
Disamping Neva ada Vano yang dengan lucu mengikuti gerakan tangan mungil Baby Arai. Ya, Vano masih ada di rumah keluarga Nugraha, itu karena hujan yang sangat lebat dan tak kunjung reda.
Mama beberapa kali menawari Vano untuk menginap saja tetapi Vano menolaknya dengan sopan. Rasanya memang kurang pantas jika ia menginap di rumah seorang gadis. Namun, kondisi sangat tidak memungkinkan, hujan sangat deras disertai angin kencang dan petir. Mama malah khawatir jika Vano kembali dengan kondisi hujan lebat. Hingga pada akhirnya, Vano menyetujui untuk menginap. Neva tersenyum senang dan setuju dengan keputusan itu. Dengan Vano menginap itu artinya besok pagi mereka akan langsung bisa bertemu. Mereka saling menoleh untuk bertukar pandangan. Rindu dalam sorot mata keduanya seolah tidak akan padam. Rasa yang mereka miliki semakin dalam.
Kemudian, seorang asisten rumah tangga menghampiri mereka untuk memberi tahu bahwa kamar sudah siap.
"Vano, silahkan jika ingin beristirahat Nak. Kamar untuk mu sudah siap," ujar Mama dengan halus. Ini sudah dini hari, seharusnya Vano memang sudah beristirahat, pikir Mama. Vano mengangguk dengan sopan. Mama menoleh ke arah asisten rumah tangganya dan meminta tolong dengan suara khasnya yang lembut.
"Tolong antar Tuan muda Mahaeswara, Bi."
"Biar aku saja," Neva menyahut dengan cepat. Mama dan Papa saling menoleh dan menahan senyumnya.
"Kau juga harus segera tidur anak gadis," jawab Papa.
"Hu'um," Neva mengangguk. "Sekalian keatas. Hehee," jawabnya dengan nyengir memamerkan giginya.
"Ya sudah sana buruan," ucap Mama. Beliau meminta Baby Arai dari pangkuan Neva. Lalu menciumnya, tangan mungil nan halus itu menyentuh pipi Mama. Membuat Mama semakin gemas.
"Saya pamit keatas Ma, Pa," Vano pamit dengan sopan. Ia membungkukkan badannya. Mama dan Papa mengangguk dengan senyum.
"Selamat beristirahat," jawab Mama. Kemudian Neva mengantar Vano ke kamarnya. Kamar Vano berada di lantai dua berseberangan dengan Neva. Kamar itu berhadapan tetapi dipisahkan oleh ruang luas dengan guci-guci antik koleksi Mama. Terdapat juga almari besar berisi miniatur mobil super mewah dari jaman ke jaman milik Papa.
"Ini kamar Ka ...." Neva menghentikan ucapannya, lalu segera menyambungnya kembali, "ini kamar mu," katanya.
Vano mengangguk, "Selamat malam," ucapnya Vano.
"Selamat malam, selamat istirahat," jawab Neva. "Bye," Neva membalik badan dan melangkah tetapi kemudian langkahnya tertahan oleh pelukan Vano. Vano memeluknya dari belakang. Bibirnya membuat kecupan lembut di rambut Neva.
"Apa kau merindukan ku?" tanyanya pelan pada gadisnya.
Tidak memungkiri, tidak ingin berbohong pada hatinya, gadis itu mengangguk pelan. "Sangat merindukan mu," jawabnya. Mereka saling bertemu sedari kemarin tetapi gelora rindu yang menggebu masih saja membara pada hati keduanya. Api rindu yang seolah enggan dan bahkan tidak ingin padam. Ingin terus bersama, ingin terus berdua. "Bagaimana dengan mu?" Neva sengaja menanyakannya. Ia juga ingin mendengar kata rindu dari bibir Vano.
Vano melepaskan pelukannya dan membalik tubuh Neva untuk menghadap ke arahnya. Kedua tangannya menggenggam jemari Neva. Mata mereka bertemu, saling menatap dengan penuh cinta.
