
Siang hari. Neva keluar dari kampusnya dan langsung menuju rumah kakaknya.
"Emm, Pak, tolong berhenti sebentar ditoko mainan anak," Neva berkata rendah pada supirnya.
"Baik, Nona," jawab Pak Supir mengiyakan. Mobilnya perlahan melewati kepadatan Ibu Kota yang panas. Menerobos macet yang sudah menjadi bagian dari penatnya Kota besar.
Neva menyandarkan punggungnya dan memperhatikan jalan. Bibirnya tersenyum tipis, pada jam siang seperti ini, biasanya dia akan lebih dulu berkunjung ke kantor Vano untuk membawakannya cake atau makanan ringan lainnya. Tapi tidak untuk hari ini. Dia bahkan sama sekali tidak menghubungi Vano setelah malam itu.
Dia bertekad untuk menyibukkan diri agar tidak terlalu patah hati. Dari awal ketika ia sadar akan perasaannya, dia tidak memaksa untuk memiliki.
Mobilnya pelan parkir di halaman toko mainan baby. Neva keluar dari mobil dan membeli beberapa mainan untuk keponakannya. Setelah itu, dia meminta Pak Supir untuk mengantarkannya ke toko cake dan coklat. Dia ingin membawa buah tangan untuk kakaknya dan Yuna.
Dia memilih cake cokelat dan bola-bola coklat. Tak butuh waktu lama untuk memilihnya. Kemudian, setelah membayar, dia segera keluar. Namun langkahnya terhenti sesaat, ketika manik matanya melihat seseorang yang berjalan masuk. Jantungnya berdegup tapi dia segera menguasainya saat seseorang itu berada tepat didepannya.
Dengan senyum ringan Neva menyapa, "Selamat siang Kak," sapanya membungkukkan badannya dengan rasa menusuk dalam hatinya. Tidak ingin berlama-lama, dia segera melangkah dan memegangi dadanya yang berdegup. Dia melewati seseorang itu begitu saja.
Ketika hati ingin menghindar kenapa keadaan malah mempertemukan dengan ketidaksengajannnya.
Seseorang itu menelan ludahnya dengan sedih. Melihat gadis yang ia rindukan berlalu dari hadapannya.
"Apa kau sudah makan?" tanyanya segera pada sang gadis tanpa menoleh.
Mendengar pertayaan itu, Neva menghentikan langkahnya. "Sudah," jawabnya singkat kemudian kembali berjalan lagi dan langsung masuk ke dalam mobilnya. Pergi. Dia tidak menoleh, dia takut patah hati, dia takut kecewa, dia takut semakin terluka.
Vano membalik badan dan memperhatikan mobil yang membawa Neva pergi. Dia tersenyum dalam sudut bibirnya.
"Aku bahagia bertemu denganmu hari ini," gumam Vano.
Neva memejamkan matanya dan menyandarkan kepalanya. Jantungnya masih berdegup.
"Jangan menampakkan dirimu dihadapanku, itu semakin membuat ku sakit," batin Neva. Dan pada akhirnya, dia menoleh ke belakang memperhatikan Vano yang masih berdiri disana. Senyum tipis menghiasi bibir Neva. Sedikit rasa rindunya terobati dengan pertemuan tak sengaja siang ini. Keengganan dirinya terkalahkan oleh hatinya. Hati yang sejujurnya merindu.
________________
Di rumah Tuan muda Leo.
Mereka baru saja selesai makan siang. Leo duduk di ruang tengah sambil memangku anaknya. Genggaman Baby Arai semakin erat dijari telunjuknya.
"Jagoan, kau semakin kuat," ucap Leo sambil mengikuti gerakan tangan anaknya. "Hmmm, nanti kau harus selalu melindungi Mommy, okey," ucapnya lagi. Kemudian mencium pipi Baby Arai. Dia sangat suka saat pipinya mendapat tepukan lucu dari tangan mungil anaknya.
