Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 390_Akhir Yang Bahagia


Wartawan sudah berjejer di depan gedung resepsi dan berjubel memenuhi ruangan yang memang sengaja disiapkan untuk wawancara. Sekertaris Tuan besar Nugraha yang bertanggung jawab melakukan wawancara.



Ruangan mewah dengan jamuan luar biasa. Dan pastinya souvernir yang tidak biasa. Mereka membagikan bunga mawar kecil dalam kotak berbentuk oval. Apa yang luar biasa dari itu? Dua dari kelopak mawar itu terbuat dari emas murni dengan inisial nama. Ini dibagikan kepada masing-masing tamu undangan dan bahkan kepada awak media. Dan satu unit rumah mewah di kawasan kota T sebagai sovenir doorprize.


Dalam gaun pengantin berwarna putih Neva terlihat begitu cantik dengan tatanan rambut yang indah. Ada buket bunga di tangannya.



Sementara Vano begitu gagah dalam balutan jas berwarna hitam. Keduanya melangkah dengan teratur untuk sampai di tempat pengantin.


Semua tamu undangan berdiri menyambut mereka. Dua host artis dengan luwes memandu acara malam ini. Tamu undangan di bangku masing-masing dengan hidangan yang telah disiapkan. Kebanyakan yang hadir adalah para pejabat dan pembisnis. Hajatan besar dua konglomerat yang bertaburan pembisnis dari berbagai kota bahkan pulau.


Karel datang dengan pacarnya. Dia berada di meja tak jauh dari beberapa artis yang datang.


Setelah Tuan besar Nugraha dan Tuan besar Mahaeswara menyampaikan sambutan, kini saatnya kedua mempelai memotong kue pernikahan.



Kue pernikahan yang amazing.


Kemudian, tamu istimewa yang dinantikan itu hadir. Saat kakinya melangkah semua mata terpana dan tidak menyangka jika seseorang ini hadir dalam pesta ini. Sosok itu adalah ... Giovanni Cathal dan putrinya Edellyn. Ya, beliau datang untuk menghadiri hajatan besar Keluaga dari laki-laki yang menyelamatkan putrinya. Beliau dengan menggandeng Edellyn melangkah untuk menemui Tuan besar Nugraha terlebih dahulu, kemudian kedua pengantin dan pastinya Leo dan Yuna.


"Hi, Edellyn," Yuna menyapa dengan senyum bahagia. Mereka berpelukan. Dan Edellyn langsung menanyakan keberadaan Baby Arai. Perdana menteri bertukar beberapa kata pada Leo. Beliau menanyakan keadaannya, menanyakan apapun tentang Leo. Intinya adalah beliau akan selalu ada untuk Leo jika suatu saat nanti Leo membutuhkan bantuannya.


Banyak para pebisnis dan pejabat yang berbisik dengan takjub. Takjub? Sedikit ada tanda kutip didalamnya. Hmmm mereka akan mulai menjilat dan berlaku sangat manis pada keluarga Nugraha mulai detik ini. Namun dunia tidak sekejam itu, masih ada beberapa yang benar-benar tulus.


Perdana menteri tidak bisa lama-lama di pesta. Setelah ini, beliau ada jamuan dari pemerintah negara I. Yang saat ini sangat-sangat sibuk.


Kemudian, datang seseorang yang menggunakan gaun berwarna merah muda. Dia terlihat cantik dengan tatanan hijab dan bros yang tepat di kepalanya. Dia adalah Kiki. Siapa Kiki? Kiki adalah salah satu readers SC yang berkesempatan datang pada acara ini, undangan yang ia dapatkan hadiah dari Oppa Steven. Wooohh Oppa Steven? Siapa lagi Oppa Steven? Readers yang mengikuti Vote terbanyak dalam mendapatkan undangan ini. Kiki adalah juara kedua.


Kiki berdiri menunggu seseorang yang ia kenal dan tak lama, seseorang itu datang. Ia menggunakan dres berwarna putih dengan payet berkilauan. Dia adalah Eka. Eka? Siapa Eka? Eka adalah salah satu dari empat admin di GC istana Sahabat Sebenarnya Cinta. Dia terpilih sebagai Admin paling bawel dan terrajin.


