Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 234_Cemas


Mobilnya melenggang masuk ke halaman. Dia kemudian segera berjalan dan meraih gagang pintu tetapi belum sampai raihan tangannya, pintu itu terbuka. Menampakkan seseorang yang berada di baliknya. Wajah cantik yang menyapanya.


"Sayang, kau terbangun," kata Leo. Dia melangkah masuk dan mengusap perut Yuna dengan lembut.


"Ya," jawab Yuna dengan anggukan. "Kau dari mana?" Tanyanya.


"Ada sesuatu yang harus diurus," jawab Leo. Dia memeluk pinggang Yuna dan membawanya untuk kembali ke kamar mereka.


"Apa kau mau minum?" Tanya Yuna sebelum dia kembali berbaring.


"Tidak, jika pun aku mau, aku akan mengambilnya sendiri," jawab Leo. Dia melepas jaketnya lalu menonaktifkan ponselnya. Kemudian, dia naik keatas ranjang, ia membaringkan tubuhnya. "Sini," pintanya. Yuna segera naik ke atas ranjang dan langsung memeluk Leo.


"Aku mencari mu," ucap Yuna.


"Kenapa kau terbangun? Ke toilet?" Leo bertanya tetapi sudah menebak Jawabannya.


Yuna mengangguk, "Iya, jawabnya. Dia memeluk Leo dengan erat. "Sayang, aku merasa dingin," ujarnya dan Leo langsung mengatur suhu ruangan. Dia juga langsung menaikkan selimutnya. Tangannya yang hangat mengusap-usap punggung Yuna dengan lembut.


"Tidurlah," ucap Leo. Dia masih terus mengusap punggung Yuna hingga wanita itu kembali terlelap. Dia meninggal ciuman manis di rambut Yuna sebelum matanya ikut terpejam.


__Pagi hari, pukul enam pagi. Yuna masih tertidur. Leo membiarkannya, dia berpikir jika Yuna masih mengantuk karena dia terbangun dini hari tadi.


Leo mengusap rambutnya dan merasakan jika telapak tangannya terasa panas. Telapak tangan itu langsung menyentuh kening Yuna. Panas.


Dengan gugup dia langsung mengangkat Yuna.


"Sayang, aku tidak apa-apa, biarkan aku tidur sebentar lagi," ucap Yuna ketika merasakan tubuhnya diangkat oleh Leo. Dia masih memejamkan matanya.


Leo tidak meresponnya dia sangat cemas, jantung hampir lepas dari dari tempatnya. Dengan tubuh yang bergetar karena cemas dia membawa Yuna masuk ke dalam mobil. Albar sudah siap. Dia tidak berani bertanya. Namun dia tahu jika Nyonya muda sedang tidak baik-baik saja.


"Cepat atau aku akan memecat mu," perintahnya galak. Albar mengangguk. Dan menambah laju kecepatannya, dia sangat ahli dengan ini. Dia juga ahli dalam menerobos lampu merah.


Tangan Leo terasa sangat dingin. Dia memeluk tubuh Yuna yang terasa sangat panas.


"Sayang, aku tidak apa-apa," ucap Yuna lagi dengan masih memejamkan matanya. Leo tidak merespon. Dia diam dan terus memeluk Yuna.


"Albar lebih cepat, atau aku akan membunuhmu setelah ini," perintahnya lagi pada Albar. Dia sangat galak.


"Baik," jawab Albar dengan patuh. Padahal ini sudah sangat cepat, batinnya. Lalu kenapa Sang Boss malah mengancam akan membunuhnya. Dia mempercept laju mobilnya, menikung dan tidak perduli dengan rambu.


Pelan, dia menghentikan mobil didepan loby utama rumah sakit. Dia segera membukakan pintu untuk Sang Boss. Leo langsung menggendong Yuna dan membawanya ke dalam. Dia meneriaki pegawai yang ada di sana. Tentu mereka sangat takut karena tahu siapa yang datang. Petugas Rumah sakit langsung menyiapkan ruangan untuk Nyonya muda. Dokter ahli langsung datang dengan beberapa perawat.


