
Siang hari, Yuna berada di rumah bunga Alea. Ia mencoba mencoret-coret kertas milik Alea dan kemudian membuangnya.
"Alea... Aku mencoba menulis kata-kata indah namun tidak bisa. Kata-kata ku sangat jelek," ucap Yuna dengan sedikit mengeraskan suaranya karena jarak Alea yang sedikit jauh darinya. Alea sedang melayani pelanggan saat ini. Suara Yuna membuat sang pelanggan juga ikut menoleh ke arahnya. Terpesona... itu yang terpancar dari matanya. Yuna memiliki aura yang kuat yang terpancar dari wajah cantik nun anggun. Alea menatap pelanggannya dengan kesal. Mata pelanggannya yang tak berkedip melihat Yuna.
"Tuan, jadi bunga mana yang akan kau beli?" tanyanya dengan ketus.
"Hhh? Apa?" dia menjawab dengan masih menatap Yuna.
"Tuan, toko saya sudah tutup silahkan keluar," Alea mengeraskan suaranya. Ia meletakkan bunga Lily yang ia pegang lalu berjalan dan membuka pintu.
"Silahkan keluar, toko saya sudah tutup," ucapnya tegas dan membuat gerakan mengusir.
"Tapi saya belum selesai memilih Nona," sang pelanggan beralih menatapnya.
"Toko saya sudah tutup, silahkan kembali lagi besok."
Si pelanggan keluar toko dengan mengomel dan mengumpatnya.
Setelah itu, Alea memberi pembatas antara ruang tulis dan ruang bunganya. Ia tidak ingin seseorang memperhatikan wajah Yuna, ia akan menjaga Yuna dengan sangat baik.
"Kau sedang apa Alea?" tanya Yuna setelah melihat Alea berdiri di atas kursi dengan memegang palu.
"Membuat pembatas, agar orang tidak mudah melihat kearah meja tulis," jawab Alea. Dia seperti seorang ahli yang dengan cekatan memalu.
"Apa ada yang bisa ku bantu untuk mu Alea?" Yuna menawarkan bantuan.
Mereka berdua kompak bekerja sama. Yuna hanya bertugas memberikan paku-paku kecil pada Alea.
"Yeyyy, selesai...," mereka bersorak bareng dan bertepuk tangan seperti anak kecil yang baru saja menyelesaikan tugasnya.
Yuna segera menoleh setelah mendengar suara mobil berhenti di depan rumah bunga. Senyumnya merekah setelah tahu mobil milik siapa yang telah terparkir di depan.
Leo keluar dari mobil dan langsung melihat Yuna yang melambai dari dalam padanya. Leo tersenyum dan segera melangkah masuk. Ia langsung memeluk pinggang Yuna dan mencium keningnya. Kemudian, ia membungkuk dan mencium perut Yuna.
Alea yang berada disebelah mereka dan dalam posisi berdiri di atas kursi menjadi canggung. Dia dengan pelan, sedikit bergeser dan mencoba untuk turun. Namun, kaki kirinya tidak bisa langsung menyentuh lantai, hingga membuat dirinya kehilangan keseimbangan dan Aauuu... dia hampir saja terjatuh ke lantai jika tangan Leo tidak segera menangkap tubuhnya.
Tangan Leo melingkarkan sempurna dipinggangnya, memegangi tubuhnya. Sementara tangan Alea secara refleks berpegangan di pundak Leo. Sepasang bola matanya bisa dengan sangat jelas menatap wajah rupawan milik Leo. Mata indah namun tajam, bulu mata yang melengkung, alis tebal, hidung bangirnya, dan bibir merah yang sangat seksi. Adegan itu hanya sepersekian detik tetapi mata Alea telah mampu memindai semua lekuk dan garis wajah Leo. Bahkan... hidungnya termanjakan oleh aroma khas tubuh Leo, begitu mendebarkan.
Leo segera melepaskannya setelah Alea mampu menguasai keseimbangannya.
"Maaf, maafkan saya Tuan muda Lee, maaf," ucapnya meminta maaf dengan menunduk.
