Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
288_Lamaran 2


Kedua keluarga duduk berhadapan di bangku yang telah di siapkan. Tuan besar Nugraha duduk bersebelahan dengan Nyonya besar. Dimas dengan Nora di sebelah kanan Papa dan Mama. Dan Leo dan Yuna duduk bersebelahan di samping kiri Papa dan Mama. Acara ini di adakan di ruangan terbuka, dihalaman super luas yang sudah dihias dengan sangat apik.


Pembawa acara memulai acara dengan menyambut hangat keluarga Mahaeswara kemudian doa lalu dilanjutkan dengan sambutan dari keluarga Vano.


Keluarga Mahaeswara diwakili oleh kakak laki-laki dari Tuan besar Mahaeswara menyampaikan maksud dan niat baik dari keluarga Mahaeswara. Kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari keluarga Nugraha yang diwakili oleh Dimas.


Dimas mengucap syukur dan terima kasih atas niat baik keluarga Mahaeswara.


Setelah sambutan formalnya, dia menatap Vano dengan senyum.


"Tuan muda Vano," panggil Dimas. Vano yang menatap Dimas dari tadi langsung mendapatkan mike dari pembawa acara.


"Ya, Kak Dimas," jawabnya dengan senyum. Dia menjawab dengan langsung memanggil kakak pada Dimas. Itu, membuat beberapa orang tertawa kecil dan bahkan bertepuk tangan.


Yuna adalah salah satu dari orang yang ikut tertawa kecil mendengar itu. Tangannya menggenggam jemari Leo.


"Sebentar lagi, dia juga akan memanggil mu kakak," goda Yuna, ia berbisik pelan di telinga Leo. Leo langsung menoleh ke arahnya. "Kak Leo," panggilnya mempraktekkan. Dia sengaja memanggil Kak Leo dan bukan Kak Lee. Ia telah berjanji dengan dirinya sendiri, jika ia tidak akan memanggil Leo dengan sebutan Lee. Karena Lee adalah panggilan yang sering Kiara sebut dibibirnya.


"Kak Yuna," balas Leo menggodanya. Yuna semakin tertawa dengan jawaban Leo.


Dimas tersenyum lebar mendengar dirinya dipanggil kakak oleh Vano.


"Aku ingin bertanya padamu," lanjut Dimas. Vano mengangguk dengan pasti. Dia telah siap untuk semua pertanyaan yang akan diajukan oleh kakak pertama dari gadis pujaan hatinya.


"Kenapa kau menyukai adik ku?" tanya Dimas. Matanya masih menatap Vano.


Vano mengambil nafasnya. Kemudian, ia tersenyum. Dia sedikit membawa pandangannya pada Yuna, sekilas melihat gadis itu. Lalu ia kembali menatap ke arah Dimas dengan tenang. Bibirnya menyunggingkan senyum.


"Neva, dia gadis yang mampu merubah pandangan ku tentang cinta. Tentang hati yang ingin ku bekukan. Dia gadis dengan cahayanya yang membuat ku kembali percaya pada sesuatu yang menelusup di kalbu. Neva, dia adalah anugerah yang Tuhan hadirkan dalam gelap dan gelisah duniaku kala itu. Dan ku harap aku mampu membawa hubungan ini menjadi kisah cinta yang abadi," jawabnya dengan penuh perasaan. Dimas mengangguk dengan haru dan puas.


Kemudian, Vano berdiri dari duduknya. Ia menatap Tuan besar Nugraha, Nyonya besar Nugraha, dan Leo. Pandangan matanya terbalas, mereka semua menatap kearahnya.


"Aku meminta izin dan restu untuk meminang putri tercinta Papa dan Mama. Neva D Nugraha untuk menjadi berdampingan dan penyempurna hidup ku," ujar Vano dengan ketulusan dari hatinya. "Semoga Papa dan Mama memberikan restu kepada saya," lanjutnya dengan suaranya yang kalem dan sopan. Leo mengalihkan pandangannya, ia menggenggam jemari Yuna. Yuna membawa pandangannya pada Leo dan membalas genggaman tangannya.


Nyonya besar Nugraha tersenyum dengan hari mendengar ucapan Vano. Kemudian, beliau berdiri dan menerima mike dari pembawa acara.