Leo berkeringat dingin, dia sungguh tidak tenang, dia ingin meneriaki semuanya. Dokter dengan pelan dan hati-hati memeriksa keadaan Yuna.


"Tuan muda, Istri anda hanya demam biasa. Tidak perlu khawatir. Istr .... "


"Demam biasa katamu?" Leo memotong ucapannya, dia melotot ke arah dokter itu. Dia berkacak pinggang dengan sangat kesal. Kenapa dokter itu menyebut jika demam adalah hal biasa. Tidak bisa. "Ku pastikan kau akan dipecat jika dalam waktu satu menit, istri ku masih demam," ancamannya. Dokter itu menunduk, dia tahu jika dia menjawab maka dia akan salah lagi. Dia menyuruh suster untuk memberikan infus pada Yuna.


Dengan pelan dan hati-hati, suster itu mulai mengoleskan alkohol di lengan Yuna.


Leo mendekatinya. Dia melihat dengan tajam jarum infus yang akan menusuk kulit Yuna.


"Kau akan berakhir saat ini juga jika kau tidak melakukannya dengan baik," Leo memberi peringatan kepada suster itu. Peringatan yang lebih menjurus kepada ancaman. "Jangan sampai kau membuatnya sakit, atau detik ini kau akan langsung dipecat," ucap Leo lagi. Tangan suster itu menjadi gemetar. Dia ketakutan, bagaimana jika dia menyakiti Nyonya ini. Bukankah jarum suntik itu memang sedikit sakit.


"B- Baik Tuan muda," jawab suster itu dengan takut. Tangannya kembali mengoleskan alkohol lagi lalu dia bersiap memberi suntikan infus pada Yuna.


"Hati-hati dan jangan sampai membuatnya sakit," ucapnya lagi.


"Baik, Tuan muda," jawab suster lagi. Kemudian, dengan sangat hati-hati, dia mulai menekan jarum itu dipermukaan kulit Yuna tetapi belum sampai jarum menembus kulit Yuna, Leo kembali memperingatkannya lagi.


Leo merasa sangat ngilu melihat jarum yang akan menusuk kulit halus Yuna.


"Awas saja jika sampai kau menyakitinya," ujar Leo dengan sangat kesal.


"Biak, Tuan muda," jawab suster itu. Pada akhirnya Yuna tidak tahan lagi, dia membuka matanya.


"Sayang, sini," ucapnya. Dia meminta Leo untuk mendekat. Mata Leo menatapnya dengan lembut tetapi sangat sedih. Dia duduk di bangku disamping Yuna dan mengusap rambut Yuna dengan perhatian. "Aku tidak apa-apa, kau jangan terlalu cemas," ucap Yuna.


"Kau selalu bilang seperti itu, mana buktinya? Sekarang kau demam? Mana ada demam adalah hal biasa? Kau bodoh Yuna," Dia sangat kesal pada Yuna. Yuna tersenyum dan memberi isyarat pada suster untuk segera memberinya infus.


"Hmm, iya aku bodoh," jawab Yuna. Leo menurunkan kepalanya dan mencium kening Yuna dengan rasa sakit dihatinya, dengan rasa cemas dan khawatir di hatinya.


Suster telah selesai memberinya infus.


"Hei, kau sudah selesai?" Tanya Leo Setelah dia melihat suster mengatur infus.


"Sudah, Tuan muda," Jawabanya pelan. Dia menunduk.


Leo menatap Yuna dengan sedih. "Sayang, apa suntikan yang tadi sakit?" Tanyanya. Dia bersumpah akan membuat suster itu dipecat jika membuat Yuna merasa sakit dengan suntikannya.


Yuna menggeleng dengan senyum tertahan, "Tidak, gigitan mu lebih menyakitkan dari pada suntikan itu," jawab Yuna dengan masih menahan senyum.


Dokter dan suster yang ada disitu ikut menahan senyum mereka. Kemudian, setelah tugas selesai, mereka semua pamit untuk meninggalkan ruangan.