"Hai, beb. Apa kau sudah lama?" tanya Eka pada Kiki. Dia membenarkan tatanan rambutnya.


"Tidak, aku baru sampai," jawab Kiki. Kemudian, dengan jantung yang berdegup mereka berdua masuk ke dalam gedung dengan di antar pelayan.


"Uhum," Eka berdehem untuk mengurangi rasa groginya. Sementara Kiki sedikit menggosok kedua telapak tangannya karena tiba-tiba menjadi sangat dingin karena grogi berlebihan. Saat kaki mereka berdua masuk ke dalam aula besar itu, mata mereka melebar dengan ketakjuban.


"Nikmat mana yang kau dustakan," gumam Kiki. Kemudian mereka lebih masuk kedalam bergabung bersama dengan yang lain.


"Silahkan ikut dengan saya," ujar pelayan. Dia menunjukkan tempat duduk yang sudah disiapkan untuk Eka dan Kiki.


"Terima kasih," ucap Eka dan Kiki secara bersamaan. Kemudian mereka berdua duduk dengan anggun. Cara duduk anggun yang mereka pelajari selama satu minggu. Mereka berdua menatap kedepan. Kini ... dari jarak yang cukup jauh, sosok itu terlihat. Laki-laki yang mereka berdua kagumi.


"Uuuuhhh My Beibeb," Hati Eka mengharu. Dia meletakkan kedua tangannya di pipi.


"Abang Vano," Kiki menatap dari jauh Vano yang tengah tersenyum melakukan foto bersama undangan yang lain. Beberapa menit, mereka berdua hanya diam membeku dengan degup jantung yang berdebar kencang. Mereka berdua tidak pernah menyangka jika akan bisa bertemu dengan idola mereka secara langsung.


Tiba-tiba, Kiki mengeluarkan tissue dan menyeka matanya yang berair. Pun dengan Eka. Dia segera menyeka air mata harunya sebelum membuat maskaranya luntur.


"Kok aku terharu, ya," ucap Eka.


"Hu'um, sama, Kak," jawab Kiki. Lalu mereka memperhatikan alat makan yang tertata apik di atas meja.


"Waduuuhh, aku lupa mempelajari ini. Alat makan mana yang harus kita pakai lebih dulu, Kak Eka?" tanya Kiki bingung.


Eka mengangkat bahunya, "Aku juga tidak tahu," jawabnya. Kemudian, datang pelayan memberikan menu pembuka. Cake tiramisu kesukaan Vano.


Kiki mengambil sendok makan sebelah kanan, dia masa bodo tentang perlengkapan alat makan ini. Lalu ia menyendok cake dan memakannya. Hummm lumer dan lembut di mulut. Kiki sampai tidak sadar jika cake itu telah habis di piring kecilnya. Dia bahkan ingin nambah. Namun tidak dengan Eka, dia diam saja. Kemudian, setelah cake itu habis. Seorang pelayan datang lagi untuk mengambil piring bekas dan menggantinya dengan menu selanjutnya.


Soupe sirip ikan hiu. Itu yang dikatakan pelayanan saat Kiki menanyakan nama hidangan yang baru saja tersaji. Sup sirip hiu?!! What? Mata Kiki dan Eka melotot. Emang ada gitu sup model begini? Batin Kiki. Kemudian, ia mengambil sendok makan yang ukurannya lebih besar. Sekali lagi, dia masa bodo dengan alat-alat makan ini. Dan ... mulutnya langsung termanjakan oleh ledakan rasa yang memanjakan lidahnya.


"Ouhhh lezatnya," ucapnya. Kemudian dia menoleh ke arah Eka yang sedari tadi diam. "Kak Eka kenapa diam saja?" tanyanya. "Ini sangat lezat, apa Kak Eka tidak ingin mencobanya?"


Eka menggeleng, "Aku takut cemong dan lipstikku luntur sebelum bertemu Bebeb Vano," jawab Eka yang membuat Kiki mengangguk-angguk.


"Jangan menyesal ya karena tidak mau mencicipi hidangan istimewa disini," kata Kiki kemudian. Dia dengan semangat menghabiskan semangkuk kecil sup sirip ikan hiu. Dia penasaran, hidangan apa lagi setelah ini. Kemudian, setelah itu habis. Datang lagi menu Ifu Mie.