"Vano. De Vano Mahaeswara," suara Nyonya besar Nugraha penuh kelembutan menyebutkan nama lengkap Vano. "Mama berterima kasih untuk niat baik Ananda meminang putri tercinta kami, putri kami yang manja," baru mengucapkan beberapa kalimat rasa haru dan genangan air mata menghampiri Mama. Beliau melihat ke atas sebentar lalu melanjutkan, "Vano, kau adalah laki-laki yang putri kami pilih untuk membimbingnya. Laki-laki yang putri kami pilih untuk menjalani hari-hari dengan indah," satu tetes air mata Mama jatuh. Beliau segera menghapusnya dan menahan rasa haru dalam hatinya.


Tuan Nugraha mengusap punggung istrinya dengan lembut.


"Putri kami yang manja, dia bahkan terkadang masih nakal. Mama meminta kesabaran mu untuk terus membimbingnya, untuk terus mencintainya, untuk terus membuatnya bahagia," air mata Mama mulai berjatuhan setelah mengucapkan kalimat itu. Disana, dilantai dua tempat Neva menyaksikan dari dinding kaca. Air mata menetes perlahan dipipi Neva. Lula memeluknya dan ikut menangis penuh haru.


Mama membawa pandangannya pada Leo. Beliau mengulurkan tangannya dan Leo langsung menyambut uluran tangan mamanya. Mama tersenyum menatap putranya. Sekelebat terlintas bagaimana Leo menentang hubungan ini. "Terima kasih Kakak," ucap Mama dengan isyarat bibir tanpa mengeluarkan suara. Leo mengangguk dengan senyum. Tanpa melepaskan genggaman tangannya pada Leo, mama kembali menatap Vano.


"Vano, Mama meminta dengan tulus untuk juga mencintai kakak dari gadis yang kau inginkan. Kak Dim, Kak Lee ... sayangi Kakak dari gadis yang kau inginkan seperti kau menyayangi saudara sendiri," ujar Mama dengan suaranya yang serak dan tercekat karena menahan isak. Kemudian, Mama menatap Dimas dan Leo secara bergantian. "Kakak, sayangi laki-laki pilihan adik dengan tulus. Kita akan menjadi satu keluarga, mari saling menyayangi dan mendukung," lanjut Mama. Beliau menunduk. Leo berdiri dan langsung memeluk mamanya, pun juga dengan Dimas. Dia langsung menuju mamanya dan memeluknya. Papa juga berdiri dan memeluk ketiganya.


Vano menunduk, tangannya terangkat untuk menyeka air matanya yang menetes. Sekarang dia tahu dan paham bagaimana keluarga ini begitu kuat. Akhirnya dia mengerti kenapa dulu Neva lebih memilih mengorbankan perasaannya sendiri untuk menjaga perasaan Leo. Mereka memiliki rasa kasih yang begitu hebat.


Suasana menjadi hening dengan suara isak tertahan. Nyonya Mahaeswara menangis di pelukan suaminya. Beliau bahagia, putra semata wayangnya mendapatkan wanita yang tepat. Wanita dengan keluarga yang menerima dan menyayangi dirinya seperti anak dan adik kandung sendiri. Keluarga yang hebat.


Kemudian, tak lama semua bisa menguasai emosi haru ini. Mama dengan senyum kembali menatap Vano dengan teduh.


"Kami semua merestui mu, Nak," ujar Mama.


"Terima kasih untuk restu dan cinta Mama, Papa dan Kakak," ucapnya lembut penuh perasaan. Ia memeluk Mama dengan dan kembali mengucapkan rasa terima kasihnya. Kemudian ia memeluk Papa, Kak Dim dan Leo.


"Rasanya ribuan bahkan jutaan terima kasih tidak akan pernah cukup untuk mengungkapkan ini," ujarnya.


"Cukup bahagiakan adikku saja," jawab Leo.


Kemudian, setelah acara yang mengharu biru selesai. Kini Dimas kembali membawa mike ke bibirnya dan tersenyum.


Saat ini, Vano sudah kembali ke tempatnya tetapi masih berdiri.