"Kau masih bisa bercanda disaat aku begitu takut," ucap Leo. Yuna mengambil nafasnya. Dia tahu bagaimana cemasnya Leo padanya. Jangan demam, hanya bersin saja dia begitu khawatir.


Yuna mengangkat tangan sebelahnya untuk menyentuh pipi Leo. Tangannya terasa sangat panas di pipi Leo. Tangan Leo menyentuh telapak tangan Yuna yang berada di pipinya. Dia menatap Yuna dengan nanar.


Yuna merasakan pundaknya basah. Dia menghela nafasnya, dan menepuk-nepuk punggung Leo dengan pelan.


"Hei," Yuna mencoba membuat Leo mengangkat wajahnya. Tetapi tidak bisa. "Tuan suami, apa ada yang menyakiti mu?" Yuna mencoba mengajaknya bercanda. Dimana laki-laki angkuh itu? Saat ini yang ada bersamanya adalah laki-laki yang sangat melankolis dan cengeng.


Pertanyaan Yuna tidak mendapat jawaban. Dia mengajukan pertanyaan lagi, "Sayang, apa ada yang sakit? Bagian mana yang sakit?"


"Hatiku," jawab Leo. Yuna menahan tawanya mendengar itu. Jawaban Leo adalah jawaban yang biasa dia pakai.


"Bisakah aku memeriksanya?" tanya Yuna dengan senyum.


"Berhenti bercanda, kau tidak lucu," jawab Leo. Kemudian, dia mengangkat wajahnya dan langsung beranjak dan langsung menuju kamar mandi, ia membasuh wajahnya. Kemudian segera keluar dan kembali duduk di samping Yuna. Tangannya menggenggam jemari Yuna lalu yang satunya mengusap perut Yuna dengan lembut. Matanya dipenuhi kesedihan melihat Yuna yang terbaring lemah.


Tak lama, perawat datang dengan membawa makanan dan obat untuk Yuna. Dengan senyum ramah dia meletakkan makanan dan obat itu dia meja. Dia melirik ke arah Leo. 'Oh, jadi laki-laki ini yang tampan tapi sangat menakutkan.' batinnya. Omelan Leo sudah menjadi bahan gosip diantara perawat bagian.


"Selamat makan Nyonya," ucapnya dengan ramah. Dia membungkukkan badan dengan hormat. Kemudian, dia menjelaskan obat yang harus Yuna minum.


"Saya pamit Tuan muda, Nyonya muda," ucapnya setelah selesai menjalankan tugas.


"Terima kasih," ujar Yuna pada perawat itu.


"Sama-sama, Nyonya muda," jawab perawat datang sopan. Kemudian, dia melangkah keluar.


Leo membantu Yuna untuk bangun, lalu dia mengambil makanan itu dan kembali duduk di depan Yuna. Dia menyendok dan menyuapi Yuna dengan perhatian. Tangannya akan segera menyeka bibir Yuna jika ada makanan yang sedikit menempel. Yuna hanya menghabiskan beberapa sendok saja, sejujurnya dia sama sekali tidak ingin makan tetapi dia memikirkan kandungannya jadi dia memaksakan makanan itu masuk ke dalam mulutnya.


Setelah sarapan, Leo meletakkan kotak makan itu dan mengambil obat untuk Yuna.


"Sayang minumlah, kau harus segera sembuh," ucapnya. Yuna menatapnya.


"Apa kau tahu bagaimana caranya memberi obat paling romantis?" Tanya Yuna dengan senyum. Leo menatapnya dan langsung mengetuk keningnya pelan.


"Kenapa kau masih memikirkan romantis-romantisan disaat seperti ini? Jangan bercanda dan cepat minum obat mu," ujar Leo. Obat sudah ada di tangannya Tetapi Yuna enggan membuka mulutnya.


Leo tidak sabar untuk membujuknya. Ok. Dia meletakkan obat itu dibibirnya lalu dengan anggun dia menekannya di bibirnya Yuna. Membuka mulut Yuna dengan bibirnya. Obat itu masuk dengan sempurna, Leo segera memberi Yuna minum.


