi-bagi?" Tanya Vano. Neva menggeleng dengan mulut yang mengunyah pizza.
"Karena hanya cintaku yang tidak akan terbagi," Jawabanya. Neva menahan tawanya karena ada pizza dimulutnya.
"Puftt," Yuna tertawa. Sementara Leo langsung membeku mendengar itu. Apa-apaan itu tadi. Rayuan receh nggak romantis sama sekali. Norak, sangat norak, memalukan. Batinnya. Matanya menatap Vano dengan geli.
Neva meminum minuman kaleng setelah menghabiskan pizza di dalam mulutnya.
"Pizza itu bulat, sebulat tekadku untuk bersama mu," jawabnya. Vano tersenyum lebar dengan rasa puas dihatinya.
"Gadis bodoh," ucapnya.
"Au," Neva mengusap kepalanya karena rasa sakit dari jitakan kakaknya. "Apanya yang bodoh," katanya.
"Sejak kapan kamu terkontaminasi oleh si gila itu?" Leo menatap Vano dengan tajam.
"Gila?" Sahut Vano. "Aku gila? Gila jika harus tanpamu .... " lanjutnya. Neva dan Yuna tertawa terbahak-bahak, sementara Leo membeku dengan pandangan geli mendengar rayuan Vano.
"Jadi cowok seperti ini yang kau suka?" Leo bertanya pada Neva. Neva langsung mengangguk dengan pasti. "Aneh," Leo bergidik.
Neva dan Vano tertawa lalu melakukan toss.
"Kak Lee," panggil Vano.
"Jangan panggil aku Kakak," sahut Leo segera.
"Hei, itu tidak sopan jika aku hanya memanggil nama mu," jawab Vano.
"Aku bukan Kakak mu," sahut Leo.
"Kamu calon Kakak ipar ku," jawab Vano.
"Ogah."
"Bagaimana Kakak Ipar?"
"Ck, aku berubah pikiran."
"Jangaaaan ...." kalah. Vano langsung kalah dengan itu. Neva dan Yuna cekikikan melihat dua laki-laki lucu ini. Vano menoleh ke arah Neva. "Sayang, Kak Lee mengancam," ucapnya mengadu.
"Tidak apa-apa, ada kak Yuna bersama kita," jawab Neva. Kemudian Vano menoleh ke arah Yuna.
"Jangan lihat istri ku," Leo langsung memperingatkan. Kedua tangannya terangkat untuk memeluk Yuna.
Vano dengan keras kepala masih menatap Yuna. "Kak Yuna, Kakak Lee mengancam," Vano dengan sengaja juga mengadu pada Yuna.
Yuna menghentikan tawanya dan menoleh ke arah Leo. Kemudian, dia memanggil Leo, "Kak Lee."
"Kenapa kau juga memanggil ku Kakak?" Leo menyahutnya dengan tidak suka. Mereka semua gila.
"Astaga aku ngakak ... perut ku sakit," ucap Neva dengan tawa yang tidak bisa dia tahan. Tangan Vano mengulur dan memeluk pinggang Neva. Ia Menarik Neva untuk lebih dekat dengannya. Tentu gerakan tangannya tidak terlihat karena terhalang meja. Umm, Neva langsung berhenti dari tawanya.
"Mari kita lihat kakak ipar merayu," bisiknya ditelinga Neva. Neva mengangguk dengan jantung yang berdebar. Bibir Vano sedikit menyentuh telinganya. Pandangan matanya tertuju pada Leo dan Yuna tetapi jiwanya pada seseorang yang ada disampingnya saat ini.
Leo mengambil minuman kaleng miliknya lalu meminumnya dengan pelan. Dia sedang menghindari tatapan mata Yuna.
"Sayang," Yuna memanggilnya dengan halus. Panggilan penuh mantra godaan yang mematikan.
"Jangan menggodaku seperti cara mereka. Itu menggelikan," Leo memperingatkan. Dia kembali memeluk Yuna.
"Hu'um, tidak akan. Itu bukan gaya ku," jawab Yuna.
"Bagus," Leo tersenyum puas dan mencium rambut Yuna dengan lembut. Tangan Yuna terangkat dan mengusap pipi Leo penuh cinta. "Aku ingin bakpao dan nasi goreng," Leo berbisik.
Neva menggeser wajahnya untuk lebih dekat dengan Vano, "Kau salah," bisiknya. Vano mengangguk membenarkan. Yang ada, bukan Yuna yang merayu Leo untuk tidak mengancam Vano tetapi Yuna dan Leo malah mesra-mesraan di depan mereka berdua.
