Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Part 74. Tak sengaja


Ilham yang melewati kelas Tiara tanpa sengaja mendengar obrolan kedua gadis itu.


Deg.


"Rupanya benar, Tiara sudah melupakanku


Posisiku di hatinya kini sudah digantikan oleh Zian". gumamnya lirih seraya berlalu dari tempat itu.


Dadanya terasa nyeri.


Ada segumpal luka yang menganga di sana walaupun tak terlihat oleh mata.


Setelah kejadian waktu itu di rumah Nayla, Ilham berasa tak punya muka untuk bertemu dengan Tiara. Merasa jadi pecundang yang tak berdaya oleh keadaan. Hingga untuk sekedar melindungi gadis itupun ia tak sanggup.


Namun rindu yang membuncah di hatinya, memaksanya untuk menemui gadis itu kembali. Sayangnya, sudah tak ada tempatnya di sisi gadis itu.


Zian berhasil merenggutnya walaupun bukan dengan paksaan, tapi karena adanya kesempatan.


" Apakah aku memang ditakdirkan jadi pecundang seperti ini?" tanyanya dalam hati sambil berjalan lemah menuju ke ruang OSIS.


\*\*\*\*\*


Di dalam kelas, Tiara dan Hesti masih asik ngobrol hingga Dhilla akhirnya muncul. Betapa senangnya kedua gadis itu. Serta merta keduanya beranjak memeluk Dhilla yang wajahnya nampak murung.


" Yee akhirnya muncul juga!" seru Hesti heboh banget.


" Ya ampun, kangen banget". tambah Tiara.


" Udah ya meluknya, aku bisa kehabisan napas kalo kayak gini terus". ucap Dhilla lemah.


" Hehehe, sori. Kangen banget abisnya ". elak Tiara.


" Sama, aku juga kangen sama kalian ". Hesti tak mau kalah.


Bel masuk sekolah memekik nyaring.


" Yah bel masuk, belum juga sempat cerita ". Hesti berubah murung.


" Bentar aja ya ceritanya, pas istirahat ". Dhilla tersenyum melihat tingkah sahabatnya yang menggemaskan itu.


" Oke bestie!" ujarnya semangat.


" Walaupun hari ini adalah awal semester genap, bukan berarti bisa bersantai ya. Karena kalian sudah melewati liburan semester ganjil kemarin, sekarang saatnya belajar kembali dengan sungguh-sungguh. Silahkan buka buku Sosiologi halaman 55 !" ujar Pak Faisal.


Brak!


Bunyi buku tebal yang dibanting di atas meja membuat mulut-mulut mereka terkunci,, menciutkan nyali secuil mereka.


Suasana kelas menjadi hening seketika.


" Nggak usah banyak protes. Disuruh guru malah ribut. Kerjakan tugasnya sekarang!" Ujar pak Faisal tegas.Kemudian keluar dari kelas, mungkin untuk menenangkan emosinya yang baru saja melonjak.


Semuanya mulai mengerjakan tugas yang dimaksud pak Faisal tadi.


Tiara dan kedua sahabatnya tak berani bersuara, ketiganya pun mulai mengerjakan soal-soal itu.


Setengah jam kemudian, barulah sebagian siswa selesai mengerjakan. ada juga beberapa siswa yang terlihat masih serius menulis.


Pak Faisal masuk kembali ke dalam kelas.


" Ryan, kumpulkan lembar tugas bagi yang sudah selesai mengerjakan!" titahnya kepada ketua kelas.


" Baik pak !" jawab Ryan seraya bangkit dari duduknya dan mulai berjalan melakukan tugasnya.


" Tiara, mana punya kamu ?" tanyanya saat tiba di tempatnya Tiara.


" Nih, ada". jawab Tiara seraya menyerahkan lembar kertas di tangannya.


Setelah semuanya dikumpulkan, pak Faisal mulai memeriksa semua hasil pekerjaan siswanya.


Awalnya wajahnya terlihat senang, mungkin karena jawaban dari siswanya memuaskan. Tapi mendadak ia memandang heran kertas kesekian yang ada di depannya.


Matanya yang tajam mulai mengamati seluruh siswa satu persatu hingga akhirnya . . .


" Dhilla, sebentar kamu ke ruangan bapak!" ujarnya tegas.


" Hah? kenapa pak?".tanya Hesti heran.


" Kamu nggak perlu tahu Hesti, bukan urusan kamu!" ujar pak Faisal kesal.


Tiara juga heran karena baru kali ini Dhilla dipanggil seperti itu.


\*\*\*\*\*