
***@***
Pagi yang sama di kota K.
Yuna keluar bersama Adel. Ayah tentu mengizinkannya, itu karena sang menantu sudah meminta izin padanya untuk membebaskan Yuna kemanapun yang dia inginkan.
Mereka bermain di salah satu mall terbesar di kota K. Yuna mengisi kartu permainannya dengan nominal yang gila, sepuluh juta hanya untuk bermain permainan. Dia mengisi dua kartu, satu untuknya dan satu lagi untuk Adel. Ini bukan seperti Yuna yang biasanya sangat perhitungan untuk hal-hal semacam ini.
"Ayo, kita bersenang-senang...," Yuna berteriak dengan semangat memamerkan kartu permainannya pada Adel.
"Siaaappp," jawab Adel tak kalah semangat.
Kemudian, mereka langsung bermain, dari street basketball, dance revolution, hockey meja, time crisis dan capitan boneka. Yuna mencoba mengambil boneka terbesar yang ada di kotak tapi hingga permainan ke tiga puluh, dia tidak berhasil mengambilnya. Itu membuatnya terus berteriak karena kesal, capitan boneka membuatnya sangat kesal. Dia bahkan tidak memberi kesempatan pada orang lain untuk ikut menikmati permainan, orang-orang hanya memperhatikannya yang terus bersemangat untuk mengambil boneka.
Hingga, capitan ke lima puluh, akhirnya dia bisa mengambil boneka yang dia incar dari tadi. Yess... kali ini dia berteriak senang. Dia memainkan semua permainan yang ada dan akan mengulanginya jika permainan itu menarik untuknya, hingga saldo dalam kartu permainannya habis.
"Hai...," Yuna menyapa gadis kecil yang berdiri sendirian di samping permainan Animal kaiser, entah kemana orang tuanya. "Ini untuk mu," dia memberikan boneka besarnya pada gadis kecil itu, boneka yang dia dapatkan dengan penuh perjuangan.
"Terima kasih...," gadis kecil itu menerimanya dengan senang hati. Benekanya lebih besar dari tinggi tubuhnya. "Tapi kakak bukan penculikkan?" tanyanya sangat polos. Yuna tertawa kecil mendengarnya.
"Kakak ini adalah penculik anak-anak kau tahu...," Adel menakutinya.
"Aaaaaa.... penciliiiik," gadis kecil itu langsung berteriak. Semua orang langsung menoleh ke arah mereka.
"Kabuur...," Yuna menarik lengan Adel. Mereka segera berlari dan security langsung mengejar mereka. Mereka berlari dengan sangat bahagia meskipun pada akhirnya mereka berakhir di kantor keamanan mall.
Yuna dan Adel dengan tenang menjelaskan apa yang terjadi sesungguhnya, hingga tidak ada kesalah pahaman.
Seseorang terus saja memperhatikan mereka dari samping, terlebih kepada Yuna. Bibirnya terus melengkung membentuk senyuman.
"Jadi...," Yuna menoleh pada seseorang itu. Mendapat pandangan langsung dari Yuna, membuat hati seseorang itu menjadi meleleh. 'Bidadari dari mana ini... dia sangat cantik dengan aura yang memikat' batinnya.
"Ini untuk anda, orang tua gadis kecil cantik ini. Tolong lebih hati-hati dalam mengawasinya. Bagaimana jika aku benar-benar penculik? Dan menculik putri anda?"
"Aku bahkan tidak keberatan jika Nona benar-benar menculiknya," jawab seseorang itu tak melepas pandangannya. Yuna dan Adel saling berpandangan. Orang tua gila... batinnya.
"Kakak... aku tidak punya Mama, Mama ku pergi jauuuhh," si gadis kecil berucap dalam pangkuan Papanya.
Yuna memperhatikan laki-laki di depannya, wajahnya bersih dengan sedikit kumis tipis, dan punya postur tubuh yang bagus. Dia cukup tampan untuk ukuran seorang Papa, mungkin dia yang disebut DuRen. Yuna melihat geli laki-laki ini, sedari tadi dia memperhatikan Yuna dan bahkan hampir tidak membiarkan matanya berkedip.
"Selamat siang Om... kami pamit," Yuna berucap dengan sopan dan segera menarik Adel untuk segera pergi.