"Bisa nggak sih, ini makanan dibawa pulang?" tanya Eka gemas karena dari tadi dia tidak mau makan.


"Hahaaa ... tidak bisa," jawab Kiki. "Makan sekarang atau menyesal," lanjutnya.


"Aku galau," ucap Eka dengan muram. Dia tidak ingin makan sebelum bisa bertemu dengan Vano. "Selain My Bebeb Vano, aku juga pengen ketemu Nanas," ujar Eka. Kiki menghentikan kunyahan dan menoleh ke arah Eka.


"Aku juga," jawab Kiki semangat.


"Semoga kita bisa bertemu dengan Nanas malam ini disini," ujar Eka dengan semangat.


"Aku maunya nyata, Kak. Mau cubit-cubit dia gitu. Umm mau minta foto bareng juga. Hahaaa."


"Hahaa iya, aku juga mau cubit-cubit dia," sambung Eka.


Kemudian, setelah hidangan itu habis. Datang lagi sate buah dengan saus coklat.


"Wooohhh astaga ...." Kiki berseru pelan. Eka masih diam saja tidak mau makan. Namun dalam hati ia ngiler. Kemudian, setelah hidangan itu habis. Datang menu terakhir, ice cream fanila kesukaan Neva.


Setelah semua hidangan tersaji. Kini pelayan memberi hidangan penutup. Satu souvernir cantik untuk mereka. Kemudian, pelayanan mempersilahkan jika ingin bertemu dengan kedua mempelai.


"Aduuhh, aku deg-degan, bagaimana ini," Eka memegangi dadanya yang berdegup cepat. Sementara Kiki menunduk melafalkan do'a. "Kamu ngapain Beb?" tanya Eka heran.


"Membaca do'a," jawab Kiki disela-sela do'anya.


"Do'a?" Eka bertanya lagi.


"Hu'um, do'a agar kuat akan tatapan mata indah Abang Vano," jawab Kiki.


Eka terkekeh, "Kalau do'a mau makan boleh nggak sih?" tanyanya.


"Kok do'a mau makan?"


"Rasanya aku mau makan Beibeb Vano saja, huwaaa ...." Eka mulai berkhayal macam-macam bersama Vano.


Sementara diluar sana. Wartawan riuh di luar karena kehadiran seseorang. Seorang yang pernah dikabarkan dekat dengan Neva. Raizel. Dia melangkah melewati karpet dengan senyum lebar dan melambaikan tangan pada awak media.


"Raizel, yang sabar ya," seru salah satu awak media. Raizel mengacungkan jempolnya dengan senyum lebar. Dia masuk dengan diantar pelayan.


Suasana langsung heboh saat artis tampan itu masuk.


"Raizel, Raizel," teriak beberapa remaja. Penjagaan sangat ketat. Raizel di kawal dua asisten yang memang disiapkan tuan rumah untuk tamu-tamu istimewa.


"Aaa ada Raizel," seru Kiki dan Eka secara bersamaan. Mereka berdua bertepuk tangan pelan. Dan langsung memperhatikan Raizel yang sudah duduk di kursi yang telah disiapkan.


"Beib, ayo kita selfie," ajak Eka. Dia mengeluarkan ponselnya dan kemudian melakukan selfie dengan Kiki. Dia mengarahkan kamera ponselnya pada Raizel dan ke segala arah. Kemudian setelah itu mereka kembali antri untuk bisa bertemu dengan mempelai. Jantungnya berdegup dengan kencang. Dan kini ... tibalah saatnya mereka bertatap muka dengan De Vano Mahaeswara yang selama ini mereka idolakan. Mata dan hati mereka meleleh secara bersamaan menatap Vano. Mereka berdua diam bak patung dengan mata yang tidak dibiarkan untuk berkedip.


Vano menyapa mereka berdua dengan senyum.


"My Beibeb," Eka menggumam dengan tidak sadar.


"Abang Vano," Kiki pun sama.


