
Awalnya, Raizel memiliki ide untuk memberi kejutan pada Neva malam ini. Dia tidak mungkin bisa hadir di acara wisudanya besok jadi dia ingin merayakannya malam ini. Namun, ternyata Vano lebih dulu menculik Neva darinya.
"Yakin nggak butuh kita?" Tanya Asistennya ketika Raizel buru-buru meminta kunci mobil pada Bro supir.
"Ada Tuan muda Leo di sana. Aku yakin itu aman," jawab Raizel dan langsung segera menyambar kunci.
"Bagaimana dengan rencana malam ini?" Tanya Asisten Raizel lagi.
"Akan ku hubungi lagi nanti. Jika malam ini gagal, besok saja," jawabnya. Kemudian, dia segera mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Di sana... di meja panjang di pinggir pantai.
"Raizel mau bergabung?" Tanya Yuna yang di jawab anggukan oleh Neva. "Hahaaa sepertinya makin seru nih," lanjut Yuna. Dia melirik ke arah Vano. Kemudian, melihat ke arah Leo.
"Kakak, mana yang akan kau pilih menjadi adik ipar?" Tanya Yuna pada Leo. Neva dan Vano langsung menoleh ke arah Leo.
"Uhum," Leo terbatuk mendengar pertanyaan dari Yuna. Yuna tertawa kecil dan menepuk lembut punggungnya.
"Tidak adakah pertanyaan lain?" Jawab Leo.
"Neva apa kau punya pertanyaan lain?" Tanya Yuna melempar pertanyaan Leo. Neva menggaruk kepalanya dengan tawa kecil dan canggung.
"Kak Yuna... aku masih kecil dan masih ingin melanjutkan pendidikan," jawab Neva pada Yuna. Vano beralih menatapnya. Sungguh kau akan pergi? Batinnya. Dia tersenyum tipis dan mengangguk.
"Dengarkan itu," sambung Leo. "Vano," lanjutnya menyebut nama Vano dengan sangat singkat dan penekanan.
"Hmmm, rasanya perjuangan ku akan semakin sulit," jawab Vano. Dia menatap Neva lalu kemudian menatap Leo. "Mohon dukungannya calon Kakak ipar," sambungnya dengan senyum.
"Mimpi saja," jawab Leo datar.
"Waahh, aku mendukungmu Bro," Karel menyahut dan mengepalkan tangannya untuk menyemangati Vano.
"Eit, aku dukung si tampan pangeran sejuta wanita. Raizel," sahut Lula. Meskipun dia tahu jika Neva menyukai Vano tapi dia berpihak pada Raizel.
"Aku dukung Vano," Alea memberikan suaranya. Kini... giliran Dion dan Albar.
"Aku dukung...," suara Albar menggantung. "Dukung Dion," lanjutnya.
"Uapaaa??" Dion melotot dan menoleh ke arah Albar.
"Hahaaa, barangkali ada masa dimana majikan jatuh cinta dengan asistennya. Biar serasa hidup di FTV heheee," jawab Albar.
Pletak, Dion langsung menjitak kepala Albar. Dia menatap Leo dan berdiri kemudian membungkuk.
"Boss maafkan supir mu yang gila ini," ucapnya dengan melirik Albar. "Aku tidak mungkin berharap seperti yang supir gila ini katakan," lanjutnya. Albar menoleh ke arah Dion. Kenapa dia menjadi sangat serius? Batin Albar. Dia tidak tahu jika dua wanita di samping Bossnya itu tidak boleh ada yang menyinggung, tidak boleh ada yang membuat lelucon. Dia akan habis jika berani menyinggungnya.
"Boss saya minta maaf," ucapnya lagi.
"Hmmm, tidak apa-apa Dion, duduklah," ucap Yuna. Asisten Dion membungkuk dan kemudian kembali duduk.
Suara riuh tiba-tiba terdengar. Beberapa pelayan langsung mengeluarkan kamera dan mengabadikan kedatangannya. Tidak ada pengunjung di restoran ini, hanya ada Leo dan orang-orangnya.
Raizel tidak memperdulikan pelayan-pelayan wanita itu, dia segera melangkah masuk dan langsung menuju pantai. Dia yakin Leo akan mengurusnya nanti.
Neva menyadari bahwa Raizel telah datang karena suara riuh yang terdengar. Dia berbisik pada Kakaknya. Dia tidak ingin kedatangan Raizel kesini terekspos dan masuk berita lagi. Leo mengangguk dan dia hanya mengirim pesan singkat pada seseorang di dalam dan semuanya beres.
Raizel melangkah, matanya langsung menatap Neva lalu berpindah ke arah Vano. Kemudian, dia berdiri tegap dan membungkukkan badannya.
