
Zian kembali ke rumah dengan senyum puas terukir di wajahnya. Dilihatnya Tiara masih duduk di ruang tengah. Bergegas ia mendekatinya.
" Hesti dan Dhilla kemana Ra ?" dengan santainya dia duduk di sebelah Tiara.
" Eh, sudah pulang kak ? baru saja mereka balik. Oh ya kak, Ara juga pamit pulang ya ". ucap Tiara beruntun seraya bangkit berdiri namun tangannya keburu ditahan Zian hingga memaksanya terduduk kembali.
Matanya melotot ke arah Zian yang lagi kambuh jahilnya.
" Duh galak banget sih nih kucing, santai dikit kenapa ?" goda Zian. Tangannya dengan cepat mengacak lembut rambut gadis itu.
" Apaan sih kak, ganggu aja. Ara tuh mau pulang sekarang biar nggak ditanyain macam-macam di rumah. Lagian nggak enak banget lama - lama di rumah cowok. Gimana tanggapan ortunya kakak nantinya?". Tiara menjelaskan kekhawatiran yang ada di benaknya sekarang.
Zian memegang jidatnya seolah sedang berpikir.
" Gimana ya, em . . . ya udah, kalau keluarga kamu dan ortu gue protes kita langsung nikah aja, gimana?" jawab Zian seraya menatap lekat wajah Tiara yang sudah merona malu.
" Dih ngomongnya enak banget, udah ah nggak usah mimpi yang aneh-aneh deh, Ara masih mau sekolah. Lagian baru juga kelas sepuluh udah diajakin nikah melulu. Tiara pamit ya ". Tiara berdiri dan menjauh dengan cepat dari Zian.
" Woy ! tunggu di situ gue anterin!" teriak Zian yang mendadak panik melihat Tiara hendak pergi. Namun yang dipanggil tak peduli, terus saja melangkah menjauh.
Zian berlari mengejarnya.
Setelah berhasil menyusul, iapun segera menarik tangan Tiara menuju ke arah motornya.
Menyimpan jemari gadis itu dalam genggaman hangatnya. Hingga tak bisa berkutik lagi. Tiara pun hanya bisa pasrah mengikuti Zian dengan langkah gontai.
" Peluk yang erat ya biar nggak jatuh !" ujar Zian setelah keduanya sudah berada di atas motor.
Buk !
Punggung Zian kena gebuk tinju mungilnya Tiara.
" Hahahaha !"
Di depan Zian tertawa senang berhasil menggoda gadis pujaannya.
Ia merasa nyaman setiap kali berada di dekat Tiara. Binar matanya tak bisa memungkiri hal itu.
Ia tahu gadis itu hanya berpura-pura marah kepadanya. Bahkan di saat ia mengumpat pun ia tahu itu kebohongan semata. Gadis itu juga mencintainya sama seperti dirinya.
Motor kesayangan Zian mulai melaju agak kencang meninggalkan jejak debu yang beterbangan di belakangnya.
Menjadi saksi kebersamaan mereka yang entah akan bertahan sampai kapan.
Yang jelas bagi Zian, Tiara adalah sosok yang berhasil meluruhkan dinding es yang selama ini membekukan dirinya. Bersama gadis itu, hidupnya terasa berwarna kini.
Ia tak peduli lagi apa tanggapan orang tuanya nanti. Setuju atau tidak, jika ia nantinya berjodoh dengan gadis imut itu. Pendiriannya sudah tak bisa diubah lagi.
Kedua remaja itu cukup menarik perhatian pengendara lain yang mereka lewati. Tak terkecuali seseorang yang saat ini sedang menepi bersama motor kesayangannya.
Gavin.
" Sepertinya itu Zian, siapa gadis yang bersamanya? apakah gadis itu ?" Dengan bertanya - tanya cowok tampan itu segera menyusul mereka.
Dari semalam ia merasakan gelisah yang luar biasa karena belum mendengar kabar apapun tentang Tiara. Saat inipun ia sedang mencari jejak Tiara namun belum ditemukan juga.
Gadis itu seolah menghilang bersama gelapnya malam.
Tujuannya menyusul Zian hanya untuk memastikan sosok yang tadi bersamanya.
\*\*\*\*\*