"Terima kasih sudah datang," ucap Vano dengan senyum. Suara halus yang menghangatkan hati. Eka dan Kiki rasanya ingin pingsan dalam keindahan mendenger Vano menyapa. Beberapa menit mereka berdua hanya mampu mematung memperhatikan wajah tampan Vano dari jarak yang dekat. Hingga sebuah tepukan dari tamu lain menyadarkan mereka.


"Tuan muda Vano, selamat ya atas pernikahanmu dan Neva," ucap Eka dengan gemetar karena grogi setegah mati. "Selamat menempuh hidup baru, meskipun hati aku sakit teramat sakit tapi aku rela kamu bersanding dengan Neva. Semoga kamu bahagia selalu dan segera punya momongan," lanjutnya. Tangannya dingin.


"Terima kasih, Eka," ucap Vano.


Eka mengangguk samar, "Ku tunggu dudamu, Bang," ucapnya dalam hati. Kemudian, dia melangkah maju dan memberi ucapan selamat pada Neva.


Kemudian giliran Kiki, "Selamat buat Tuan muda Vano dan juga Nona Neva, semoga kalian langgeng sampe maut memisahkan," ucap Kiki penuh haru. Dia menatap Vano dan Neva secara bergantian. Jantungnya berdegup dengan kencang. Telapak tangannya banjir keringat dingin.


"Aamiin, terima kasih, Kiki," ucap Vano dan Neva bersamaan.


Kiki mengangguk pelan, "Kisah cintamu sungguh bikin baper dan juga iri para fansmu termasuk aku, meskipun awalnya rumit tapi berakhir indah. Semoga aku dapet laki laki indah seperti Tuan muda. Aamiin," lanjutnya.


"Aamiin," Vano mengamini. Kemudian Kiki melangkah maju tetapi kemudian dia ingat jika ada salam yang harus ia sampaikan. "Tuan muda, ada salam diri Oppa, titip salam juga buat Abang Leo dan Yuna," ucap Kiki.


"Baik, nanti akan ku sampaikan. Dan salam kembali buat oppa," ucap Vano. "Sekali lagi, terima kasih atas kehadiran kalian."


"Sama-sama," jawab Kiki dan Eka berbarengan. Kemudian, Kiki melangkah maju dan memberi selamat pada Neva. Eka dan Kiki melangkah maju bersama memberi salam pada Tuan besar dan Nyonya besar Nugraha.


Kemudian dengan berat hati mereka menjauh dari Vano. Antrian begitu panjang, hingga mereka lupa untuk berfoto dengan kedua mempelai. Namun mereka mengambil foto Vano dan Neva dari kejauhan.


"Abang Leo dan Yuna dimana ya?" Eka dan Kiki celingukan mencari sosok Leo. Tapi tidak ketemu. Leo berada di meja depan tengah berbincang dengan Ayah dan Karel.


Dan dengan berat hati, Eka dan Kiki meninggalkan gedung mewah itu.


Raizel beranjak dari duduknya dan berjalan menuju pelaminan. Dengan memegangi dadanya yang terasa nyeri. Dia mencoba untuk tersenyum.


"Selamat untuk kalian berdua," ucap Raizel dengan wajah muram yang ia paksakan untuk tetap tersenyum.


"Terima kasih, Raizel," jawab Neva dan Vano bersama.


"Kenapa datang sendiri? Kemana pacarmu?" tanya Neva.


"Pacarku sedang diatas pelaminan bersama orang lain," jawab Raizel masam. "Menyedihkan bukan?"


"Raizel, kau pasti akan mendapatkan wanita yang jauuuh lebih baik dariku," hibur Neva.


"Hmm, semoga," jawab Raizel tak yakin.


"Semangat Bro," sambung Vano memberi semangat.


"Ok, thanks," jawab Raizel.


Arnis berhalangan hadir hari ini, dia tengah berada di luar negeri.


Kemudian, hadir seseorang. Dia melangkah pelan dengan hati yang sudah mengharu sedari kemarin. Seperti tamu yang sudah-sudah, ia diantar oleh pelayan pada mejanya. Namun dengan sopan ia menolak untuk duduk. Kemudian, ia membawa langkahnya ke pelaminan.


"Hai," Vano berseru saat tahu siapa yang datang. Pun juga dengan Neva. Mama Nugraha dan Mama Mahaeswara bahkan langsung ikut mendekat. Pun dengan Yuna dan Leo disana.


