Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 342_Kembalilah Padaku


Mobil Vano melaju sedang menuju kampus Neva.


"Nanti pulang dari kampus, kau dengan pak supir yang biasanya kan?" tanya Vano khawatir.


Bibir Neva melengkung dan dengan sengaja dia menjawab. "Joe yang akan menjemputku."


Jawaban yang membuat Vano langsung menoleh kearahnya.


"Kenapa harus dia?" tanyanya tidak suka. Bibir Neva berkedut menahan senyum. Dia suka saat melihat wajah Vano kesal, dia juga sangat suka saat suara Vano tinggi dengan ketidaksukaan. Jadi, Neva dengan sengaja menggodanya.


"Memang Joe yang bertugas menjemputku dari kampus hingga ke kantor. Kantor ke rumah," jelas Neva.


"Kau ke kantor lagi?"


Neva mengangguk, "Ya. Aku mulai belajar terjun langsung sekarang."


"Di kantor Leo?"


"Hu'um. Kak Lee ... sedang sibuk dengan kantor baru di luar negeri," jelas Neva yang menyembunyikan keadaan kakaknya.


Vano mengangguk-angguk, "Kau pasti bisa dengan mudah memegang mandat Leo."


"Hu'um," Neva mengangguk. "Ada Joe yang hebat yang dengan telaten mengajariku," lanjutnya lagi.


"Joe lagi, Joe lagi, dia, dia, dia ... berhenti bicarakan dia. Setelah ini, aku yang akan mengajarimu," sahut Vano segera. Dia kesal.


Mobilnya parkir di depan kampus.


"Terima kasih Kak," ucap Neva sopan.


"Ku jemput nanti," jawab Vano.


"Terima kasih ta---"


"Tidak ada penolakan. Tidak boleh dengan dia, aku yang akan menjemputmu," sahut Vano pasti. Dia menatap lekat kewajah cantik Neva.


"Kenapa?" tanya Neva.


"Jangan tanya kenapa, bawel ....," Vano mencubit pipi Neva dengan gemas. "Ok, selamat belajar. Sampai jumpa nanti siang," ucapnya.


_________


Siang hari, Vano sungguh menjemput Neva bahkan sebelum gadis itu keluar dari kampusnya. Neva memperhatikannya dari kejauhan. Bibirnya tersenyum. Dia dengan sengaja diam lebih dulu dan membiarkan Vano untuk menunggu. Baru setelah hampir setengah jam, dia melangkah menuju Vano.



"Selamat siang Kak," sapa Neva dengan ramah.


"Sudah selesai?" tanya Vano perhatian. Neva mengangguk. "Yuk," Vano meraih tangan Neva dan membawanya ke mobil.


"Kita makan siang dulu," ucap Vano setelah melajukan mobilnya.


"Aku harus segera ke kantor Kak---"


"Tidak ada penolakan," sahut Vano. Neva mengerucutkan bibirnya.


"Apa tema hari ini adalah tidak ada penolakan?" tanyanya.


"Ya," jawab Vano. Kemudian, Neva mengambil ponselnya dari dalam tas dan mengirim pesan pada Joe. Dia memberitahukan jika dia akan telat datang ke kantor. "Chat siapa?" tanya Vano penasaran. "Jangan bilang jika kau chat Joe," katanya.


Neva tersenyum dan menoleh ke arah Vano. "Iya, aku chat dia," jawab Neva.


"Kenapa chat dia, aku sudah menjemputmu."


"Hanya memberitahu jika aku datang terlambat," jawab Neva.


"Kau bossnya, tidak masalah jika mau tidak mengabari dia," sahut Vano.


Neva terkekeh, "Kakak kenapa sih? Rasanya sedari pagi kesal terus bawaannya," ucap Neva. Dia mengubah posisinya menjadi sedikit menghadap ke arah Vano.


"Hanya perasaanmu, aku tidak kesal," elak Vano.


Neva mengangguk, kemudian dia mengambil ponselnya lagi. Ada pesan balasan dari Joe, tapi tangan Vano lebih dulu mengambil ponsel itu dari tangan Neva hingga Neva tidak sempat membalas pesan itu.


"Hei, kenapa kau ambil ponselku," seru Neva. Dia mencoba mengambil ponselnya yang Vano sembunyikan. "Kakak ponselku," ujarnya.


"Tidak boleh chat. Ponselmu ku sita satu minggu," ujar Vano pasti.


"Astaga ...." Neva memekik tak percaya dengan ucapan Vano barusan. "Jangan dong Kak," ucapnya memelas. Namun Vano tetap keukeh untuk menyimpan ponsel Neva.


Mereka makan siang bersama di salah satu restoran lokal. Kemudian, setelah itu, Vano mengantar Neva ke kantor.


"Jangan lupa nanti malam," ucap Vano sebelum Neva Keluar dari mobilnya.


____________


Malam harinya.


Vano sudah berada di dalam mobilnya, dia bersiap untuk menjemput Neva. Namun, tiba-tiba ponsel Neva bergetar. Satu pesan masuk.


"Cantik, ayo bertemu. Kapan kau ada waktu? Besok aku senggang," Raizel mengirim pesan pada Neva. Dan Vano yang membukanya. Dia kesal membaca pesan itu. Dan sangat kesal setelah membaca chat sebelumnya, chat Raizel tadi pagi. Kemudian, jarinya mengetik.


"Jangan mencoba lagi untuk mendekati Neva, Raizel. Ini peringatan pertama dan terakhir," send.