Sementara Leo segera mengeluarkan sapu tangannya. Ia segera membersihkan tangannya. Melihat itu... Yuna segera mengambil sapu tangan dari Leo dan langsung menyentuh telapak tangan Leo, ia mengganti sentuhan badan Alea dengan sentuhan tangannya. Dia takut Alea akan tersinggung jika melihat Leo melakukan itu didepannya.
Tidak semua orang tahu jika Tuan muda ini tidak menyentuh wanita selain yang dia sukai. Yuna tersenyum padanya untuk mengembalikan mood manisnya.
"Alea, apa kau tidak apa-apa?" tanya Yuna perhatian. Dia mendekati Alea yang menunduk. Kedua tangan Alea berada di depan dengan saling berkaitan.
"Maafkan aku Yuna," ucapnya sedikit mendongak untuk menatap Yuna.
"Kau tidak apa-apa? Apa kaki mu terkilir?" tanya Yuna lagi dan dijawab gelengan kepala oleh Alea.
"Sayang, ayo pulang," Leo dengan lembut berbicara pada Yuna. Yuna mengangguk dan pamit pada Alea.
"Tuan muda Lee, mohon maafkan saya," Alea berucap rendah. Leo mengangguk sebagai tanggapan. Kemudian, ia membawa Yuna untuk masuk kedalam mobil. Dia segera melepaskan jasnya dan melemparkannya kebelakang. Tangan Yuna mengulur untuk meraih tangan Leo dan menggenggamnya. Ia menatap Leo dengan pandangan manis.
"Tuan suami, kau sudah melakukan hal yang benar. Terima kasih sudah menolongnya. Uangmu sangat banyak jadi tidak apa-apa jika kau membuang jas mu, itu lebih baik daripada kau membiarkannya terjatuh kelantai dan membuat kakinya terkilir, atau bahkan membuat tulangnya bengkok," ucap Yuna. Leo hanya tersenyum tipis mendengarnya lalu dengan perlahan, ia mengemudikan mobilnya menjauh dari rumah bunga.
Alea berdiri mematung memperhatikan mobil itu menjauh dari halaman rumah bunga miliknya. Tangannya terangkat dan menyentuh dadanya yang berdegup.
__Di tempat lain.
"Tukhamyeon geochin maldeullo name mame sangcheoreul naenohgo.
Mianhadan mal hanmadi eopsi tto na honja wirohago."*
Lagu itu mengalun merdu di telinga Neva. Ia mengangguk-anggukan kepalanya, sesekali juga bibirnya ikut menyanyikan lirik lagu itu.
"Hai, Nona," seseorang yang duduk di sampingnya mencoba memanggilnya. Namun tak ada jawaban, Neva masih asik mendengarkan alunan musik dalam earphone yang terpasang di telinganya. Matanya memperhatikan keluar jendela. Melihat daratan yang perlahan menjauh darinya.
"Hai, Nona," seseorang itu kembali memanggilnya tapi kali ini dengan sentuhan di lengannya. Neva segera menoleh setelah mendapat sentuhan itu. Matanya menatap seseorang yang berada di samping dengan bingung. Seseorang dengan menggunakan jaket Hoodie dan memakai masker.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya sopan. Dia menatap seseorang ini dengan sedikit curiga dalam hatinya, ia takut seseorang ini adalah penjahat wanita. Hingga seseorang itu membuka maskernya.
"Selamat sore Nona," sapanya ramah. "Masih mengingat ku?" tanyanya. Neva tersenyum dan mengangguk.
"Hai, sore," balasnya menyapa. "Anda... Chef Karel teman Kak Yuna bukan?" tanya Neva yang di jawab anggukan oleh Karel.
"Nona Neva sendirian?" tanya Karel.
"Huum, iya. Aku mengunjungi Kakak ku," jawab Neva.
"Leo?"
"Ah, bukan. Kakak pertama ku, Kak Dimas"
"Bagaimana kabar Yuna? Rasanya lama sekali belum bertemu dengannya."
"Kak Yuna tengah hamil muda."
"Oh ya? Syukurlah... aku sangat bahagia, aku harus menyiapkan kado untuknya," Karel bersemangat dan mereka sangat bahagia untuk Yuna.
