
Ponsel itu sudah hancur dan pasti tidak bisa dipakai lagi.
'Apa aku begitu keterlaluan? Aku merusak ponselnya. Apalagi sepertinya, ponsel ini sangat penting. Aaa aku harus bagaimana?'
Neva keluar kamar dan menuruni tangga.
"Mau kemana Non?" Bibi Ina orang kepercayaan Papa dan Mama menghampirinya. Neva melihat jam ditangannya. Pukul 20:00.
"Keluar sebentar Bi," jawab Neva. Bi Ina adalah orang yang bertanggung jawab penuh atas Neva saat Papa dan Mama keluar negeri. Setelah memberi wejangan panjang yang sebenarnya sama dengan yang kemarin, dan yang sebenarnya juga tidak begitu didengar oleh Neva, Bibi Sri membolehkan Neva untuk keluar. Neva tidak tahu alasan Mama keluar negeri adalah karena Kak Lee nya berada di rumah sakit. Jika dia tahu, dia pasti tidak akan ada disini. Dia pasti akan memaksa untuk ikut Mama.
Neva pergi ke sebuah Mall ternama. Dia membeli sebuah ponsel. Dan setelah mendapat apa yang dia cari, dia segera melangkah untuk keluar dari Mall. Namun sebuah suara menghentikannya. Dari jauh, dia melihat seseorang yang menujunya dengan senyum hangat.
"Hai, sayang...." seseorang itu langsung menghamburkan pelukannya pada Neva, "Kau sendirian, atau sama Mama?" tanya seseorang itu dengan memperhatikan sekeliling Neva.
"Neva sendirian Tante," jawab Neva lembut.
"Sendirian?" Tanya Nyonya Mahaeswara memastikan.
"Iya," jawab Neva mengangguk.
"Apa kau sudah selesai? Atau kau masih ingin mencari sesuatu?" tanya Nyonya Mahaeswara perhatian.
"Tidak ada Tante," jawab Neva.
"Okey, bagus. Sayang, ikut Tante mau ya," tanpa menunggu jawaban dari Neva, Nyonya Mahaeswara langsung meraih tangan Neva begitu saja dan membawa Neva untuk mengikutinya. "Sayang apa kau sudah makan?" Tanya Nyonya Mahaeswara tanpa menghentikan langkahnya.
"Emmm, sudah Tante," jawab Neva. 'Mau di bawa kemanakah aku ini?'
Mereka berhenti di sebelah mobil mentereng milik Nyonya Mahaeswara.
"Sayang, dimana supir mu? Hubungi dan suruh dia kembali, bilang saja kau ikut tante okey," ucap Nyonya Mahaeswara mengajak Neva untuk masuk ke dalam mobil. Tidak menolak, Neva ikut masuk ke dalam mobil Nyonya Mahaeswara.
Saat ini, Neva sudah bisa menebaknya. Nyonya ini pasti akan membawanya untuk bertemu dengan Vano. Memang sangat sulit untuk bisa menghindar jika dia masih berada disini.
Beberapa menit kemudian, mobil itu memasuki rumah mewah milik keluarga Mahaeswara. Neva melebarkan matanya. Astaga... dibawa pulang kerumah?
"Sayang, ayo" Nyonya Mahaeswara mengajak Neva untuk masuk. Sedikit canggung dia mengangguk. Dia memikirkan penampilannya, yang hanya memakai Coat dan rok pendek selutut.
Dia memejamkan matanya sebentar.
'Penampilan apa-apaan ini.' batinnya. Nyonya Mahaeswara langsung mengajaknya ke dalam menuju ruang utama bukan diruang tamu.
"Sayang, tunggu disini dulu, okey," ucap Nyonya Mahaeswara dan meminta pembantunya untuk menyiapkan minum untuk Neva.
Begitu Nyonya Mahaeswara meninggalkannya. Neva segera membuka tas miliknya. Dia mengambil kaca dan lipblam. Kemudian, dia segera memakaikannya dengan kecepatan kilat. Dia menyatukan bibirnya agar lipblam menyeluruh menyempurnakan bibirnya.
'Huff, untung saja, make up tidak pernah tertinggal dari tas ini,' gumamnya. Dia kembali duduk dengan manis ketika pembantu Nyonya Mahaeswara membawakannya minum dan beberapa cemilan ringan.
