
Sesampainya di kamar kost, Tiara memulai rutinitasnya seperti biasa.
Mandi kemudian menyiapkan makan malam untuk dirinya sendiri.
Seringkali ia makan sambil menangis sendiri.
Seperti halnya saat ini. Setiap kali sadar bahwa ia hanya seorang diri, air matanya menyeruak seketika.
Teramat besar kerinduannya akan kebersamaan yang dulu ia rasakan bersama mama dan adiknya. Namun kini semua momen berharga itu hanya sebatas kenangan.
Tiba-tiba handphonenya berdering.
Perlahan ia mengelap air matanya yang membuat pandangannya buram.
Panggilan dari Hesti.
Hesti π : " Hallo bestie, lagi ngapain? kamu
baik-baik aja kan ?". ( terdengar suara cempreng Hesti dari seberang sana )
Tiara malah makin mellow demi mendengar suara sahabat yang lama ia rindukan.
Tangisnya pecah seketika.
Hesti π : ( panik) " Ra' kamu kenapa? ayo
cerita sama aku, ada yang
gangguin kamu di situ? aduh
gimana nih, aku hubungi Rey ya
biar jagain kamu di situ?"
Tiara π : " Eh nggak . . nggak mau, hiks hiks,
Hesti π : " Trus kenapa tiba-tiba nangis ?"
Tiara π : " Kangen . . . "
Hesti π : " Duh kirain ada apa ".
Hesti π : " Tenang aja, minggu depan aku
balik kok ".
Tiara π : " Beneran ?"
Hesti π : " Iya dong, masak boong ".
Tiara π : " Janji ya, awas kalo nggak
datang !" (ancam Tiara)
Hesti π : " Tenang aja, aku pasti datang.
Nanti aku hubungi Dhilla juga, biar
rame ".
Hesti π : " Ya udah, sampai ketemu minggu
depan".
Tiara π : " Bye, hati-hati di sana ya ".
Hesti π : " Oke, bye Ara sayang !"
Panggilan terputus.
Ada rasa bahagia yang muncul tiba-tiba.
Tiara melanjutkan lagi makan malamnya yang tadi terhenti sejenak. Tiada air mata, berganti senyum menghiasi wajahnya. Tak sabar rasanya bertemu kembali dengan kedua sahabatnya.
Selesai makan, ia langsung membersihkan peralatan makannya. Setelah itu beristirahat sebentar sekedar memberikan waktu pada organ tubuhnya untuk mencerna makanan yang masuk tadi.
Waktu terus beranjak hingga pukul sebelas malam lewat dua puluh menit.
Bergegas ia merapikan tempat tidurnya, bersiap merebahkan tubuhnya yang lelah.
Baru beberapa saat, terdengar bunyi pesan masuk di handphonenya.
Dengan terpaksa ia meraih handphone yang tergeletak di atas meja kecil di samping kasur .
Matanya terbelalak melihat siapa pengirimnya.
Si Brengsek.
Ra, gimana kabar lo? (isi pesan yang sukses merobek kembali luka di hatinya )
Dasar brengsek ! nih orang tahu diri nggak sih ? udah lama ngilang gitu aja eh pake nanya kabar lagi. umpat Tiara geram.
UDAH MATI !! PUAS ???!!! ( Tiara membalas pesan singkat itu dengan geram kemudian mematikan handphone )
Efek ngantuk berat, iapun melanjutkan tidurnya. Tiara tak mau lagi menyiksa dirinya. Sudah cukup selama ini ia menangisi orang yang tak pernah peduli sedikitpun dengannya.
Sekarang waktunya beristirahat agar besok bisa melanjutkan hidupnya seperti biasa.
Matanya mulai terpejam.
Tak lama ia mulai terlelap dalam mimpi.
Ia melihat Zian dalam sebuah kamar serba putih, duduk dengan wajah sendu. Di sampingnya ada seseorang yang terbaring lemah. Entah siapa, wajahnya tidak begitu jelas.
Alarm membangunkan Tiara dari mimpi aneh itu.
" Mimpi apa sih semalam itu ? ah sudahlah, waktunya bekerja ". gumamnya kemudian bangun dari kasurnya.
Ia menyiapkan sarapan ala kadarnya, nasi goreng plus kopi kesukaannya. Setelah itu ia bergegas mandi.
Tak lama kemudian ia pun berangkat ke tempat kerjanya. Berjalan kaki sebentar dari area rumah kost menuju ke jalan utama. Di sana ia menunggu angkot yang akan mengantarkannya sampai ke pusat kota.
Tanpa ia sadari, sepasang mata sedang mengawasinya sejak ia keluar dari rumah tadi.
Tiara segera naik angkot yang sudah berhenti di depannya dengan lega karena belum banyak penumpang yang naik.
\*\*\*\*\*