Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 257_Teruslah Bersama Ku 2


"Kau pandai menggombal juga Nona," ujar Vano.


"Hmm, aku tidak akan kalah darimu," jawab Neva dengan tawanya yang renyah. Tepat setelah itu, lampu merah di perempatan menyala dan mobil Vano berhenti dengan pelan.


"Kenapa berhenti?" Neva bertanya dengan langsung menoleh ke arah Vano. Tangan Vano terangkat untuk menunjuk rambu lalu lintas.


"Seharusnya Kakak terus saja," ujar Neva yang membuat Vano mengerutkan keningnya tak mengerti tetapi itu hanya sebentar karena Neva segera melanjutkan ucapannya, "Teruslah bersamaku."


Vano tersenyum lebar mendengar gombalan Neva lagi. Tangannya mengulur dan mencubit pipi Neva dengan gemas. Sejujurnya dia ingin menciumnya tapi tidak boleh, jadi dia menahannya dan hanya mencubit pipinya saja.


Mereka berdua saling tertawa ringan, saling menatap dengan perasaan yang begitu bahagia. Tak lama, lampu merah berubah menjadi hijau dan kemudian mobil Vano kembali melaju.


Mata Neva melihat seseorang yang berdiri di pinggir jalan dan ada tentengan di tangannya. Seseorang itu memperhatikan jalanan yang padat dan menunggu untuk menyebrang.


"Kak Vano, bukankah itu Kak Alea?" Neva menyentuh pundak Vano pelan dan menunjuk ke arah depan.


"Iya," Vano menjawab setelah memastikan seseorang yang dimaksud Neva. Kemudian, dia menepikan mobilnya tepat di depan Alea berdiri.


Neva menurunkan kaca mobil, "Kak Alea," sapanya dengan senyum. Kemudian dia membuka pintu mobil dan keluar untuk menemui Alea.


"Hai, Nona Neva," jawab Alea sopan.


"Kakak sedang apa dipinggir jalan? Apa sedang menunggu seseorang?" Tanya Neva perhatian.


"Aku baru saja membeli buah," Alea menjawab dengan memperhatikan tentengan di tangannya.


Neva mengangguk, "Sekarang kakak mau pulang? Bagaimana jika kita barengan. Kak Vano bisa mengantar Kak Alea," kata Neva menawari Alea.


"Terima kasih Nona Neva," jawab Alea sopan lalu dia menceritakan bahwa dia sedang menunggu Papanya dirumah sakit karena kecelakaan.


Neva baru menyadari bahwa memang Alea berdiri di seberang Rumah sakit.


"Azinkan aku ikut menjenguk papanya Kak Alea," ujar Neva.


"Dengan senang hati Nona Neva, Papa juga pasti akan sangat bahagia dengan kedatangan Nona," jawab Alea.


Kemudian, Neva dan Vano ikut Alea ke ruangan dimana papa Alea dirawat.


"Selamat sore, om," sapa Neva, lalu Vano juga menyapanya dengan ramah.


"Sore," jawab Tuan Wijaya dengan senyum bahagia. Beliau memperhatikan Vano dan Neva secara bergantian. Dalam hati sudah bisa menebak jika Vano dan Neva adalah sepasang kekasih. Beliau tersenyum, pasangan yang serasi, batinnya. Sama-sama dari keluarga konglomerat.


Neva dengan perhatian menanyakan keadaan Tuan Wijaya dan dengan perhatian pula dia mendengar jawaban dari Tuan Wijaya.


"Aku akan memberi tahu Papa tentang ini," ucap Neva.


"Ah tidak perlu, itu akan membuatnya repot untuk datang kesini," tolak Tuan Wijaya dengan halus.


Neva menoleh ke arah Alea yang duduk di samping ranjang Tuan Wijaya.


"Kak Alea, apa Kak Lee dan Kak Yuna tahu ini?" Tanya Neva yang dijawab anggukan oleh Alea.


"Apa mereka sudah menjenguk kesini?" Neva bertanya lagi dan pada pertanyaan ini, Alea menggeleng. "Hmmm, keterlaluan mereka ini," ujar Neva.


"Yuna baru saja sembuh, Leo pasti tidak menginginkannya untuk keluar. Dan pasti kakak Lee tidak akan jauh-jauh darinya," sahut Vano. Neva mengangguk membenarkan ucapan Vano. Lalu dia menyadari ada satu kata yang asing dalam ucapan Vano. Dia sedikit menjinjit dan berbisik pelan.


"Kau panggil apa tadi pada Kakak ku?"


Mendapatkan bisikan pertanyaan itu, Vano menunduk dan membalas bisikan Neva.


"Kakak Lee," bisiknya. Neva mengigit bibirnya menahan senyum. Panggilan yang terdengar sangat manis.


Mereka berdua kembali setelah Vano menerima panggilan dari papanya. Setelah dari rumah sakit, Vano langsung mengantar Neva kembali.


