
Pesawat mendarat tepat pukul 22.00.
Di tempat tunggu, supir Albar sudah tidak sabar lagi bertemu dengan Boss dinginnya. Dia menggosok-gosok telapak tangannya beberapa kali.
"Ya Tuhan, aku yang hanya supir saja begitu merindukannya, apalagi Nyonya muda," gumamnya pelan. Tak lama rombongan keluarga Nugraha berjalan keluar.
Lusinan orang-orang Papa langsung menyambut mereka. Leo tidak pandai basa-basi dan memang tidak ingin berbasa-basi. Dia ingin segera pulang. Leo berjalan begitu saja setelah membungkuk memberi salam kepada semuanya.
"Selamat malam Boss," Albar menyapa dengan sangat ramah. Dia membungkuk untuk Leo. Dan Leo mengangguk sebagai tanggapan. Kemudian, Leo pamit pada semuanya.
"Sayang, jaga kesehatan mu," pesan Mama setelah mencium pipinya. Leo mengangguk dan kemudian segera masuk ke dalam mobil.
Pelan, mobil itu meninggalkan area bandara dan melaju ke jalanan yang sedikit senggang dari biasanya. Albar tidak menyalakan audio seperti biasanya, dia tahu Bossnya tidak suka berisik, si Boss lebih suka tenang. Dia melirik Bossnya dari kaca spion. Leo menyandarkan punggungnya dan duduk dengan menyilangkan keduanya kakinya. Matanya memperhatikan jalanan sementara hatinya dipenuhi kebahagiaan. Dia akan bertemu Yuna sebentar lagi.
Jalanan malam yang senggang membuat mobil melaju dengan lancar. Albar tahu jika Bossnya ini tidak sabar ingin segera sampai di rumah. Dia membawa mobil dengan kecepatan yang tinggi.
Leo duduk dengan anggun, tangannya menggosok bibirnya dengan pelan.
"Apa kau menjaga Nyonya muda dengan baik?" Tanyanya pada Albar sambil mengambil ponsel dari dalam saku jasnya.
"Iya, Boss," jawab Albar.
Leo membuka chatnya pada Yuna. Ada banyak pesan dari Yuna ketika dia menonaktifkan ponselnya. Dia melihat waktu terakhir Yuna online. Pukul 21.45. Leo membaca pesan Yuna satu persatu dan itu membuat bibirnya terus melengkung indah. Banyak sekali omelan pada chatnya dan itu membuat Leo tertawa ringan. Nyonya-nya begitu bersemangat jika mengomelinya.
Setelah membaca chat dari Yuna, kemudian, dia membuka chat dari Alea. Dia segera menghapusnya, lama-lama dia menjadi sangat kesal karena Alea hampir setiap hari mengirim pesan padanya. Dia tidak suka ponselnya bergetar oleh sesuatu yang dia tidak suka. Namun, Alea adalah seseorang yang menemani Yuna ketika dia jauh, jadi meskipun tidak membalasnya nomor ponsel Alea tidak menjadi salah satu nomor yang dia blokir.
Mobilnya memasuki perumahan mewah Ibu Kota. Gerbang tinggi itu mulai terbuka dengan patuh ketika pemiliknya datang.
Supir Albar segera membukakan pintu mobil untuk Leo. Leo segera keluar dan security langsung membungkuk memberi salam padanya. Seperti biasa Tuan muda ini hanya mengangguk sebagai tanggapan dan bahkan tidak ada senyum sedikitpun dibibirnya.
Hatinya di banjiri kebahagiaan setelah kakinya menginjak halaman rumahnya. Ia membawa langkah kakinya untuk segera membuka pintu. Milyaran rasa rindu dalam hatinya, milyaran rasa yang bercampur dalam hatinya. Rembulan seolah menyinari setiap langkah kakinya untuk menuju seseorang yang begitu dia rindukan. Jantungnya berdebar, dia membawa semua rindu yang ada pada dirinya.
Senyumnya merekah ketika matanya perlahan melihat pintu itu terbuka sebelum tangannya mengetuk. Dia tahu itu Yuna. Yuna pasti melihatnya dari layar kecil di kamar mereka.
"I love you," ucapnya dengan sepenuh hati dengan senyum indah di bibirnya. Namun, senyumnya langsung menghilang dan wajahnya langsung berubah menjadi gelap setelah dia melihat bahwa bukan Yuna yang membukakan pintu untuknya. Bahwa, bukan Yuna yang mendengar kata cinta darinya.
Seseorang yang berdiri di tengah pintu utama terdiam dan hanya mampu mematung. Jantungnya berdebar, wajahnya memerah. Dia menyembunyikan wajahnya sebentar dan kembali mendongak untuk menatap wajah rupawan yang akhir-akhir ini hadir dalam mimpinya.