Seseorang melongokkan kepalanya untuk menatap mereka. Matanya menjadi segar dan kantuknya hilang setelah tahu siapa yang duduk di bangku sebrangnya. Ia menepuk bahu Karel pelan. Mendapat tepukan dibahunya, Karel segera menoleh.
"Apa?" tanyanya.
"Bro... tukeran bangku," seseorang itu membuat permintaan.
"Apa?" Karel mengulangi pertanyaannya.
"Tukeran bangku," seseorang itu berucap dengan merapatkan giginya. Ia juga memberi isyarat mata pada Karel agar mau bertukar bangku dengannya.
Dan akhirnya Karel menyetujui untuk bertukar bangku.
"Hai, Nona...," sapanya dengan senyum SKSD (Sok Kenal Sok Dekat)
"Hai, Raizel," balas Neva dengan ramah. Aishh... dia bertemu dengan Raizel lagi. Yess... dia bisa pamer pada teman-temannya, karena dipertemuan pertama mereka, teman-temannya tidak ada yang percaya karena tidak ada foto. Sedangkan ia tidak mungkin bercerita jika ia memiliki nomor ponsel Raizel. Bisa kacau...
"Hmmm senang bisa bertemu dengan mu lagi Neva," ucap Raizel bersahabat.
"Hai, ini yang ingin aku tanyakan."
"Apa?"
"Dari mana kau tahu namaku?" tanya Neva penasaran.
"Tidak susah untuk tahu nama mu," jawab Raizel.
"Oh ya, dari?"
"Kau pernah melakukan wawancara bukan? Saat Tuan muda Leo J menikah,"
"Ohh, itu hanya sekali,"
"Hmmm tapi aku mengingat wajah mu. Ohya, kenapa kau tidak menghubungi ku?"
"Hahaaa... aku belum sempat."
"Hmm, baiklah. Beri aku nomor ponsel mu."
Kemudian, mereka berdua melakukan selfie. Ada lima gambar pada ponsel Neva. Ia akan memamerkannya pada teman-temannya.
"Boleh aku meminta tanda tangan mu Raizel?"
Raizel mengangguk dan senyum, "Dengan senang hati Neva," ucapnya. Kemudian, Neva mengambil pena dan buku kecil dari dalam tas kecil miliknya.
"Kak Lee, aku sudah sampai." Neva mengirim pesan pada Leo. Dia duduk di bangku diruang tunggu. Jalanan yang di lalui Leo begitu padat dan sangat macet karena ada bis antar kota yang mogok di tengah jalan.
"Aku masih di jalan, sebentar lagi sampai," balas Leo.
"Oke, Kak Lee... menunggu mu," balas Neva. Ia kembali memasang earphone-nya dan memutar lagu K-Pop.
Matanya menatap lantai dengan sedikit rasa kantuk di matanya. Dia beberapa kali menguap.
Namun, tiba-tiba... sepasang kaki dengan menggunakan sepatu model Loafers berdiri di depannya. Ia tahu sepasang kaki ini bukan milik Kakaknya. Dengan perlahan ia mendongak untuk menatap siapa pemilik sepasang kaki ini. Senyum manis nun indah langsung menyapanya. Vano.
"Hai," sapanya pelan.
"Hai Kak," balas Neva tak kalah pelan.
"Ayo ku antar pulang," ucapnya. Neva terpaku beberapa saat, dia ini... sengaja untuk menjemputnya atau hanya kebetulan saja dia sedang berada di sini, seperti kebetulan pada malam itu di cafe. Kebetulan, pikir Neva.
"Terima kasih tawarannya Kak, tapi Kak Lee sedang menuju ke sini," tolak Neva sopan dan memberi alasan.
"Aku sengaja menjemput mu," ucap Vano. Mata Neva sedikit terbelalak dengan rasa bahagia di hatinya. Sengaja? Sengaja menjemput? Omg... dia merasa sangat bahagia mendengar itu.
