Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 294_Masih Rindu


Tak lama setelah Vano masuk ke dalam kamarnya. Ia baru ingat bahwa ia tidak punya baju ganti. Ia meletakkan jasnya lalu membuka satu persatu kancing kemeja putihnya. Terpaksa, malam ini, dia mengenakan kaos santai yang sama dan tidak menggantinya.


Sementara disana, Neva kembali keluar kamarnya dan menuju lantai empat. Dia membuka ruang baju. Ruangan ini sangat luas, lemari baju menempel di dinding dan berjajar. Lemari kaca yang menyimpan baju-baju yang mungkin hanya dipakai beberapa kali saja dan bahkan hanya pernah dipakai sekali.


Di samping lemari baju yang berjajar, ada lemari kaca menyimpan koleksi tas, sepatu dan fashion lainnya yang tertata rapi.


Neva menggeser lemari kaca milik Kakaknya. Dia mencari baju yang sekiranya cocok untuk Vano, baju yang sekiranya pas ditubuh Vano. Postur tubuh Vano tidak jauh berbeda dengan Leo, hanya berbeda sedikit tentang tinggi badan. Leo si jerapah ejek Neva, karena kakaknya memang tinggi dan dia sedikit pendek. Itu menyebalkan.


Setelah memilih beberapa, akhirnya dia menemukan satu baju yang menurutnya sangat cocok untuk Vano. Dia menutup kembali lemari kaca itu dan melangkah ke luar dengan membawa satu stel baju. Ia menuruni tangga, senyum mengembang menghiasi bibirnya. Dengan mengantar baju ini, itu berarti dia memiliki satu kesempatan untuk bertemu dengan Vano. Dia memukul kepalanya pelan dan merasa menjadi gila.


"Astaga, apa-apaan aku ini, kenapa ingin terus bertemu dengan dia?" Neva menuruni tangga dan berjalan pelan menuju kamar Vano. Dia berdiri tegak di depan kamar Vano. Tangannya memegangi dadanya yang berdebar-debar tidak karuan. Vano menginap di rumahnya malah membuat dia gila karena semua yang ada pada dirinya adalah Vano. Bahkan tanpa ia sadari, ia menggumam dalam hati menyebut nama Vano. "Uhum," dia terbatuk pelan untuk sedikit mengurangi rasa groginya. Kemudian, tangannya mengetuk pintu pelan.


"Kak Vano," panggilnya dengan suara bergetar. Sedang apa laki-laki itu didalam? Pikiranya. Kemudian dia sadar dengan panggilannya. Kak? OMG, harus sampai kapan. Dia memejamkan matanya dan bertanya entah pada siapa. Harus manggil dengan sebutan apa dia? Tangannya kembali mengetuk pelan.


"Saya ... ng," dia memejamkan matanya. "Kak Vano,". panggil Neva pada akhirnya.


"Ya," suara Vano menyahut dari dalam. Itu membuat jantung Neva semakin berdegup. "Sebentar," Vano baru saja selesai membersihkan dirinya. Ia segera memakai kemejanya dan membiarkan handuk melilit pinggangnya.


Pelan, dia membuka pintu kamar dan langsung ada senyum Neva yang menyapanya. Neva menatapnya dengan wajah yang bersemu merah, sangat merah. Ia menatap mematung dan menatap Vano.


Vano tersenyum lebar melihat Neva terbengong, "Apa kau sudah merindukan ku lagi?" tanyanya menggoda. Tangan kanannya menyentuh pundak Neva, sentuhan yang membuat Neva tersadar.


Neva segera mengalihkan pandangannya pada baju ditangannya. "Hmm, ini," ucapnya seraya menyerahkan satu stel baju pada Vano. "Kamu tidak ada baju ganti bukan?"


Vano menerimanya. "Terima kasih," ujarnya. Kemudian mereka saling diam.


"Emm, aku permisi," ucap Neva. Vano mengangguk.


"Selamat malam, eh selamat dini hari hhaaa," ucap Neva grogi. Vano tersenyum lebar.


"Segeralah istirahat, kau belum istirahat dari pagi bukan?" Vano berujar dengan perhatian. Neva mengangguk membenarkan ucapan Vano bahwa memang ia belum istirahat dari pagi hingga dini hari ini.


"Selamat istirahat," ucap Neva pelan dengan senyum yang ia paksakan, ia enggan untuk berbalik. Vano meraih tangan kanannya.


"Tunggu disini, aku ganti baju dulu," ucapnya. Neva tersenyum cerah mendengar itu. Wajahnya kembali ceria.


"Baik," jawabnya semangat. Vano melepaskan genggaman tangannya lalu masuk kembali ke dalam kamar untuk mengganti baju. Dia memakai setelan baju santai pemberian Neva. Kaos casual berwarna merah dan celana pendek selutut. Tak lama, dia kembali membuka pintu.


Neva tersenyum melihatnya, "Sangat pas," ujarnya.


"Kau belum ngantuk?" tanya Vano memperhatikan wajah Neva yang masih berseri.


"Kakak udah ngantuk?" Neva balik bertanya. Tangan Vano terangkat dan merangkul pundaknya Neva.