Raizel melonjak kaget disana ketika pesan itu masuk. Namun kemudian dia tertawa terbahak-bahak. Cowok bawa ponsel cewek? Sudah bukan jamannya lagi.


"Selamat malam Tuan muda Vano," balas Raizel. Hanya itu.


Disana. Neva menatap pantulan dirinya di cermin. Menatap wajahnya sendiri.


"Apa yang akan kau katakan malam ini? Sudahkah kau tahu jawaban dari pertanyaanku? Apa malam ini akan menjadi akhir?"


Kemudian suara ketukan pintu mengagetkannya.


"Permisi Nona, ada Tuan muda Vano menunggu di bawah," ucap suara dibalik pintu.


"Iya, Bi. Terima kasih," jawab Neva. Dia memperhatikan dirinya sekali lagi didalam cermin. Tersenyum dalam gelisah hatinya.



"Hufff, apapun itu semangat Neva. Semangaatt," ucapnya pada diri sendiri. Kemudian, ia beranjak dan keluar dari kamarnya. Dia mengambil nafasnya dengan dalam sebelum benar-benar melangkah ke ruang tamu untuk menemui Vano.


"Selamat malam Kak," ucapnya sopan. Dia membungkukkan badannya. Vano diam memperhatikannya. Dia sadar, hubungannya dengan Neva menjadi jauh dan itu karena keputusannya.


"Yuk," Vano berdiri.


_Mereka berdua makan malam di sebuah restoran barat dengan tenang. Tidak banyak bicara. Entahlah makan malam ini terasa begitu kaku dan canggung.


Kemudian, setelah dari makan malam. Vano mengajaknya ke atap gedung kesukaan mereka berdua. Sepi dengan kerlip bintang yang seolah menemani mereka. Redup dengan sinar bulan dan angin malam yang bisa membuat perasaan terhanyut.


"Bagaimana kabarmu belakangan ini?" tanya Vano memulai.


"Baik," jawab Neva singkat. Mereka diam lagi.


Vano mengambil nafasnya dengan dalam dan mengeluarkannya dengan lembut. Perlahan dia mengambil tangan Neva, mengusapnya lembut lalu membawa tangan itu pada bibirnya. Menciumnya dengan halus.


Neva diam dengan debaran jantung yang menderu saat bibir Vano menyentuh telapak tangannya.


"Gadis, kembalilah padaku," ucap Vano sepenuh hati. Dia melepaskan bibirnya dari tangan Neva dan menatap gadis itu dengan lembut. "Aku minta maaf telah meminta sesuatu yang membuat hubungan kita menjadi jauh, aku minta maaf karena memberi jeda pada hubungan kita," lanjutnya.


Neva membalas tatapan mata Vano. Merasakan genggaman hangat tangan laki-laki itu. Mereka diam dan hanya menyapa lewat tatapan mata. Hingga beberapa menit akhirnya Neva membuka mulutnya.


"Jadi, sudahkah Kakak mendapat jawaban atas pertanyaanku?" tanyanya.


"Seberapa dangkal perasaanku padamu? Tidak dangkal," jawabnya. Dia membawa telapak tangan Neva pada dadanya. "Degupan jantung ini hanya untukmu. Didalam sini, hanya ada namamu. Hatiku yang hanya mencintaimu," jawabnya.


"Kau pandai merangkai kata untuk merayuku," ujar Neva.


"Ini bukan rayuan," jawab Vano. "Perasaanku tidak dangkal, perasaanku sangat dalam. Aku minta maaf untuk keputusan kemarin. Aku hanya ingin kita lebih kedepannya. Tidak akan ada lagi kecemburuan yang terulang, tidak ada lagi rasa curiga yang kau pendam. Ku mohon kau mengerti kenapa aku memilih itu kemarin. Bukan aku tidak mencintaimu, bukan. Aku mencintaimu dan serius denganmu. Apa kau ingat berapa kali aku ingin membawa mu menjadi pengantinku, tetapi kau menolaknya. Aku mengerti alasan penolakanmu dan aku bersedia menunggu mu. Perasaanku tidak dangkal. Aku sangat mencintaimu," tangan kanan Vano mengulur dan mengusap pipi Neva dengan lembut.



Mata mereka masih saling menatap. "Gadis, kembalilah padaku. Kita mulai dari awal tanpa ada keraguan sedikitpun. Tanpa menoleh dan mengusik masa lalu itu. Percaya padaku, yakini hatiku," ucap Vano. Angin malam hening seolah bersajak melankolis. Menghujani dua hati itu dengan kasih.


Neva diam, dia memikirkan tentang dirinya yang bersalah karena rasa cemburu yang menguasainya. Dia yang bersalah telah begitu dalam menyakiti hati Yuna. Matanya dengan lekat menatap Vano. Dia ingat, betapa sabar laki-laki ini pada dia yang manja. Bersedia menunggu saat semua orang bilang 'segera'. Ya, laki-laki ini tetap sabar menunggunya saat keluarga besarnya menginginkan sesuatu dengan segera. Laki-laki yang mau mengerti akan semua alasan yang ia berikan. Matanya berkaca-kaca.


"Kau mencintaiku?" tanyanya tercekat. Tangan Vano berpindah ke tengkuk Neva dan membuat wajah gadis itu menjadi sangat dekat dengannya.


"Sangat mencintaimu," jawab Vano dan ia langsung mencium bibir Neva. Menciumnya dengan lembut.


___________


Catatan penulis πŸ₯°πŸ™


Jangan lupa like komen vote ya kawan tersayang πŸ₯° Terima kasih πŸ₯°πŸ™ Padamu.


Maaf jika ada Typo πŸ™