"Terima kasih," ucap Neva ramah.
"Sama-sama Nona," jawab pembantu Nyonya Mahaeswara dengan sopan lalu kembali masuk kedalam.
Kemudian, seseorang terlihat berjalan santai menuruni tangga. Neva melebarkan matanya. Seseorang itu seperti orang lain, bukan seperti laki-laki yang sering dia temui.
"Kak Vano," dia menggumam dalam kekaguman dalam matanya. Dia selalu melihat Vano dalam balutan stelan kantor dan baju resmi, dia tidak pernah melihat Vano memakai baju santai. Kenapa bisa begitu berbeda.
Vano memakai celana pendek denim dan kaos santai berwarna putih. Rambutnya tidak begitu klimis seperti saat dia ke kantor. Melihat Neva menatapnya, dia menyunggingkan senyumnya.
*****.... astaga. Neva segera menunduk dan menyentuh hidungnya.
"APPA?!! Aku mimisan?" gumamnya. Tangannya langsung menutup rapat hidungnya.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Vano yang langsung mendekat dan duduk di samping Neva. Tangannya memegang pundak Neva.
"Hmm, tidak apa-apa," jawab Neva dengan masih memegangi hidungnya.
Vano mengambil tissue yang berada di atas meja.
"Sini, angkat wajah mu," pintanya. Pelan, Neva mengangkat wajahnya dan menatap Vano. Dia menyingkirkan tangannya dan membiarkan Vano mengusap darah yang tiba-tiba keluar dari hidungnya. Neva, jadi bisa begitu sesuka hati memperhatikan wajah tampan ini. Okey, dia memang memiliki Kakak yang super tampan tetapi itu sangat berbeda dengan seseorang ini, karena bersamanya ada degupan jantung yang memompa dengan cepat, karena bersamanya ada sesuatu yang menggelitik pada hatinya.
"Apa kau demam?" tanya Vano dengan masih terus membersihkan hidung Neva.
"Tidak," jawabnya. Vano mengangguk.
"Sudah," katanya dan mengumpulkan tissu diatas meja.
"Terima kasih," ucap Neva. Vano beranjak dari duduknya.
"Tangan mu terkena darah, ayo ikut aku," ucap Vano. Neva mengangguk dan mengikuti Vano untuk masuk ke dalam.
"Ku pikir Mama berbohong ternyata benar kamu kesini," Vano berhenti didepan wastafel dan menyalakan airnya.
"Hmm kita bertemu di mall," jawab Neva.
"Apa Mama memaksa mu?" Tanya Vano lagi. Dia takut Mamanya memaksa Neva untuk ikut.
"Tidak," jawab Neva dengan segera menggelengkan kepalanya. Vano meraih tangannya dan membawanya ke pancuran air wastafel. Dia membersihkan tangan Neva dengan lembut, satu persatu. Menyabuni tangan Neva dengan perhatian, satu persatu.
Sementara Neva hanya mampu terpaku dengan kelembutan ini, dia hanya mampu merasakan degupan pada jantungnya yang menderu, dia hanya mampu memperhatikan wajah yang tengah menunduk dihadapannya ini.
'Sebentar lagi aku mulai sidang, sebentar lagi aku lulus dan itu artinya sebentar lagi aku akan pergi. Aku akan membawa semuanya, semua tentang mu.'
"Kenapa?" tanya Vano setelah selesai dan mengangkat wajahnya. Dia menatap Neva yang memperhatikannya.
"Eh, tidak ada," jawab Neva dan langsung mengalihkan pandangannya.
Kemudian, mereka kembali ke depan.
"Apa kau buru-buru pulang?" tanya Vano. Dia mengajak Neva ke taman samping.
"Jika Kakak mengusir ku, aku akan segera pulang," jawab Neva.
"Itu pertanyaan, bukan usiran," tukas Vano. "Bagaimana jika aku ingin kamu menginap disini?" Lanjut Vano.
"Wah, wah... itu artinya aku akan mendapat SP (Surat Peringatan) dari Mama," jawab Neva dengan tawa kecil.