Mata Leo kemudian melihat Yuna yang berdiri di belakang Alea. Mata Leo di penuhi kelembutan ketika menatapnya, ia segera melangkah untuk menujunya. Dia melewati Alea begitu saja.
"Sayang, apa kau terbangun?" Ucap Leo lembut, tangannya mengusap pipi Yuna dengan pelan. Mereka berhadapan, mata mereka saling menyapa penuh rindu. Yuna menatap wajah suami yang begitu dia rindukan, matanya berkaca-kaca, dadanya bergemuruh karena rasa bahagia. Dia langsung menghambur kedalam pelukan suaminya, memeluknya dengan sangat erat. Hatinya menjadi terasa sangat sakit. Dia mendengar semuanya, dia melihat semuanya. Ketika bibir itu mengucapkan kata cinta di depan orang lain. Dia tahu itu tidak sengaja tetapi hatinya terasa sangat sakit, dia tidak bisa membayangkan jika itu sungguh terjadi. Tangannya memeluk tubuh Leo dengan sangat erat, teramat erat. Dia tidak ingin siapapun mengambil Leo darinya. Dalam rasa bahagia yang hadir di hatinya, tersisip rasa sedih yang menyayat. Dia menangis.
Leo mengangkatnya dan menggendongnya untuk kembali ke atas. Dia mendekap wanita yang sangat dia rindukan dengan hangat. Leo menyadari jika Yuna melihat kejadian tadi. Dia menunduk dan mencium keningnya.
Alea menyaksikannya dengan pandangan nanar. Kenapa, dia merasakan sakit dalam hatinya, rasa sakit yang begitu menusuk. Dia menarik nafasnya panjang dan kembali menutup pintu. Dia kembali duduk di sofa ruang tengah. Ia meneruskan tontonannya tadi. Tapi saat ini, dia tidak bisa fokus, senyum Leo di depan pintu terus membayanginya. Suara khas Leo seperti menggema di telinganya. "I love you," tiga kata itu terus mengulang dalam pikiran dan pendengarannya.
"Tidak, Alea tidak. Tidak boleh," Alea menggeleng dan terus menggeleng. "Lupakan, lupakan, lupakan Alea. Jangan menjadi wanita yang jahat Alea. Sepanjang sisa umur mu tidak akan tenang. Lupakan," Alea terus menggeleng dan menasehati dirinya sendiri.
Leo membuka pintu kamarnya dan menurunkan Yuna di ranjang. Dia mengusap rambut Yuna dengan penuh cinta dan kemudian menciumnya keningnya.
Yuna memejamkan matanya. Air matanya terus menetes. Kenapa? Kenapa setelah dia bersama dengan Leo, dia menjadi begitu cengeng. Kenapa bersama Leo membuat dirinya mudah menangis oleh hal-hal kecil. Kemana Yuna yang dulu, yang begitu kuat. Dia masih Yuna yang kuat seperti dulu tetapi rasa cinta dalam hatinya membuat perasaan takut menguasai dirinya. Takut kehilangan.
Leo segera mengusap air matanya.
"Maafkan aku," bisiknya. Dia menempelkan bibirnya di daun telinga Yuna, "Maafkan aku, sayang," ulangnya. Yuna menggeleng dan kembali memeluknya. Dia menyandarkan kepalanya di dada Leo. Leo membalas pelukannya dengan hangat.
"Kenapa tidak mengabari ku dulu jika kau kembali?" Ujar Yuna.
"Aku ingin memberi mu kejutan," jawab Leo rendah. Yuna terkekeh.
"Dan aku benar-benar terkejut," ucap Yuna, "Kau menyatakan cinta dengan perempuan lain di hadapan ku," lanjut Yuna. Leo semakin mendekapnya.
"Sayang, bukan seperti itu," jawab Leo, "Aku tidak sengaja. Ku pikir yang membuka pintu adalah kamu. Aku minta maaf," lanjut Leo.
"Hmm, begitukah?" Yuna merenggangkan pelukannya dan mendongak untuk menatap wajah Leo. Dan Leo langsung menunduk untuk membalas tatapan Yuna padanya. Bibirnya terangkat dan tersenyum. Tangan Leo terangkat dan membenarkan rambut Yuna yang terjatuh di pipi dan keningnya.
"Sayang," panggil Leo. Mata mereka masih saling menyapa.
"Hhm," jawab Yuna.
"Aku mencintai mu Yuna," ucap Leo. Dadanya berdebar ketika mengucapkan itu. Yuna tersenyum dan mengusap pipinya.