"Selamat malam Tuan muda Leo, Nyonya muda," sapanya ramah. Mata Lula langsung meleleh melihat wujud asli Raizel. Pangeran sejuta wanita yang super tampan. Mulutnya menganga dengan mata yang enggan berkedip.
Leo mengangguk sebagai tanggapan dan memperhatikan Raizel.
"Selamat malam, Raizel," jawab Yuna ramah. "Silahkan duduk," lanjut Yuna mempersilahkannya. Raizel mengangguk. Namun, dia tidak segera duduk. Tempat duduk untuknya berada diseberang Neva dan dia tidak mau.
"Haloo Nona," dia menyapa Lula. Lula yang terus memperhatikannya. "Bisa minta tukar bangku," lanjutnya. Dejavu.... Lula segera mengangguk dan segera pindah. Kemudian, Raizel segera duduk di tempat duduk Lula dan itu artinya, dia berada tepat di samping Neva. Dia berada di tengah antara Vano dan Neva.
"Hai," sapanya pada Neva.
"Hai," balas Neva. "Kau tidak ada syuting?" Tanyanya.
Raizel menggeleng, "Tidak ada, aku menyelesaikan semua dan free untuk malam ini," jawabnya. Neva mengangguk. Kemudian, Raizel menoleh ke arah Vano.
"Selamat malam Tuan muda Vano," sapanya ramah.
"Malam," jawab Vano ramah dengan senyum.
"Tuan muda Leo, senang bisa bertemu dengan Anda," ucap Raizel pada Leo dan dijawab anggukan oleh Leo. "Nyonya muda, anda lebih cantik dari yang saya lihat di Televisi waktu itu. Hmmm cantik luar biasa," lanjut Raizel menyapa Yuna. Mata Leo langsung berputar untuk menatap Raizel dengan mencekam.
"Tutup mulut mu atau kau tidak akan bicara lagi," ucapnya dengan ancaman. Itu langsung membuat Raizel mendelik.
"Jangan mencoba untuk memuji Nyonya muda, atau kau akan habis," bisik Vano pada Raizel.
"Itu hanya memujinya saja, apa salahnya," jawab Raizel dengan berbisik juga.
"Sayang," Yuna menarik lengannya. Alea memperhatikannya, betapa Leo mencintai Yuna. Betapa posesifnya dia pada Yuna dan itu terlihat sangat manis.
"Mmm, Yuna," panggil Alea. "Aku pamit dulu," ucapnya.
"Kenapa buru-buru?" Tanya Yuna.
"Aku harus mencatat bunga-bunga yang akan datang besok," jawab Alea. Kemudian dia pamit. Yuna meminta Albar untuk mengantarnya.
"Aku," asisten Dion ikut berdiri, "Aku ikut mengantarnya," ucapnya. Dan Leo mengizinkannya untuk ikut mengantar. Itu lebih baik dari pada dia berisik disini.
"Selamat malam Tuan muda Lee, Yuna, Neva, Vano, dan semuanya. Saya pamit kembali lebih dulu," ucap Alea pamit dengan sopan. Matanya seolah enggan untuk lepas dari Leo. Tapi dia harus bisa mengendalikan perasaannya.
"Hati-hati Alea. Albar, supir yang bener dan hati-hati," pesan Yuna pada Albar.
"Siap Nyonya muda," jawabnya dan kemudian, mereka bertiga melangkah meninggalkan meja panjang dipinggir pantai.
"Si Boss sangat seram jika menyangkut Nyonya muda," ucap Dion setelah mereka keluar restoran. Alea mengangguk. Benar... dia tidak akan berani untuk menyinggung Yuna atau dia akan berakhir.
"Hallo Bro kau juga ada di sini?" Raizel menyapa Karel. Karel mengangguk dengan senyum.
"Ya, kau lagi kosong juga?" Jawab Karel sekaligus bertanya.
"Ya, aku menyelesaikannya lebih awal dan meminta untuk liburan malam ini," jawab Raizel. Karel mengangguk. Kemudian, dia menggeser duduknya.
"Yuna aku pamit," ucapnya, "Terima kasih untuk undangan makan malamnya."
"Terima kasih kehadirannya Kak Er," jawab Yuna. Dia berdiri. "Aku akan mengundang Kak Er lagi lain kali," lanjutnya. Karel mengangguk dan kemudian dia keluar sebentar untuk mengambil hadiah yang di janjikan pada Yuna. Boneka Spongebob yang sangat besar.
"Waaahh ini besar banget," ucap Yuna menerima hadiahnya dengan senyum lebar. Leo segera berdiri dan membawakan boneka itu.
