
Leo membawa Yuna kembali ke kamar tapi Yuna menolak untuk tidur. Ia memilih untuk menonton film. Mereka berdua duduk di sofa dan menyambungkan ponsel pintarnya pada layar tipis yang menggantung di dinding.
"Kenapa menonton film Bollywood? Aku tidak setuju," Leo memprotes karena Yuna memilih Film Bollywood. Film Bollywood yang pasti akan membuat Yuna menangis.
"Aku memilih film Bollywood yang lucu," jawab Yuna mencoba meyakinkan Leo bahwa dia tidak akan menangis dengan Bollywood yang satu ini.
"Tidak boleh," Leo tetap tidak menyetujuinya. "Kau sudah berjanji untuk menurut Nyonya," Leo mengingatkan. Yuna langsung mencium pipinya mendengar itu.
"Sayang," ujarnya dengan manja. Suara manja nan seksi, rayuan maut untuk membuat penolakan menjadi persetujuan.
"Tidak ada rayuan," jawab Leo. Tangannya mengulur dan mengambil ponsel di tangan Yuna.
Kemudian, dia yang memilih film untuk mereka tonton dini hari ini.
"Film apa ini?" Yuna bertanya setelah Leo meletakkan ponselnya.
"Film yang cocok untuk kita berdua," jawab Leo dengan menatap Yuna. Tatapan mata nakal yang siapa menyergapnya.
"Kau mencurigakan," Yuna menutup wajah Leo dengan telapak tangan kanannya. Lalu dengan cepat dia mengambil ponsel di atas meja. "Aku akan menggantinya," ucapnya. Leo mengambil tangan Yuna dan menggenggamnya.
"Pastikan filmnya tidak sedih dan kau tidak akan menangis," ujar Leo mengingatkan.
"Baik sayang," jawab Yuna. Kemudian, dia menemukan satu judul film Bollywood lawas. Yuna meletakkan ponselnya di atas meja setelah menyambungkan pada layar televisi besar di kamarnya. Suasana kamar gelap hanya ada lampu tidur dan cahaya dari televisi.
Yuna menggeser duduknya dan bersandar di bahu Leo. Tangan Leo terangkat dan langsung memeluknya. Film Bollywood mulai diputar. Berkisah tentang seorang gadis dan laki-laki yang memiliki mimpi yang sama, mereka berdua ingin menjadi seorang penyanyi. Kemudian, mereka berdua menikah dan berjanji untuk mewujudkan impian mereka bersama. Tetapi kisah tidak semudah itu.
"Laki-laki itu tidak memiliki cukup uang sedangkan mereka sudah memiliki baby, jika mengandalkan keberuntungan dalam impian menjadi penyanyi rasanya dia itu terlalu egois. Kenapa tidak mencari pekerjaan lain terlebih dahulu untuk memberikan kehidupan yang layak pada anak dan istrinya. Jika laki-laki telah menikah maka impian terbesarnya adalah bahagia dengan wanita yang dia pilih. Membahagiakan wanitanya dan anak-anaknya," Leo berkomentar dengan kesal menonton film Bollywood itu.
Yuna tersenyum lebar mendengar itu, dia lalu menggeliat dan mencium pipi Leo dengan gemas. "Dia bukan kamu sayang," ucap Yuna.
"Ya, tentu saja," jawab Leo. Kemudian, mereka berdua kembali melanjutkan menonton. Saling diam menyaksikan film Bollywood itu.
Tokoh laki-laki dalam film pada akhirnya tidak bisa menjadi penyanyi terkenal tetapi berkebalikan dengan itu, sang istri dengan talentanya mampu melejit dengan cepat.
Hingga pada akhirnya, sang istri memilih untuk meninggalkan suami dan putranya. Menyesal, tentu saja. Sang suami menyesal karena sering mengabaikan istrinya. Tapi, itu tidak merubah apapun, sang istri telah pergi dari sisinya. Dia menjalani hari-harinya dengan tawa bersama putranya meski dia menangis setelah itu.
