
Teman-teman sekelas Dewi sudah mengeluarkan semua isi tas masing-masing di atas meja untuk diperlihatkan namun masih belum menemukan dompet milik Dewi yang hilang.
Nino tak kehabisan akal. Ia pun segera mengajak Dewi melapor ke ruang guru agar segera diumumkan rencana penggeledahan di setiap kelas.
Setelah mendapatkan persetujuan dari guru piket yang bertugas, Nino dan Dewi segera menuju ke setiap kelas untuk melakukan pencarian. Seluruh kelas sebelas dan dua belas sudah digeledah namun belum ketemu juga.
Merekapun menuju ke kelas sepuluh yang terdiri dari empat kelas. Dan akhirnya sampailah giliran di kelasnya Tiara.
Tiara dan kedua sahabatnya dengan santai mengeluarkan isi tas masing-masing. Namun betapa kagetnya Tiara saat melihat dompet hitam berada di antara barang-barangnya.
Mulutnya ternganga begitu juga dengan semua yang ada di dalam kelas saat itu.
" What? kenapa ada dompet di tasku?" tanya Tiara tak mengerti.
" Ra, bukannya dompet itu yang sedang dicari-cari mereka?" tanya Hesti yang tak kalah kagetnya. Dhilla pun sama.
Mendengar percakapan mereka, Nino segera mendekat dan mengambil dompet itu.
" Wi' bener ini dompet lo ?" teriak Nino sambil mengacungkan dompet di tangannya.
" Iya bener, itu dompet gue!" jawab Dewi bergegas mengambil dompet di tangan Nino. Lalu memeriksa isinya. Ternyata semua masih lengkap.
" Hei ! Lo kenapa nyolong dompetnya hah?" bentak Nino. Matanya melotot ke arah Tiara.
" Bu . . bukan aku kak. Nggak tahu kenapa dompetnya bisa ada di dalam tas aku". jawab Tiara panik.
" Hei ! jangan asal nuduh ya ! temenku bukan orang seperti itu. Kalau nggak ada bukti, jangan sembarangan ngomong ya!" Hesti balas melotot ke arah Nino.
" Halah mau bukti apalagi hah? buktinya udah di depan mata gitu kok, masih mau menyangkal ". Emosi Nino semakin tersulut.
Kelas mulai gaduh. Banyak siswa dari kelas lain mulai berdatangan hanya untuk melihat pelaku pencurian itu.
" Udah bawa aja ke ruang guru !" teriak yang lain.
" Idih dasar nggak punya malu ! Maling !" terdengar suara-suara yang sarat kebencian di antara kerumunan itu.
" Sumpah aku nggak nyuri ! aku juga nggak tahu kenapa dompet itu bisa ada di tas aku !" teriak Tiara histeris.
Dhilla dan Hesti segera memeluknya.
" Udahlah Ra' nggak usah dengerin mereka. Aku dan Hesti percaya kok kamu nggak mungkin berbuat seperti itu". hibur Dhilla menenangkan Tiara yang terlihat mulai shock.
Semakin lama suara-suara provokasi itu semakin ramai.
Ryan mendekati sumber kerumunan. Lalu berteriak dengan lantang.
" Diam semua ! Jangan main hakim sendiri ! Lebih baik kita bawa saja si tersangka ke ruang guru untuk menyelesaikan masalah ini !"
Dewi dan Nino menyetujui saran Ryan. Merekapun segera membawa Tiara dan barang bukti ke ruang guru. Tiara dengan pasrah mengikuti keinginan mereka. Ilham yang melihat kerumunan adik-adik kelasnya bertanya ke salah seorang murid yang kebetulan melintas di depannya. Dan jawaban yang ia terima cukup membuatnya kaget.
\*\*\*\*\*
Zian yang lagi rebahan di balkon favoritnya juga merasa terganggu dengan suara ribut-ribut di lantai bawah.
Dengan malas ia mulai mencari tahu penyebabnya. Iapun sama kagetnya dengan Ilham.
" Rasanya nggak mungkin banget Tiara melakukan itu. Heemmm . ."
Otak cerdasnya mulai berpikir sejenak.
" Oh gue tahu siapa pelakunya". ucapnya santai sambil berjalan mencari Rio.
Setelah mendapatkan instruksi dari Zian, Rio pun bergegas menangkap pelaku yang sebenarnya. Tak butuh waktu lama bagi seorang Rio untuk menyelesaikan tugasnya.
Bukk.
Seorang siswa kelas sebelas tersungkur di belakang kantin sekolah akibat pukulan Rio.
" Cukup Rio !" suara Zian menghentikan pukulan Rio yang kedua.
Anak itu terlihat gemetar ketakutan melihat Zian mendekat.
" Ampun kak, bu . .bukan aku pelakunya . . " ucapnya pelan.
" Kalo bukan kamu pelakunya trus siapa hah?? tadi waktu jam istirahat gue lihat sendiri lo menyelinap ke kelas itu !!" bentak zian emosi.
" Udah Zian hajar aja penipu kaya' gitu !" ujar Rio yang sudah tak sabar ingin menuntaskan kemarahannya.
" Sekarang, jawab dengan jujur ! Kalo nggak lo bakalan nyesel seumur hidup !" bentak Zian lagi.
" Ampun kak, memang bener aku yang masukin dompet itu di tasnya gadis itu tapi bukan atas kemauan aku. Aku di suruh seseorang". jawabnya pelan seolah takut didengar orang lain.
" Heemmm sudah gue duga". Zian tersenyum aneh.
" Katakan siapa dia ? cepat !"
" Aku juga nggak tahu wajah aslinya karena waktu itu dia make hoodie, kacamata dan masker hitam. Maaf kak, kemarin ibuku sakit dan harus dibawa ke rumah sakit. Tapi aku nggak punya uang. Disaat aku kebingungan mencari bantuan, tiba-tiba ada yang mendekati aku dan menawarkan bantuan tapi syaratnya yaa itu tadi ". jelas siswa itu panjang lebar dengan wajah memelas.
" Orang yang bantuin lo itu cewek atau cowok?' tanya Rio .
" Dari suaranya sepertinya itu cewek".
" Oke, sekarang lo harus ikut ke ruang guru untuk jelasin semuanya. Gara-gara perbuatan lo, orang yang nggak tahu apa-apa jadi korban". tegas Zian lalu memberikan kode ke Rio.
Paham dengan maksud Zian, Rio segera membawa paksa siswa itu menuju ke ruang guru.
\*\*\*\*\*