***@***
____Pagi hari. Mobil sekelas artis papan atas Hollywood sudah terparkir tak jauh dari gerbang utama kampus. Namun hingga hampir satu jam seseorang yang menunggu di dalam mobil tak juga menemukan apa yang dia cari. Kemana gerangan si gadis? Batinnya. Matanya sangat jeli memperhatikan satu persatu orang-orang yang melewati gerbang itu tetapi dia tidak menemukan gadis yang dia tunggu.
"Keluar dan tanyakan," perintahnya pada asisten.
"Hahh, aku lagi," asistennya menggerutu tetapi tetap menuruti perintah si boss.
"Bro, apa menurut mu, aku bisa mendapatkannya?" Tanya Raizel pada Bro supir setelah asistennya keluar.
"Tentu saja, apa yang tidak bisa didapat oleh artis tertampan kita," jawab Bro supir menjilatnya. Padahal sejujurnya Bro supir sedikit ragu. Neva bukan gadis dari kalangan menengah kebawah, jadi tidak mudah untuk menggaetnya dengan barang-barang mewah dan harta. Neva bahkan dekat dengan Tuan muda dari keluarga Mahaeswara, saingan yang berat.
"Jawaban mu tepat Bro. Aku akan mentraktir mu makan enak," ucap Raizel yang membuat Bro supir tersenyum girang. Yess, batinnya. Memang sangat mudah menjilat Bossnya ini.
Tak lama, asisten datang dan memberi tahu bahwa Neva sudah menyelesaikan kuliahnya. Raizel langsung menekuk wajah tampannya. Sudah selesai? Itu artinya dia tidak bisa melihat Neva disetiap paginya.
"Jalan," ucapnya pada Bro supir tidak semangat.
"Itulah kenapa kau harus menghafal kontaknya. Jadi saat ponsel mu hilang, kau masih bisa menghubunginya."
"Tutup mulut mu, kau tidak membantu ku sama sekali."
_Sore hari, menjelang senja. Neva duduk dipinggir kolam renang. Dia sudah memasang sim card Raizel pada ponsel baru yang dia beli untuk menggantinya. Dia memencet nama 'Asisten rese' dan langsunng terhubung.
Di sana. Mata asisten Raizel langsung melotot dan mengedipkan matanya berkali-kali. Kontak atas nama "Raizel si kampret" membuat panggilan untuknya. Dia segera berlari menuju Raizel yang sedang menghafal dialog dan membisikkan sesuatu.
Raizel langsung beranjak dan langsung menjauh dari lokasi. Tepat ketika dia ingin mengangkat panggilan, panggilan itu berakhir. Sial... Umpatnya. Dia langsung menghubungi balik.
"Hai," sapanya ketika panggilannya tersambung.
"Apa kau sibuk?" Tanya Neva langsung tanpa basa-basi.
"Tidak," jawab Raizel cepat. Padahal sesungguhnya jadwalnya padat hingga tengah malam.
"Bisa bertemu?"
Pada pertanyaan ini, wajah Raizel langsung cerah dengan hati yang melonjak bahagia.
"Bisa dong," jawabnya sesantai mungkin. "Dimana?" tanyanya kemudian.
"Emm, kau saja yang menentukan tempatnya. Bukankah kau harus selalu aman?" jawab Neva.
"Okey," ucap Raizel dan dia menyebutkan salah satu tempat.
Malam hari pukul 19.30. Mereka berdua, Raizel dan Neva, duduk berhadapan di sebuah restoran Korea. Tentu restoran ini sudah mendapatkan pengamanan dari Raizel.
"Uhum," Raizel terbatuk untuk mengurangi rasa groginya. Kemudian, dia menyedot minumannya.
"Kau merindukan ku, Neva?" tanyanya memulai.
"Pufffhh, please sekali saja nggak kePeDe-an bisa nggak? Kau terlalu narsis kau tahu," jawab Neva.
"Kurang bukti apa? Kau menghubungi ku duluan dan mengajak bertemu," ujar Raizel masih dengan wajah PeDenya.
"Itu karena ada sesuatu yang ingin ku serahkan pada mu," ucap Neva yang langsung dijawab cepat oleh Raizel.
"Tunggu. Apa kau ingin menyerahkan hati mu?"
Pletak... Neva memukul kepala Raizel dengan kencang. Nona... kau memukul kepala artis paling top saat ini. Apa kau tahu, bahwa seluruh tubuhnya adalah uang yang melimpah.
"Singkirkan otak terlalu PeDe mu itu, menggelikan," ujar Neva.
