
Keesokan harinya di sekolah . . .
Rio sudah bersiap melaksanakan misi pertama yang diberikan Zian. Hanya tinggal menunggu beberapa menit. Waktunya istirahat.
Kring . . kring . . kring
Saat yang ditunggu pun tiba.
Rio segera keluar dari kelas untuk memantau gerak gerik Nayla cs. Sekitar sepuluh menitan ketiga gadis yang ditunggu pun terlihat menuju ke kantin. Perlahan Rio berjalan mengikuti mereka. Menunggu adanya kesempatan untuk melakukan aksinya.
Kebetulan banget ketiga gadis itu memesan bakso, beberapa cemilan dan minuman dingin.
Saat mereka memegang mangkok berisi bakso panas, tiba-tiba Rio terhuyung dan menabrak lengannya Sandra dan dengan cekatan Rio menghindar dari cipratan kuah bakso panas.
Sialnya, karena kaget Sandra tak sempat menjauh dari tumpahan kuah bakso. Dan akhirnya menyiram sebagian paha dan kakinya. Sontak ia memekik kesakitan.
"Aduh ! Dasar sial !" pekiknya menyadari ada seseorang yang tadi menyenggol lengannya hingga mangkok bakso yang dipegangnya jatuh .
Rio dengan cekatan langsung menghilang dari situ. Mereka tak sempat melihatnya karena kaget dan sibuk mengurus Sandra yang hampir menangis. Akhirnya Sandra dipapah Nayla dan Nina ke ruang UKS.
" Rasain tuh mandi kuah bakso panas". ujar Rio terkekeh geli sambil berjalan menuju ke tempatnya Zian.
Di balkon, Zian lagi asik rebahan di atas bangku panjang yang sengaja dia bawa saat sekolah libur.
" Bro, udah beres ". ujar Rio sambil menunjukkan jari jempolnya.
" Gimana keadaannya sekarang?" tanya Zian yang masih rebahan dengan santainya.
" Kayaknya lebih parah dari Tiara, soalnya tersiram dari paha sampai di kaki". jawab Rio tanpa rasa bersalah sedikitpun.
" Good job, thanks. Btw, lo udah makan belom ?" Zian bangun dan mengeluarkan dompet dari saku celananya. Mengeluarkan lembaran seratus ribuan dan di sodorkan ke arah Rio.
" Belum sempat tadi. Udah nggak usah, uang yang kemarin lo kasih aja belum habis nih ".
tolak Rio.
" Udah simpan aja, buat jaga-jaga kalo lo perlu sesuatu ".
" Ya udah, thanks ya bro. Gue cabut dulu ". ujar Rio setelah mengambil uang yang disodorkan oleh Zian kepadanya.
" Oke". balas Zian.
Hatinya cukup puas dengan hasil kerja Rio hari ini.
\*\*\*\*\*
Sementara itu di ruang UKS.
Terdengar rintihan Sandra yang saat ini sedang diobati oleh Bu Sonya.
" Elu sih pegang mangkoknya nggak hati-hati". ujar Nayla sambil duduk di pojokan mengamati mereka.
" Duh Nayla, tadi gue udah hati-hati banget tapi sepertinya ada yang nyenggol lengan gue dan akhirnya gini akibatnya".
" Masak sih? perasaan gue nggak lihat siapa-siapa di deket lo". balas Nina.
" Ah, nggak tau deh pusing gue!" Sandra jadi kesal dengan kedua temannya itu.
" Atau.. jangan-jangan . . . ?" ucap Nina menggantung setelah Bu Sonya keluar dari tempat itu.
Nina terlihat berpikir.
" Jangan-jangan kenapa Nina?" Sandra penasaran.
" Mungkin aja ini karma dari perbuatan lo yang kemarin ke cewek itu". jawab Nina antusias.
Sandra tak bersuara. Benaknya sibuk memikirkan kemungkinan-kemungkinan lain. Tapi apa?
" Masak sih ? ah omong kosong ! gue nggak percaya dengan begituan". jawab Sandra dengan pongahnya.
" Bener tuh, pasti ada yang sengaja nyenggol lengan lo Sandra ". balas Nayla yang mulai berpikir jauh.
" Hem, atau mungkin aja cewek itu sengaja bayar orang buat ngerjain gue". balas Sandra lagi.
" Orang kere gitu gimana bisa bayar orang ". timpal Nina yakin.
" Udah . . udah anggap aja ini hari sialnya lo ". ujar Nayla akhirnya. Ia capek berdebat terus.
Sandra dan Nina hanya terdiam mendengarnya.
\*\*\*\*\*