
"Selamat malam Tuan muda Vano," sebuah pesan masuk diponsel Vano. Vano mengecek foto profil sang pengirim. Gambar sekuntum bunga.
"Alea," balasnya.
"Maaf tadi tidak bisa menjamu mu dengan baik."
"Tidak apa-apa. Bagaimana jika kau menggantinya ? Besok temui aku dicafe."
"Tentu dengan senang hati, Tuan muda."
"Panggil aku Vano."
"Baik, Vano."
Alea adalah sahabat Vano waktu masih di bangku menengah pertama. Alea... cewek manis, periang, pecinta bunga dan dunia tulis menulis. Impiannya adalah menjadi seorang penulis namun itu adalah mimpinya sepuluh tahun yang lalu. Setelah Papanya terkena kasus, dia menjadi gadis yang pendiam dan tidak punya mimpi. Dia bahkan pergi begitu saja membawa cinta dalam hatinya dalam diam. Dia pergi tanpa melihat seseorang itu untuk yang terakhir kalinya.
Mereka bertemu dicafe di sebelah sekolah menengah mereka. Vano yang memilihnya. Mereka duduk berhadapan.
"Bagaimana keadaan keluarga mu sekarang?" tanya Vano.
"Papa sudah mulai merintis usahanya dengan bantuan teman SMA Papa. Hmm dari sekian banyak rekan, keluarga, sahabat, teman, hanya ada satu teman Papa yang benar-benar memberi kekuatan pada keluarga ku. Dari Papa terkena kasus hingga akhirnya bebas, beliaulah yang melindungi keluarga ku. Dan bahkan memberi modal untuk Papa kembali bangkit dari keterpurukannya."
Vano mengangguk mendengar cerita Alea. Papa Alea adalah salah satu oknum anggota dewan yang terjerat kasus suap dan korupsi. Semua orang yang mereka kenal meninggalkan mereka begitu saja, dengan cacian dan cemoohan. Satu teman Papa Alea itu tidak jauh berbeda dengan kebanyakan orang, dia mengutuk, mencaci, dan sangat membenci perbuatannya namun dia tetap menghargai orangnya, teman adalah teman. Dalam keterpurukannya mendekam di penjara, teman inilah yang menyekolahkan anak-anaknya hingga lulus bangku perkuliahan.
"Bagaimana dengan mu Vano?"
"Aku? Tidak ada yang istimewa. Berjalan seperti yang sudah diprediksi kebanyakan orang. Aku adalah anak tunggal, jadi, aku terjun di dunia bisnis mengikuti jejak Papa."
"Tapi kau sangat berbakat dalam dunia bisnis Vano."
"Hahaaa itu hanya keberuntungan Al."
"Bukan, itu karena kerja keras mu. Kau mewarisi perusahaan orang tua mu tapi jika kau tidak kompeten itu tidak akan membawa perusahaan sukses bukan?" Alea menatap Vano dengan tenang dan teduh, sejujurnya dia sangat merindukan laki-laki ini. Laki-laki yang dia sukai, dulu. Vano membalas tatapan matanya. "Aku sering melihat mu diTv. Kau sangat gagah ketika menyampaikan ide-ide dan gagasan mu," ucap Alea. Matanya dipenuhi kekaguman memperhatikan wajah Vano dari dekat.
"Aku punya sosial media. Kenapa kau tak mengirimi ku pesan. Aku mungkin bisa sedikit membantu mu."
"Aku tidak menggunakan sosial media Vano. Aku sangat tidak suka ketika orang-orang berkomentar tentang kehidupan ku."
"Kau pasti melewati hari-hati mu dengan berat Alea."
"Heem, tapi itu sudah berlalu."
"Aku tidak menyangka jika aku bisa bertemu dengan mu lagi Alea," ucap Vano. Dia menatap Alea yang tengah mengandung minumannya.
"Hmm, aku sering membayangkannya. Bertemu kembali dengan mu," Alea tersenyum dan membalas tatapan Vano.
"Oh ya?"
"Huum," Alea mengangguk. "Aku pernah mencari mu di pesta pernikahan Tuan muda Lee. Pesta itu bertabur pembisnis kelas kakap, ku pikir kau akan ada disana tapi ternyata aku tidak menemukan mu."