"Jadi untuk apa kau menghubungi ku?" Raizel bertanya dengan serius. Dia mendekatkan wajahnya.
Neva mengambil nafasnya panjang dan mengeluarkannya dari mulut dengan lembut.
"Raizel.... aku minta maaf," ucap Neva pelan dan membalas tatapan Raizel padanya. Cowok satu ini memang super tampan, tidak salah jika fansnya sangat banyak dan begitu tergila-gila.
"Minta maaf untuk apa?" Tanya Raizel. Mereka saling menatap dan memperhatikan wajah satu sama lain, saling memindai setiap lekuk dan garis wajah yang ada di depan mereka.
"Untuk ini," ucap Neva. Dia meletakkan ponsel Raizel yang hancur di atas meja di depan Raizel. Mata Raizel memperhatikan ponselnya yang sudah hancur. Dia tersenyum, bayangan kemarahan dan omelan Neva terlintas di otaknya.
"Tidak, apa-apa," jawab Raizel. Tangannya terangkat dan mengambil ponsel dari atas meja. Dia memperhatikannya sebentar dan langsung ingin tertawa, 'Celana dalam merah nih gara-garanya' batinnya.
"Emmm," Neva membuka tas miliknya dan mengambil ponsel baru yang dia beli kemarin, "Ini..." ucapnya sambil meletakkan ponsel baru di atas meja. Raizel memperhatikan ponsel yang baru saja Neva letakkan, dia tidak memberi komentar, "Ini, ponsel baru dan yang terbaru sebagai ganti ponsel mu yang ku hancurkan. Aku minta maaf. Aku sudah memasang sim card mu di ponsel ini tapi maaf, aku tidak bisa menyelamatkan data-data yang ada pada ponsel lama mu," ucap Neva teratur.
"Aku tidak berharap kau menggantinya tapi terima kasih untuk ini," ujar Raizel. Dia mengambil ponsel baru untuknya dari Neva. "Aku tidak menganggap jika ini adalah ganti rugi ponsel ku yang kau hancurkan, tetapi... aku menganggap jika ini adalah hadiah dari mu," lanjut Raizel. Dia begitu menyukai ponsel ini.
"Terserah kau saja," ucap Neva menanggapi. "Oh, apa kau tidak ada syuting hari ini?" tanya Neva. Dia mulai menyedot minumannya.
"Ada tapi aku kabur demi menemui mu. Aku begitu perduli pada mu bukan?" Jawab Raizel.
"Hahaa, maafkan aku jika begitu," ucap Neva.
"Tidak, sebenarnya, aku mulai lelah dengan semua ini." Raizel mengaduk minumannya sebentar dan kembali memperhatikan Neva lagi, "Apa kau ingat pertemuan kita?" tanyanya. Neva mengangguk. "Aku hanya ingin makan di cafe dengan tenang, mendengarkan musik dari penyanyi cafe dengan santai, seperti kebanyakan remaja pada umumnya tapi sangat susah. Aku lelah dikerubungi oleh mereka yang ingin menyentuh ku, aku lelah berpura-pura tersenyum manis pada mereka saat melayani foto, bukan aku tidak tulus memberi mereka foto, itu hanya foto dan tidak mengubah apapun dari ku, yang membuat ku lelah adalah ketika mereka tidak mau mengerti ketika aku begitu capek dan ingin istirahat, ketika aku ingin santai dan menikmati hari ku. Mereka seolah memaksa, bahwa Raizel itu tidak boleh salah sedikit pun, seorang Raizel itu harus selalu sempurna. Bahkan, untuk mengunggah sebuah foto pun, tidak bisa begitu leluasa. Mereka akan langsung menghujat dan mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan. Aku memang sering mengabaikannya tetapi terkadang aku juga begitu memikirkannya. Bully-an yang menyakitkan bahkan kadang membuat ku tidak bisa tidur. Tulisan sadis mereka seperti menerkam ku," Raizel bercerita dengan menunduk. Dia sendiri tidak tahu kenapa dia malah curhat pada Neva. Dia seperti sedang berkeluh kesah. Dia segera menyadari bahwa ini bukan gayanya.