"Aku mencium mu lewat tatapan mata, menyampaikan rasa rindu yang begitu menggebu," ucapnya romantis. Entah dapat dari mana kalimat itu, menatap gadis ini membuatnya berucap dengan kalimat-kalimat indah, gadis ini bahkan membuatnya sangat pandai menggombal.
Neva tersipu, ia tersenyum dengan rona dikedua pipinya. Ia menunduk malu.
"Jangan sembunyikan wajahmu gadis," ucap Vano pelan. Tangan kanannya menyentuh pipi Neva dan membawa wajah gadis itu untuk menatapnya lagi.
Mereka berdua kembali saling menatap tetapi tidak mengatakan apa-apa. Hanya ada degupan jantung yang seperti tabuhan genderang. Hanya ada desiran lembut yang semakin menguasai hati. Entah berapa menit mereka saling menatap tanpa kata. Hingga akhirnya Neva kembali menunduk, ia menempelkan keningnya di dada Vano. Tangan Vano terangkat untuk mengusap rambut Neva. Ia mengusap rambut Neva dengan pelan.
"Neva," Vano memanggil dengan rendah.
"Hmm," jawab Neva tanpa mengubah posisinya. Ia memejamkan matanya, menikmati aroma parfum dan tubuh Vano yang melekat dalam indra penciumannya. Jika boleh jujur, ia tidak ingin berpisah saat ini, ia ingin terus bersama.
Vano menunduk dan mencium rambut Neva. Harumnya semerbak menelusup untuk lebih menggodanya. Menggoda dan menelusup ke dalam hatinya lebih dalam lagi.
"Apa?" Neva bertanya. Dia menunggu Vano untuk mengucapkan sesuatu tetapi ternyata laki-laki ini hanya diam setelah memanggilnya.
"Hmm? Tidak ada, hanya ingin memanggil mu saja," jawab Vano. Neva terkekeh dan memukul lembut dada Vano. Ia mendongak lalu menjinjit. Bibirnya menyentuh pipi Vano.
"Selamat malam sayang," ucap Neva malu setelah meninggalkan ciuman singkat di pipi Vano. Setelah mengucapkan itu, ia segera membalik badan dan kabur. Neva membuka pintu kamarnya. Vano memperhatikannya dengan senyum lebar di bibirnya. Tangannya terangkat dan memegang dadanya. Begitu berdebar.
"Bye, selamat istirahat," ucap Neva sebelum ia benar-benar masuk ke dalam kamarnya.
"Selamat istirahat juga sayang," jawab Vano dengan senyum. Kemudian, Neva masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu.
Di ruang tengah, Mama dan Papa beranjak setelah Neva dan Vano ke atas. Mama membawa Baby Arai ke dalam kamarnya.
Tak lama, Mama mendapatkan panggilan telepon. Suara Leo cemas diseberang sana. Dia takut Baby Arai rewel. Ia ingin segera kembali tetapi kondisi memang tidak memungkinkan. Leo tahu, jam dini hari seperti ini, biasanya Baby Arai terbangun dan akan bercanda dengannya hingga pagi.
"Dia anteng, masih main bareng Opanya," jawab Mama setelah mendapatkan pertanyaan dari Leo. "Hujan sangat lebat, kembali nanti saja jika sudah mulai reda."
Leo mengangguk dan meminta maaf karena tidak bisa segera kembali.
"Tidak apa-apa sayang, nikmatilah waktu kalian berdua," tutur Mama sangat perhatian.
"Terima kasih Ma," ucap Leo kemudian menyudahi panggilannya. "Kembali nanti jika hujan sedikit reda," Leo berbicara pada Yuna.
"Bagaimana jika Baby Arai rewel?" Yuna berkata dengan khawatir. Leo memeluknya dari samping, kedua tangannya seolah terikat untuk melingkari tubuh Yuna. Ia mencium pipi istrinya.
"Dia anteng," ujar Leo menenangkan Yuna. Bibirnya masih menempel di pipi Yuna.