"Aku masih ingin bersamamu," jawab Vano. Dan itu sangat tepat seperti apa yang Neva pikirkan, sama seperti yang Neva inginkan. Jawaban Vano seolah mewakili hatinya untuk menjawab.


"Kita kembali kebawah," ucap Vano. Meskipun dia tahu di kamar Neva dan kamarnya ada televisi tetapi dia tidak mungkin untuk mengajak Neva menonton televisi berdua di dalam kamar. Kemudian, mereka berdua kembali turun kebawah dan duduk di sofa. Lampu utama sudah dimatikan hanya menyisakan lampu-lampu kecil disudut ruangan.


"Aku ambil minum dulu," kata Neva. Dia mengambil dua minuman kaleng dan beberapa cemilan. Vano mengecek ponselnya sebentar lalu meletakkannya di atas meja.


"Tidak ada acara yang bagus," kata Vano saat Neva kembali dan duduk di sampingnya. Dia masih mencari-cari siaran TV.


"Ini tidak masalah," ujar Neva. Film Transformers yang ditayangkan di salah satu stasiun televisi. Vano mengangguk dan meletakkan remote diatas meja. Kemudian ia membuka satu minuman kaleng dan memberikannya pada Neva.


"Terima kasih," ujar Neva setelah menerima minuman. Dia menyesapnya sedikit lalu meletakkannya di atas meja. Dia sedikit melebarkan matanya melihat layar televisi. "Hahh?? apa? Sudah selesai?" dia terkekeh karena ternyata film Transformers sudah selesai. "Belum juga ditonton," sambungnya.


"Hahaa kita terlambat," kata Vano. Dia mengambil minuman kaleng milik Neva lalu menyesapnya.


"Ada satu lagi kenapa malah meminum bekasku?" tanya Neva. Dia menoleh ke arah Vano.


"Minuman bekas bibir mu lebih manis," jawab Vano setelah menelan minuman dimulai. Dia meletakkan kembali minuman kaleng itu. Neva tersenyum malu.


"Sini," tangan Vano mengulur dan merangkul pundak Neva. Dia menggeser duduknya untuk lebih dekat dengan Neva. "Hmmm hujan memang membawa berkah," ucap Vano. Neva menyandarkan kepalanya di dada Vano. Menghirup aroma tubuh Vano dalam-dalam. Menikmati pelukan hangat laki-laki yang membuat jantungnya berdegup kencang.


"Hujan sedang berpihak pada kita," jawab Vano. Telapak tangannya mengusap lembut lengan Neva. "Dia tahu kita masih rindu dan masih ingin bersama. Hujan memberiku kesempatan untuk masih berada di sini," Vano melanjutkan. Neva tersenyum lebar, dalam hati ia membenarkan.


"Apa? Kita? Kau saja kali," ujarnya dengan tawa ringan. "Aku tidak merindukan mu," bohongnya. Vano terkekeh dan mengangguk menyetujui kebohongan Neva. Dia tau tatapan mata gadis ini menyiratkan rindu. Senyum terpaksa dan langkah enggan sesaat setelah memberikan baju, adalah bukti bahwa gadis ini juga merindukannya.


"Ya, ya, hanya aku yang merindukan mu. Sangat merindukan mu," jawab Vano.


"Hahaaa ... tentu saja," sahut Neva. "Aku cantik dan ngangenin," lanjut Neva dengan PeDe. Vano mencolek hidung Neva pelan. Kemudian mereka fokus menyaksikan berita terkini.


"Wahh wahhh, keponakan tampanku ... dia jadi idola baru," seru Neva saat melihat berita yang tayang di televisi. Sebuah berita yang menayangkan keluarga kecil Leo. "Wahh wahhh, ini juga ajaib. Astaga ... sugguhkah itu kakak ku? Dia mau tersenyum didepan kamera dan bahkan mau diwawancara? Aigo ... pertanda apa ini. Apa kiamat akan datang sebentar lagi? Kenapa dia sangat berubah," Neva dengan semangat dan rasa tidak percaya mengomentari siaran berita saat ini. Vano terkekeh. Kemudian, berita selanjutnya adalah tentang bersatunya dua keluarga konglomerat. Ada video Vano saat dia keluar dari mobil dan menapaki karpet merah, dia berjalan dengan gagah dan tersenyum pada awak media yang menyapanya, dia juga sesekali melambaikan tangannya pada awak media.


"Waww, siapa laki-laki tampan itu," kata Neva dengan kekaguman. Matanya menyaksikan berita televisi, dia menahan senyumnya.


Vano menurunkan kepalanya menuju telinga Neva, "Dia calon suami mu sayang," katanya dengan bisikan lembut ditelinga Neva. Bisikan yang membuat Neva tersipu dan tersenyum dengan degupan jantung yang semakin meningkat. Dia tidak menoleh ke arah Vano tetapi menyembunyikan wajahnya di dada Vano. Tangannya memeluk tubuh laki-laki itu.