"Ada lagi," ucap Karel lalu memberikan kotak yang dia bawa. Yuna menerimanya dan membukanya.
"Terima kasih, Karel," ucap Leo pada Karel. Yuna langsung memutar pandangannya, dia menoleh dan menatap Leo. Dia baru saja mengucapkan terima kasih, itu sesuatu yang istimewa. Yuna tersenyum dan menoleh ke arah Karel.
"Ini bukan apa-apa Tuan muda," jawab Karel dengan senyum. "Saya turut bahagia untuk kalian. Selamat atas kehamilan Yuna," lanjutnya yang dijawab anggukan oleh Leo tetapi kali ini dengan senyuman di bibirnya. "Yuna," Karel menatap Yuna. "Sehat selalu untuk mu dan baby...," ucapnya.
Yuna mengangguk dengan senyum, "Terima kasih Kak Er," ucapnya penuh haru.
"Aku sangat bahagia melihat diri mu yang sekarang," ucapnya Karel. Tangan Leo terangkat dan diletakkan di pundak Yuna, dia mengusap pundak Yuna lembut. "Kau harus ingat, kau harus selalu bahagia gadis. Tidak ada Yuna yang gelisah dan memikirkan banyak hal sendirian, tidak ada Yuna yang sedih dan menangis sendirian. Sekarang, disamping mu ada seseorang yang pasti selalu membuat mu bahagia, seseorang yang pasti menjaga mu dengan sangat baik," ujar Karel penuh kasih sebagai Kakak dan sahabatnya. Dia ingat tangisan dan ketakutan Yuna di atas bukit pada senja kala itu.
Yuna mengangguk dengan penuh haru, dia memeluk Leo. "Pasti Kak Er. Aku pasti terus bahagia, karena Rapunzel telah menemukan pangerannya," mata Yuna menjadi berkaca-kaca. Dia menatap keatas sebentar.
"Tuan muda Leo, saya pamit," ucapnya pada Leo. Dan kemudian pamit pada semuanya.
"Ku pikir itu hanya gosip, ternyata kau sungguh dekat dengan Nona Neva," Karel menggoda Raizel.
"Sttt, berisik. Sana... buruan balik," jawab Raizel dengan menggerakkan tangannya mengusir Karel. Karel tertawa kecil dan menoleh ke arah Lula.
"Nona, apa kau berniat untuk menjadi obat nyamuk?" Tanya Karel.
"Eh," Lula tersadar dan mengalihkan pandangannya dari Raizel. "Apa Kak?" Tanyanya.
"Mari ku antar jika kau tidak ingin menjadi obat nyamuk. Lihatlah... mereka mau pacaran," jawab Karel.
"Haaa sejujurnya aku masih betah di sini dan aku rela menjadi obat nyamuk asal bisa melihat pangeran sejuta wanita yang paling tampan tapi setelah dipikir-pikir, aku hanya akan menjadi pengganggu," ujar Lula. Kemudian, dia berdiri dan meminta foto bersama dengan Raizel sekali saja.
Saat ini... hanya tinggal Raizel, Vano, dan Neva yang berada di meja panjang panjang pinggir pantai. Leo dan Yuna sudah meninggalkan meja itu dan duduk di atas pasir di pinggir pantai. Yuna duduk di depan Leo, dia menyandarkan kepalanya di lengan Leo yang memeluknya.
"Apa kau merasa dingin?" Tanya Leo lembut berbisik di telinga Yuna, bibirnya menyentuh daun telinga Yuna dengan hangat.
Yuna menggeleng, dan Leo langsung mencium pipinya.
Di meja panjang. Raizel dengan sengaja memamerkan gelang Couple nya dengan Neva pada Vano.
"Tuan muda Vano, apa kau tidak ada acara malam ini?" tanya Raizel bermaksud mengusir Vano.
"Tidak ada, acara malam ini adalah bersama dia," jawab Vano dengan menatap Neva, "Tapi sepertinya ada pengganggu yang datang," lanjutnya.
"Uhum," Neva terbatuk dengan sengaja.
"Kau tidak apa-apa?" ucap Raizel dan Vano berbarengan. Kemudian mereka saling menatap dengan singkat dan kembali mengalihkan pandangan pada Neva.
"Disini sangat membosankan, bagaimana jika kita ke pinggir pantai?" Ajak Neva. Kemudian, mereka bertiga berjalan menuju tepi pantai. Tentu Neva memilih tempat yang cukup jauh dari pasangan harmonis itu.
"Aku akan menggambar mu lagi," ucap Raizel setelah mereka sampai di tepi pantai.
"Tidak, kau buruk dalam menggambar," tolak Neva.
