
Leo lebih dulu turun kebawah untuk menyambut mamanya. Sementara Yuna masih sibuk menutupi bekas gigitan Leo pada lehernya. Kemudian, setelah dirasa sempurna dalam menyembunyikan tanda merah, Yuna turun kebawah.
"Selamat malam Ma," sapa Yuna ramah pada Mama. Dia mencium pipi kanan dan kiri mama mertuanya.
"Malam sayang," jawab Mama.
Yuna duduk di samping Leo. Dia mengambil nasi goreng dan memberi suapan pada Leo. Mereka berdua saling bertukar pandangan, tersenyum lucu karena mengingat kegagalan beberapa kali. Saling bertukar pandangan dengan masih menyimpan hasrat dalam diri.
Beberapa menit kemudian, Baby Arai bangun. Nyonya besar Nugraha langsung mengambilnya dan memangkunya. Menciumi pipi cucunya dengan gemas.
"Tau kalau Omanya kesini ya, hmmm hmm," ujar beliau dengan masih mengecup pipi baby Arai.
Mereka bertiga berbincang hingga di ruang tengah. Yuna menyandarkan kepalanya di bahu Leo, tangannya memeluk perut Leo.
Mereka bertiga membicarakan apapun, hingga pada pembahasan bagaimana pertama kali Leo bertemu dengan Yuna. Jiwa kekepoan Mama keluar.
"Dia gadis super cerewet, aku bilang bibirnya mirip bebek. Kwek, Kwek," Leo menirukan suara bebek untuk meledek Yuna. Yuna langsung mendongak memelototinya. Leo tertawa kecil mendapat pelototan itu, mata burung hantu, batinnya. Tangannya terangkat dan mencubit halus bibir Yuna.
"Sebenarnya dia yang tidak tahu aturan Ma," Yuna mengadu. Dia menatap Mama.
"Dia memang orang yang tidak sabaran," jawab Mama. "Hmm tidak apa-apa, omelin saja," lanjut Mama. Yess. Yuna bersorak karena mendapat pembelaan dari Mama. Leo terkekeh. Dia memeluk Yuna dan menunduk untuk mencium rambutnya. Yuna bercerita pada Mama jika setelah Leo jadi cowok menyebalkan, kemudian Leo datang dan menjadi pahlawan. Mereka bertiga asik bercerita.
"Ayo main ke rumah Ayah, Ma," ujar Yuna halus. Dia menatap Mama.
Mama tersenyum, "Nanti akan Mama bicarakan dengan Papa ya sayang. Kita cari waktu yang tepat," jawab beliau. Yuna mengangguk.
Tak lama dia menguap. Tangannya semakin erat memeluk Leo. Yuna tidak enak jika harus pamit terlebih dahulu untuk tidur, jadi dia menahan kantuknya. Namun, selanjutnya dia tidak tahu apa yang terjadi. Pada pukul empat, dia terbangun dan sudah ada di ranjang bersama Leo.
Yuna menatap Leo yang terpejam, matanya dipenuhi kelembutan menyaksikan wajah halus Leo. Yuna mendekatkan wajahnya lalu mencium kening Leo. Kemudian dia memeluknya lagi.
Keesokan paginya, Leo berangkat kerja seperti biasa. Sementara Yuna di rumah bersama mama. Mereka berdua berencana untuk mengunjungi salon baby spa.
Siang harinya, Neva menyusul ke rumah Leo. Dari kampus, dia langsung kerumah kakaknya. Yuna bahagia dengan ini, dia selalu suka ketika rumahnya mendapat kunjungan.
Malam harinya, setelah mereka makan malam. Leo duduk di sofa di ruang tengah. Kakinya menyilang, pandangan matanya lurus kedepan memperhatikan televisi. Mama dan Yuna berada di kamar Baby Arai saat ini. Neva yang baru saja keluar dari kamar keponakannya, langsung duduk di samping Leo.
"Kak, ganti dong," katanya setelah memperhatikan siaran TV yang Leo saksikan. "Memangnya kak Lee tidak capek. Pagi sampai sore bahkan kadang sampai malam bekerja, eh di rumah nonton berita bisnis," komentar Neva.
Leo menoleh ke arahnya. "Apa yang harus ditonton selain berita bisnis?"
"Sinetron azab," jawab Neva cepat. Dia tertawa kecil. Awalnya, Neva tidak mengerti bagaimana sinetron azab itu, dia tidak pernah menyaksikannya tapi meme di sosial media membuatnya penasaran, hingga pada akhirnya dia memutuskan untuk menonton sekali acara itu.
Leo mengerutkan alisnya, "Sinetron azab?" tanyanya. Neva mengangguk dengan masih tertawa kecil.
"Hahaaa lupakan, aku mengerjai mu. Jadi ada sinetron yang isinya kebanyakan antagonis dan ya ... begitulah," jelas Neva. .