Berita masih menayangkan acara pertunangan kemarin. Ada yang mengatakan bahwa bersatunya dua anak konglomerat ini adalah sebuah hubungan bisnis. Perjodohan bisnis. Karena sebelumnya Nona muda Nugraha dikabarkan memiliki hubungan spesial dengan aktor muda papan atas. Tetapi saat ini malah muncul dan bertunangan dengan putra tunggal keluarga Mahaeswara. Neva dan Vano sama-sama tertawa melihat berita itu. Pakar bisnis didatangkan langsung untuk mengomentari ini, tentang bersatunya dua konglomerat.


Tak lama Neva menguap.


"Ngantuk?" tanya Vano.


"Sedikit," jawab Neva.


"Masih ada waktu untuk tidur sebentar," ujar Vano yang dijawab anggukan oleh Neva. Kemudian mereka berdua kembali naik ke atas dan masuk kamar masing-masing.


Vano merebahkan tubuhnya lalu langsung terpejam tapi kemudian dia mengingat sesuatu. Tangannya meraba saku celananya. Tidak ada. Ponselnya tertinggal di bawah. Vano bangkit dari tempat tidur dan keluar kamar. Dia turun kebawah dan mengambil ponsel miliknya yang tergeletak di atas meja.


Yuna baru saja keluar dari ruang makan saat Vano kembali dan menaiki tangga pada pijakan kelima langkah kakinya. Yuna melengkungkan bibirnya.


"Hmm, ternyata dia juga turun," batin Yuna. Yuna baru saja meletakkan asi peras didalam kulkas. Ruangan yang gelap dengan sedikit pencahayaan membuatnya hanya tau ada sosok yang menaiki tangga. Dia mengendap-endap tetapi dengan langkah cepat untuk menyusul seseorang itu. Ia ingin mengagetkan.


"Dorrr," serunya mengagetkan dan langsung menggenggam tangan kanan seseorang itu. "Kau tertangkap," ucapnya. Kedua telapak tangan itu bertemu, seseorang itu langsung mematung menghentikan langkahnya. Dia menoleh dengan sangat pelan dan membawa pandangannya pada gadis yang saat ini sudah berada di sampingnya.


Yuna kaget setengah mati saat merasakan tangan yang ia genggam terasa berbeda dengan tangan milik Leo. Dan sungguh dia ingin mengutuk dan memaki dirinya saat seseorang itu menoleh ke arahnya. Pandangan mata itu juga bukan milik Leo.


Kedua tangan dan pandangan itu bertemu sepersekian detik. Saling menatap. Waktu seolah dalam mode pause tepat saat tangan dan mata mereka bertemu.


Yuna segera melepas genggaman tangannya, "Maaf, Vano," ucap Yuna gugup. Dia malu dan canggung setengah mati. Kenapa dia sangat ceroboh, kenapa sifat cerobohnya terulang lagi. Dia memaki dirinya sendiri dalam hati.


"Tidak apa-apa Yuna," jawab Vano pelan dengan masih menatap Yuna. Tangan hangat nan lembut Yuna masih terasa ditangannya.


"Maafkan aku Vano," ucap Yuna. "Maafkan aku, aku tidak tahu jika kau ada disini. Ku pikir kau adalah Leo, aku minta maaf, sungguh minta maaf," Yuna menunduk dan membungkukkan badannya untuk meminta maaf pada Vano.


"Tidak apa-apa, jangan terus-terusan meminta maaf," jawab Vano halus. Dia menatap Yuna yang menunduk di depannya.


"Vano aku permisi," pamit Yuna.


"Huum, silahkan," jawab Vano dengan anggukan. Yuna segera menaiki tangga dan meninggalkan Vano yang masih berdiri di tangga. Vano mengangkat tangannya dengan pelan, dia memperhatikan telapak tangannya. Kemudian, ia kembali menaiki tangga dan masuk ke dalam kamarnya. Menjatuhkan dirinya diatas tempat tidur. Diam beberapa saat dan hanya menatap langit-langit. Sebelum akhirnya dia menutup kelopak matanya dengan perlahan.


Sementara disana, Yuna dengan pelan membuka pintu kamarnya. Dia berjalan cepat masuk ke dalam kamar dan langsung menyusup ke dalam selimut bersama Leo. Ia memperhatikan wajah halus yang tengah terpejam. Tangannya memeluk tubuh Leo. Dia merasa sangat bersalah. Kenapa bisa dia menggenggam tangan Vano. Matanya berair, dia merasa sangat bersalah pada suaminya.


'Aku salah, aku salah, aku sangat bersalah padamu. Aku minta maaf,' batinnya. Ia mendekat dan mencium kening Leo dengan hati-hati, ia tidak ingin gerakannya membangunkan Leo. Suaminya pasti sangat lelah hari ini. Dia dengan pelan membawa kecupannya dibibir Leo. Menciumnya dengan lembut dan singkat. Kemudian memeluk Leo dengan erat.


_____


Catatan penulis.


Terima kasih untuk sahabat semuanya yang masih setia dengan sabar menunggu kelanjutan kisah ini. Ilupyu full πŸ₯°πŸ˜πŸ₯°πŸ™


Jempolnya digoyang ya kawan tersayang πŸ₯°


Like koment jangan ketinggalan. Luv luv. Padamu. πŸ₯°πŸ™