Tak lama, Yuna datang dengan membawa nampan kecil berisi segelas air putih dan beberapa obat milik Leo.
"Minum obat dulu," ujar Yuna setelah meletakkan nampan itu diatas meja. Dia duduk disamping Leo. Yuna membuka satu obat kemudian memberikan langsung ke mulut Leo. Begitu, hingga lima jenis obat. Dia menatap Leo dengan sedih. Sebenarnya, hatinya dipenuhi kekhawatiran.
Setelah selesai memberi obat, Yuna menyandarkan kepalanya di bahu Leo tangan kanannya menggenggam tangan kiri Leo. Sementara, tangan kirinya menggenggam tangan anaknya.
"Kita akan tetap disini, bersama, bercerita, bercanda dan pastinya memberimu adik. Ya kan Daddy?"
Leo terkekeh. Memberi adik? Yuna sangat tahu bagaimana Leo masih trauma melihat Yuna melahirkan. Sekarang, dia malah membahas adik.
"Satu saja cukup, akan tidak kau kesakitan luar biasa," jawab Leo.
"Hei, aku juga ingin anak cewek. Aku tidak ingin cantik sendiri disini," jawab Yuna. Dia mengangkat kepalanya dari bahu Leo. Dia menatap Leo dari samping.
Leo terkekeh lagi mendengar jawaban Yuna.
"Nanti kita akan bikin tim. Tim Tuan muda tampan dan tim Nyonya cantik," ujar Yuna penuh semangat. "Pokoknya aku tidak mau tahu, kita harus hadirkan si cantik sebagai adiknya Baby Arai," Yuna mengerutkan bibirnya.
"Hahaa, baiklah jika Momm mau teman cantik," jawab Leo menyetujui. Yuna mengangguk dan langsung menghamburkan pelukannya.
"Kau sudah menyetujui untuk memberi Baby kita adik. Jadi kau harus semangat untuk berobat. Jangan kalahkan dirimu. Okey," ujar Yuna pelan di telinga Leo. Leo tersenyum mendengar ucapan Yuna dan dia mengangguk.
Tak lama, seseorang datang. Dia keluar dari mobilnya lalu melangkah menuju pintu utama.
Leo menoleh ke arah Yuna setelah melihat siapa yang datang.
"Biar aku yang membukanya," ucap Yuna dengan senyum.
"Ada asisten yang akan membukanya. Kau duduk disini saja," kata Leo. Tangannya masih menggenggam jemari Yuna. Masih teringat sangat jelas tangisan Yuna malam itu. Yuna yang bahkan pulang tanpa dirinya.
Yuna mengangguk dan menuruti Leo.
"Aku minta maaf," ucap Leo.
Yuna mengerutkan keningnya, "Minta maaf untuk?" tanyanya.
"Maaf atas ucapan Neva padamu. Dia belum berpikir dengan dewasa saat cemburu mengusainya. Emosi memenangkan akal sehatnya. Dia ceroboh dalam berucap. Aku minta maaf untuknya," ucap Leo. Yuna tersenyum, dia mengusap pipi Leo dengan lembut.
"Kau tahu dari mana dia mengucapkan sesuatu padaku?" tanya Yuna. "Aku tidak menceritakannya padamu."
"Dia datang kesini malam itu sesaat setelah kau tidur dan menceritakan semuanya," jawab Leo. Yuna mengangguk.
Kemudian tak lama terdengar langkah kaki mendekat. Neva datang dan meletakkan tentengannya di meja. Kemudian, dia menatap Yuna. Mata mereka bertemu, Yuna menyambutnya dengan senyum hangat.
Neva langsung bersimpuh di depan Yuna dan memeluknya. Memeluk Yuna dengan erat.
"Kak Yuna, aku minta maaf. Sungguh minta maaf. Aku menyesal, aku bersalah padamu. Aku minta maaf Kak," ujar Neva dengan penyesalan. Yuna menarik tangannya dari genggaman Leo dan membalas pelukan Neva.