Emosi mulai menguasai hati Yuna, tetapi dia merasakan hal lain. Dalam dekapan Leo, dia bisa merasakan nafas Leo yang berat. Yuna melepaskan pelukannya dan mengambil tissue diatas meja.
Leo langsung menunduk untuk menyembunyikan wajahnya. Dia sangat menahannya tetapi adegan dalam film itu membuatnya mengingat bagaimana rasa sakit ketika ditinggalkan oleh seseorang yang sangat dicintai. Potongan adegan film itu membuatnya mengingat bagaimana rasa sakit karena kehilangan.
"Sayang," Yuna memanggilnya pelan. Awalnya, Yuna ingin tertawa dan meledeknya tetapi melihat Leo yang menyembunyikan wajahnya membuatnya tersentuh dengan rasa haru dalam hatinya. Leo tidak meresponnya, dia masih menunduk.
Kedua tangan Yuna mengulur dan langsung memeluknya. Memeluk Leo dengan hangat.
"Jangan tinggalkan aku," ujar Leo serak. Yuna mengambil nafasnya dengan dalam. Saat ini dia tahu, bahwa Leo kembali mengingat kejadian saat dia pergi. Terkadang Yuna menyesal pada keputusannya dulu. Karena keputusannya itu yang membuat Leo begitu menderita bahkan hingga detik ini. Itu seperti kutukan pada jiwa Leo yang tidak akan pernah bisa menghilang. Yuna mencium pundak Leo dengan lembut. Menciumnya lagi dan lagi.
"Aku mencintaimu dan akan selalu bersama mu," bisik Yuna lembut di telinganya. Suara Yuna yang halus memberi kehangatan dalam hati Leo. Mengganti rasa khawatirnya dengan kasih sayang.
Kemudian, Yuna menyudahi film itu. Dia menggantinya dengan film yang tadi Leo pilih.
"Waww, sepertinya akan ada banyak adegan ena-ena," komentar Yuna dengan tawa ringan. Film ini bahkan dicekal dan tidak boleh tayang di bioskop. Saat ini, mereka berdua tidur di sofa dengan posisi Yuna tidur membelakangi Leo. Sementara tangan Leo memeluknya dari belakang.
Film itu mulai memperlihatkan adegan hot. Wajah Yuna menjadi memerah karena malu. Adegan apaan itu, batinnya. Sementara Leo sudah mulai menciumi tengkuknya. Tangannya mulai masuk kedalam piyama Yuna dan mengusap punggungnya dengan lembut, bahkan sangat lembut.
"Hachum," Yuna bersin dengan kencang. Tangan Leo langsung berhenti. "Aduuhh, hidungku," Yuna berpura-pura mengecek suhu tubuhnya.
"Apa kau merasa dingin?" Leo dengan perhatian bertanya dan segera menarik tangannya untuk keluar dari piyama Yuna. Ia kemudian memeluk Yuna dengan hangat.
"Humm, sedikit," jawab Yuna dengan suara yang lemah. "Aku mengantuk," lanjutnya. Kemudian, Leo mematikan layar tipis yang menempel di dinding kamar. Dia membawa Yuna ke atas ranjang dan menyelimutinya.
"Tidurlah," ucapnya. Dia membuat kecupan di kening Yuna. Yuna mengangguk.
"Tuan suami, aku mencintaimu," ucap Yuna dalam dekapan hangat Leo.
"Apa kau mau lanjut?" Leo berbisik menggodanya.
"Hachum," Yuna langsung bersin lagi. "Aahh, kenapa tiba-tiba dingin sekali. Peluk aku saja, jangan macam-macam," ujar Yuna. Leo terkekeh mendengar itu. Sekarang dia tahu, jika bersin Yuna hanya akting. Namun dia tidak menggodanya lagi, ia ingin Yuna tidur nyenyak sebelum pagi mengapa.
__Dini hari yang sama di rumah besar keluarga Nugraha.
Neva belum meminta izin kepada Mama dan Papa nya. Malam setelah dia pulang, orangtuanya masih menghadiri acara perjamuan bisnis.