"Ah... Nona, tunggu," laki-laki itu menahan Yuna. Dia kemudian berdiri dan mengeluarkan kartu namanya. "Aku berterima kasih untuk ini," ujarnya sambil melirik boneka besar yang dipeluk putrinya. "Jika ada waktu, mari bertemu lagi. Ini kartu nama saya," ucapnya sambil memberikan kartu namanya pada Yuna. Yuna menolaknya dengan sopan.
"Maaf om... saya sudah memiliki suami, permisi," Yuna segera menarik Adel dan berjalan degan cepat keluar dari Mall. Adel tertawa lepas setelah berada diluar Mall.
"Apa yang kau tertawakan?" Yuna bertanya.
"Aku bisa menebak, jika Kakak tadi naksir kamu. Hahhaaa kau pandai membuatnya down dengan memanggilnya Om. Hahaaahaaa padahal dia terlihat masih sangat muda."
"Menyebalkaaan... matanya bahkan terus menatap ku. Hiiii ngeri," Yuna bergidik.
"Pantas saja Paman mengurung mu di kastil bak Rapunzel. Jika kau dibiarkan berkeliaran... maka kau pasti akan mengguncang dunia hahhaaa...,"
"Tukang lebay kumat..., dasar lebay" Yuna menggelengkan kepalanya dan tertawa.
Kemudian, mereka ketempat karaoke terkenal dan termahal di kota K.
"Uhum...," Yuna berdehem sebelum menarik suaranya. Dia sedikit menggoyangkan badannya dan bertepuk tangan mengikuti irama. "Ku rasakan pudar dalam hati ku rasa cinta yang ada untuk diri mu, ku lelah dengan semua yang ada, inginku lepas semua. Setan dalam hati ikut bicara bagaimana kalau ku selingkuh saja, ku punya banyak teman lelaki sepertinya ku kan bahagia,"* Yuna bernyanyi dengan suaranya yang power, dia bergaya seperti lagu yang dia bawakan.
"Waww kereeen...," Adel bertepuk tangan untuk Yuna. Yuna tersenyum datar dan duduk di sebelah Adel, dia menyeruput minumannya, kemudian mengambil Hp dari tas miliknya, dia mencoba menekan on pada Hpnya. Ada ribuan pesan dari Leo dan ada ribuan pesan juga dari Vano. Adel memperhatikan Yuna dengan diam.
Yuna dengan pasti menekan tombol hapus pada semua pesan Leo, dia bahkan langsung mem-blok nomornya. Namun, dia tidak melakukan itu pada Vano. Dia memang tidak membaca secara keseluruhan isi pesan Vano, namun dia membalasnya. "Aku baik-baik saja kawan. Terima kasih sudah mencemaskan ku," send.
Kemudian, dia kembali menonaktifkan Hpnyam Dia kembali berdiri dan bernyanyi lagi.
Setelah dari tempat karaoke, mereka lalu ke alun-alun kota, membeli segala sesuatu yang manis-manis.
"Hei... ada mangga. Ayo kita beli mangga." Yuna segera menarik Adel dan segera membeli semua mangga yang ada. Dia memberi dua kali lipat dari harga mangga yang seharusnya dia bayar.
"Pak... aku ingin mengupasnya. Bisakah bapak meminjamkan pisau untuk ku?" Yuna meminjam pisau dengan sopan, tentu penjual mangga itu dengan senang hati meminjaminya pisau.
Yuna lalu segera mengupas mangga dengan cepat. Satu, dua, empat, enam, sepuluh, dan lima belas buah mangga dia kupas, hingga membuat tangannya menjadi licin dan pisau tajam itu menggores jari telunjuknya, berdarah dan perih. Dia tertawa kecil dengan itu, dia bahkan merasa sangat puas.
"Yuna hentikan," Adel merebut pisau itu dan menarik Yuna. Dia segera mencuci tangan Yuna, ia sudah menyiapkan air mineral untuknya.
Kemudian, Adel mengajaknya duduk di tengah-tengah lapangan alun-alun kota, mereka duduk berdampingan.
"Apa yang kau lakukan Na? Sini... coba ku lihat jari mu."
