
Setelah berhasil mendapatkan tiket, kak Nia kembali ke tempat duduknya semula untuk mengajak kedua adiknya pulang. Dilihatnya Ika sedang duduk memainkan handphone di tangannya.
" Ika, mana Tiara?" tanyanya saat tak melihat Tiara di tempat duduknya tadi.
" Oh, tadi katanya mau pergi sebentar ketemu teman". jawab Ika santai.
" Duh . . pergi ke mana ya tuh anak?" gumam kak Nia sambil mengitari tempat itu. Namun yang dicarinya tak nampak.
" Mungkin tadi ketemu dengan Zian ya?" tebaknya.
" Gimana nih, nomor handphonenya Zian juga nggak ada ". Nia semakin bingung hingga akhirnya terduduk lemas di depan emperan kantor Pelni.
Berulang kali Nia menelpon ke nomor handphonenya Tiara tapi tak diangkat. Nia jadi khawatir dibuatnya.
" Kemana sih tuh bocah?" tanya Nia ketika melihat Ika mendekat ke arahnya.
Ika hanya mengangkat bahu dan duduk di sebelahnya.
" Sudah hampir sejam nih, kita tunggu aja dulu semoga saja dia segera kembali". ucap kak Nia dengan raut muka khawatir.
Waktu terus bergulir dengan cepat hingga hampir dua jam Tiara belum menampakkan diri. Kekhawatiran Nia semakin menjadi.
Beruntung, di saat hatinya sedang kacau memikirkan apa yang menimpa adiknya, sebuah mobil mewah berhenti tepat di depannya.
Zian turun dari mobilnya dan mendekat.
" Kak, Tiara mana?" tanyanya sebelum kak Nia membuka mulutnya.
" Loh, bukannya kamu yang tadi ngajakin Ara ketemuan?" kak Nia balik bertanya dengan gusar.
" Nggak, gue baru aja mau ketemu dengan dia". jawab Zian heran.
Ika lalu menceritakan kejadian tadi.
Kemudian . . .
" Astaghfirullah, jangan-jangan . . . Tiara diculik penjahat kak?" ujar Ika yang mulai menebak-nebak.
" Hus . . jangan mengada-ada kamu dek, mana ada penjahat di sekitar sini? kamu berdoa aja buat kakakmu, semoga saja dia nggak kenapa-kenapa ". ujar Nia mulai panik.
Zian bergegas menelpon seseorang. Setelah itu ia pamit untuk mencari Tiara.
" Kakak tenang ya, Zian pasti mencari Tiara sampai ketemu". ucap Zian menenangkan kak Nia kemudian masuk kembali ke dalam mobilnya dan pergi dari situ.
Tak lama mobil itu berhenti tak jauh dari toko roti yang didatangi Tiara tadi. Rio juga sudah menunggu di tepi jalan. Dengan cepat keduanya dapat mengetahui keberadaan Tiara saat ini.
" Dari awal gue emang udah curiga dengan si brengsek itu, berani-beraninya dia menculik Tiara di saat gue ada di kota yang sama". desis Zian menahan marah. Napasnya sampai tersengal, matanya berkilat menakutkan.
" Untung aja kemarin lo sempat ngasih dia gelang itu, kalo nggak . . kita bakal kesulitan mengetahui posisinya". ucap Rio setengah berbisik.
Ternyata gelang yang diberikan Zian kemarin sudah dipasangi alat pelacak yang super canggih hingga sulit disadari pemakainya ataupun orang di sekitarnya.
Kedatangan Zian yang tiba-tiba di depan kak Nia juga sebenarnya karena sudah menduga bakal terjadi sesuatu karena posisi Tiara yang awalnya di kantor Pelni perlahan berubah ke tempat lain. Dan semenjak itu, posisinya tidak berubah kembali.
Setelah saling memberikan kode rahasia, keduanya pun mulai bergerak. Zian mulai masuk ke dalam halaman toko yang masih terlihat sepi.
Tak lama muncullah beberapa orang lelaki bertubuh kekar menghadangnya saat Zian mulai mendekati pintu masuk.
" Hei ! mau apa lo hah? pergi dari sini !!" bentak salah seorang dari mereka.
\*\*\*\*\*