"Apa kau tahu? Jika aku lebih mencintai mu," jawab Yuna.
"Simpan kata cinta mu sayang," ucap Leo dan langsung memegang tengkuk Yuna. Dia menunduk dan mencium bibir Yuna. Ketika bibir itu mulai bersentuhan, degupan pada jantungnya semakin tidak beraturan. Ketika bibir itu saling terpaut ada gejolak yang begitu membara pada hatinya. Leo tidak melepaskan Yuna sebentar pun, dan Yuna yang tidak ingin lepas dari Leo sebentar pun.
'Meski tanpa kata tapi aku tahu bahwa dalam hati mu hanya ada aku. Ciuman bibir mu yang lembut tetapi penuh gairah membuat ku tahu bahwa kau sama rindunya dengan ku. Sayang, teruslah menjadi milik ku.'
Leo menyudahi ciumannya ketika Yuna hampir kehabisan nafas. Namun tidak, nafas Yuna yang berat membuat dirinya kembali menyerbunya lagi. Dia masih sangat rindu, begitu rindu, teramat rindu pada wanitanya.
Tangannya mengusap perut Yuna dan kemudian menyudahi ciumannya ketika telapak tangannya menyadari sesuatu.
"Dia sudah bisa menendang?" Tanyanya pada Yuna dengan perasaan bahagia yang membuncah di hatinya. Yuna tersenyum dan mengangguk. Mendapat jawaban itu, Leo langsung membuka piyama Yuna dan membuangnya ke lantai.
Dengan sangat pelan dan hati-hati dia menciumnya dan berbisik tentang cinta dan rasa rindunya. Berbisik tentang kasih dan doa. Kemudian, dia meletakkan telinga di perut Yuna. Mendengarkan alunan detak jantung yang begitu merdu dalam pendengarannya.
Yuna mengangkat tangannya dan kemudian mengusap rambut Leo dengan lembut.
"Rambut mu panjang, apa kau tidak memotongnya?" Tanya Yuna Yang di jawab gelengan oleh Leo. Dia masih asik berdialog mesra dengan kekasih keduanya setelah Yuna.
"Sayang, mandi dulu," ucap Yuna. Dan Leo mengangguk patuh. Kemudian, dia beranjak dan masuk ke kamar mandi. Sementara Yuna mengambil piyama baru dari almari dan mengenakannya. Dia keluar kamar dan turun kebawah. Dia melongok ke ruang tengah untuk melihat Alea tetapi sudah tidak ada dia di sana. Kemudian, dia segera ke dapur dan mengambil segelas air hangat.
Yuna tersenyum sendiri, dia sangat bahagia, seseorang yang dia rindukan telah kembali. Dia duduk di sofa dan menyalakan tv. Tepat saat itu, Leo keluar kamar mandi dan hanya memakai handuk kecil yang hanya mampu menutupi tubuh bagian bawahnya. Mata Yuna langsung meleleh dan ingin segera menerkanya, tapi tidak... tahan. Dia harus jual mahal. Tuan suami harus mendapat hukuman karena tidak pernah mengangkat telponnya.
Leo berjalan ke arahnya.
"Oh my God kenapa dia malah berjalan kesini? Bagaimana jika aku tergoda?"
Yuna memelototinya. "Hei, jangan coba-coba untuk mendekat," ucapnya dengan mengulurkan tangannya untuk men-stop Leo dari langkahnya. Leo tidak menghiraukannya, dia tetap melangkah mendekati Yuna dan semakin dekat.
"Pakai baju mu dulu," ucap Yuna sambil menutupi wajahnya.
"Apa?" Ujar Leo. Dan semakin dekat dengan Yuna. Yuna berdebar dan mencoba menenangkan dirinya untuk jangan tergoda. Tangan Leo mengulur pelan dan itu membuat Yuna semakin berdebar. Namun, dia harus kecewa karena ternyata tangan itu tidak menyentuhnya tetapi mengambil remote yang berada di sampingnya. Asataga.....dia keterlaluan. Yuna menatapnya dengan kesal.
Leo mematikan tv ya baru saja Yuna nyalakan.
"Sudah malam, kenapa malah menyalahkan tv," ucap Leo menegurnya. Tidak ada jawaban, Yuna menatapnya dengan cemberut.
Leo membungkuk, "Sayang, ayo tidur," ucapnya dengan senyum. Yuna masih sedikit cemberut. Dan Leo langsung mengangkatnya. Ini yang Nyonya mau. Dia menyandarkan kepalanya di dada Leo.
"Sayang, apa aku semakin berat?" Tanyanya. Dia sudah menebak jawaban Leo.