Malam ini dia berencana untuk menginap di rumah Leo, jadi dia meminta Leo untuk menjemputnya. Dia ingin Kakaknya yang menjemput bukan supir, ia sedang ingin dimanja oleh Kakaknya. Namun... jika seseorang ini telah datang, rasanya ia ingin bersama seseorang ini saja.
"T-tapi...," Neva sedikit ragu karena saat ini, Leo sedang berada di jalan untuk menjemputnya.
"Kau bisa memberi tahunya," ujar Vano seolah tahu apa yang Neva pikirkan. Neva mengangguk, kemudian mengirim pesan pada Leo.
"Kak Lee... kebetulan aku bertemu seorang teman di sini. Kita jalan dulu ya, Kak Lee boleh kembali kerumah hahaa. Sorry Kakak... saaaaayang Kakak," pesannya untuk Leo. Kemudian, ia menyetujui untuk pulang bersama Vano.
Leo sudah berada di dalam kawasan bandara saat ia menerima pesan dari Neva. Mobilnya bahkan telah berhenti tepat di depan pintu keluar utama bandara. Ia membaca pesan Neva dan kemudian mengetik balasan pada adiknya. Namun, jarinya berhenti mengetik ketika ia melihat Neva berjalan dengan penuh senyum keluar dari bandara dengan seseorang yang berada di sampingnya.
Ekspresi Leo datar dan bahkan tanpa senyum.
"Jadi dia teman yang kau maksud?" Leo segera menghapus balasan yang sudah dia ketik dan mengubahnya.
"Selamat bersenang-senang Nona," send. Matanya terus memperhatikan Neva hingga adiknya itu masuk ke dalam mobil dan menjauh darinya. Ia kemudian, melajukan mobilnya menjauh dari bandara dan kembali ke kerumah.
"Lhoh, mana Neva sayang," tanya Yuna yang membukakan pintu untuknya. Leo mengusap rambutnya.
"Dia bersama Vano," jawab Leo. Mulut Yuna langsung membentuk huruf O kemudian ia mengangguk dengan senyum.
_Di sana...
Neva duduk di bangku depan.
"Uhum," dia terbatuk sebelum bertanya sesuatu. Vano menoleh ke arahnya sebentar. "Emmm, Kak Vano sengaja menjemput ku?" tanyanya pelan dengan malu-malu.
"Iya," jawab Vano jujur, "Kenapa?" tanyanya.
"Bukan apa-apa, aku hanya merasa sedikit terkejut."
"Terkejut kenapa?"
"Dari mana Kak Vano tahu aku ada di bandara?"
"Dua Nyonya," jawab Vano. Neva mengangguk. Ya ampun, ternyata dua Nyonya itu masih saja beraksi. Dia pikir... dua Nyoya sudah berhenti.
Tiba-tiba ponsel Vano berdering. Panggilan masuk dari Arnis. Vano langsung memasang earphone bluetooth di telinganya.
"Ya?"
"Vano...," panggilannya.
"Ya."
"Bisa menjemput ku?"
"Aku bersama Neva saat ini,"
"Oh, okey," jawab Arnis sedikit kecewa dan merasa ada sesuatu sakit pada hatinya. "Maaf jika aku mengganggu kalian, selamat bersenang-senang kawan," ucapnya dengan nada sedih dan langsung memutus panggilannya.
"Neva," panggil Vano dengan sedikit menoleh ke arah Neva.
"Iya," Jawab Neva menoleh juga kearahnya.
"Apa kau ingat Arnis?" tanya Vano pelan.
"Kak Arnis. Iya ingat... dia sangat asik," jawab Neva.
"Apa kau keberatan jika kita bertemu dengannya?"
"Hhm? Tentu saja tidak. Kenapa harus keberatan?" jawab Neva. Vano mengangguk dan membuat panggilan pada Arnis.
"Kau dimana?" tanya Vano setelah Arnis menerima panggilan darinya.
"Aku akan mengatakannya tapi ku mohon jangan berprasangka jelek dulu pada ku," ucap Arnis. Vano menarik nafasnya.
"Kau di kantor polisi?" tanya Vano bisa menebak. Arnis mengangguk pelan di sebrang sana.