"Hahaaa... maafkan aku Neva," ujar Raizel dengan tawa. "Menggelikan, aku malah berbicara panjang lebar tentang ku pada mu. Bisa kau melupakannya? Bisakah kau menganggap jika aku tidak pernah mengatakan apapun?" lanjut Raizel. Neva tersenyum dan menatapnya. Kehidupan yang dibayangkan sebagian orang begitu menyenangkan ternyata tidak begitu menyenangkan.
"Apa kau suka ice cream?" tanya Neva. Raizel mengangkat wajahnya dan memicingkan matanya sejenak.
"Apa kau suka ice cream?" katanya mengembalikan pertanyaan Neva.
"Huum, sangat suka," jawab Neva semangat.
"Jika kau suka, aku juga suka. Aku suka apa yang kau suka."
"Please jangan mulai," Neva segera menjawabnya. Dia menggendong tasnya lagi. "Di mana mobil mu?" tanya Neva.
_Mobil Raizel melaju dengan pelan. Si Bro supir menyengajanya agar si Boss ganteng bisa lebih lama dengan gadis incarannya.
Neva memutuskan untuk menggunakan mobil Raizel karena males dengan pak supir keponya. Neva meminta Bro supir untuk berhenti di toko aksesoris. Kemudian, dengan langkah kecil dia segera masuk ke toko aksesoris.
"Dia mau ngapain?" tanya Asisten Riazel.
"Entahlah," jawab Raizel dengan mengangkat bahu. Tak lama, Neva kembali dengan tentengan di tangannya. Raizel segera menutup kembali sekat bagian depan.
Mobil kembali melaju pelan ke alamat yang Neva inginkan.
"Pakai ini," ujar Neva. Dia memberikan permainan gigi palsu. Raizel dengan patuh menerimanya dan langsung memakaikannya.
"Pufffhh," Neva menahan tawanya melihat bibir Raizel yang sekarang maju kedepan. "Ini..." dia memberikan softlens dan kaca mata bulat culun. Selanjutnya, Neva mengambil pensil alisnya dan membuat tahi lalat di bawah hidung tepat diatas bibir Raizel.
"Sempurna...." Neva bersorak pelan dan bertepuk tangan untuk dirinya sendiri. Matanya dengan jeli memperhatikan wajah Raizel yang sekarang berubah menjadi culun. Ups ada yang kurang. Neva kembali membuka tasnya dan mengambil sisir. "Sini," ucapnya meminta Raizel untuk mendekat. Dengan patuh, Raizel mendekatkan wajahnya.
Tangan Neva terangkat dan menyisir rambut Raizel dengan pelan. Posisi Raizel yang sedikit menunduk membutnya lebih dekat dengan dada Neva. Astaga... dia langsung memejamkan matanya, dia akan dapat masalah lagi jika ketahuan memelototi apa yang ada di depannya.
"Selesai," ujar Neva. Dan Raizel segera duduk dengan benar. "Lihat," Neva memberinya kaca.
"Waaahh, siapa ini?" Ujar Raizel setelah melihat dirinya dalam cermin. Kemudian, dia membuka sekat bagian depan setelah mobilnya berhenti di tempat yang Neva inginkan.
Bro supir dan asistennya mlongo melihat sosok yang ada disamping Neva. Ini sungguh bukan seperti Raizel yang tampan.
Raizel dan Neva duduk di kedai ice cream yang menurut Neva tempat paling aman untuk Riazel. Meski sudah menyamar tapi tetap saja, Neva takut jika ada yang mengenalinya.
Ice cream datang.....
Raizel menyendok ice cream miliknya dan memberikannya pada Neva.
"Kenapa?" tanya Neva. Dia mengerutkan alisnya.
"Tidak ada, ini untuk mu," jawab Raizel.
"Okey," Neva menerima suapan Raizel padanya. "Thanks," ucapnya setelah kelembutan ice cream meleleh di mulutnya. Raizel mengangguk dan membawa bekas sendok Neva kedalam mulutnya. Neva melotot melihat itu.
"Astaga, aku lupa jika kau adalah cowok mesum," ujarnya dengan menyesal karena menerima suapan Raizel padanya. Dia menepuk keningnya. Raizel tertawa melihat itu. Dengan segera dia mengambil sendok Neva dan menyendok ice cream miliknya lalu memakannya. Sekarang tidak ada sendok bersih, yang ada adalah sendok bekas dia semua. Mau tidak mau, Neva harus menggunakan sendok bekasnya, begitu pikir Raizel.