"Mama sudah ahli sayang. Jangan khawatir," jawab Leo. Yuna mencoba tenang, dalam hati ia berdoa agar hujannya segera reda. "Sayang," tangan Yuna menahan tubuh Leo saat bibir itu mulai membuat kecupan di lehernya. "Jangan meninggalkan bekas," ujar Yuna memperingatkan Leo.
"Sudah terlanjur," jawab Leo santai dengan wajah polos tanpa dosa. Mata Yuna langsung melebar, ia langsung mencoba mendorong tubuh Leo untuk menjauh darinya tetapi tidak bisa, tangan Leo mengurungnya.
"Kita menginap di rumah Mama, bekas ciuman mu akan membuatku malu," Yuna berkata dengan cemberut.
"Kau bisa memakai syal."
"Yang benar saja, mana ada didalam rumah memakai syal!!"
"Pakai dres yang berleher panjang."
"Di dalam rumah sayang, itu tidak cocok," jawab Yuna. "Kau menyebalkan, jangan membuat tanda ditempat yang terlihat saat kita menginap di rumah Mama," Yuna menggerutu.
"Baik," jawab Leo patuh tapi dengan senyum licik. Dia akan membuat tanda ditempat yang tidak terlihat. Tanpa menunggu, tangannya sudah berhasil membuka resleting baju Yuna dan membuka bagian atasnya.
"Mau apa kau tuan mesum?" tangan Yuna menahan bajunya agar tidak lolos begitu saja.
"Membuat tanda ditempat yang tidak terlihat," Leo menjawab dengan wajah polos. Yuna langsung memelototinya. Mata melotot seperti burung hantu yang Leo sukai. Entahlah, segala yang ada pada Yuna, membuatnya gila. Bahkan saat Yuna mengomel, dia sangat suka.
"Leooo ...." Yuna berteriak.
"Apa sayang, aku didekatmu, tidak perlu berteriak untuk memanggil ku," jawab Leo menyeringai dan langsung menyandarkan Yuna diujung sofa. Yuna ingin berbicara tetapi tidak mampu, tangan nakal Leo membuatnya hanya mampu bernafas dengan berat. "Menurutlah istriku," bisikannya lembut. Bibir seksinya menggelitik leher Yuna dan semakin turun. Ia membuat tanda dibagian yang tidak terlihat orang lain.
"Sayang, jangan lepas kendali, okey," Yuna memperingatkan saat ia menyadari bahwa nafas Leo mulai memburu.
"Huum," jawab Leo singkat dengan masih mengurung Yuna dalam pelukannya dan kecupannya.
Setelah selesai dengan aksinya, Leo melepaskan Yuna. Dia dengan perhatian membenarkan kembali baju Yuna yang berantakan. Cinta dan hasratnya hanya ada dan pada Yuna, wanitanya. Wanita miliknya.
"I love you," ucapnya setelah mencium pundak Yuna. Kemudian, ia memeluk Yuna. "Sayang," panggilannya.
"Ya?" Yuna mengambil minuman dan memberikannya pada Leo. Leo menyedot minuman yang ada ditangan Yuna. Lalu berganti Yuna yang menyedot minuman itu. "Kau mau cemilan?" Yuna menawarinya. Leo menggeleng.
Yuna meletakkan kembali gelas diatas meja kemudian ia membalas pelukan Leo padanya.
Mereka berdua saling berpelukan. Yuna kembali memilih lagu. Ia memilih lagu Bollywood. Dia akan tertawa saat Leo bernyanyi Bollywood dengan terbata karena tidak hafal liriknya. Leo masih mengeja lirik yang tertulis di layar.
"Lidahku ketekuk dan belepotan," Leo ikut tertawa dan mengulang kembali liriknya. Dan hasilnya masih sama, dia tidak lancar untuk mengucapkan lirik itu. Yuna tertawa terbahak-bahak melihat Leo yang sangat penasaran dengan lirik lagu itu. Leo bahkan meminta Yuna untuk mengulang-ulang bagian lirik itu. Lirik lagu yang dinyanyikan dengan nada cepat.