Saat ini, Neva tengah duduk di ruang keluarga bersama mama.
"Ma," panggilannya pelan. Dia menatap mamanya.
"Ya, sepertinya penting sekali," jawab Mama. Neva mengangguk. Kemudian, dia mengambil nafasnya panjang.
"Bolehkah aku berlibur bersama Kak Vano?" Neva bertanya dengan pelan pada Mamanya.
"Belibur bersama? Hanya berdua?" Mama menatap Neva dengan menyelidik. Neva mengangguk pelan. "Dimana?" Tanya mama lagi.
"Di, kota SR Ma," jawab Neva, "Ini jika Mama dan Papa mengizinkan," lanjutnya.
Mama berfikir sejenak lalu segera memberikan jawaban. Tangan beliau terangkat dan mengusap pundak Neva dengan perhatian.
"Kau wanita sayang dan kalian belum menikah. Bukan Mama tidak percaya pada kalian berdua hanya saja, itu tidak etis. Kau wanita, wanita dengan segala keanggunan dalam auranya, keanggunan dalam tutur dan lakunya. Wanita yang padanya ada sesuatu yang harus dia jaga. Semoga kau mengerti maksud Mama," Mama dengan perhatian mengutarakan maksudnya. Mama tahu mereka berdua tidak akan macam-macam tetapi tetap saja beliau tidak setuju jika mereka berlibur dan hanya berdua.
Neva mengangguk mengerti, "Iya, Ma," jawabnya.
"Apa kau kecewa dengan keputusan Mama? Apa kau kecewa karena Mama tidak menyetujuinya?"
"Terima kasih sayang," ujar Mama. Tangan Mama berpindah untuk menggenggam tangan Neva. "Terima kasih sudah menjadi putri Mama yang baik."
Neva tersenyum dan langsung menghambur kedalam pelukan mamanya. "Aku yang seharusnya berterima kasih pada Mama," ucap Neva. Mereka berdua saling membalas pelukan. Kemudian, ponsel milik Mama berdering. Panggilan vidio masuk dari Dimas.
"Hallo sayang .... " Mama dengan bahagia menyapa Dimas di seberang sana. Lalu hatinya bertambah bahagia ketika dengan lucu sang cucu melambai padanya. Neva langsung memberikan ciuman jauh pada keponakannya. Dimas bercerita bahwa Baby-nya sudah terbangun sedari tadi dan tidak mau tidur lagi.
Setelah bertukar kata dengan Dimas, Neva segera kembali ke dalam kamarnya dan merebahkan tubuhnya di kasur.
Ia mengirim pesan pada Vano dan meminta maaf karena dia tidak bisa ikut pagi ini.
Setelah pesan itu terkirim, Vano langsung membuat panggilan padanya.
"Kau sudah bangun?" Tanya Vano. Saat ini dia masih diatas kasur.
"Hmm, aku bahkan belum tidur," jawab Neva.
"Kenapa?"
"Tidak tahu. Kakak baru bangun?"
"Iya."
"Karena pesan dariku?"
"Ya." Vano menjawab dengan jujur. Itu langsung membuat Neva mengerucutkan bibirnya.
"Berarti aku menganggu tidur mu. Aku minta maaf," ucapnya pelan.
"Siapa yang bilang kau menggangguku? Aku bahkan sangat suka ketika kau mengirimiku pesan."
"Bohong banget," ucapnya seolah tak percaya padahal bibirnya tersenyum dengan hati yang berbunga.
"Ya, memang aku bohong," jawab Vano dengan sengaja.
"Tuuh, kan," ujar Neva dengan suara yang merajuk.
"Haha, aku lebih suka saat bertemu denganmu dari pada hanya menerima pesanmu," Vano berkata dengan lembut. Sudut-sudut bibir Neva terangkat membentuk senyuman merona.
Saling merayu dalam alunan bait cinta yang begitu menggema. Suara di seberang sana bagai nyanyian surgawi. Tuturnya anggun nan manja membuatnya hati seseorang yang mendengarnya begitu damai.
