
Waktu akan tetap berjalan tanpa memperdulikan masa yang telah lalu. Waktu tidak pernah memperdulikan itu, dia akan tetap berputar berganti dan terus berganti mengikuti pergantian siang dan malam. Masa lalu seperti apapun itu, tetap akan selalu ada karena dia adalah bagian dari apa yang terjadi pada kehidupan yang dijalani.
"Terima kasih," ujar Neva pada resepsionis seksi setelah ia sampai di ruangan Vano. Resepsionis seksi itu mengangguk lalu keluar sebentar dan kembali lagi untuk memberi Neva segelas air putih. "Terima kasih," ujar Neva sekali lagi. Resepsionis menjawabnya dengan sopan kemudian, dia pamit untuk keluar.
Neva mengambil segelas air putih yang ada di atas meja lalu menyesapnya.
"Aku sudah tahu jika mereka pernah dekat, aku juga tahu mereka pernah memiliki hubungan yang spesial. Ini .... " Neva menyentuh bagian dadanya dengan pelan, "Kenapa rasanya begitu menusuk," gumamnya. "Aku tidak memiliki rasa ini sebelumnya." Dia kembali mengambil gelas dan meminumnya. Dia menatap kotak makan yang telah ia letakkan di atas meja.
"Apa Kak Yuna juga sering melakukan ini? Mengirim mu makan siang?" Gumamnya serak. Entah kenapa, dadanya terasa semakin sesak. "Huff," Neva meniup rambut yang terjatuh di keningnya. "Bagaimana jika makanan yang ku bawa tidak seenak yang dibawa Kak Yuna?" Tangannya mengulur dan mengambil kotak makan itu. Dia memangkunya dan memperhatikannya dengan pandangan mata yang resah.
Kemudian, dia beranjak dan melangkah, dia mengurungkan niatnya untuk memberikan masakannya pada Vano. Tangannya mengulur untuk meraih gagang pintu tetapi saat itu juga pintu itu terbuka dan memperlihatkan seseorang yang berada di baliknya.
Senyum bahagia langsung menyapanya. Senyuman milik seseorang yang dia rindukan. Dia bergeming, mematung di tempatnya. Hati kecilnya tiba-tiba berbisik, 'Apa aku sungguh ada di dalam hatimu? Apa aku sungguh telah memiliki hatimu, Apakah hanya ada aku atau masih ada dia.'
Vano melangkah masuk dan berdiri ditepat di depannya, "Sayang, kau kesini," ucapnya dengan senyum. Dia tidak menyangka jika Neva sudah ada di ruangannya. Neva mengangguk. "Pantas saja kau tidak membalas pesanku," lanjutnya. Dia memperhatikan Neva yang berdiri mematung dan hanya menatapnya. Dia berpikir jika itu karena Neva terlalu lama menunggunya. "Nona, aku minta maaf," ucapnya. Tangannya mengusap pundak Neva pelan. Namun Neva masih diam dan hanya menatapnya.
"Nona," Vano memperhatikan jarinya. "Lihat ini," pintanya. Kemudian, mata Neva beralih memperhatikan jari Vano. "Kenapa kelima jari ini tidak sama?" Tanyanya. Neva mengerutkan keningnya.
"Kenapa?" Tanyanya. Dia masih memperhatikan jari Vano.
"Karena yang sama itu perasaan ku dan perasaan mu," jawab Vano dengan senyum. Mendengar gombalan itu membuat sudut-sudut bibir Neva terangkat membentuk sebuah senyuman. Kemudian, dia membawa pandangannya pada Vano, menatap wajahnya.
"Dasar raja gombal," ujarnya.
"Bukan raja gombal tapi aku Raja di hatimu," jawab Vano menggombal lagi.
"Aigoo ... lama-lama kau bikin aku gila," ucap Neva.
"Sudah pasti," sahut Vano.
"Berhenti menggombal," Neva langsung menyahutnya.
"Tidak, siapa yang menggombal," jawab Vano. Kemudian, dia mengajak Neva untuk kembali duduk di sofa. "Kenapa tidak mengabari ku dulu jika kau kesini."
"Namanya bukan kejutan dong," jawab Neva. Kemudian dia memperhatikan kotak makan yang dia bawa.
"Waww," Vano menatapnya dengan bahagia. Neva membuka kotak makan itu dengan perlahan.
"Semoga Kakak suka," ucap Neva pelan. Vano mengangguk dan menerimanya.
Tangannya terangkat dan mengusap pipi Neva pelan. "Terima kasih sayang," ucapnya.
Kemudian, dia mulai menyendok dan menyuap kemulutnya. Neva memperhatikannya dengan pandangan yang cemas. Apakah dia suka? Apa dia suka? Suka atau tidak? Bagaimana jika tidak suka? Pikirnya.
"Siapa yang memasak ini?" Tanya Vano dengan kembali menyendok.
Mendapat pertanyaan itu, membuat Neva semakin cemas, dia menunduk, "A- aku," jawabnya gagap.
Vano menyuap lagi dan menoleh ke arah Neva. Dia mengunyah dengan pelan. Kemudian, setelah makanan di mulutnya habis, dia berkata, "Istri idaman. Ini sangat lezat."
Bibir Neva berkedut, dia menahan senyumnya.
"Dasar laki-laki pandai menggombal dan berbohong," ujar Neva. Dia mengangkat wajahnya.
"Aku tidak berbohong," jawab Vano. Kemudian, dia menyendok dan memberikannya pada Neva, "Aaa .... " dia meminta Neva untuk membuka mulutnya. "Kau belum makan siang bukan?"