"Nanas," seru Yuna.


"Selamat malam," sapa Nanas dengan senyum pada semuanya. Mereka menjawabnya dengan hampir bersamaan. Kini Tuan besar Nugraha dan Tuan besar Mahaeswara juga ikut mendekat.


Detik demi detik terlewati, waktu semakin larut.


"Sayang apa kau lelah?" tanya Vano. Dia memeluk pinggang Neva.


"Tidak, ini menyenangkan," jawab Neva. Kemudian lampu mulai meredup. Terdengar alunan lagu Nothing Gonna Change My Love For You milik Westlife.


"If i had to live my life without you near me,"


(Jika aku harus jalani hidup tanpamu disisiku)


The days would all be empty


(Hari-hari ku โ€˜kan terasa hampa)."


Leo melangkah menuju Neva dan memberikan tangannya pada adiknya. Tangan mereka bertemu. Dan Leo meminta izin untuk membawanya ke tengah aula. Vano mengangguk dengan senyum.


"The nights would seem so long


(Malam-malam ku pun โ€˜kan terasa membosankan)


With you I see forever oh so clearly


(Bersamamu ku lihat keabadian oh begitu jelas)"


"Selamat gadis kecil," ucap Leo. Neva mengangguk. Mereka menggerakkan kaki dan tubuh dengan anggun.


"Terima kasih untuk semuanya, Kak," Neva menatap kakaknya.


"Teruslah bahagia," Leo menunduk dan membuat kecupan di kening adiknya.


"Pasti, Kak," jawab Neva.


Yuna berdansa dengan Ayah. Mereka saling melepas rindu.


Tuan besar dan Nyonya besar Nugraha. Tuan besar dan Nyonya besar Mahaeswara. Dimas dan Nora.


Leo kemudian memutar tangan Neva untuk memberikannya pada Vano. Vano membungkukkan badan pada Leo. Dan dengan senyum bahagia dia menyambut tangan Neva. Memeluk pinggang wanita yang telah sah menjadi istrinya, pendamping hidupnya. Mereka saling bertukar pandangan dengan indah.


"I might have been in love before


(Mungkin saja aku pernah jatuh cinta sebelumnya)


But it never felt this strong


(Namun tak pernah merasa sekuat ini)


Our dreams are young and we both know


(Impian kita baru saja terbentuk dan kita berdua sama-sama tahu)


Theyโ€™ll take us where we want to go


(Impian itu โ€˜kan membawa kita kemanapun kita ingin melangkah)"


"Kau sangat cantik sayang," puji Vano.


"Kau juga sangat tampan my king," jawab Neva. Mereka saling membalas senyum. Hidung mereka bertemu.


"Hold me now, touch me now


(Kini peluklah aku, sentuhlah aku)


I donโ€™t wanna live without you


(Ku tak ingin jalani hidup tanpamu)."


Ayah memutar tangan Yuna dan memberikannya pada Leo. Leo membungkukkan badan pada Ayah. Kemudian, ia menyambut tangan istri cantiknya. Tangan mereka saling menggenggam. Langkah kaki dan tubuh mereka bergerak dengan seirama.


"Kita ke Kota K setelah ini," ucap Leo. Dia menunduk dan menempelkan keningnya di kening Yuna.


"Huum. Sepertinya besok adalah hari yang tepat. Kita bareng Ayah kesana," jawab Yuna. Leo mengangguk.


"Nothingโ€™s gonna change my love for you


(Tiada yang mampu mengubah cintaku untukmu)


You oughta know by now


(Kini kau harus tahu)


How much i love you


(Betapa aku mencintaimu)


Mereka, Leo, Yuna. Vano, Neva. Saling mendekap penuh cinta dan bahagia yang luar biasa.


"The world may change my whole life through


(Dunia mungkin saja mengubah seluruh hidupku)


But nothingโ€™s gonna change my love for you


(Namun tiada yang mampu mengubah cintaku untuk mu)


If the road ahead is not so easy


(Jika jalan hidup tak begitu mudah)


Our love will lead the way for us


(Cinta kita โ€˜kan menuntun jalan untuk kita)"



"Hold me now, touch me now


(Kini peluklah aku, sentuhlah aku)


I donโ€™t wanna live without you


(Ku tak ingin jalani hidup tanpamu)."