Yuna memberikan tangannya pada Adel. Adel segera memperhatikan jari Yuna yang terluka, dia tahu Yuna sengaja melakukan ini, dia menatap Yuna dengan sedih. Dia langsung memeluk Yuna dari samping, ia menyandarkan kepalanya di pundak Yuna.
'Kenapa cinta begitu menyakitkan? Apa saat ini kau merindukannya?' batin Adel.
"Na...,"
"Hmm."
"Siapa Vano?"
"Dia sahabat ku."
"Apa kalian punya hubungan yang lain?"
"Entahlah."
"Meskipun itu bukan sesuatu yang bisa disentuh namun cobalah kembali memahami, apa yang sebenarnya kau rasakan padanya. Apa sungguh kau tidak mencintai Leo lagi?"
"Leo?? Siapa Leo? Aku bahkan tidak mengenalnya. Apa dia kenalan mu? Hahaa."
"Na... bagaimana jika aku jatuh cinta pada Leo?"
Yuna sedikit terkejut dengan pertanyaan Adel yang satu ini, namun, dia tetap masih menatap langit.
"Apa? Hahaa yang benar saja. Sebaiknya jangan, dia hanya akan membuat mu patah hati sepanjang sisa hidup mu."
"Tapi aku tidak keberatan untuk itu."
"Apa kau sudah gila? Banyak laki-laki baik yang akan mencintai mu dengan jiwanya. Kenapa kau malah mencintai monster mengerikan itu."
"Dia mungkin monster di mata mu, tapi dia adalah pangeran di hati ku. Karena dia... aku mampu melewati pagar yang memenjarakan ku selama ini. Karena dia... aku merasakan indahnya masa muda yang sangat indah meskipun terkadang menyakitkan. Karena dia... aku merasakan sakit dalam rasa bahagia. Karena dia... aku tahu bahwa cinta itu sangat indah meskipun menyimpan luka. Dia mungkin monster dalam kehidupan ku, namun dia tetap menjadi pangeran dalam hati ku. Karena dia juga, aku mengenal dan memiliki sahabat yang sangat berarti dan sangat berharga untuk ku, itu karena dia. Tuhan mengirimkan dia untuk membuat serangkaian peristiwa dalam hidup ku."
Yuna menunduk tak lagi menatap langit. Dia tahu kemana arah pembicaraan Adel. Adel memposisikan dirinya seolah dia adalah Yuna.
"Kau tidak tahu rasa sakit yang ku terima Del. Kau tidak tahu rasa sakit yang ku lalui. Aku tersenyum namun terluka, aku tertawa namun menangis. Setiap detik aku bertahan dalam ketakutan, itu sungguh tidak mudah Del. Dia mempermainkan perasaan ku dengan seenaknya. Aku sakit dari pertama aku mengenalnya, hingga akhirnya aku menyerah. Kau tidak tahu bagimana sakit yang ku lalui Del...," air mata Yuna jatuh.
"Iya... aku memang tidak tahu dan aku tidak merasakannya. Aku..." suara Adel menjadi serak, dia mencoba menahan air matanya. "Aku hanya ingin kamu bahagia Na... aku ingin kamu selalu tertawa dengan tawa yang indah, bukan tawa yang kau paksakan. Na... ambillah keputusan sesuai dengan hati kecil mu, bukan dengan amarah mu. Ambillah keputusan dengan logika mu, bukan dengan emosi mu." air mata Adel akhirnya menetes perlahan. Dia mengusap jari Yuna yang sengaja dia lukai.
"Aku ingin mengunjugi Ibu."
"Aku akan mengantar mu."
"Aku ingin sendiri dulu Del." Yuna mengangkat wajahnya dan segera menyeka air matanya, begitu juga Adel.
"Terima kasih untuk hari ini Del, terima kasih sudah bersama ku." Yuna mencoba tersenyum dan melawan semua rasa yang berkecamuk dalam hatinya.
"Apa yang kau ucapkan. Aku tidak menerima ucapan terima kasih mu. Apa kau pikir waktu ku gratis? Kau harus membayarnya Nyonya muda. Isi kartu permainan ku lagi dengan nominal yang sama seperti tadi," Adel dengan masih menyeka air matanya mencoba bercanda.
__
*Pudar_Rossa