"Iya," jawabnya sangat pelan seperti hanya gumaman pada bibirnya. Kemudian, ia memutus panggilan. Dia menunduk, ia merasa begitu arogan, kasar, dan pastinya jauh dari kata feminim. Ia berfikir, tentu dia bukanlah tipe wanita yang Vano inginkan. Ada sesuatu yang begitu menusuk di hatinya ketika memikirkan itu, dia membandingkan dirinya dengan Neva. Neva... gadis cantik nun anggun, gadis cantik dengan tutur kata yang lembut dan sopan. Sedangkan dirinya? Bagai bumi dan langit dengan gadis itu.
Arnis berdiri kemudian menghampiri polisi jaga di mejanya.
"Pak, jika yang kau inginkan adalah uang maka aku punya uang yang sangat banyak, aku akan memberi mu lebih dari apa yang mereka janjikan pada mu. Apa kau tahu pengusaha batu bara yang paling terkenal itu? Dia orang tua ku."
"Hahaa... kenapa kau tidak sekalian mengaku jika kau adalah anak presiden. Itu lebih keren."
"Terserah... hari ini adalah hari terakhir kau duduk santai di sini. Ku pastikan itu."
"Kau menggertak ku Nona? Kau tidak tahu siapa orang yang berada di belakang orang-orang yang kau hajar,"
"Aku tidak perduli dengan itu. Aku hanya ingin bilang pada mu bahwa hari ini adalah hari terakhir dimana kau duduk santai di sini," ancam Arnis. Oknum polisi itu sedikit merasa takut. Arnis kembali duduk di sofa.
Kemudian, Vano datang dengan Neva yang berjalan di sampingnya.
Arnis menunduk ketika Vano berdiri di depannya, ia menyembunyikan wajahnya yang sedikit lebam. Vano tidak bertanya apapun, ia hanya memperhatikan Arnis yang menunduk di hadapannya.
Tanpa mengeluarkan sepatah katapun, ia membalik badan dak melangkah keluar meninggalkan Arnis dan Neva.
Neva duduk disamping Arnis dengan hati-hati.
"Kak Arnis tidak apa-apa?" tanyanya pelan.
Arnis tersenyum tipis dan menggeleng.
"Tidak apa-apa, gadis kecil," ucapnya. Ia mengangkat wajahnya dan menoleh untuk menatap Neva. "Maaf jika aku mengganggu kencan kalian," sambungnya. Neva menggeleng dan menggerakkan telapak tangannya.
"Tidak Kak., kita tidak sedang berkencan. Kak Vano hanya menjemput ku dari bandara," jelas Neva.
Kemudian, Vano kembali dengan kotak obat ditangannya. Ia menarik salah satu kursi dan duduk di depan Arnis.
"Angkat wajah mu," perintahnya dengan membuka kotak obat di pangkuannya. Dengan patuh, Arnis mengangkat wajahnya dan menatap Vano.
Pelan, tangan lembut itu mulai membersihkan luka yang ada di pelipisnya. Jantung Arnis berdegup, degupan yang sangat indah. Matanya terus menatap wajah tampan Vano yang saat ini begitu dekat dengannya. Hatinya merekah.
Sementara seseorang yang duduk di sebelahnya memperhatikan dua insan ini dengan pandangan yang rumit, dengan suasana hati yang tidak bisa dijelaskan. Sakit, sesak, gelisah, kesal, tidak suka, dan entah masih ada berapa lagi emosi yang berperang dan berkecamuk dalam hatinya.
Ia mengalihkan pandangannya kemudian menunduk dan mengigit bibirnya. Perasaan apa ini? Cemburu? Kenapa harus cemburu? Bukankah mereka belum memiliki ikatan apapun? Hati yang tidak tau diri... umpatnya pada hatinya yang terus terasa sakit.
Kemudian, dengan perlahan ia berdiri dan melangkah untuk pergi, dia tidak ingin menjadi menganggu. Ia melangkah melewati Vano.
Tap... tangannya tertahan oleh genggaman tangan Vano. Ia menoleh dan membawa pandangannya untuk menatap Vano. Mata mereka bertemu.