
Pagi hari, ketika Neva tengah bersiap untuk berangkat kuliah, pintu kamarnya diketuk pelan.
"Sayang, ada Vano," ujar Mama setelah membuka pintu kamar Neva sedikit. Neva membelalakkan matanya merasa tak percaya. Bukankah seharusnya Vano keluar kota pagi ini? Batin Neva.
"Iya Ma, terima kasih," jawab Neva. Dia segera mengambil tas kuliahnya dan segera turun kebawah. Bibirnya melengkung.
"Haaaii," Neva berseru dengan bahagia. Dia tidak menyangka jika Vano datang pagi-pagi.
"Pagi nona cantik," sapa Vano. "Sudah siap?"
"Bukankah kau harus berangkat ke luar kota pagi ini?" Neva tidak menjawab pertanyaan Vano dan malah balik bertanya.
Vano mengangguk, "Aku ingin mengantarmu terlebih dulu," jawab Vano. Neva tersenyum dengan bahagia dan langsung melompat ke arah Vano.
"Terima kasih," ujarnya.
"Ayo," Vano menawarkan tangannya dan Neva langsung menyambutnya.
Mobil Vano perlahan meninggalkan rumah besar keluarga Nugraha. Mobil itu melaju menuju kampus Neva.
"Kabari aku jika kau sampai," pesan Neva pada Vano. Dia menatap Vano dari samping.
"Baik sayang," jawab Vano patuh. Mereka ngobrol sepanjang perjalanan. Hingga tak terasa mobil Vano telah sampai di depan kampus Neva.
Seperti yang sudah-sudah, Neva mencium tangan Vano dan Vano mencium keningnya.
"Hati-hati disana ya," ujar Neva. Matanya menatap Vano.
Vano tersenyum dan mengangguk. "Peluk dulu," ucapnya dengan merentangkan satu tangannya. Dan Neva langsung menghambur dalam pelukannya. Mereka saling memeluk beberapa saat.
"Sayang," suara Neva manja memanggil Vano.
"Hmm," Vano senang, Neva tidak lagi memanggilnya Kakak. Sekarang, gadis ini lebih bisa mengekspresikan cintanya.
"Janji segera menemuiku setelah kembali," pinta Neva lagi.
"Iya ...." jawab Vano. Kemudian melepaskan pelukannya. "Semangat," ucapnya. Neva mengangguk. Kemudian dengan berat hati dia keluar dari mobil dan melambaikan tangannya pada Vano.
___________
Di tempat lain.
Karel melihat chatnya pada Yuna. Pesannya tadi malam bahkan belum terkirim.
"Pergi kemana mereka?" batin Karel. Atau ini karena sinyal internetnya yang buruk. Dia mencoba menekan tombol airplane pada pengaturan ponselnya, untuk mendapatkan sinyal yang kuat. Dia membiarkannya sejenak lalu kembali menon-aktifkan mode airplane. Setelah itu, dia kembali membuka chatnya pada Yuna. Dan masih tidak terkirim. Dia melakukan chat pada temannya dan langsung terkirim.
"Hahaa si Nyonya. Apa nomor ponselmu ganti?" batin Karel lagi. Dia memasukkan ponselnya dengan kecewa. Namun kemudian, dia mengeluarkannya lagi dan mengetik sebuah pesan. "Adel, apa Yuna mengganti nomor ponselnya?"
Pesannya pada Adel langsung terbalas, "Tidak Kak. Masih sama."
Karel tersenyum membaca balasan Adel. Kemudian, membalasnya lagi.
"Bagaimana kabarmu?"
"Baik Kak. Kak Er gimana? Lama tidak menyapaku," balas Adel.
"Hmm maaf."
"Haha iya, Kak Er sibuk."
Belum sempat Karel membalasnya, seorang kru memanggilnya.
"Chef meeting pagi sebelum acara," ujar salah satu kru pada Karel. Karel mengangguk dan langsung menuju ruangan dimana para kru dan pengisi acara sudah berkumpul.
"Nah ... yang ditunggu," ujar sutradara saat Karel masuk kedalam ruangan. Karel tersenyum dan melakukan toss ala cowok. "Ada yang ingin berkenalan denganmu," kata sutradara pada Karel.
"Uhum," Chef Dewa teman seprofesi Karel berdehem. Lalu memberi isyarat mata. Karel membawa mengikuti petunjuk mata itu. Ada gadis cantik yang saat ini duduk di kursi pinggir. Penyanyi pendatang baru yang cukup terkenal, dia bahkan punya jutaan fans di YouTube. Saat ini, gadis cantik ini menjadi bintang tamu di acara Karel.
Gadis cantik bersuara emas itu berdiri dan membungkukkan badannya memberi salam pada Karel.
"Selamat pagi, Chelsea," balas Karel tak kalah ramah dia tersenyum.