"Bagaimana kuliahmu?" tanya Leo.
"Baik-baik saja. Aman," jawab Neva. Rasanya dia sangat lama tidak berbincang dengan kakaknya. Neva menggeser duduknya dan dengan manja merangkul lengan Leo, dia menyandarkan kepalanya di bahu Leo. "Kak Lee," panggilnya.
"Hmm."
"Aku menyayangimu," ucap Neva.
Leo terkekeh, "Tapi aku tidak," jawabnya.
"Tidak salah," sahut Neva cepat yang membuat Leo tertawa.
"Tidak menyayangimu," Leo menyahut lagi.
"Tidak menyayangi ku dengan sedikit tetapi sangat banyak," sahut Neva.
"Hmm, tentu saja," Neva menjawab dengan sombong. Namun kemudian dia menjadi serius.
"Kak Lee," panggilannya.
"Hmm."
"Bagaimana perasaan mu pada Kak Yuna setelah kalian menikah lalu memiliki anak. Apa perasan Kakak masih utuh, atau malah tergerus karena seringnya bersama hingga ada rasa jenuh dihati," tanya Neva.
"Kenapa kau tanyakan itu, bukankah biasanya kau selalu bisa menebak hatiku," jawab Leo.
Neva memukul lengan Leo. Dia ingin jawaban langsung, bukan hanya tebakan.
"Okey. Kakak ku yang paling tampan cinta mati dengan Kak Yuna," jawab Neva kencang. "Apa kau puas Tuan muda?"
Leo terkekeh. Dia mengacak-acak rambut Neva.
"Kau khawatir Vano tidak mencintai mu lagi ketika kalian sudah menikah?"
Neva mengangguk. "Sebenarnya bukan ketakutan yang berlebihan seperti itu juga. Hanya saja, aku takut cintanya berkurang setelah kita bersama dalam satu atap," jelas Neva. "Bagaimana jika rasa cintanya terkikis, bagaimana jika dia tidak perhatian lagi seperti saat kita masih pacaran, bagaimana jika dia tiba-tiba dia berubah padaku."
"Itu tergantung bagaimana kau merawat dan menjaga hatinya. Bagaimana kalian berdua saling memahami dan menjaga perasaan kalian masing-masing. Tidak ada kata jenuh untuk selalu jatuh cinta pada seseorang yang namanya memenuhi hati kita. Kau bahkan akan merasa jatuh cinta setiap hari," jelas Leo dengan perhatian. Neva mengangguk. Kemudian, ponselnya berdering, panggilan masuk dari Vano. Neva melepaskan lengan Leo dan mengambil ponsel miliknya diatas meja. Dia dan Leo saling menatap.
"Yang lagi di omongin," ujar Neva dengan senyum lebar.
"Ya," jawab Neva setelah terhubung.
"Sayang, ku jemput sekarang ya. Ganti jalan-jalan kita yang waktu itu gagal," ucap Vano dalam sambungan teleponnya.
"Aku ada di rumah Kak Lee. Jemput aku kesini ya," jawab Neva.
"Baik. Aku jalan sekarang."
"Menunggu mu, hati-hati sayang," ucap Neva dengan perhatian dan suara yang lembut, kemudian dia memutus panggilan. Leo tertawa terbahak-bahak mendengar itu. Adiknya yang hobi berteriak dan super manja bisa begitu halus dan lembut.
"Apaan. Kenapa kau tertawa? Kakak jelek," Neva meletakkan ponselnya kembali dan memukul Leo. Sementara Leo masih tertawa. "Jangan tertawa ...." Neva berteriak meminta Leo untuk tidak tertawa. Dia malu setengah mati saat melihat Leo yang menertawakannya.
"Hati-hati sayang," Leo menirukan suara Neva dengan kemayu. Neva semakin memukulinya.
"Jangan meledeeeeeek," teriak Neva lagi. Dan Leo semakin bersemangat menggodanya, dia menurunkan ucapan Neva lagi.
"Mama ... Kak Lee jahil," Neva berteriak kencang mengadu pada Mamanya.
"Dia pandai menggoda Vano Ma," sahut Leo dengan berteriak juga.
"Menggoda apanya? Fitnah ... Kakak fitnah. Aku hanya menyuruhnya hati-hati," Neva memelototi Leo. Dia menyiapkan tinjunya.
Begitulah mereka berdua, Leo J dan Neva D terkadang sifat lucu mereka keluar, saling bercanda dan saling tertawa.
Setelah selesai berkelahi, Neva mengambil minuman. Lalu kembali duduk di samping Leo.
"Doubel date yuk," ajak Neva pada Leo. Dia menatap kakaknya.
________
Catatan Penulis π₯°
Doubel date jangan?? π€ Terima atau tolak?
Jangan lupa like komen ya kawan tersayang π₯° Padamu kesayangan nanas π₯°π Luv luv.