Yuna senyum-senyum dengan itu. Dulu, Leo pernah memberinya obat dengan cara ini tetapi saat itu dia tidak sadar. Dia mengira jika dia bermimpi tengah ciuman dengan Leo.


Lalu saat ini, dia menerima obat dengan sadar.


"Apaan senyum-senyum?" Tanya Leo


"Tidak ada, hanya merasa obat ini sangat manis," jawab Yuna.


"Masih satu lagi," Leo memperlihatkan obat ditangannya. Lagi, dia meletakkan obat itu dibibirnya lalu dia menekannya di bibirnya Yuna. Tapi kali ini, lidahnya ikut masuk kedalam sana. tangannya memegang pipi Yuna. Dia tidak membiarkannya lepas. Obat itu tertelan begitu saja. Leo mengakhiri sarapan Yuna dengan ciuman yang manis.


Tepat saat itu, pintu terbuka dan supir Albar nyelonong masuk begitu saja. Astaga, dia segera membalik badannya. Leo menyudahi ciumannya.


"Maaf Boss," ucapnya dengan menyesal. Dia tidak tahu jika di dalam terjadi sesuatu yang indah. Dia sudah mengetuk pintu sebelum masuk. Lagi pula dia tidak menyangka jika Bossnya akan berciuman di rumah sakit. "Saya tidak melihat apa-apa Boss," ucapnya lagi. Itu alasan yang paling tepat bukan? Batinnya.


"Mana ponsel ku?" Kata Leo. Albar segera membalik badan dan melangkah dengan pelan untuk mendekat. Dia mengeluarkan ponsel milik Leo dari saku kemejanya.


"Ini Boss," ucapnya sembari memberikan ponsel milik Leo. "Nyonya muda, bagaimana keadaan mu?" Tanya Albar dengan perhatian. Dia juga ikut panik karena kepanikan Bossnya.


"Baik Albar," jawab Yuna, "Terima kasih," lanjutnya.


"Segera keluar," sahut Leo. Dia mengusir Albar, ia kesal setengah mati dengan supir satu ini.


"Baik Boss," jawab Albar. Kemudian, dia segera melangkah dan keluar dari ruangan.


Kening Yuna mulai berkeringat, butiran-butiran kecil itu terlihat membasahi keningnya. Leo mengambil tissue dan mengusapnya dengan perhatian. Membersihkan keringat yang ada di kening Yuna. Dia bernafas dengan lega. Demam Yuna mulai reda, Yuna mulai berkeringat.


"Sayang, apa kau merasa baikan?" Tanyanya.


Yuna mengangguk. "Ya, ini lebih enakan," jawabnya.


Leo mengusap pipinya dengan lembut, "Tidurlah, kau akan lekas sembuh," ucapnya. "Aku akan terus disini, disamping mu," sambungnya. Yuna mengangguk. Kemudian, dia kembali berbaring dan memejamkan matanya. Leo menatapnya penuh kasih. Dia mendekat ke arah perut Yuna dan menciumnya. Membisikkan kata cinta dan untaian doa.


____


Catatan Penulis ( Curhatan 🥰 )


"Kok nggak ada Bang Vano??"


Iya, bab dia besok Yach. Tungguin, Jan sampe ketinggalan, klo ketinggalan bakal tak tikung hahaaa. Fans Nevano harap sabar Yess buat nunggu bab mereka.


Tadinya mo disatuin di bab ini tapi Aku udah keburu ngantukz. Saat ini pukul 03.00 dan aku masih terjaga, biar kisah ini langsung menyapa pagi mu kawan.


Terima kasih semuanya yang masih setia dan masih menunggu Up Up Up dari kisah ini.


Jan lupa jempolnya di goyang Yach kawan.


Like koment vote. Aku padamu. Luv luv luv.


Huachhh... merem dulu yess 😴😴 Klo ada kata yang salah atau Typo kasih tau aja ya. Terima kasih.