"Hei, kau jangan dulu berbahagia Tuan muda," ujar Dimas. "Kita belum mendengar jawaban langsung dari Neva, apakah dia akan menerima mu atau tidak," lanjutnya.


"Aku berharap dan aku yakin, dia akan menerima ku," jawab Vano.


"Ok, baiklah. Kita tanya langsung pada sang pemilik hati," ujar Dimas. Lalu tangannya terangkat untuk memberi isyarat pada adiknya untuk keluar menemui seseorang yang datang untuk meminangnya.


Instrumen piano dan gesekan biola langsung mengiringi seseorang yang akan hadir di tengah-tengah dua keluarga. Seorang gadis yang mereka tunggu.


Dua gadis berjalan berdampingan dari dalam dan menapaki karpet merah menuju halaman. Kedua gadis itu memegang poster gambar wajah Neva untuk menutupi wajahnya. Lalu disusul dua lagi yang berbaris rapi, dua gadis itu juga memakai poster wajah Neva untuk menutupi wajahnya. Lalu, dua gadis lagi, hingga barisan itu mencapai dua puluh barisan.


Semua mata tertuju pada barisan itu. Dengan hati yang bahagia. Andai bisa digambarkan, perasaan ini bagai bunga sakura yang berjatuhan dari atas langit dan menghujani setiap hati yang bahagia.


Dengan jantung yang berdegup, mata Vano tidak dibiarkan lepas dari barisan itu.


Para gadis yang memakai poster masih berjalan diatas karpet merah lalu berhenti di ujung tempat duduk dua keluarga besar. Perlahan, barisan itu terbelah, para gadis poster merenggangkan barisannya. Dari barisan satu hingga dua puluh. Hingga, terlihatlah satu bidadari yang tengah ditunggu-tunggu. Ia menundukkan wajahnya lalu dengan gerakan slow ia mengangkat wajahnya.


Neva tampil cantik dengan balutan kebaya panjang karya desainer ternama negara ini. Kebaya warna peach soft sangat pas menempel di badan gadis cantik anak ketiga dari keluarga konglomerat Nugraha. Riasan makeup flawless glow membuat Neva makin menawan. Senyum merekah indah tetapi malu-malu menghiasi bibirnya.


Mata mereka bertemu, Vano dan Neva. Pandang mata yang membawa debaran pada jantung. Gadis itu berjalan anggun melewati barisan gadis-gadis bertopeng, ia membawa langkahnya menuju seorang yang berdiri di sana tengah menunggunya.


"Adikku sudah ada di depan mu, Tuan muda Mahaeswara. Jadi ... apa yang akan kau katakan padanya?" suara Dimas penuh kebahagiaan ketika menanyakan itu. Adik perempuannya sangat cantik malam ini.


Vano mendengar pertanyaan Dimas tetapi itu tidak mengubah sedikitpun pandangan matanya pada gadis yang berdiri di depannya.


Pelan, ia membawa mike ditangannya menuju bibirnya. Ia ingin menyampaikan sesuatu. Suatu maksud yang ada dihatinya. Ia telah merangkai begitu banyak kata, begitu banyak bait untuk mengutarakan betapa indahnya niatan dia ini. Dengan yakin dia berujar.


"Neva ...." suaranya lembut memanggil gadisnya. Pikirannya hanya dipenuhi oleh gadis didepannya ini. "Nikah yuk," lanjutnya. Ucapan yang disambut sorak sorai yang berada di situ. Neva tersenyum lebar dan langsung merapatkan giginya untuk menahan senyum karena ucapan Vano langsung pada inti dan tidak penuh basa-basi dengan kata romantis.


Vano menunduk sebentar untuk menyembunyikan senyumnya. Entah hilang kemana untaian kata romantis yang telah ia rangkai, entah sirna kemana bait-bait indah yang telah ia susun. Hilang begitu saja.


____


Catatan Penulis


Hallo... Jangan lupa jempolnya di goyang ya kawan tersayang πŸ₯°


Like komen gratis lhooo πŸ₯°πŸ€—πŸ™πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜ Tengkyu mbeb semuanya luv luv


JANGAN ADA YANG NYONTEK ATAU PLAGIAT TULISAN INI. DARI AWAL SAMPAI AKHIR. ATAU AKAN KUCABIK-CABIK HINGGA HANCUR.