Mobil Vano berhenti dengan pelan di halaman rumah besar keluarga Nugraha.


"Terima kasih Kak," ujar Neva dengan senyum. Dia membuka sabuk pengamannya.


"Ku harap kita bisa pergi bersama besok," Vano menatapnya. Tangannya terangkat untuk mengambil tangan Neva dan menggenggamnya. Dia akan keluar kota besok.


"Hmm, aku akan memikirkannya," Neva menjawab dengan membalas tatapan mata Vano padanya.


"Selamat malam sayang," ucapnya.


"Malam Kak," balas Neva dan tangan Vano langsung mencubit pipinya..


"Kapan kau akan berhenti memanggilku Kakak?"


"Kenapa?"


"Kita pacaran sekarang tapi kau masih memanggilku Kakak seperti kau memanggil Leo," Vano memprotes dengan sedikit membuat wajahnya berubah menjadi muram. Neva menatapnya dengan pandangan mata yang canggung, lalu dia mengalihkan pandangannya.


"Aku .... "


"Belum terbiasa," sahut Vano segera. "Ok, aku akan menunggu lagi," lanjutnya mengalah. Neva kembali membawa pandangannya pada Vano.


"Terima kasih, s ... Kakak," ucap Neva. Dia masih malu untuk memanggil kata itu.


Vano mengangguk, "Selamat malam, maaf kali ini tidak bisa mampir," ujar Vano.


"Tidak apa-apa."


***@***


Di kastil pinggir pantai.


Yuna bangun pukul setengah tiga dini hari dan dia tidak menemukan Leo berada di sampingnya. Pelan, ia turun dari ranjangnya dan membasuh wajahnya. Kemudian, dia keluar dari kamar dan turun kebawah untuk mengambil segelas air hangat. Kemudian, ia langsung menuju ke ruang belajar Leo. Tangannya mengetuk pelan dan dia langsung membuka pintu itu.


Benar, ada Leo disana. Dia tengah sibuk dengan laptop diatas mejanya, jari-jarinya begitu terampil menari di atas keyboard. Dia sangat serius hingga tidak menyadari bahwa Yuna telah masuk ke dalam ruang belajarnya.


'Jadi, ini yang kau lakukan saat aku tidur? Jadi ini yang kau lakukan ketika kau memintaku untuk bersantai dan tidak memikirkan apapun disini. Kau bahkan tidak memperhatikan tidur mu. Sayang, terima kasih untuk semuanya, untuk cinta luar biasa yang kau miliki.'


Yuna melangkah untuk lebih dekat. Dia meletakkan gelas di tangannya dengan pelan diatas meja. Jari Leo langsung berhenti secara otomatis saat menyadari itu, dia langsung mendongak dan menatap Yuna yang berada didepan mejanya.


"Sayang," ucapnya dengan cemas. "Kau bangun? Apa tidur mu tidak nyenyak?" Tanyanya. Kedua tangannya mengulur, meminta Yuna untuk mendekat padanya.


Menurut, Yuna melangkah ke arah Leo dan langsung memeluknya. Leo menyandarkan kepalanya di perut Yuna.


"Kenapa kau terbangun?" Tanyanya.


"Aku ingin buang air kecil tadi," jawab Yuna. Leo melepaskan pelukannya dan segera mematikan laptop miliknya setelah sebelumnya menyimpan datanya.


"Kau bekerja?" Yuna bertanya dengan nada yang lembut dan merasa kasihan.


"Tidak," jawab Leo mengelak, "Aku hanya merapikan file-file yang berantakan," lanjutnya meyakinkan. Yuna mengusap rambutnya dengan perhatian lalu mengambil segelas air putih hangat yang tadi ia letakkan di atas meja. Dia memberikannya untuk Leo.


"Terima kasih," Leo menerimanya dan menyesapnya separo. "Ayo kembali ke kamar," ajaknya setelah ia meletakkan gelas itu diatas meja.


"Aku tidak mengantuk," jawab Yuna enggan untuk kembali ke kamar.


"Hhmmm, aku janji tidak meninggalkan mu lagi," ucap Leo.


"Bohong."


"Janji sayang."


"Aku tidur seperti kerbau dan saat itu kau akan diam-diam meninggalkan ku dan kesini," ujar Yuna dengan memasang wajah masam. Leo tertawa mendengar itu.


"Sembarangan, istri cantik mana boleh disamakan dengan kerbau," Leo mencubit hidung Yuna pelan.


___


Catatan Penulis


Hallo Sahabat Sebenarnya Cinta 🌹


Oh iya. Jangan lupa mampir di Novel Nanas satunya ya. Judulnya... "Matahari Tenggelam" By.F.A queen. πŸ₯°πŸ™ Terima kasih SSC 🌹


Jangan lupa like koment ya Kawan kesayangan. Padamu... luv luv 😘πŸ₯°