
Albar sang ahli dalam mengebut dan ahli dalam mengamankan nyawanya. Dia membawa mobil yang di tumpangi bossnya dengan cepat.
Tangan kanan Leo mengusap perut Yuna dengan sangat lembut dan hati-hati, sementara tangan kirinya memeluk Yuna penuh kasih. Ia mencium keningnya. Yuna tidak mengeluarkan suara apapun. Terkadang, ia hanya meringis menahan sakit di perutnya. Saat sakit itu datang, tangannya akan mencengkeram lengan Leo dengan kuat. Leo tidak merasakan sakit pada lengannya tetapi ia merasakan sakit dihatinya. Ia khawatir, cemas, gelisah, takut, dan entah ada berapa lagi emosi yang mengaduk perasaannya.
"Sayang, ini tidak akan lama. Semangat," ucapnya dengan perhatian. Yuna mengangguk. Rasa sakitnya hilang perlahan, ia lalu memindahkan tangannya dan memeluk Leo.
"Aku akan baik-baik saja," ucapnya pelan. Ia tahu Leo akan over pada semuanya saat ia cemas. "Jangan membentak dan marah pada siapapun," ucap Yuna lagi. Ia ingat, Leo marah pada dokter dan perawat saat dia demam dulu. Leo tidak membantah, ia langsung mengangguk dengan patuh.
Tidak butuh waktu lama, mobil mereka parkir tepat di depan lobi rumah sakit. Pada saat ini, Yuna tidak merasakan mulas, dia hanya merasakan kenyang seperti tadi pagi.
Kedatangannya langsung disambut. Ia langsung di antar ke lantai ruang bersalin yang sudah dibooking seminggu yang lalu. Ia telah memakai gelang pasien. Dokter bilang bahwa Yuna baru pembukaan dua dan itu artinya masih ada delapan sesi lagi yang harus dilewati. Setelah selesai melakukan pemeriksaan, Yuna duduk di ranjang.
"Berapa lama?" Tanya Leo tentang pembukaan. Tangannya mengusap punggung Yuna lembut.
"Itu berbeda-beda Tuan muda," jawab dokter wanita, belum selesai ia menjelaskan, suara Leo sudah memotong ucapnya.
"Aku tanya berapa lama, kau bodoh. Beri jawaban yang pasti," ucapnya dengan mencekam.
"Bisa satu jam, dua jam, tiga jam ...." Dan Leo menyela lagi.
"Satu jam?" Tanyanya dengan menatap tajam pada dokter wanita itu.
"Setiap orang berbeda-beda dalam melewati pembukaan ini, Tuan muda," jawabnya pelan.
Leo tidak meneruskan omelannya karena tiba-tiba Yuna menggenggam tangannya dengan kuat. Kepala Yuna bersandar di perutnya. Leo segera duduk di ranjang disamping Yuna. Dan memeluknya.
"Sayang," gumamnya pelan. Yuna masih tidak mengeluarkan suara, ia hanya meringis kesakitan. Mengambil nafasnya dengan dalam dan mengeluarkan dengan lembut dari mulut.
Mata Leo berpindah pada dokter dan perawat yang masih berjejer.
"Tidak bisakah kalian membuatnya tidak merasakan sakit?" Tanyanya. "Berapa uang yang rumah sakit kalian butuhkan? Aku akan membayarnya," lanjutnya.
Dengan santun dokter menjelaskan bahwa yang Yuna rasakan adalah murni proses seorang wanita saat melahirkan. Ketika perut mengalami kontraksi maka itu akan menimbulkan rasa sakit dan memang seperti itu. Dokter menjelaskan panjang lebar dan menambah rasa cemas dalam diri Leo.
"Minggirlah, jangan tunggu disini," ujar Leo dengan putus asa. Nyatanya uang dia yang sangat banyak tidak bisa membuat Yuna tidak merasakan sakit. Dia sangat frustasi.
Dokter dan perawat dengan patuh langsung minggir dan berjaga di ujung pintu.
"Kau ingin makan sesuatu?" Tanya Leo saat Yuna tidak lagi merasakan mulas.
"Makanan apa yang enak?" Tanya Yuna. Ia menatap Leo. Leo menunduk dan berbisik pelan di telinganya.
"Ciuman ku yang paling enak."
Pipi Yuna langsung memerah dengan senyum lebar di bibirnya. Tangannya langsung memukul dada Leo.