"Sangat berat," jawab Leo yang telah terpikirkan oleh Yuna. Yuna terkekeh dan mendongak untuk mematuk pipi Leo.
Leo menurunkan Yuna di ranjang dan menyelimuti nya. Kemudian, dia mengganti bajunya dan meminum air hangat yang sudah Yuna siapkan untuk nya.
"Kau mau dongeng yang mana?" Tanya Leo sambil memilih buku dongeng yang menumpuk di mejanya. Dia membacakan satu persatu judul hingga Yuna memilihnya.
"Semut dan Belalang," jawab Yuna. Okey. Leo naik keatas tempat tidur dan menyandarkan punggungnya.
"Sini," ucapnya. Dia meminta Yuna untuk mendekat dan bersandar di dadanya. Yuna segera mendekat dan memeluknya. "Once upon a time...." suara khas Leo mulai membaca dongeng.
Yuna mendengarkan dengan seksama dan penuh rasa bahagia. Beberapa jam yang lalu, dia merasa begitu menderita dan sangat sakit karena menahan rindu dan sesak dalam dadanya karena pikiran-pikiran yang berputar dalam otaknya. Jarak sungguh membuat hati tidak bisa tenang.
"Tidurlah," ucap Leo setelah menyelesaikan dongengnya.
"Sayang," panggil Yuna.
"Hmm."
"Apa kau tidak makan dengan benar selama di sana?" Tanya Yuna rendah. Tangannya masih memeluk pinggang Leo erat.
"Kenapa?" Jawab Leo balik bertanya.
"Kau lebih kurus dari sebelumnya," jawab Yuna. Dia mendongak dan menatap wajah Leo.
"Hanya perasaan mu saja," jawab Leo.
"Kau sungguh tidak menyembunyikan sesuatu dari ku?"
"Menyembunyikan apa? Tidak ada, kapan aku berbohong pada mu? Aku tidak akan mendapat ciuman jika aku berani membohongi mu," jawab Leo dengan senyum menggoda.
"Okey, aku percaya," ucap Yuna mencoba percaya memang tidak terjadi sesuatu pada Leo. Yuna kemudian kembali menyandarkan kepalanya di dada Leo. Tangan Leo mengusap rambutnya dengan perhatian dan menciumnya. Mereka saling berpelukan penuh kasih. Leo meletakkan tangannya di perut Yuna, dan dia akan tersenyum lebar ketika telapak tangannya merasakan sesuatu. Tangan Yuna menyentuh tangan Leo dan sama-sama menunggu gerakan lucu lagi. Mereka berdua akan tertawa ringan penuh cinta ketika gerakan lucu itu menyapa telapak tangan keduanya. Ini... sangat imut.
Yuna mendongak dan mencium pipi Leo.
"Aku merindukan mu," ucap Yuna. Kemudian, dia kembali bersandar di dada Leo lagi. Tangan Leo berpindah ke dagunya, membawa kembali wajah cantik itu untuk menatapnya. Kemudian, dia sedikit mengangkat Yuna agar sejajar dengannya. Dia langsung mencium bibir merah muda itu dengan dalam. Jemarinya menyusup diantara rambut Yuna dan semakin menekan bibirnya.
Saling terpaut. Merasuk lembut dengan jiwa yang yang merintih karena rindu. Keberadaannya seolah memegang seluruh kendali dalam hidupnya.
Ketika rasa itu menjelma menjadi dahaga yang luar biasa, maka yang terpasang pada tubuh adalah nestapa. Tangan hangat itu membukanya dan kemudian membuangnya begitu saja.
Aku memiliki mu seutuhnya.
Ketika malam yang begitu sunyi membuat sesuatu terdengar begitu nyaring maka itu tidak berlaku untuk Leo dan Yuna. Telinganya seolah tidak mampu mendengar apapun selain suara desahan lembut yang semakin membuat mereka menggila.
____
Catatan Penulis (Curhatan 🥰)
Begadang euy.😋
Hanya berharap, kisah dan kata-kata yang ku buat ini tidak ada yang MENJIPLAKNYA
Semoga tidak ada PLAGIATOR yang mampir kesini.
Silahkan sukai karya ku, tapi jangan di plagiat.
Bikin kisah penuh masalah, itu kan mikir dulu. (otaknya muter) Masalah dan penyelesaiannya. Jadi semoga yang berniat jahat terhempas.
Kenapa Thor sering bahas Plagiat ini?
Karena ada lagi dan lagi karya temen Thor yang di plagiat. (Kan sadis, kita yang mumet, dia yang nyomot)
Sekian curhatan Thor yang ceriwis manis ini🥰
Terima kasih semuanya.... aku mencintai mu. muach😘😘🥰
Like dan komen.