"Tuan muda Lee? Vano mengerutkan alisnya. "Tuan muda Leo J?" tanyanya memastikan.
"Iya," jawab Alea. "Tuan Nugraha adalah teman SMA Papa yang ku ceritakan pada mu," lanjut Alea.
"Bagaimana hubungan mu dengan Nona Neva?" Tanya Alea sedikit pelan.
"Hubungan?" Vano menjawab dengan balik bertanya. Keningnya berkerut.
"Apa dia tidak bilang sesuatu pada mu?"
"Sesuatu?"
"Huum," Alea menarik nafasnya dengan dalam. Ia sama seperti Neva, mencintai Vano dalam diam. Melihat Vano kembali bertanya padanya itu berarti mereka tidak memiliki hubungan yang spesial. "Nona Neva menyukai mu, Vano,'' ucap Alea yang membuat hatinya terasa sakit. Tapi tak apa, dia sudah sering merasakan sakit ini. Patah hati hanya sebuah rasa nyeri yang lambat laun akan menghilang dengan sendirinya.
Vano terdiam beberapa saat.
"Dari mana kamu tahu?"
"Dia sering berkunjung ke rumah bunga ku. Dia membantu ku menulis untuk para pelanggan. Hingga tak sengaja aku menemukan sebuah coretan yang dia buang di tong sampah di bawah meja," Alea bisa menebak jika Neva belum mengutarakan isi hatinya. Tentu saja karena dia adalah wanita. Alea tahu bagaimana rasanya memendam cinta, sangat menyakitkan, jadi entah ini salah atau benar, ia ingin memberi tahu Vano.
Alea membuka tas miliknya dan mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah kertas yang lecek dan bekas diremas. Alea memberikannya pada Vano.
Pelan, tangan Vano menerima kertas itu dari tangan Alea.
Cinta dalam hati, cinta dalam diam, adalah sama. Unik, seunik perasaan yang tiba-tiba menyusup tanpa kita sadari dan entah kapan menjadi begitu indah.
Aku mengangumi mu... Tuan muda, telah lama aku memendam rasa ini untuk mu. Terkadang aku ingin kamu tahu tentang ini, namun terkadang aku ragu. Dan pada akhirnya aku tetap memilih diam.
Aku tahu, aku hanya setitik embun diantara banyaknya air hujan yang menyejukkan mu, aku tahu kau terlalu tinggi untuk ku gapai, namun aku tidak pernah berhenti bercerita pada Tuhan tentang perasaan ku padamu. Aku berharap ada takdir yang indah untuk kisah cinta ku, aku ingin Tuhan menyatukan perasaan ku pada mu dengan caranya yang indah.
Namun jika takdir ku tak mengarah padamu, aku akan tetap berterima kasih, karena dimatamu, aku menemukan debaran dijantung ku, sesuatu yang halus yang tak ku mengerti sebelumnya.
Untuk mu Tuan muda Mahaeswara.
Setelah mengantar Alea pulang. Vano menyetir mobilnya mengelilingi Ibu Kota.
"Jadi... memang benar bahwa dia menyukai ku. Jadi, memang benar seseorang yang dia ceritakan adalah aku sendiri." Vano menggumam dengan tawa kecil dibibirnya.
Apakah mungkin dia akan menyambut perasaan gadis itu, jika dalam masa lalunya adalah bagian dari keluarga gadis ini. Apakah mungkin, Leo akan membiarkannya begitu saja?
Otaknya dipenuhi oleh Neva yang tengah tersenyum, Kebersamaan mereka dimalam itu. Dia mencoba merasakan debaran jantungnya yang aneh.
Sejujurnya dia ingin menjauh dari Yuna, dari kehidupannya dan tidak akan pernah mengusiknya lagi. Tapi kenapa sekarang terasa sangat rumit.
Kemana takdir akan membawanya?
Dia sungguh tidak ingin berada dekat dengan Yuna. Meskipun dengan perasaan yang baru.
Kemana dia akan membawa hatinya? Dia menepi dan memikirkan banyak hal. Tentang Yuna, tentang Leo, dan tentang Neva. Jalan mana yang harus dia pilih?
___
Terima kasih yang masih setia sampai bab ini. Luv. Kalian luar biasa 🥰 padamu kawan 😘
Jangan lupa mampir di Matahari Tenggelam 🥰