"Tidak akan, kali ini aku akan menggambar dengan sangat bagus," kata Raizel meyakinkan. Namun, ternyata Vano lebih dulu meratakan pasir dengan sangat rata dan dia juga sudah membawa kayu kecil di tangannya.
"Kak Vano bisa menggambar di atas pasir?" tanya Neva antusias. Raizel kesal melihat Vano lebih dulu mengambil idenya.
"Bisa dong," jawab Vano dengan PeDe.
"Okey," Neva bertepuk tangan sebentar dan tidak sabar melihat hasilnya. Dia berharap hasilnya tidak mengecewakan seperti lukisan Raizel.
"Palingan juga jelek. Aku berani bertaruh," kata Raizel dengan mengejek. Vano tertawa ringan mendengar itu. Dia mulai menggerakkan kayu kecil di tangannya dan membentuk sesuatu.
Daaan.... hasilnya membuat Neva tertawa terbahak-bahak dan membuat Raizel berkacak pinggang.
Vano tidak melukis di atas pasir, dia hanya membuat sebuah tulisan.
Enyahlah Raizel si pengganggu.
"Apa-apaan kau Bro," Raizel menatap Vano dengan kesal. "Sini," dia mengambil kayu dari tangan Vano dan membuat tulisan balasan untuk Vano.
Aku remaja, Neva remaja dan kau om-om. Buang.
Neva cekikikan membaca tulisan Raizel.
"Remaja dan remaja itu sama-sama labil jadi pasangan yang serasi adalah dia dan aku yang dewasa," ujar Vano menanggapi tulisan Raizel.
"Serasi apaan, kalian kalau jalan nih ya. Dikira om dan keponakan, dimana letak serasinya coba?" Bantah Raizel. "Beda dengan ku yang tampan ini," lanjutnya.
"Laki-laki dewasa lebih bisa mengerti wanitanya," ujar Vano.
"Hei... laki-laki remaja juga bisa mengerti wanitanya," bantah Raizel lagi.
Neva memperhatikan perdebatan antara mereka berdua dengan lucu. Namun tiba-tiba hidungnya terasa geli karena udara dingin angin malam. Dia menahannya. Tapi....
"Hachum," pertahanan rasa geli di hidungnya tidak bisa di tahan lagi. Vano dan Raizel segera menoleh ke arahnya dan dengan cepat melepas jaket mereka.
Tap... Vano lebih dulu meletakkan jaketnya di pundak Neva. Itu membuat Raizel frustasi, tapi kemudian dia meraih tangan Neva dan menarik kedalam pelukannya.
"Kau kedinginan?" ucapnya dengan memeluk Neva dan mengusap punggungnya.
Astaga... Vano melebarkan matanya melihat itu.
***@***
Malam yang sama di tempat lain.
Kopi hitam itu masih mengeluarkan asap, pertanda bahwa kopi itu masih panas. Di teras depan rumah, asap rokok itu mengebul dari bibir yang baru saja tersenyum bahagia. Matanya menatap remang malam dengan masih meniupkan asap rokok dari bibirnya.
"Jadi, kau sungguh jatuh cinta padanya?" Tanyanya pada sang putri yang duduk di bangku disampingnya. Sang putri mengangguk pelan. Ya... dia baru saja bercerita kepada Papanya tentang perasaannya, tentang detak jantung yang tidak biasa yang dia miliki untuk laki-laki yang telah beristri.
"Kau pintar, gadis," lanjut sang Papa dengan masih menatap remang malam. "Seharusnya memang kamu pendamping Lee, bukan gadis itu," nada suaranya begitu yakin dengan kepulan asap dari bibirnya.
"Aku hanya menyukainya dan tidak berharap untuk memilikinya. Dia sudah memiliki istri dan tidak baik untuk ku ada diantara mereka," ucap sang putri dengan senyum tipis. Bayangan senyum indah itu menghampiri pikirannya. Dia mencoba menampiknya dan berpikir dengan rasional. Sang Papa tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan putrinya. Dia mematikan rokoknya yang hanya tinggal sedikit. Kemudian, mengambil kopi hitam itu dan menyesapnya.
"Laki-laki itu boleh memiliki dua pendamping, memiliki dua cincin. Dua? Hahaa bahkan empat juga boleh," ujar sang Papa dengan senyum misterius menatap putrinya.
___
Catatan Penulis ( Curhatan 🥰 )
Huwaaa.... dialog terakhir mengandung amukan Readers.... Thor kabuuuurr..... 🧗✌️
Eh bentar, balik lagi. Jangan lupa like n koment yaaaa.
Eh... ini masih bersambung lho ya. Plis ngamuknya sedikit di kondisikan.
Cling.... Thor menghilang dari amukan.🛸