"Meri hoke hamesha hi rehna kabhi na kehna alvida," Leo mengulangi lagi dan lagi.
Kemudian ia mencium pipi Yuna dengan sangat dalam, menekan bibirnya dipipi Yuna.
"Apa kau mendengarnya sayang?" tanyanya tanpa menjauhkan bibirnya dari pipi Yuna.
"Ya, aku mendengarnya," jawab Yuna dengan anggukan.
"Meri hoke hamesha hi rehna kabhi na kehna alvida," Leo mengulangi lirik lagu itu. "Kau tahu artinya apa?" tanyanya lagi. Yuna terdiam beberapa saat, ia memikirkan artinya. Di layar besar itu, ada lirik dan artinya tetapi Yuna tidak begitu memperhatikan artinya. Ia berfokus pada liriknya saja. "Selalu jadi milikku selamanya dan jangan pernah mengucapkan selamat tinggal," Leo memberi tahu artinya. Yuna menoleh ke arah. Hidung mereka berdua bertemu.
"Aku milikmu selamanya," jawab Yuna. Dan mereka berciuman dengan romantis.
__Hujan mulai reda. Leo mengendarai mobilnya dengan pelan untuk kembali ke rumah orangtuanya. Dia sudah sangat rindu pada Baby Arai. Ia akan menciumnya tanpa henti nanti. Bibirnya melengkung indah saat membayangkan bertemu dan menggendong buah hatinya.
Mobilnya pelan parkir di halaman rumah orangtuanya. Yuna tertidur. Leo tidak membangunkannya. Ia dengan pelan dan hati-hati menggendong Yuna untuk masuk ke dalam. Ia langsung melangkah masuk setelah mengucapkan terima kasih pada asisten rumah tangga yang membukakan pintu. Ia menggendong Yuna ke lantai tiga kamar mereka.
"Selamat istirahat sayang," bisiknya setelah menyelimuti Yuna. Ia mengirim pesan pada Mama, jika Baby Arai masih terjaga maka ia akan membawa ke kamarnya tapi mama bilang jika Baby Arai sudah terlelap. Ok, Leo membiarkan Baby Arai tidur bersama neneknya. Kemudian, ia membersihkan dirinya lalu ikut masuk kedalam selimut. Mendekap Yuna dengan hangat. Mereka masih punya waktu satu setengah jam untuk istirahat sebelum fajar menyingsing.
_____
Catatan Penulis π₯°
Maaf telat Upnya ya kawan tersayang π₯° Akun MT ku sempat error dan nggak bisa dibuka sama sekali. π₯°π
Terima kasih mbeb kesayangan yang penuh rindu nungguin kelanjutan kisah ini. Salam hangat dari Leo dan Vano buat sahabat Sebenarnya Cinta πΉ
Oh iya, temen-temen boleh koment yang pedes kok, pedes banget juga boleh. Aku woles dan enjoy. Tapi satu yang aku nggak suka, yaitu saat tokohku disama2in ama tokoh sebelah. Aku nggak tahu dia tokoh siapa dan dari lapak mana. Leo ku adalah Leo ku, Vano ku adalah Vano ku. Mohon maaf jangan samain mereka dengan tokoh lapak sebelah. Itu menyakitkan untuk ku π₯Ίπ₯Ίππ sakitnya melebihi koment pedes level dewa. Ku mohon hargai setiap apa yang temen-temen nikmati dalam novel ini. Temen2 nggak tau bagaimana setiap malam aku begadang buat ngasih kisah yang indah untuk menemani harimu. Terima kasih semuanya dan maaf jika aku terlalu lebay dalam hal ini ππ Tapi jujur aku sakit saat tokohku disama2in π₯Ίππππ Meski novel ku nggak bagus tolong hargai ya kawan πππ₯°
Jangan lupa jempolnya digoyang ya. Tengkyu.
*Janam janam. Ost Dilwale.