Mereka berdua merasakan rindu yang sama, ingin bertemu dan ingin selalu bersama. Jatuh cinta, sungguh membuat hati dengan cepat menjadi bimbang, dengan cepat menjadi bahagia lalu tiba-tiba menjadi gelisah.
Rindu yang menyatu dalam kasih lalu melebur menjadi hasrat ingin memiliki. Ingin memiliki dirimu secepatnya. Memeluk raga dan jiwa dalam satu rengkuhan. Menghapus rindu yang rasanya tidak akan pernah ada habisnya.
"Gadis, mari kita menikah," Vano berujar dalam hatinya. Dia tidak mengutarakan itu. Mungkin ini belum waktunya. Mungkin ini terlalu cepat, mungkin dia akan ditolak, mungkin ... Vano memiliki banyak kata mungkin dan pada akhirnya dia memang tidak mengatakan itu.
Mereka berdua melewati dini hari dengan saling berbalas suara. Kemudian, setelah pagi menyapa Vano mengakhiri panggilannya.
__Pukul sepuluh pagi, Neva telah sampai di bandara. Dia langsung melangkah menuju tempat dimana Vano menunggu.
Melihat Neva melangkah ke arahnya. Vano segera berdiri dan melambai, memberinya isyarat bahwa dia ada disitu.
Dengan langkah anggun tetapi pasti, Neva menuju Vano. Bibirnya tersenyum manis, jantungnya berdegup.
"Jadi, inikah yang diceritakan oleh Kak Lee, melewati hari-hari yang indah dengan rasa bahagia bersama dengan orang yang kita cintai, melewati hari-hari dengan sapaan semesta tentang cinta. Aku telah menemukan seseorang itu, aku telah memiliki hatinya tapi ini belum sempurna. Tak apa. Aku akan selalu menanti saat sempurna itu tiba."
"Maaf Kak, aku terlambat," ucap Neva. Dia memang tidak ikut dengan Vano. Dia hanya ingin mengantarnya.
"Tak apa sayang, terima kasih sudah mengantar kesini," jawab Vano dengan senyum. Dan dia harus segera berangkat.
"Sudah harus berangkat ya?"
"Aku tiga hari disana," ucap Vano. Dia mendekat dan mengulurkan tangannya. Ia mengusap rambut Neva pelan. Menatap matanya dengan dalam. Ia sungguh mendamba gadis ini, bukan hanya dalam hatinya saja tetapi juga dalam hidupnya.
"Hati-hati," Neva membalas tatapan matanya. Vano mengangguk pelan. Dengan sedikit ragu, Vano mendekatkan wajahnya dan mencium kening Neva dengan segenap hatinya. Sentuhan lembut bibirnya di kening Neva membuat degupan pada jantung mereka semakin menderu, ini bahkan lebih dari genderang perang.
Neva memejamkan mata saat bibir itu menyentuh keningnya. Menggelitik dengan halus dalam hatinya, mengecup setiap sudut-sudut hatinya, begitu indah. Memang ini tanpa ada buaian kata cinta tetapi rasa ini begitu nyata.
"Segeralah kembali, sayang," ujar Neva dengan halus.
Hanya sebuah ucapan panggilan sayang membuat sebongkah hati begitu bahagia, hanya mendengar sebuah ucapan panggilan sayang, membuat indra pendengarannya bagai tuli dan hanya mampu mendengar kata itu saja. Vano melepas kecupannya di kening Neva. Ia merengkuh gadis itu dalam pelukannya.
"Bisa kau ulangi?" pintanya. Neva melingkarkan kedua tangannya dan membalas pelukan Vano.
"Sayang, segeralah kembali," Neva mengulangnya. Vano tersenyum lebar mendengar itu terucap dari mulut manis yang pernah ia rasakan.
"Baik," jawabnya.
____
Catatan Penulis
Mohon maaf lahir dan batin semuanyaa, Sahabat Sebenarnya Cinta πΉ
Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankannya π
Jan lupa like komen ya kesayangannya Nanas π₯° Yang ada poin Vote juga... ππ Luv luv π₯°ππ Terima kasih.