"Tidak apa-apa sayang. Bukan salahmu, itu memang salahku," jawab Yuna.
"Sekarang aku tahu bagaimana itu bisa terjadi, aku minta maaf. Aku minta maaf kak. Aku telah berkata kasar padamu. Aku telah melukai hatimu, aku telah menyakiti hati Kakak, mohon maafkan aku," ujarnya lagi. Dia menangis dalam pelukan Yuna. Dia mengingat bagaimana dia berkata dengan arogan sore itu. Jika karma atau nasip buruk akan menimpanya sebagai hukuman atas perkataan dan caciannya dia akan menerimanya.
"Sudah. Itu sudah berlalu. Tidak apa-apa. Bangunlah, sini duduk. Jangan begini. Aku memafkanmu dan aku juga minta maaf padamu. Aku memang salah karena dekat dengan Vano," ucap Yuna. Dia mencoba melepaskan pelukannya. Tetapi Neva masih memeluknya dengan erat.
"Aku sayang Kak Yuna. Dari awal kakak masuk dalam kedalam keluarga, aku langsung menyukaimu. Aku minta maaf dengan ucapanku sore itu. Aku tidak ingin hubungan kita jadi jauh. Aku sungguh minta maaf Kak," ucap Neva. Dia terisak.
Yuna mengusap punggung Neva dengan perhatian. "Perasaan mu, sama seperti ku. Aku juga langsung menyayangi mu. Kamu, yang memberiku semangat setiap hari. Apa kau ingat, kita memikirkan ide-ide itu bersama, hingga aku bisa dengan cantik berdandan dan memasak. Kamu sangat baik terhadap ku. Aku tidak akan melupakan itu hanya karena emosi sesaatmu. Aku tidak akan pernah menghapus ribuan kebaikanmu dengan satu kesalahanmu," ujar Yuna dengan lembut dan teratur. "Sini, duduklah. Jangan bersimpuh seperti ini," lanjut Yuna.
Neva melepaskan pelukannya dan menyeka air matanya. Dia menatap Yuna dengan rasa bersalah yang melekat dihatinya.
"Aku minta maaf Kak," ucapnya lagi.
"Iya, aku memaafkanmu. Aku juga minta maaf ya," ucap Yuna.
"Terima kasih untuk maafmu padaku Kak. Terima kasih," ucap Neva.
Kemudian, Neva menatap Leo dan mendekat ke arahnya. Dia mencium pipi kakaknya lalu kemudian mencium pipi Baby Arai.
"Baby, kau makin tampan. Tante bawa mainan banyak untukmu," kata Neva. Kemudian, dia membalik badan dan mengambil kantong yang ia letakkan di atas meja. Tangannya terhenti saat matanya melihat nampan kecil berisi beberapa obat.
"Kak Lee sakit?" tanyanya dengan langsung menoleh ke arah Leo. Dia bahkan lupa untuk mengambil kantong mainan itu.
Yuna menatap Leo dari samping. Leo terbatuk kecil mendapat pertanyaan itu.
"Hahaa hanya demam ringan," jawab Leo. Neva mengerutkan alisnya dan kembali memperhatikan obat-obat itu. Demam ringan? Kenapa obatnya sebanyak ini? Dan nama obatnya juga asing untuk hanya mengobati demam ringan. Batin Neva. Dia ingat malam itu, melihat kakaknya berkeringat dingin. Dalam hati dan pikirannya dia menghafalkan nama-nama obat yang ada di nampan itu. Dia akan mencarinya di internet nanti.
_______________
Catatan penulis 🥰
Jangan lupa like koment ya kawan tersayang 🥰 padamu. Terima kasih 🙏
Gambar/ilustrasi diambil dari internet dan Aplk Pint jadi jika ada kesamaan dalam ilustrasinya, harap maklum.