"Kau ...." ucap Yuna. Leo tersenyum, hatinya sedikit tenang saat melihat Yuna tersenyum. Ia sengaja menggodanya. Leo mengambil sirup manis untuk Yuna. Sirup, buah dan makanan bergizi lainnya berjejer di meja.
"Minum," ucapnya. Yuna menerimanya dan menyesapnya sedikit. "Kenapa hanya sedikit? Kau ingin minum dari mulutku?"
Dokter dan perawat yang berdiri di ujung menjadi saling pandang mendengar kata itu. Pikiran mereka menjadi anu.
"Sini," tangan Leo meminta gelas itu tapi Yuna tidak memberikannya. Matanya melirik ke arah dokter dan perawat yang memperhatikan mereka. "Aku tidak perduli," jawab Leo mengetahui maksud Yuna.
"Jangan gila," ucap Yuna dengan tawa ringan. Lalu segera meminum sirup manisnya lagi hingga hampir habis.
Leo mengusap rambutnya. Dia berdoa dalam hati, berharap Yuna segera melewati ini. Yuna sehat, baby nya sehat.
Yuna menurunkan kakinya. Ia beranjak dan jalan ke arah jendela kaca. Ia membuka tirainya. Leo menyusul dan memeluknya dari belakang. Tangannya mengusap perut Yuna.
"Langitnya sangat terang," ucap Yuna. Leo mengangguk. Kedua telapak tangan Yuna menyentuh jendela kaca dan dia menunduk. Rasa sakit itu datang lagi. Ia memejamkan matanya dengan rapat, menahan rasa sakit yang begitu menusuk. Tangan Leo terus mengusap perut.
"Sayang, kau merasakan sakit lagi," tanyanya. Yuna mengangguk pelan. Tangan kiri Leo berpindah mengusap rambutnya dan kemudian menciumnya. Ia tidak tahu apa yang harus dia lakukan untuk Yuna selain selalu berada di sampingnya saat ini. Dia tahu ini proses dan dia tidak bisa apa-apa lagi selain menunggu dan memberi semangat untuk Yuna.
Dokter menyarankan untuk jalan-jalan, itu bisa mempercepat pembukaan. Lalu dokter juga mengajarinya posisi-posisi yang bisa mempercepat proses pembukaan. Leo selalu ada di sampingnya. Tidak jauh sedikitpun. Setiap 30 menit menit sekali perawat akan memeriksa detak jantung bayi dan kondisi Yuna. Mereka semua siap siaga. Saat ini, waktu menunjukkan pukul 01.30 itu artinya Yuna sudah melewati dua jam setelah kedatangannya di rumah sakit.
Dokter dengan lembut berbicara pada Yuna dan Leo bahwa Nyonya muda baru melewati pembukaan tiga.
"Kau bisa memeriksa atau tidak?" Suara Leo tinggi langsung membentaknya. Bagaimana bisa selama dua jam hanya bertambah satu pembukaan. "Bodoh, panggil dokter lain," perintahnya dengan marah. Tangan Yuna menggenggamnya.
"Jangan salahkan mereka," ucap Yuna dengan senyum. Saat rasa sakit itu menghilang, ia bisa tersenyum seperti biasa. Leo menatapnya dengan pandangan mata yang begitu sedih. Dua jam dan hanya bertambah satu pembukaan. Dia menghitung jam yang harus Yuna lalui dan itu semakin membuatnya ingin teriak. Kenapa selama itu? Kenapa tidak bisa hanya beberapa menit saja.
"Jangan tersenyum," ujar Leo. Ia memiliki rasa cemas dalam dirinya. Ia bahkan ingin memarahi semua yang ada di ruangan ini. Yuna tidur miring saat ini. Tangannya menggenggam tangan Leo.
Leo dengan penuh perhatian mengusap rambutnya.
Pelan, mata Yuna terpejam. Ia tertidur. Leo menatap wajahnya dengan sedih. 'Mimpi indah sayang, ini akan segera berlalu,' batinnya. Namun, hanya selang sepuluh menit Yuna kembali terbangun dan menggenggam tangan Leo dengan erat.
"Oghhhhh," Yuna memekik, "Sayang, ini sungguh sakit," ucapnya dengan menahan rasa sakit yang luar biasa. Ini lebih sakit dari pada yang ia rasakan tadi. Leo mencium keningnya, ia ingin menangis tetapi tidak boleh.
Dokter memeriksa lagi dan lagi. Ini proses dan memang harus menunggu secara alami.