Pesta telah usai. Tamu undangan perlahan pamit pada tuan rumah. Kini ... kisah itu menjadi sangat bahagia. Tentu. Sebuah akhir haruslah berakhir dengan sangat bahagia. Senyum berseri dengan hati yang mencinta.


Nanas menghampiri mereka semua dan pamit.


"Apa ada sesuatu?" tanya Yuna. "Kau terlihat sangat sedih."


Nanas menatap Yuna lalu Leo, Vano, Neva, Raizel, Karel dan semuanya, satu persatu dengan haru dan kesedihan yang luar biasa dalam hatinya.


"Aku pamit," ucapnya tercekat. "Izinkan aku berterima kasih pada kalian semua. Tokoh luar biasa yang menemani nanas lebih dari setahun ini."


Semuanya menjadi diam. Mereka tahu kemana arah pembicaraan Nanas.


"Aku mencintai kalian semua. Namun, selalu ada akhir dalam setiap perjalanan. Akhir indah yang semua orang impikan. Sedih karena pada akhirnya menemui akhir? Iya, tentu saja, sangat, sangat sedih."


Tangan mereka mulai saling menggenggam, merapatkan jemari untuk saling menguatkan. Telah lama kita bersama, telah lama kita melewati hari demi hari dengan kisah ini. Maka inilah akhir bahagia yang diimpikan.


Genggaman itu berubah menjadi pelukan.


"Aku pasti akan sangat merindukan kalian, pasti," Nanas menunduk. "Sekali lagi terima kasih untuk semuanya," lanjutnya.


Mereka mengangguk dengan senyum.


Leo mengulurkan tangannya, menyentuh pundak nanas pelan.


"Tidak ada jalan yang tidak berujung. Aku tahu bahwa apapun yang ada di dunia ini memiliki batas. Tak apa, aku mengerti. Mari akhiri ini dengan bahagia, menjadikan cinta sebagai dasar untuk selalu menekan ego pada diri. Sebenarnya Cinta adalah Cinta yang tumbuh tanpa paksaan, ia tumbuh oleh paduan panjang dan jalan terjal."


Senyum bahagia menghiasi wajah mereka. Kemudian, mereka saling menggenggam lagi.


Dan inilah akhir dari Sebenarnya Cinta.


Sebenarnya Cinta By. F.A queen.



END


____________________


Catatan Penulis ๐Ÿฅฐ๐Ÿ™


๐Ÿฅบ๐Ÿฅบ๐Ÿฅบ๐Ÿฅบ๐Ÿฅบ Terima kasih semuanya yang sudah menemani Nanas selama ini. Terima kasih udah begitu suka dan setia dengan kisah yang nanas tulis. Terima kasih untuk cinta dan dukungan kalian selama ini. Terima kasih untuk semua, segala dan seluruhnya pada sahabat semuanya.


Dan aku minta maaf jika dalam kisah ini ada yang tidak sesuai dengan apa yang teman-teman harapan. Aku minta maaf jika banyak sekali kesalahan selama aku menulis ini. Maaf jika kadang aku bikin kesal, maaf tidak bisa membalas komentar teman-teman satu persatu.


Setelah ini, mungkin tak ada lagi hati yang bernyanyi dengan sapaan indah dari kisah ini. Tidak, mungkin ini memang akhir dan kita berpisah tapi kisah ini selalu ada dihatimu.


Ingatlah bahwa ada satu kisah yang pernah kau baca dariku. Aku bahagia kenal teman-teman semuanya.


Ambil hikmah dari kisah ini, buang yang buruk dari kisah ini. Aku manusia yang tak lepas dari salah, lupa dan dosa ๐Ÿ™๐Ÿฅบ


Salam sayang dari Author Sebenarnya Cinta ๐Ÿ’–


Yang biasanya jarang like, yang biasanya jarang komentar. Yuukk ... berikan like dan komentarmu ๐Ÿฅฐ๐Ÿ™ Like komen dan Vote. Terima kasih.


Sekali lagi. Terima kasih dan maaf untuk semuanya ๐Ÿ™


Tangerang, 11 Oktober 2020


END END