
Vano duduk di balkon kamarnya. Wajahnya menengadah keatas, menatap langit malam yang sama, bintang yang sama dengan apa yang Neva perhatikan disana. Dia memijit kepalanya pelan. Vano merasa keterlaluan dengan keputusannya. Break? Apakah keputusan yang tepat. Dia meminta break saat Neva merasa cemburu. Bukankah itu berarti seperti dirinya malah membela Yuna.
Kisah mereka rumit, Vano hanya ingin Neva dan dia benar-benar memahami hati masing-masing saat ini. Agar, kecemburuan tidak terulang lagi dan lagi. Agar keraguan segera menepi dan perlahan sirna.
Vano mengambil ponselnya, dia membuka chatnya pada Neva. Neva dalam tanda off saat ini. Vano menunggunya beberapa menit dan masih off. Kemudian, dia beranjak dari duduknya dan melangkah keluar rumah. Mengendarai mobilnya menuju rumah besar keluarga Nugraha.
Vano memikirkan Neva, bagaimana jika gadis itu menangis dalam kehancuran hatinya. Vano bukan tidak mencintainya, bukan juga tengah menghukumnya, bukan pula karena membela Yuna. Bukan. Sekali lagi, dia hanya ingin Neva dan dia memahami hati masing-masing saat ini. Agar masalah yang sama tidak hadir lagi dan lagi.
Pelan, mobilnya berhenti di tepi jalan, di seberang rumah besar keluarga Nugraha. Mobil itu berparkir di tempat yang bisa melihat kearah balkon kamar Neva. Lampu kamar gadis itu masih menyala, itu artinya sang gadis belum tidur. Vano kembali membuka ponselnya dan membuka chatnya. Neva masih dalam keadaan off.
Didalam kamar itu. Tissue berserakan dimana-mana. Mata sembab dengan hidung yang memerah. Hati sakit dengan jantung yang bergejolak. Break? Bagaimana jika Vano meninggalkannya? Dada Neva naik turun mengatur nafasnya yang sesak.
"Jika break berakhir dengan perpisahan, aku bisa apa? Baik, jika semua adalah salahku, aku menerimanya. Baik, jika semua adalah karena aku, aku menerimanya. Terima kasih pernah memberi keindahan dalam hati dan hariku. Jika, jalan ini membawa kita pada perpisahan, aku tak akan memaksa untuk memiliki. Jika nanti kau benar-benar memilih untuk meninggalkanku dan enggan kembali padaku. Kenangan singkat kita akan selalu ku ingat sepanjang aku hidup."
Neva merenungi kesalahannya. Merenungi kegagalannya mempertahankan keindahan hubungannya dengan Vano, kakaknya dan Yuna. Merenung tentang kisah yang baru saja dia dengar dari Vano. Pada hujung malam ini, dengan ditemani rintik sendu, dia menangis dan berpasrah pada semua yang akan terjadi. Yang terjadi terjadilah, gumamnya. Dia akan berusaha untuk memperbaiki diri.
Vano membuka kaca mobilnya separo agar lebih bisa memperhatikan kamar Neva.
"Kau sedang apa gadis?" ucapnya pada angin tanpa jawaban. Vano diam ditempatnya hingga kamar Neva mulai gelap. Baru setelah itu dia kembali.
***@***
Keesokan harinya.
Leo masih terpejam saat Yuna membuka matanya. Tangan Yuna menyentuh pipinya dan membuat kecupan disana. Kemudian, dia beranjak dan membersihkan dirinya di kamar mandi.
Leo masih tidur saat Yuna selesai mandi dan mengganti bajunya. Melihat Leo yang masih begitu nyenyak, membuat Yuna enggan untuk membangunnya. Dia melihat kearah jam. Masih sangat pagi.
Kemudian, suara celoteh lucu Baby Arai menarik Yuna untuk mendekat.
"Selamat pagi tampannya mommy," ucap Yuna dengan senyum. Baby Arai mengeliat dan menatap Yuna dengan imut. Dia berceloteh dengan suara khasnya. Sangat menggemaskan.
"Yuuk mandi yuuk," ujar Yuna. Dia mulai membuka baju anaknya satu persatu. Kemudian menggendongnya. "Daddy masih tidur tuuh," ucapnya menghadapkan wajah Baby Arai pada Leo. Kemudian, dia memandikan anaknya.
Yuna bersenandung kecil sambil memakaikan baju kembali pada Baby Arai. Bercanda dan berdialog dengan manis. Setelah selesai dan memberikannya ASI. Yuna membaringkan anaknya di samping Leo.
"Yuuk, bangunin Daddy, yuk," ucap Yuna. Baby Arai tertawa kecil dan mengoceh khas bayi.
Yuna beralih memperhatikan Leo yang masih terlelap. Wajahnya bersih tapi terlihat pucat. Yuna menatapnya dengan sedih. Tangannya mengulur dan mengusap pipi Leo.
"Daddy, bangun yuuk, sebentar lagi pagi," ucap Yuna lembut.
Mendapat sentuhan dipipi, Leo menyunggingkan bibirnya tetapi masih menutup matanya. Dia merasa sangat lelah. Punggungnya tidak terasa nyeri, dadanya juga tidak terasa sesak tetapi dia merasa sangat lelah.
