
Vano terbatuk melihat adegan di layar itu, dia segera menyesap minumannya. Dan segera duduk kembali dengan benar.
Wajah Neva menjadi memerah dan membuatnya malu. Adegan apa itu, memalukan, batinnya.
"Jika kau tidak nyaman, kita bisa keluar sekarang," ucap Vano menoleh ke arahnya.
"Tidak apa-apa. Sepertinya filmnya menarik," jawab Neva rendah. Bukan karena filmnya, dia bahkan tidak tahu bagaimana alur filmnya, ia hanya ingin lebih lama bersama Vano. Jika mereka keluar sekarang, itu berarti mempersingkat waktunya. Tidak apa, jika mereka hanya diam dengan pikiran masing-masing.
"Apa kau termasuk pecinta film roman?" tanya Vano. Dia tahu Neva tidak memperhatikan film yang di putar, Neva lebih sering menunduk dari pada memperhatikan layar.
"Suka, film-film roman selalu bikin penonton baper. Bagaimana dengan Kakak? Film apa yang Kakak suka?" Neva menoleh ke arahnya, mata mereka bertemu.
"Aku lebih suka horor."
"Oh ya? Aku juga suka."
"Keren, sepertinya kita harus mencoba menontonnya."
"Hmm, Siaapp. Aku bukan penakut, jadi Kakak tenang saja, aku tidak akan teriak-teriak di dalam bioskop."
"Keren..."
Vano mengantar Neva pulang, pukul sepuluh malam.
"Selamat malam gadis," ucap Vano. Panggilan Vano membuat Neva tersenyum lebar, Vano tidak memberikan embel-embel 'kecil' pada kalimatnya.
"Selamat malam Kakak, hati-hati. Bye..." dia melambai dengan bahagia.
"Cieee, Nona... habis malam mingguan," security meledeknya ketika dia berjalan masuk.
"Pacarnya Non Neva ganteng banget, kayak Bapak waktu masih muda," sambung security satunya yang langsung membuat Neva tertawa terbahak-bahak. Neva kemudian memberi mereka cake yang ada ditangannya. Cake itu sebenarnya dari Vano untuk Mama tapi tak apa, dia akan menjelaskannya pada Mama.
"Terima kasih Non...," ucap dua security kompak.
"Woke..., Semangat Pak," jawabnya dan melangkah masuk.
***@***
Keesokan harinya, Leo dan Yuna sudah terbang ke India. Mengunjungi bangunan megah tentang persembahan cinta Raja Shah Jahan untuk istri yang dicintainya Mumthas Mahal. Taj Mahal... Bangunan yang dari luar di dominasi warna putih ini melambangkan cinta yang tulus.
Di India, Yuna mencoba memakai sari khas pakaian wanita India. Ia selalu ingin mencoba ini ketika dia menyaksikan film-film India.
"Oohh, sayang... aku seperti melihat Dewi Drupadi dalam mata mu," Leo memeluk pinggangnya dan menatap matanya dengan kekaguman. Sementara Yuna langsung berpaling. Tuan suami mulai pandai merayu dengan kata-kata.
"Berhenti merayu ku."
"Aku tidak merayu. Istriku sungguh luar biasa cantik."
Yuna dengan malu memukul dadanya pelan.
"Mulai saat ini, aku akan memberi mu gelar."
"Apa?" tanyanya.
Malam hari setelah menyelesaikan makan malam, mereka kembali ke hotel. Namun, Leo kembali keluar untuk membeli cemilan permintaan Nyonya. Dia kembali dengan bersiul pelan melodi lagu India, ia menjadi sedikit mengetahui lagu-lagu India, karena Yuna sering memutarnya.
Pelan, tangan Leo membuka pintu kamar hotelnya. Hidungnya langsung termanjakan dengan aroma wangi yang membuat otaknya langsung memberi sinyal pada titik-titik tertentu di tubuhnya, dia segera menutup pintu.
Lampu kamar berwarna kuning redup membuat matanya dengan jeli memperhatikan setiap sudut kamar. Dia melangkah pelan untuk lebih masuk kedalam dan matanya langsung menemukan kelinci manis yang berdiri dengan seksi di depan ranjangnya. Tangan kirinya berada di paha yang mulus itu, sedangkan tangan kanannya memainkan kuping kelinci yang imut.