Ada keterkejutan diwajah Chelsea saat Karel membalas sapaannya, dia ingin melompat-lompat saat Karel menyebut namanya. Jadi Chef yang dia idolakan tahu namanya? Batin Chelsea.
Hanya itu lalu selesai. Mereka tidak lagi berbincang. Kemudian, meeting pagi dimulai. Hanya lima belas menit dan selesai.
Chelsea diam-diam mengambil gambar Karel dengan ponselnya.
Karel Erlangga, pemilik mata biru berkilauan.
Chelsea izin sebentar untuk ke toilet. Sesampainya di sana. dia langsung mengunci pintu dan melompat-lompat bak anak kecil. Dia juga menari-nari sebentar dan bilang, "Yess, Yess, Yess," Chelsea sangat bahagia. "Akhirnya ... Akhirnya," dia ingin berteriak saking senangnya bisa bertemu langsung dengan idolanya. Dia belum cukup berani untuk berbasa-basi dan meminta foto bersama.
____________
Di dalam pesawat, Vano kebetulan duduk bersebelahan dengan seorang wanita muda. Umurnya kira-kira dua puluh satu tahun. Perawakannya kurus.
"Selamat pagi," sapa seorang itu ramah. Vano tersenyum membalas sapaannya.
"Tuan muda Vano?" katanya.
Vano mengangguk kecil, "Anda mengenalku?"
"Ya, wajah Tuan muda sering saya lihat di berita televisi," jawabnya. "Dan saya juga salah satu followers Anda," jawabnya.
Vano mengangguk lagi, "Terima kasih," ucapnya.
"Rasanya sangat bahagia bisa bertemu langsung dengan Anda Tuan muda Vano dan saya tidak menyangka ini," ujar gadis muda itu. "Nama saya Nadia. Jika berkenan ... bolehkah saya meminta tanda tangan Tuan muda?" ujar Nadia sopan.
"Ya tentu saja," jawab Vano.
Nadia tersenyum senang atas jawab Vano. Dia langsung mengambil boneka kecil kesukaannya dan sebuah spidol. Dia memberikannya pada Vano.
"Tolong tanda tangan disini Tuan muda," pinta Nadia dengan senyum lebar dibibirnya.
"Apa ini kartun kesukaan mu?" tanya Vano sambil memperhatikan boneka kecil berbentuk kotak di tangannya. Boneka dengan warna kuning sebagai khasnya.
"Ya," jawab Nadia, "Aku aneh bukan. Hahaa aku bukan anak-anak lagi tapi aku menyukai kartun itu. Orangtuaku, pacarku, dan bahkan teman-teman ku bilang jika aku aneh karena menyukai kartun satu itu. Disaat gadis-gadis menggilai K-POP tetapi aku malah suka kartun ini, hahaa. Benar-benar aneh," Nadia bercerita.
Vano mengangguk dengan senyum tipis, "Kamu tidak aneh. Itu wajar," ujarnya memberikan pendapat. "Terkadang kita memang harus menjadi anak kecil dengan segala kebahagiaan yang dia miliki," lanjut Vano. Nadia tersenyum lebar, dia bahagia ada seseorang yang mengerti sisi kekanakannya.
"Huum. Spongebob itu lucu, dia sosok yang ceria, optimis, supel, dan penuh semangat. Aku suka karakter seperti itu," kata Nadia bercerita tentang kekagumannya pada sosok Spongebob. "Ya ... meskipun terkadang dia tidak masuk akal. Hahaaa," lanjutnya. Vano mendengarkannya. "Hal yang paling beruntung dalam hidup Spongebob adalah dia memiliki seorang teman yang bisa konyol bareng-bareng, itu pasti seru banget. Namanya Patrick," jelasnya lagi.
"Patrick star si ideot. Aku jelek dan aku bangga," ujar Vano menurunkan salah satu ucapan Patrick. Nadia mlongo dibuatnya.
"Ooo? Tuan muda Vano tahu Spongebob dan Patrick? Apa Tuan muda juga menyukainya?" Tanya Nadia dengan antusias.
"Tidak, bukan aku yang suka tapi temanku," jawab Vano.
"Hmm, senangnya. Apa kalian juga memiliki persahabatan yang konyol seperti Spongebob dan Patrick?"
Vano diam dan menggerakkan tangannya untuk membuat tanda tangan pada boneka kecil yang ada ditangannya. Kemudian, dia memberikannya kembali pada Nadia.
"Ya, sangat konyol," jawab Vano. Tangan Nadia pelan mengambil boneka kecil Spongebob dari tangan Vano.
"Salam saya untuk teman anda Tuan muda," ujar Nadia.
Vano mengangguk samar.
___________
Catatan Penulis
Jangan lupa like koment ya kawan tersayang 🥰 padamu. Terima kasih 🙏