Menurut, Neva membuka mulutnya dan menerima suapan Vano. Tentu sangat Lezat makan dari tangan seseorang yang membuat jantungnya berdegup. Makan siang dalam satu wadah yang sama dan dengan sendok yang sama. Kemudian, setelah makanannya habis, Vano mengambil gelas yang ada di atas meja. Dia meminumnya. Bibir Neva tersungging memperhatikannya, gelas bekas bibirnya.
"Harus ikan cakalang?" Tanya Neva.
Vano mengangguk, "Ya," jawabnya.
"Kenapa?"
"Karena, cakalang atau seribu tahun lagi aku akan tetap mencintaimu," jawab Vano. Pipi Neva langsung bersemu merah dan kemudian dia tertawa.
"Stop please, aku nggak kuat," ujarnya dengan tawa. Vano ikut tertawa dengan itu. Kemudian, dia beranjak, ia mengambil minuman untuk Neva. Segelas air putih.
***@***
Siang hari di sebuah supermarket di Kota AN tak jauh dari kastil pinggir pantai.
Yuna mengambil bahan-bahan yang ia butuhkan dalam membuat cake. Dia dengan semangat memilih apa saja yang ia inginkan. Sementara Leo dengan patuh membuntutinya dengan mendorong troli belanja.
Yuna tidak hanya membeli bahan-bahan cake, tetapi dia juga menginginkan cemilan.
Dia mengambil kripik kentang semua varian rasa, dan Leo diam-diam mengembalikannya. Yuna tidak memperhatikannya dia masih asik memilih dan memasukkan ke dalam troli begitu saja. Kripik singkong dengan segala varian rasanya. Lagi, Leo diam-diam mengembalikannya.
Dia tahu jika Nyonya akan ngambek jika tahu tentang ini, tapi dia tidak bisa membiarkan Yuna mengkonsumsi ini secara berlebihan. Cukup satu.
"Ummm, apalagi ya?" Yuna berjalan ketempat buah. "Sayang, kau ingin apa?" Tanyanya dan menoleh ke arah Leo.
"Pear, apel, anggur, jeruk," jawab Leo. Jika pertanyaan tentang buah maka dia setuju. Yuna mengangguk, lalu mengambil anggur merah yang sudah dikemas. Pelan, dia menoleh dan meletakkannya di dalam troli tetapi tangannya terhenti ketika melihat cemilan yang ia pilih tidak ada di tempat. Dia langsung membawa pandangannya pada Leo, matanya menatap Leo dengan tajam.
"Dimana cemilan ku?" Tanyanya.
"Aku tidak tahu," jawab Leo dengan santai dan mengalihkan pandangannya. Yuna mengeratkan giginya dengan kesal melihat tingkah Leo yang sama sekali tidak merasa bersalah.
"Apanya yang tidak tahu. Aku jelas-jelas memasukkan ke dalam troli," ucap Yuna.
Dan jawaban Leo masih sama, "Aku tidak tahu," dia mengangkat bahunya lalu mendorong troli untuk menjauh dari Yuna.
"Heiii .... " Yuna mencoba menahannya tetapi Leo dengan keras kepala mengacuhkannya. Leo tetap mendorong troli menjauh dari Yuna. "Tuan Leo berhenti kau," ujar Yuna dengan sedikit mengencangkan suaranya. Tapi Leo masih berjalan. Yuna kesal setengah mati karena Leo mengacuhkannya. "Ya ... tinggalkan saja, jangan menangis jika ada yang merayu ku," ujar Yuna sedikit teriak. Leo tertawa kecil mendengar itu. Yuna selalu memakai kata-kata itu untuk mengancamnya. Dia masih melangkah dengan mendorong troli.
Yuna kesal tapi akhirnya dia melangkah membuntuti Leo. Tapi, kemudian dia berbelok. Dia bersembunyi. "Kau harus mendapat hukuman Tuan suami, siapa yang memberi mu ide untuk mengembalikan cemilan ku? Menyebalkan," Gumam Yuna dengan kesal. Dia diam sejenak lalu sedikit melongokkan kepalanya untuk melihat Leo. Dimana dia? Mata Yuna mencarinya tapi ternyata sudah menghilang. Tidak ada Leo. Dia sedikit maju lagi dan memperhatikan sekitar, tidak ada Leo. Leo sudah menghilang. "Astaga, dimana dia," ujar Yuna bertambah kesal, tetapi tidak, dia tidak kesal. Saat ini, yang ada dalam hatinya malah cemas.
"Gadis cantik," sebuah suara berbisik di belakang telinganya. Suara khas yang serak dan halus, hembusan nafas yang wangi dan hangat. Yuna memejamkan matanya. "Kau mencariku?" bisik suara itu lagi tepat di telinga Yuna. Bahkan bibir pemilik suara itu menyentuh daun telinganya. Jantung Yuna berdegup. Ia membuka matanya.
"Tidak, jangan Ge-Er, kau menyebalkan," jawab Yuna dengan mengerutkan bibirnya. Kemudian, dia melangkah meninggalkan Leo.
"Heiii, tunggu aku," ujar Leo menggodanya. Dia segera menyusul Yuna.
"Jangan mengikuti ku, Tuan menyebalkan," jawab Yuna.
____
Catatan Penulis ( Curhatan π₯° )
Terima kasih untuk semuanya Sahabat Sebenarnya Cinta πΉ Aku padamu π₯°
Jangan lupa Sun Jempolnya ya kesayangan. Like koment. Terima kasih ππ₯°π Nanas cuma punya ucapan terima kasih yang tak terhingga untuk membalas kebaikan sahabat semuanya. Luv luv π₯°π₯°π