Leo menelan ludahnya, otaknya menjadi gila. Tentengan ditangannya terlepas begitu saja. Dia tidak membiarkan matanya berkedip, ia berdiri terpaku di tempatnya dengan wajah yang merah padam, dengan suhu tubuh yang mendadak meningkat. Dia ingin menikmatinya dengan sempurna, jadi dia menahan niatnya untuk segera menerkam kelinci manis ini.
Si kelinci, dengan langkah yang gemulai berjalan ke arahnya, tangannya tidak memainkan telinga kelinci lagi tapi memainkan rambutnya yang di biarkan tergerai. Senyumannya yang secantik bidadari menguasai otak Leo, mengurungnya dalam pandangan keindahan di seluruh matanya. Simpul di tenggorokannya bergerak naik turun ketika si kelinci manis telah sampai di depannya, berdiri dengan sangat seksi dan menggoda di depan matanya. Bibir seksi itu terbuka untuk memanggilnya.
"Sayang...," suara kelinci manis mengandung godaan yang memabukkan, senyumnya menyimpan serangan mematikan. Jemarinya membuka baju Leo dengan sangat sempurna.
Leo tidak tahan lagi, dia segera mencium bibir seksi yang menggoda itu. Menciumnya dengan ganas, ia mendorong kelinci manis ke dinding dan menyerbunya tanpa ampun. Tangan hangatnya bergerak naik turun dengan bebas, sementara bibirnya yang basah membuat gigitan merah di leher jenjang putih milik kelinci, semakin turun, ia memberi keindahan dan kenikmatan pada kelinci yang sangat manis dan imut ini. Membawanya pada kedamaian dan sihir cinta. Malam ini mereka berdua menjadi gila.
__Pagi hari pukul 05.00 waktu India.
Yuna mengerjapkan matanya dan langsung menemukan Leo yang tersenyum menyapa paginya. Dia menjadi sangat malu melihat wajah penuh senyum itu, dengan cepat dia menarik selimut dan bersembunyi.
"Jam berapa sekarang?" tanyanya pelan dari balik selimut.
"Jam lima," jawab Leo pelan. Yuna mengangguk dan memejamkan matanya.
Memalukan, memalukaaaan... dia berteriak dalam hati. Kenapa aku bisa sangat nakal? Dia menepuk keningnya berkali-kali. Dia merasa sangat malu jika mengingat adegan semalam. Dia sungguh tidak habis pikir jika dia benar-benar mempraktekkan apa yang dia baca dari sebuah artikel disistem pencarian di ponselnya.
Tengah malam ketika Leo tidur, dia diam-diam mencari sebuah artikel tentang
'Cara membahagiakan suami.'
'Cara memuaskan suami.'
'Cara menggoda suami.'
'Cara semakin dicintai suami.' dan masih banyak lagi judul yang dia ketik pada sistem pencarian itu. Dan dia benar-benar melakukannya dengan sangat manis. Membuat Leo bertekuk lutut padanya.
"Hai, Nona yang berada di balik selimut," Leo berbisik di telinganya. Ia sangat dekat, bibirnya menyentuh telinga Yuna, hanya saja itu terhalang oleh selimut. Yuna sedikit bergidik, ia diam dan mengigit bibirnya agar tidak mengeluarkan suara apapun.
"Sayang, sampai kapan kau berencana untuk tetap dibalik selimut?" tanyanya. Yuna tetap diam, ia menutup matanya sangat rapat. Dia masih sangat malu dengan kenakalannya semalam. "Sayang, keluarlah. Aku tidak akan menggoda mu," bisiknya lagi. "Tapi, aku ingin kau yang menggoda ku," lanjutnya.
"Tuan brengsek, tutup mulut mu."
"Sayang, kau sungguh membuatku tergila-gila pada mu."
"Leo J..." Yuna berteriak dari balik selimut. Dan Leo segera menarik paksa selimut tempat Yuna menyembunyikan dirinya, dia langsung memeluk tubuh indah itu.
"Kau mau bersembunyi kemana? Aku sudah menangkap mu."
"Kau...," Yuna langsung menyembunyikan wajahnya di dada Leo. Membuat Leo semakin gemas padanya, ia menggelikitik Yuna agar tidak terus menyembunyikan wajahnya.
"Aauuu...... hentikan...." Yuna berteriak.