Sepanjang malam Yuna terjaga, rasa sakit yang tiba-tiba hilang lalu tiba-tiba datang. Ia terus menerus mengucapkan do'a dalam hatinya. Ia juga memohon maaf pada Tuhan untuk dosa yang ia perbuat.
Begitu juga dengan Leo, ia terus berada di samping Yuna. Terus memberinya semangat dan kasih yang tak terhingga. Hatinya sangat menderita melihat Yuna begitu kesakitan. Terkadang ia menghiburnya meski hatinya sendiri begitu berkecamuk.
Saat ini, pagi mulai menyapa. Mentari sudah bersinar menyapa semesta.
"Sayang, sarapan dulu," ucap Leo. Ia membantu Yuna untuk duduk. Ia dengan perhatian menyuapi Yuna untuk sarapan.
Sejujurnya, Yuna tidak memiliki nafsu makan sama sekali tetapi dia memaksakannya. Dia harus kuat untuk melewati ini. Setelah selesai sarapan, Leo menyisir rambutnya dan menguncirnya.
Dari pukul sebelas malam hingga pukul sembilan pagi, Yuna baru pembukaan lima dan dia harus mengalami kontraksi selama itu. Leo tidak bisa marah lagi, dia tidak cerewet dan mengomel pada perawat. Ia diam dalam doa yang terus ia panjatkan.
Yuna tidak lagi mondar-mandir. Ia berada di ranjang dan kontraksi itu lebih sering datang dari pada yang semalam. Dan ini lebih menyakitkan. Rasa sakit yang tidak bisa ia utarakan, rasa sakit yang tidak bisa dijelaskan, rasa sakit yang rasanya meremukkan seluruh tulangnya. Sangat sakit.
"Sayang, sakit," ucapnya sangat pelan pada Leo. Leo mengangguk dan mencium keningnya.
"Aku mencintaimu," ucapnya. Hatinya sangat pedih, ia terluka melihat Yuna yang begitu kesakitan. Andai bisa, ia ingin dia saja yang menggantikan rasa sakit yang Yuna rasakan.
Kontraksi datang lebih sering dan lebih menyakitkan. Rasanya, Yuna tidak mampu hanya untuk menggerakkan kakinya saja, dan bahkan ia tidak mampu untuk menggerakkan tangannya. Saat kontraksi itu datang, seluruh tubuhnya seolah membeku dengan rasa sakit yang teramat sangat. Keringat mulai membasahi keningnya, Leo dengan telaten membersihkan keringatnya lagi dan lagi.
Hingga pukul dua belas siang, Yuna baru pembukaan enam. Leo mulai frustasi, ia meminta Yuna untuk melakukan caesar saja agar Yuna tidak merasakan sakit terus menerus.
"Ini perjuangan ku," jawab Yuna setelah menolak saran Leo. Ia mencium tangan Leo dengan lembut. "Ini perjuangan seorang ibu," ucapnya lagi dengan senyum. Leo mendekapnya. Ia tidak tahu harus berkata apalagi. Ia ingin teriak, kenapa proses ini lama sekali.
Lagi, Yuna mengalami kontraksi yang hebat. Ia memekik dan menggenggam tangan Leo dengan erat.
Dia mulai lelah. Dokter langsung memberinya oksigen.
Di antara rasa sakitnya, ia berbicara pelan pada Leo.
"Sayang, aku minta maaf jika selama aku ada di sisimu, aku sering membuat mu terluka. Aku minta maaf, jika aku menjadi istri yang tidak patuh pada mu," ucapnya. Leo menggeleng, pada saat ini dia tidak ingin mendengar itu. Dia tidak perduli ada dokter dan banyak perawat di pinggir nya. Ia menunduk dan mencium bibir Yuna. Menciumnya dengan penuh kasih, dia mencium Yuna dengan rasa cinta yang lebih dari apapun di dunia ini.
"Aku mencintaimu," ucapnya setelah melepaskan bibir Yuna. Kemudian, ia beranjak dan melangkah untuk ke kamar mandi. Ia menutupnya dan langsung menangis di sana. Menangis dengan rasa sakit dihatinya. Ia tidak tega melihat istrinya begitu kesakitan. Ia jongkok dan menutup wajahnya. Dadanya terasa sangat sesak dan ia menangis.
____
Catatan Penulis.
Nanas nggak tau mo ngasih catatan apa. Hanya ingin memeluk Ibu saat ini. 🥺😭
Jangan lupa like koment vote ya kesayangan Nanas. Padamu 🥰🙏