"Apa-apaan kau," Neva mengomelinya.
"Jadi, sendok mana yang kau pilih?" Raizel memamerkan dua sendok ditangannya dengan senyum jahil dan menang.
Neva mengangkat tangannya dan pelayan segera datang padanya.
"Maaf, bisa minta sendok satu lagi?" ucapnya ramah.
"Biak, mohon tunggu Nona," jawab pelayan dan segera mengambil sendok untuk Neva. Raizel langsung lemas karena kalah. Dia tidak berhasil membuat Neva makan dengan sendok bekasnya.
"Weekk," Neva mengejeknya.
Mereka berdua menikmati ice cream dengan bahagia. Tidak ada pengunjung yang curiga jika cowok culun ini adalah Raizel.
***@***
___Alea masih menemani Yuna. Bersama Alea, Yuna sedikit melupakan rasa sepinya namun ketika ia kembali ke kamar, kesepian mulai merayap di hatinya. Setelah menggosok gigi, dia keluar ke balkon dan duduk di sana. Dia menimang-nimang ponselnya terus menerus. Ponsel ini bahkan tidak jauh darinya sama sekali bahkan ketika dia ke kamar mandi.
''Sesibuk apakah dia? Apa keadaan perusahaan begitu genting,''
Yuna menatap langit malam. Sinar bulan sabit yang tertutup awan seolah enggan untuk tersenyum. Sinarnya sangat redup dan nyaris tak terlihat.
"Sayang, kau baik-baik saja bukan di sana?" Gumamnya. Angin malam ini begitu sangat dingin, rasanya hingga menusuk ketulang. Tuan suami pasti akan mengomel jika dia ada disini.
"Siapa yang mengizinkan mu untuk duduk disini?" suaranya seolah menyapa. Yuna menyunggingkan bibirnya. Kemudian, dia kembali masuk dan menutup pintu.
Dia naik keatas tempat tidur yang rasanya begitu luas dan dingin.
Rindu, kenapa begitu menyakitkan. Ribuan kali memanggil namanya, ribuan kali juga hati itu tersiksa. Yuna menyentuh perutnya dan mengusapnya pelan dan lembut. Kemudian, dia membuka buku dongeng dan membacanya.
Awalnya, itu berjalan biasa saja. Dia membaca seperti saat Leo membaca dongeng untuknya. Namun, pada pertengahan dongeng, suaranya memberat dan kesediaan merayap di hatinya. Dia segera menutupnya.
Selama ini, dia terlalu di manja oleh Leo, selalu diperlakukan bak Ratu oleh Leo. Sekarang, ketika Leo jauh sebentar saja darinya, dia menjadi begitu sedih karena setiap apa yang ia lakukan adalah apa yang Leo lakukan untuknya.
Mengambil makanan, menuangkan air, mengupas buah, membuat susu, membaca dongeng dan bahkan meminum vitamin adalah Leo yang menyiapkan semua untuknya.
"Sayang, aku merindukan mu," gumamnya dan setetes air matanya menetes. Dia segera menghapusnya.
Dia mengambil ponselnya dan mengetik pesan untuk Leo.
"Tuan suami, kau begitu sibuk hingga kau tak sempat untuk menghubungi ku. Tuan tampan, apa kau merindukan ku? Hmm? Aku akan mencekik mu jika kau bilang tidak, hahaaa. Tuan nyebellin, kau baik-baik saja bukan?" send.
____
Catatan penulis (Curhatan π₯°π€)
Bab ini panjang banget... 2.964 kata huwaa... hampir 3000 kata. (Demi kepuasan pembaca, ahai)
Huaaaahh...π΄ Thornya mo merem dulu yess.π΄ Selamat membaca kesayangan... luv luv.
Eit, bentar. Ada yang ketinggalan. Likenya mana...ππ Like & Koment, okey. (Vote juga Hhaaa)
Thor itu seneng bacain koment temen-temen. Soalnya dari koment itulah kita berinteraksi. Kita yang LDR-AN ini π₯Ίπ₯Ί
Semua koment pasti dibaca meskipun terkadang nggak di bales. Sorry ππ
Aku mencintai mu kawan...πππ
BoCan dulu aaah... π΄π΄ muach