Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Part 42. Mood booster


Hujan lebat yang turun tiba-tiba pagi ini mengguyur kota, tak hanya membuat basah jalanan tapi juga berhasil membuat Tiara basah kuyup walaupun ia sudah berusaha menutupi kepala dengan tas sekolahnya.


Sebenarnya tadi bisa saja ia berteduh sebentar di halte dekat sekolah tapi diurungkan niatnya karena sudah banyak siswa juga yang berteduh di sana. Mau tidak mau akhirnya ia tetap melanjutkan langkahnya menuju ke sekolah dengan berlari kecil.


Sesampainya di teras sekolah, ia mengibaskan rambutnya yang basah. Belum banyak murid yang datang saat itu.


Tiba-tiba . . ada yang menggantungkan jaket di bahunya.


Cepat ia menoleh ke arah sosok yang hendak berjalan menjauhinya.


" Kak Zian ?"


" Pake jaket itu kalo nggak mau tubuh lo ditonton semua penghuni sekolah ini !" ujar Zian dengan nada sinis seraya berlalu dari tempat itu.


" A .. apa??!" Tiara ternganga mendengar perkataan Zian barusan. Ia sungguh tak menyangka Zian dengan entengnya mengucapkan kata-kata yang vulgar itu.


Cepat-cepat ia memeriksa tubuhnya untuk memastikan.


" Oh my God kenapa nggak kepikiran sih ?". Ia jadi malu melihat bagian atas tubuhnya yang nampak karena bajunya yang basah menjadikannya transparan.


Buru-buru ia memakai jaket yang tadi diberikan Zian untuk menutupi tubuhnya.


Dalam hati ia sangat berterima kasih pada Zian walaupun agak heran dengan perubahan sikapnya yang kini berubah dingin.


Lagi asik dengan pikirannya sendiri nampak di depannya Ilham dan Nayla berjalan melewatinya. Keduanya tidak kebasahan seperti dirinya karena mungkin saja pakai mobil pribadi ke sekolah.


Lebih heran lagi, Ilham seolah tak melihatnya.


Tiara hanya bisa memandangi punggung mereka dengan menahan nyeri yang mendadak menghantam dadanya.


" Kak Ilham . . ? kenapa ?".


Matanya mulai menghangat. Cepat-cepat ia berlari masuk ke dalam kelas mengelap buliran bening yang perlahan mulai lolos dari matanya.


" Ah jangan cengeng gadis bodoh !" ia memarahi dirinya sendiri yang gampang menangis. Sesekali ia mengelap air mata yang masih berusaha menyeruak keluar.


Kemudian ia mengambil buku pelajaran yang ada di dalam tasnya...susah payah menyibukkan dirinya dengan membaca materi lembar demi lembar hingga akhirnya . . .


Dhilla pun sudah datang dan mendaratkan bokongnya di bangku yang bersebelahan dengan Tiara.


" Iya dong, bulan depan kan udah ulangan semester jadi nggak boleh ketinggalan pelajaran lagi". balas Tiara berusaha terlihat ceria di depan kedua sahabatnya.


" Tuh Hes . . yang kaya' gini nih yang harus kamu contoh". ujar Dhilla sok-sokan menggurui Hesti.


"Ya ela . . tuh bocah rajin karena ada mood booster nya di sekolah. Lah aku ? nggak punya siapa-siapa yang bisa bikin aku semangat terus ". balas Hesti sambil memasang wajah sedihnya.


" Makanya buruan cari mood booster nya. Bila perlu diadain sayembara biar bisa diseleksi gitu". Dhilla terus menggodanya.


" Ya Tuhan la' emang muka aku secantik itu ya sampe nekat buat sayembara. Nggak ah, jomblo juga nggak dosa kan ?" ucap Hesti berlagak santai.


" Iya jomblo emang nggak dosa tapi nggak pake acara ngomel-ngomel sendiri ya kalo ditinggal, hehehehe . . ." Tiara ikut menimpali.


" Kalo itu sih nggak janji yaa . . . " Hesti tak mau kalah debat dengan kedua sahabatnya.


Untuk sejenak Tiara melupakan masalah yang dihadapinya tadi pagi.


Bel masuk akhirnya berbunyi menghentikan obrolan kocak ketiga gadis itu dan mereka pun mulai mengikuti pelajaran saat itu hingga selesai.


*****


Kelas dua belas . . .


Ilham maju ke depan kelas memberikan informasi yang diterimanya dari ruang guru tadi.


" Teman-teman ! mohon perhatiannya sebentar !


Berhubung hari ini guru Matematika kita tidak bisa masuk karena sedang mengikuti kegiatan di tempat lain, maka kita diminta untuk mempelajari sendiri materi hari ini di halaman empat puluh lima. Setelah itu kerjakan tugas di halaman berikutnya bagian A dan B. Tugas dikumpulkan hari ini juga sebelum jam Matematika berakhir. Demikian informasinya atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih !"


" Huuuuu . . . !" seru teman-teman sekelasnya setelah ia selesai menyampaikan pesan tadi.


Tapi Ilham tak peduli. Ia kembali ke tempat duduknya untuk mengerjakan tugasnya.


*****