"Bangun," ujar Yuna lagi. Dia ikut menelusup kedalam selimut dan memposisikan dirinya diatas tubuh Leo. Tangan Leo dengan otomatis langsung memeluk Yuna. "Jam berapa semalam tidur?" tanya Yuna.
"Tidak lama setelah kau tertidur," jawab Leo setelah membuka matanya. Dia menoleh dan mengulurkan tangannya untuk mengusap Baby Arai.
"Hhhmm, rajinnya. Bangun pagi dan langsung mandi," ucap Leo pada anaknya. Jari telunjuknya mendapat genggaman erat dari Baby Arai. Kemudian, diajak untuk bergerak mengikutinya. "Daddy kalah ama Baby tampan dan Mommy," ujar Leo. Dia sedikit mengangkat kepalanya untuk mencium pipi Yuna.
Yuna mengusap rambut Leo dengan kasih, menatap wajah suaminya yang terlihat pucat.
"Hmm?"
"Apa kau merasa demam lagi? Atau ada sesuatu yang kau rasakan, atau kau capek, atau kau pusing, atau kau---"
"Aku tidak apa-apa," sahut Leo.
"Tapi kau pucat," ujar Yuna.
"Ini karena aku baru bangun tidur," jawab Leo. Yuna mengangguk, meskipun dia sangat tidak puas dengan jawaban Leo. Kemudian, dia beranjak dan menyiapkan air hangat untuk Leo.
Yuna turun kebawah bersama Baby Arai saat Leo mandi. Kemudian, kembali lagi setelah menitipkan anaknya pada perawat.
"Sayang, ada telfon dari Papa," ucap Yuna setelah melihat ponsel milik Leo berdering di atas meja. Saat ini, Leo tengah mengganti bajunya. Leo mengangguk kemudian menerima ponsel dari tangan Yuna.
"Terima kasih. Kau turun kebawah dulu. Nanti aku menyusulmu," ucap Leo. Dia mematuk pipi Yuna sebentar kemudian keluar dan duduk di bangku balkon. Perlahan tangannya menggeser tombol hijau.
"Kau sudah memberi tahu istrimu?" tanya Tuan besar Nugraha setelah panggilannya terhubung.
Leo menghela pelan, "Belum," jawabnya.
"Beritahu dia sekarang dan besok kita berangkat ke Negara A. Jangan bodoh dengan menundanya," suara Papa tegas disana.
"Ada masalah yang membuat dia bersedih. Aku tidak bisa memberitahu dia sekarang Pa," Leo menjawab dengan masih saja keras kepala. Mama yang semalaman menangis setelah mendapat kabar langsung meminta ponsel suaminya. Tidak boleh ada bantahan, harus, harus segera.
"Lee ... dengarkan Mama. Kau mencintai Yuna dan ingat kau punya Baby. Kau punya tanggung jawab membahagiakan mereka, kau harus ingat janjimu nak. Kau harus hidup dengan baik, jangan biarkan dirimu menderita, itu akan lebih menghancurkan hati Yuna," ujar Mama teratur dan perhatian. Suara Mama serak karena semalaman menangisi kondisi putranya.
"Ma---"
"Diam Lee---," Mama menyelanya, suara Mama tegas dan membentaknya. Mama tahu betapa keras kepalanya Leo jika tentang wanitanya. Tapi ini bukan lagi tentang Yuna tetapi juga tentang hidup Leo. "Semakin kau menunda memberitahu keadaanmu pada Yuna maka semakin lama kau berobat. Semakin lama kau berobat, kondisi mu akan semakin parah. Bukankah itu malah akan membuat Yuna merasa bersalah? Bukankah itu akan lebih, lebih, dan lebih menyakitinya? Dia harus tahu keadaanmu sekarang. Sampaikan sekarang. Tidak ada nanti, tidak ada besok. Sekarang.
"Ma---"
"Kau pilih menyampaikannya sendiri, atau Mama kesana sekarang untuk memberitahu dia? Mama tidak mau kau menawar. Mama tidak perduli jika kau akan membenci Mama karena memberi tahu Yuna," air mata Mama luruh tanpa bisa menahannya sedikitpun. Mama kembali menangis histeris mengingat kondisi putranya. Tuan besar Nugraha mengambil alih ponsel yang istrinya pegang kemudian memeluk istrinya.
"Beritahu Yuna sekarang, Lee. Papa sudah menghubungi pihak Rumah Sakit di negara A dan dokter spesialis disana. Tidak ada bantahan. Atau kami yang akan memberi tahu Yuna," klik. Setelah mengucapkan itu, Tuan besar Nugraha memutus panggilannya.
"Sudah jangan menangis," ujar Tuan besar Nugraha menenangkan istrinya. "Lee akan baik-baik saja," lanjutnya.
________
Catatan penulis π₯°
Selamat Hari Raya Idul Adha π
Jangan lupa like koment ya kawan tersayang π₯°π Luv padamu.
Emmm, Boleh dooong Share Novel ini ke temen-temen yang belum kenal. Biar baper dan Bucin bareng ππ₯°π Terima kasih Sahabat ... kalian luar biasa π₯° Ilupyu.
Nantikan Up selanjutnya Ya π