"Aku menyesal," ucap Vano berbisik pada Neva.
"Jangan ulangi."
"Ok," mereka berbisik dan bergibah tentang Leo dan Yuna.
"Oh iya," Yuna mengingat sesuatu. Dia menatap Leo dan Neva secara bergantian. "Besok keluaga ku datang kesini. Bagaimana jika undang Kak Dimas untuk datang kesini," usulnya. Leo sudah merencanakan makan malam bersama dengan keluarganya dan keluarga Yuna.
Neva mengangguk, "Waaahhh, pasti seru banget. Sangat bagus," Neva bertepuk tangan ringan dan menyetujui usulan Yuna.
"Sayang, bagaimana dengan mu?" Yuna bertanya pada Leo. Tentu saja Tuan suami langsung mengangguk setuju. Itu ide yang sangat bagus.
"Aku akan menghubungi Kak Dim nanti," ucap Leo. Yuna tersenyum puas dengan itu.
"Uhum," Neva sengaja terbatuk. Leo dan Yuna langsung membawa pandangannya pada Neva. Begitu juga dengan Vano. "Ummm, besok keluaga besar kita berkumpul ..." Neva menghentikan ucapannya sebentar, ia memutar pandangannya pada Vano. Menatapnya dengan indah. Lalu kembali menatap Leo dan Yuna dengan bergantian.
"Bolehkah aku ...." tangan Neva terangkat dan menyentuh pundak Vano pelan. "Bolehkah aku mengajaknya serta?" Tanyanya rendah.
Yuna tersenyum mendengar pertanyaan itu, "Tentu saja," jawabnya. "Vano adalah calon adik ipar kita," lanjut Yuna, ia menoleh ke arah Leo, "Ya kan sayang?" Tanyanya. Leo mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Yuna. Yess.
Vano tersenyum dan mengangguk pelan sebagai ucapan terima kasihnya pada Leo.
****@****
Keesokan harinya. Di stasiun kereta.
Selamat tinggal Ibu Kota, selamat tinggal rasa yang tidak tepat untuk seseorang. Leo Januar namamu indah dihatiku, ini bahkan lebih indah dari rasa yang dulu pernah ku miliki. Namamu indah laksana surga yang tersembunyi. Entah bagaimanapun caranya aku akan melupakan mu.
Alea dengan sangat berat membawa langkahnya menuju gerbong kereta. Ia hanya membawa koper kecil dan tas di punggungnya. Ia mencoba untuk tetap tersenyum meski rasanya sangat sulit. Dia pergi tanpa orangtuanya, Papa dan Mamanya masih ada di Ibu Kota. Getir, dia berjalan dengan menunduk.
"Alea," sebuah suara menghentikan langkahnya. Ia menoleh dan membawa pandangannya pada seseorang yang memanggil namanya.
"Albar," ucap Alea pelan di bibirnya. Ia menatap Albar yang berdiri dengan nafas yang terengah-engah.
Albar dengan pelan membawa langkahnya mendekat kepada Alea. Ada buket bunga mawar merah ditangannya.
"Kau sungguh pergi?" tanya Albar setelah langkahnya sampai di depan Alea. Pertanyaan yang dijawab anggukan pelan oleh Alea.
"Kau sungguh tidak akan kembali lagi?" Albar bertanya lagi dan Alea menjawab lagi dengan anggukan.
Angin siang terasa lembut menyapa wajah, selembut pandangan mata Albar pada gadis di depannya. Tangannya mengulur dan memberikan buket bunga mawar merah di tangannya.
"Jika kau pergi meninggalkan Ibu Kota karena menghindari seseorang, maka aku berharap, aku adalah seseorang yang membuat mu memiliki alasan untuk kembali," ucap Albar dengan tulus setelah Alea menerima buket bunga mawar darinya.
"Terima kasih, Albar," ucap Alea. Hanya itu saja yang keluar dari bibirnya. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Mereka diam setelah itu. Hingga Alea harus benar-benar meninggalkan Ibu Kota.
Kereta siang mulai berangkat. Suara khasnya begitu menyayat hati seseorang yang berdiri dengan tegak dipinggir gerbong. Tak ada jawaban apapun dari gadis itu. Ia menunduk. "Kembalilah," gumamnya pelan.
____
Catatan Penulis
Terima kasih untuk semuanya yang masih setia menunggu kisah ini 🥰 Padamu kesayangan 🥰Maaf Upnya sangat telat. 🙏
Jan lupa like komen ya kesayangannya Nanas 🥰 😘 Luv luv 🥰😘🙏 Terima kasih Sahabat Sebenarnya Cinta 🌹 Padamu 🥰